Madu Untuk Istriku/C12 Kejutan Lagi Untuk Dani
+ Add to Library
Madu Untuk Istriku/C12 Kejutan Lagi Untuk Dani
+ Add to Library

C12 Kejutan Lagi Untuk Dani

[Apa perlu aku datang ke rumahmu, Mas dan bilang tentang kita?]

"Tidak! Tari nggak boleh ke sini." Dani begitu gelisah setelah membaca pesan terakhir dari Tari.

[Jangan macam-macam kamu, Tar! Sekarang maumu apa?]

[Kita ketemu, Mas.]

[Baik besok kita bisa ketemu. Tapi nggak bisa lama.]

[Terima kasih sayangku. Emmuach ....]

Dani tak membalas pesan terakhir dari Tari. Segera dia menghapus sms-nya dengan Tari tadi. Pria itu kini sangat bingung dengan perasaannya.

Dani menghirup napas panjang dan menetralkan wajahnya. Agar Reni tak melihat raut kecemasan di wajahnya. Dia lantas kembali ke kamar dan berbaring tidur di sebelah Reni yang telah terlelap.

***

"Kamu kenapa sih, Tar?" Tanpa basa-basi Dani bersikap ketus pada Tari. Kini mereka ada di belakang pabrik yang jarang dilalui karyawan di sana.

"Aku kangen, Mas. Apa kamu nggak kangen ama aku?" Tari menggelendot manja di lengan Dani. Bohong jika Dani bilang tak tergerak ketika dengan sengaja Tari menyenggolkan bagian depan dadanya di lengan Dani.

Dani meneguk salivanya. Pikirannya kembali di saat keduanya bergumul di hotel waktu itu.

"Maaf, Tar. Reni hamil. Dan aku mau kita akhiri hubungan kita." Berlagak berwibawa, Dani berusaha melepaskan tangannya dari dekapan Tari.

Tari terlihat begitu shock mendengar kata-kata Dani. Dia tak percaya Dani akan mengatakan hal seperti itu.

"Berarti, selama ini, kamu anggap aku apa, Mas?"

"Bukankah sudah jelas, Tar. Aku sangat menginginkan anak. Dan aku bersama kamu juga dengan alasan itu."

Dani meninggalkan Tari yang masih terbengong karena kata-kata Dani yang begitu menyakitinya. Mulut wanita itu masih melongo di tempat, hingga tak sadar kini Dani sudah tak berada di sana.

Setelah percakapan mereka, Tari merasa sangat terhina. Dia memenuhi perkataan Dani untuk menjauh. Jika mengingat kata-kata terakhir Dani saat di belakang pabrik waktu itu, membuat Tari mengeluarkan air mata.

Sudah dua minggu ini Dani berlaku manis pada Reni, dimulai sejak tahu Reni hamil. Halimah pun mau tak mau mesti ikut mengurusi Reni yang hanya bisa berbaring di atas kasur.

Tubuh wanita hamil itu terlihat begitu lemah dan tidak bertenaga. Makanan pun jarang ada yang bisa masuk ke perut. Reni terlihat begitu kecil dan pucat.

"Dan!" Dani menoleh ke arah ibunya. Pria itu baru saja keluar dari kamar.

"Kenapa, Bu?" Melihat ibunya begitu panik dan cemas, membuat pikiran Dani pun bertanya-tanya. Ada apa dengan ibunya?

"Si Reni kamu bawa ke rumah orang tuanya dulu, gih. Ibu capek ngurusin dia. Harusnya 'kan dia yang ngurus ibu, kenapa malah kebalik gini." Suara Halimah dibuat sepelan mungkin, tapi seorang wanita lemah yang sedang tergolek di atas kasur dapat mendengarnya.

Hatinya terasa perih dan sakit ketika tahu mertuanya itu keberatan mengurusnya. Padahal selama ini dia hanya diam ketika berlaku seperti pembantu di rumah itu.

"Reni 'kan lagi hamil, Bu. Lagian juga selama ini dia yang ngerjain kerjaan rumah. Bukannya ibu yang selama ini bilang pengen cucu?" bela Dani akan istrinya. Mungkin pikiran Dani sedang waras, jadinya bisa berpikir dewasa.

"Tapi, ibu capek, Dan. Sudah! Ibu nggak mau lagi ngurusin Reni." Halimah berlalu begitu saja dari hadapan anak lelakinya itu. Sepeninggalan ibunya, Dani hanya bisa menghela nafas.

Dani sangat hapal dengan sikap ibunya yang seperti itu, tapi selama ini dia memang tak pernah mendengar Reni mengeluh. Jadi, dia pikir baik-baik saja.

Terlepas dari perselingkuhannya dengan Tari, perasaan Dani saat ini begitu bahagia membayangkan dirinya akan segera menimang seorang anak. Dani memang sangat suka dengan anak kecil. Banyak anak tetangga yang senang bermain dengannya.

Dani kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Reni sedang berbaring memunggunginya. Apa yang harus dilakukannya kini? Perasaan kasihan tiba-tiba menjangkiti hatinya. Bagaimanapun di dalam perut Reni ada darah dagingnya.

"Sayang ...." Dani mengguncang pelan bahu Reni.

"Hm ...!" jawab Reni singkat.

"Bagaimana kalau sementara kamu pulang ke kampung dulu. Aku takut kamu kurang terawat di sini." Meski karena desakan ibunya, tapi memang seperti itu yang dirasakan Dani.

Dia harus bekerja setiap harinya, hanya bisa mengurusnya saat libur akhir pekan saja dan saat malam dia pulang kerja.

"Hm ...!" Seperti tak ada kata lain di kepalanya. Hanya kata itu yang keluar dari bibir Reni.

Sebenarnya tak ingin terlihat oleh Dani, sudut mata Reni sedang mengeluarkan cairan bening mendengar kata-kata mertuanya tadi.

Dani bisa bernafas lega untuk saat ini. Saat berada di pabrik, dia tak lagi kepikiran akan istrinya di rumah.

Memang selama ini Reni lah yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah. Jika dia seperti ini tentu ibunya keberatan. Tentang Karin, anak itu tidak bisa diandalkan.

Buru-buru Reni mengelap ujung matanya. Dia berbalik dan kini telah menghadap ke arah Dani.

"Mas." Suara Reni terdengar sangatlah lemah. Tak banyak memang yang masuk ke dalam perutnya, tapi lebih banyak yang dia muntahkan.

"Ada apa, Yank?" Dani tentu khawatir saat melihat wajah istrinya yang makin tirus dan pucat. Apakah wanita hamil selemah itu?

"Aku pengen makan mangga muda, Mas. Bisa nyariin nggak." Makanan ngidam kebanyakan ibu hamil.

"Ck! Besok saja ya, Yank. Aku capek." Reni hanya bisa diam menghadapi sikap Dani yang gampang berubah itu.

Dani segera berbaring di sebelah Reni. Dia memejamkan matanya, tak lama sebuah dengkuran halus keluar dari bibirnya. Reni hanya bisa membuang napas kasar dan ikut berbaring di samping Dani.

Pada pagi harinya, Dani mengantar Reni ke rumah orang tuanya sementara waktu agar dia dan kandungannya dapat terurus.

"Pak, Bu. Saya titip Reni dulu, ya. Saya takut di rumah Reni kurang terurus karena saya mesti bekerja. Kondisinya sangat lemah, saya jadi khawatir ketika bekerja." Meski tak sepenuhnya benar. Tapi, tak mungkin bagi Dani mengatakan bahwa ibunya lah yang mengusulkan hal ini.

"Iya, Dan. Biar si Reni di sini dulu. Kasihan ibumu di sana kalau ngurusin Reni yang mabok kayak gini." Yanti, ibu Reni mengiyakan pernyataan Dani.

Setelah berbasa-basi dan berpamitan dengan istrinya, Dani akhirnya pulang ke rumah. Bagaimanapun jarak antara rumah mertuanya dan pabrik tempatnya bekerja luamayan jauh.

Reni sudah berbaring di kamar yang ditempatinya saat gadis dulu. Perasaannya tidak begitu tenang. Meski selama dua minggu ini Dani terlihat manis, namun rasa curiga terhadap suaminya itu belum sepenuhnya hilang.

"Ren, kamu sudah makan?" Yanti masuk ke kamar putrinya. Hatinya begitu perih melihat putrinya terlihat lemah tak berdaya.

"Belum, Bu," lirih Reni. Bahkan untuk bersuara pun seakan tak memiliki tenaga.

"Yasudah. Ibu ambilkan makan dulu." Wanita paruh baya itu berbalik untuk mengambilkan putrinya makan.

'Semoga Mas Dani tidak membuatku terluka lagi. Karena jika sampai melukaiku lagi, lihat saja apa yang akan kulakukan pada kalian.' Kemarahan yang hanya bisa dipendamnya seorang diri. Kedua orang tuanya tidak perlu tahu.

***

Pagi ini, entah kenapa perasaan Dani tidaklah enak. Sepertinya akan ada sesuatu yang besar yang akan dia terima.

Sudah dua minggu ini dia memutuskan tidak berbicara dengan Tari. Tari pun enggan memulai percakapan terlebih dahulu. Kini keduanya bak dua orang yang tidak saling mengenal.

Sejenak, Dani merasakan kerinduan akan hangatnya sentuhan wanita yang pernah menjadi selingkuhannya itu. Bagaimanapun sejak mengerahui Reni hamil dan menjadi selemah itu, dia tidak berani menuntut haknya sebagai suami.

'Apa aku harus menahannya hingga Reni melahirkan?' bisik hatinya seakan tidak terima jika mesti menahan n*fsunya.

Pikirannya kalut karena kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi. Kepala rasanya nyut-nyutan saat menahan yang tegak berdiri di bawah sana.

Dani adalah tipe lelaki yang mengutamakan hubungan in*im dengan pasangannya. Bisa dibilang hampir setiap hari.

"Mas, aku perlu ngomong sama kamu!" Setelah dua minggu perang dingin, untuk pertama kalinya Tari membuka percakapan dengan Dani.

Bukan raut manja nan mesra seperti sebelum saat mereka memutuskan untuk saling mendiamkan, namun raut kecemasan yang membuat perasaan Dani menjadi tak karuan.

"Ngomong masalah apa lagi, Tar?" Banyak pikiran buruk yang memenuhi isi kepalanya. Banyak hal yang ditakutkannya tentang hubungan mereka.

"Kamu mesti tanggung jawab, Mas."

Bagai disambar petir, perkataan Tari menimbulkan persepsi yang tadi ditakutkannya.

"A ... apa maksud kamu?" Belum mau percaya dengan pikirannya, Dani mencoba bertanya kembali pada wanita di hadapannya.

"Aku hamil, Mas."

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height