C8 Tari dan Dani
"Eh itu si Dani, Ren !" Tasya menyenggol lengan Reni. Wanita itu segera mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
Tentu saja Reni sangat hafal dengan sosok dan perawakan Dani, dan dia yakin bahwa itu adalah dia.
Dani berjalan melewati gerbang sendirian. Reni tidak menemukan tanda-tanda suaminya itu tengah berbicara dengan wanita lain.
"Itu ... yang namanya Tari." Tasya menunjuk ke arah seorang wanita yang berjalan di belakang Dani.
Cukup lama Reni mengamatinya, wanita berambut panjang dengan tubuh sedikit berisi. Terlihat begitu segar, tak seperti dirinya yang terlihat seperti bunga yang layu.
Reni membuang nafas, 'Apa Mas Dani udah bosen ama yang kerempeng kayak aku?'
Hatinya terus menduga-duga kenapa suaminya itu bisa sampai selingkuh. Pandangannya kembali pada sosok suaminya itu yang semakin hilang dari pandangan.
"Yang sabar, ya, Ren," kata Tasya prihatin. Sebagai seorang wanita dia sangat tahu bagaimana rasanya dikhianati. Meskipun bukan dirinya yang mengalami, tapi sepertinya sangat sakit.
"Thank's, Sya," jawab Reni lemah.
"Ah! Aku coba dulu telpon Mas Dani. Dia bakal jawab apa." Reni mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan mulai menghubungi suaminya.
"Tut ... tut ... tut ....! Lama menunggu tidak ada jawaban hingga beralih ke suara operator.
"Coba sekali lagi!" katanya semangat.
"Tut ... tut ... tut ...!"
"Dirijek!" Reni menatap ke arah Tasya, seolah nengadukan apa yang barusan dialaminya.
[ Jangan telpon, Yank. Aku belum pulang. Nggak enak ama pengawas.] Reni begitu geram membaca pesan masuk dari suaminya itu, jelas-jelas tadi dia udah keluar pabrik. Bilangnya masih kerja.
"Kamu nggak papa, Ren?" Melihat perubahan wajah sahabatnya yang memucat, membuat Tasya khawatir tentang keadaanya.
Reni menggeleng, "Aku nggak papa."
"Kamu mau gimana setelah tahu?" Dengan hati-hati, Tasya berusaha menanyakan langkah selanjutnya sahabatnya itu.
'Entahlah aku sendiri bingung. Maunya sih langsung pisah aja, tapi ...."
"Tapi kenapa?"
Reni menghela nafas, "Aku hamil, Sya. Aku nggak mau anakku lahir nggak punya ayah ...," lirihnya.
Tasya tak bisa berkata-kata lagi. Ketika bercerai banyak laki-laki yang lepas tangan dengan buah hati mereka. Mereka akan abai dengan kewajiban menafkahi anak kandung mereka.
"Aku nggak mau anakku yang kalah dibanding anak di luar nikah mereka." Terlihat Reni menggemerutukkan giginya pertanda menahan amarah.
Tasya menepuk-nepuk bahu Reni pelan. Bagaimanapun masalah sahabatnya itu terasa begitu berat baginya.
"Kamu yang sabar, Ren. Aku akan berusaha bantu kamu meski diam-diam."
"Makasih, Sya ...." Netra Reni berkaca-kaca. Betapa dirinya sangat butuh dukungan untuk saat ini. Dan hanya Tasyalah yang tahu masalahnya ini.
Tepat sebelum adzan maghrib Reni tiba di rumah mertuanya. Ibu mertua dan adik iparnya lagi-lagi sudah asyik di depan televisi.
Reni masuk dan melihat ruangan yang begitu berantakan membuat kepalanya tambah pening.
Tas sekolah Karin tergeletak begitu saja di ruang tamu. Belum kaos kaki yang berserakan di lantai.
"Kariiin ...!" Reni sudah tak bisa diam lagi melihat kelakuan adik iparnya itu.
"Apa to, Ren teriak-teriak gitu? Malu kalau tetangga denger." Halimah menoleh ke arah Reni yang masih berdiri di depan pintu, begitu juga Karin yang ikut menoleh kepadanya.
"Ini apa, beresin sendiri barang-barangmu Karin. Udah perawan kok malesnya nggak ilang-ilang." Sudah cukup dia diam selama ini. Tak ada lagi yang ingin benar-benar dia pertahankan.
"Kamu 'kan ya bisa to, Ren. Adikmu ini sudah capek. Sekolah pulang sore terus. Kamu yang nggak kerja apa nggak bisa bersih-bersih rumah?" Tampak Halimah begitu membela anak bungsunya itu. Karin yang menjadi sumber masalah hanya diam tak berkutik.
Belum pernah dia melihat Reni berteriak seperti ini. Sejujurnya dia sangat takut, tapi berkat pembelaan ibunya, dia terlihat begitu tenang dan enggan beranjak.
"Iya, Bu. Saya emang nggak kerja. Mulai besok kalian cuci sendiri baju-baju kalian. Dan untuk makan, kalian usahakan sendiri. Aku tidak akan memasak untuk kalian. Karena saya cuma nggak kerja!" Reni segera berjalan menuju kamar dan membanting pintunya dengan keras.
"Nggak bisa gitu dong, Ren. Kamu istrinya Dani, harusnya kamu berbakti pada keluarganya. Nggak bisa kamu mogok kerja kayak gitu." Meski sudah berada di dalam kamar, teriakan mertuanya masih terdengar begitu keras.
Tidak biasanya dia seperti ini. Mungkin pengaruh suasana hatinya yang begitu kecewa pada suaminya menjadikannya berani pada mertuanya itu.
Sudah cukup dia menjadi budak di sana. Bagaimana kalau Dani marah padanya? Sudahlah ... Reni sudah tidak peduli lagi.
Mulai hari ini, dia hanya harus memikirkan dirinya sendiri dan bayi dalam kandungannya.
***
Dani dan Tari berjalan beriringan menuju parkiran motor mereka. Mereka tidak tahu jika Reni sudah melihat kebersamaan keduanya.
"Mas ... kapan kita ehem-ehem lagi?" tanya Tari manja sesaat sampai di parkiran. Mereka memarkirkan motor berdampingan.
"Udah kangen, ya, Yank?" Perasaan Dani berbunga-bunga mendengarnya. Hal yang sangat jarang dia dengar dari Reni.
"Hu um," ucap Tari manja, membuat Dani semakin gemas.
"Tunggu bentarlah, Yank. Habis gajian, ya. Udah bokek, nih buat nginep di hotel kemaren." Butuh uang lumayan buat menginap seminggu di hotel bagi karyawan biasa seperti Dani. Tapi, demi memenuhi nafsunya yang sudah tak terbendung lagi, Dani rela mengeluarkan tabungannya agar bisa bermesraan dengan Tari.
"Ih, masak jadi cowok kere, sih, Mas?" Tari tampak cemberut karena gajian yang dibilang Dani masih 10 hari lagi. Itu tandanya dia harus menahan lagi gairahnya yang mulai membara.
"La gimana, dong, Yank. Beneran, nih, aku emang beneran bokek." Dani terlihat memelas. Padahal uang simpenannya itu rencananya mau dibuat nambah koleksi burung peliharaannya. Gagal deh jadinya punya burung baru.
"Yaudah, deh, Mas. Aku masih bisa sabar kok."
"Nah, gitu, dong." Dani mengelus pucuk kepala Tari membuat wanita itu tersipu.
"Hari ini rencana kita mau ke mana?" tanya Dani.
"Ke--."
"Bentar-bentar." Dani mengambil handphone yang ada di saku celananya.
"Reni, nih .... Aku angkat dulu, ya?" Buru-buru Tari memegangi tangan Dani agar tidak mengangkat telepon dari istrinya itu.
"Sayang ...." Dani mencoba meminta pengertian dari Tari.
"Sini handphonenya!" Tanpa menunggu persetujuan Dani, kini benda pipih itu telah berpindah tangan.
"Kamu ngetik apa, Yank?" Bisa terlihat raut khawatir saat Tari mengetikkan sesuatu di gawainya. Dani takut dia akan bilang yang aneh-aneh pada Reni. Bagaimanapun dirinya masih mencintai istrinya itu.
"Tenang aja. Nggak aneh-aneh kok. Cuma biar istrimu itu nggak ganggu kita lagi," ucap Tari seolah tahu apa yang dipikirkan Dani.
Keduaanya pun menaiki motor masing-masing dan pergi ke tempat sepi. Entah apa yang mereka lakukan. Yang pasti tidak jauh-jauh dari godaan setan.
Tiba di sebuah bukit yang sepi, keduanya memarkirkan sepeda motor mereka. Gelap, tak ada penerangan di sana. Memudahkan perilaku maksiat yang akan mereka lakukan.
Setelah menengok kanan kiri, Dani segera meraih pinggang Tari. Tak mungkin hanya seperti itu. Saat dua orang bukan muhrim berdua-duaan saja, yang ketiga adalah sy*tan. Sy*tan sedang merasuki aliran darah keduanya agar memperturutkan sy*hwat.
"Stop, Mas. Aku nggak mau ena-ena di sini. Besok aja kalau di hotel." Tari menghentikan gerakan tangan Dani yang akan membuka resleting celananya.
"Aku nggak mau ya ada yang lihat terus ngarak kita." Ternyata wanita itu masih waras untuk tidak melakukan di tempat terbuka dengan resiko ketahuan warga dan diarak sebagai pasangan mesum.
Dani pun pasrah meski nafsunya sudah sampai di ubun-ubun. Takut lebih khilaf lagi, Dani memutuskan untuk mengajak Tari pulang. Suasana hatinya sangat kacau saat ini.