C3 Hinaan Mantan Pacar
"Berhenti!"
Hale dengan cepat berlari menghampiri Edric. Sebelum dirinya bisa berkata-kata, Daria melambaikan Kartu Utama di tangannya. Matanya berbinar ketika dia berkata, "Manajer Cartwright, lihat, bocah ini mencuri Kartu Utama dari ruang VIPmu!"
Daria menunjukkan senyum bangga di wajahnya.
Sekarang, karena dirinya telah menyelamatkan reputasi dan kerugian bank, Hale pasti akan memujinya.
Hale memiliki pengaruh di Citibank Wilayah Timur. Ketika menghadiri pertemuan kantor pusat, Hale pasti akan mengatakan beberapa kata untuk dirinya, sehingga dia akan mendapatkan promosi.
Imajinasi Daria cukup bagus tetapi ketika dia melihat ekspresi Hale yang semakin gelap, sebelum mengetahui alasannya, Hale berteriak marah sampai tubuh Daria gemetar.
"Lepaskan Tuan Eckbert!" amarah Hale meledak, dan pada saat bersamaan Hale merebut Kartu Utama tersebut.
Daria sangat ketakutan hingga tanpa sadar melepaskan Edric. Hale mendorong Daria menjauh dan membungkuk untuk menyerahkan Kartu Utama dengan kedua tangannya, "Tuan Eckbert, kartu Anda. Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak mengajari bawahan saya dengan baik. Saya minta maaf kepada Anda!"
Daria memperhatikan ekspresi Hale, yang tampak hormat, malu, dan gelisah!
Daria dan para nasabah di sekitarnya tampak tercengang!
Kartu Utama ini benar-benar miliknya?
Mata Daria terbuka lebar-lebar layaknya patung realistis. Pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih mengenai masalah ini.
Kartu Utama berarti setidaknya dia memiliki aset sebesar 60 miliar!
Usia Edric tampaknya tidak lebih dari 20 tahun, kelas rendahan bisa memiliki aset sebanyak itu?
Benar-benar seperti cerita fantasi.
"Ini bukan salahmu, Bro Cartwright." Edric memasukkan kartu itu ke dalam sakunya dan berkata dengan santai.
"Terima kasih, Tuan Eckbert." Hale kembali menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam. Setelah beberapa detik, sebelum berdiri tegak, dia berteriak marah pada Daria, "Mengapa kamu diam saja? Minta maaf pada Tuan Eckbert!"
Daria bukan orang bodoh. Apa sekarang dia masih belum mengerti kalau Edric yang ada di hadapannya ini adalah orang kaya yang sesungguhnya?
Daria merespon dan segera membungkuk kepada Edric, "Tuan Eckbert, saya sungguh minta maaf untuk perilaku kasar saya sebelumnya. Mata saya buta dan saya tidak punya otak, sehingga saya bersikap kasar kepada Anda. Ini semua salah saya, saya benar-benar akan introspeksi diri ..."
Edric justru memilih langsung melenggang pergi, dan mengabaikan Daria.
"Tuan Eckbert, jika kelak Anda membutuhkan sesuatu, hubungi saya. Saya akan melakukan yang terbaik."
Hale sangat menghargai pertemuannya dengan Edric. Sangat sulit untuk bertemu orang seperti itu di masa depan, maka dia tidak sungkan-sungkan untuk menjilat Edric.
"Oke, Bro Cartwright." Edric tersenyum tipis ketika menanggapinya, karena Hale-lah yang baru saja membantunya meredakan situasi.
Sebutan 'Bro Cartwright' ini membuat Hale menangis. Orang dengan aset 2,8 kuadriliun memanggilnya Bro. Pemuda kaya ini berpakaian sederhana dan sangat ramah. Dia juga tidak sombong!
Setelah berkata demikian, Edric berjalan dengan langkah panjang, menuju pinggir jalan, memanggil Taksi dan kembali ke Universitas Armeda.
Ketika memasuki bangunan kampus, Edric tidak sengaja menginjak genangan air di depan pintu, sehingga memercikkan banyak lumpur di kaki celananya.
Begitu bel berbunyi, Edric bergegas menuju kelas. Miller yang rupawan berdiri di podium memberi kuliah. Sudut matanya melirik Edric dan sedikit kekecewaan melintas di matanya.
Edric menundukkan kepala dan merasa bersalah.
Diantara semua dosen, Miller adalah yang paling baik kepadanya. Karena Edric tidak punya uang, beberapa dosen lain memandang rendah kepadanya. Beberapa bahkan mengejek Edric, dan hanya Miller yang memperlakukannya sama seperti mahasiswa yang lain.
Edric tidak mengatakan apa-apa dan masuk ke dalam kelas. Pandangan semua mahasiswa tertuju kepadanya.
"Bajingan miskin ini biasanya tidak pernah terlambat. Sepertinya hari ini matahari terbit dari Barat, tiba-tiba saja dia terlambat."
"Lihat, celananya sangat kotor. Apa dia tidak punya celana lain?"
"Apa kamu bercanda, bagaimana mungkin dia mengganti pakaiannya, sepertinya dia hanya memiliki 2 pakaian saja."
Mahasiswa yang menghadiri kelas hari ini jauh lebih banyak dari biasanya. Beberapa anak laki-laki dan para gadis di barisan depan mulai berisik dan menutup mulut mereka ketika berkasak-kusuk. Mata mereka menunjukkan tatapan penuh penghinaan ketika melihat Edric.
"Berhenti mengobrol!" Miller berkata dengan keras, "Mari lanjutkan pelajaran kita."
Selama perkuliahan berlangsung, Edric memperhatikan bahwa Miller entah sengaja atau tidak, menatapnya beberapa kali. Tatapan Miller penuh kebencian kepada dirinya, seolah-olah Edric gagal memenuhi harapannya.
Kuliah akhirnya selesai.
"Kelas dibubarkan."
Setelah bel berbunyi, Miller mengemasi bukunya dan berjalan keluar terlebih dulu.
"Easter!" terdengar suara dari pintu belakang.
Semua siswa di kelas melihat ke arah suara tersebut berasal. Sekali melihat, mereka tahu itu adalah Manson.
Manson masuk dari pintu belakang dan berjalan menghampiri Easter, yang sedang duduk di dekat jendela. Easter memeluk tubuhnya seperti anak manja dan Manson pun menurunkan wajahnya. Keduanya berciuman.
Melihat ini, banyak siswa berbalik dan memandang Edric. Semua orang tahu kalau Easter adalah pacar Edric, namun mereka tidak tahu kalau keduanya sudah putus.
Edric merasa jijik. Dia mendengar dari teman sekamarnya bahwa Manson sudah membawa setidaknya 5 gadis untuk menginap di hotel dekat kampus. Edric merasa kasihan kepada Easter karena memilih bersama pria seperti ini.
Manson memeluk pinggang Easter, dan berjalan melewati Edric.
Easter berkata kepada Manson, "Sayang, tolong tunggu sebentar." kemudian dia menghampiri Edric dan mengeluarkan sebuah ponsel, "Karena kita sudah putus, aku, Easter, tidak berutang apa pun kepadamu. Ponsel ini kamu beli untukku setengah bulan yang lalu. Aku kembalikan kepadamu!"
Edric meliriknya dan melihat Vivo x27 yang dia belikan untuk Easter sebelumnya. Edric mengambilnya.
"Hmph, kamu bekerja paruh waktu selama setengah tahun untuk bisa membeli Vivo x27," Easter mengeluarkan ponsel putih baru dari sakunya, dan mengoperasikannya di depan Edric, "aku sekarang punya iPhone X terbaru. Jauh lebih baik daripada Vivo x27-mu!"
"Tentu saja, pecundang seperti dia, hanya bisa membelikanmu Vivo x27."
Manson mengangkat dagunya dan melirik Edric. "Aku mendengar dari Easter, dia meminta untuk dibelikan ponsel selama setengah tahun dan akhirnya kamu membelikannya Vivo x27. Bro, apa kamu tidak malu? Dengan kebaikan semacam ini, kamu ingin mengejar para gadis? Menyerahlah! Ngomong-ngomong, aku memperingatkanmu. Jangan menemui Easter lagi di masa depan. Jika aku tahu, kamu akan menderita!"
"Jangan bicara dengan bajingan miskin ini, ayo pergi ke Restoran Ayota untuk makan malam." Easter tidak lagi peduli pada Edric.
"Panggil aku Hubby," kata Manson sambil tersenyum.
"Hubby, ayo pergi." kata Easter dengan senyum merajuk.
"Easter!"
Seorang gadis mungil tiba-tiba berdiri dan menatap Easter dengan muram, "Kamu benar-benar keterlaluan. Aku sungguh tidak menyangka kamu akan putus dengan Edric, dan masih bisa mengatakan hal seperti itu setelah putus, aku benar-benar malu kepadamu!"
"Laura, apa maksudmu?" ekspresi Easter menjadi jelek.
Ketika Easter masih berpacaran dengan Edric, dia juga berteman baik dengan Laura.
Laura adalah orang yang sangat jujur. Terkadang, ketika Easter berkonflik dengan Edric, dia akan meminta saran dari Laura.
"Kamu meninggalkan Edric untuk orang seperti Manson. Bagaimana Edric memperlakukanmu, apa kamu sudah lupa? Ketika kamu sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, Edric memberimu sarapan, makan siang dan malam selama satu bulan. Ketika kamu kerja lapangan di Gunung Bisma, pergelangan kakimu terkilir dan Edric-lah yang menggendongmu menuruni gunung sejauh 10 km. Apa kamu sudah melupakan semuanya?
"Uang yang didapatkan Edric dari pekerjaan paruh waktunya tidak banyak, tetapi dia masih harus memberimu 1,6 juta setiap bulannya. Kamu menginginkan ponsel, maka dia berhemat dan menyimpan uangnya selama 5 bulan untuk membelikanmu ponsel. Namun sebagai balasannya, kamu meminta putus dan menghinanya?"
Wajah Easter berubah menjadi pucat, "Aku tidak memaksanya untuk melakukannya. Dia mau melakukannya, itu berarti dia bodoh! Memang kenapa jika dia membelikanku ponsel? Toh, itu hanya Vivo. Jika aku sudah memiliki iPhone, mengapa aku harus menyimpannya?"
Laura menggelengkan kepalanya dan mencibir, "Easter, kamu sangat aneh. Apa hanya ada uang di duniamu? Jika ada yang memberimu uang, apa kamu mau melakukan apa saja?"
"Benar!"
Easter tersenyum penuh amarah, dan menatap lurus-lurus ke arah Laura, "Aku akui, aku hanya menyukai uang, apa itu salah?"
Easter memeluk lengan Manson dan berkata, "Hubby yang baik, mari kita pergi ke Restoran Ayota sekarang. Aku muak melihat dua bajingan miskin ini."
Easter memelototi Laura dan Edric sebelum keluar kelas dengan angkuhnya.