C4 Ekspektasi Para Gadis
"Apa kau baik baik saja?" Laura berjalan ke sisi Edric dan menatapnya dengan cemas. "Sebenarnya, tidak ada yang perlu disesali. Kau sudah melihat wajah asli Easter. Tidak ada gunanya bersedih untuk wanita demikian."
"Jangan khawatir. Aku tidak selemah itu." kata Edric sambil tersenyum. Setelah melihat watak asli Easter, dia merasa lega.
"Ayo, aku akan mentraktirmu untuk merayakan kepergian jalang tadi. Jangan menolakku. Bagaimana kalau di Restoran Ayota?" Laura berkata dengan ekspresi cerah dan santai.
Restoran Ayota adalah restoran yang lumayan mewah di luar kampus, hanya mahasiswa kaya dari Universitas Armeda saja yang sering mengunjunginya.
"Hari ini aku tidak bisa, aku tidak ingin melihat Easter." Edric ingat bahwa Easter dan Manson menuju restoran yang sama, "Aku akan mentraktirmu di Restoran Zamrud suatu hari nanti!"
Restoran Zamrud bisa dianggap sebagai salah satu restoran paling mewah di Kota Armeda. Di antara para mahasiswa, mereka hanya pernah mendengar restoran tersebut, tetapi belum pernah ada yang mengunjunginya.
Laura sedikit terkejut. Edric biasanya tidak menyombongkan diri, apa yang terjadi dengannya? Apakah dia benar-benar terpukul? Mungkinkah kehilangan cinta membuatnya menyombongkan diri? Namun beberapa saat kemudian akan baik-baik saja, bukan?
Laura tersenyum malu dan mengiyakan bualan Edric, "Baiklah, aku akan menunggu. Sejujurnya, aku belum pernah ke sana."
Laura tidak tahu kalau restoran yang dimaksud Edric, yaitu Restoran Zamrud adalah restoran termahal di dunia. Edric makan di sana tiga kali sehari. Jika dia melakukannya seumur hidup, tidak akan menghabiskan 1/100 dari kekayaannya.
Kemudian Laura pergi karena dipanggil oleh dua sahabatnya.
Di saat yang sama, dua teman sekamar Edric berjalan mendekat dan menyeretnya ke kafetaria untuk makan.
Ketika mereka hampir sampai di pintu masuk kafetaria, Hansel tiba-tiba berhenti. Dia menatap ponselnya dan berkata dengan keras, "Sial, Gary sudah mendapatkan pasangan. Cepat lihat grup asrama kita!"
"Benarkah?" Edric dan Ted buru-buru mengeluarkan ponsel mereka dan membuka grup asrama, Gary baru saja mengirim pesan, "Guys, aku secara resmi mengumumkan kalau aku punya pacar! Cepat kembali ke asrama. Siang ini aku akan mentraktir kalian."
"Dia akhirnya punya pacar. Sepertinya, dia tidak betah sendirian."
"Ayo kembali ke asrama dan kita hajar dia siang nanti!"
Dengan demikian, ketiganya berbalik dan berjalan menuju asrama.
Mereka segera tiba di asrama. Begitu memasuki pintu, mereka melihat sepasang kekasih tengah duduk di kasur dan saling berpegangan tangan.
"Kalian sudah datang?" Gary melepaskan tangan si wanita. Dia bangkit dan melontarkan senyuman.
Gary Kemp mengambil jurusan Pendidikan Jasmani. Dia tinggi dan kurus, otot-otot di lengannya juga terlihat jelas.
"Kenalkan, ini pacarku Winnie Pooh. Dia dari jurusan Musik." Kemudian Gary ganti memperkenalkan Edric dan yang lainnya, "Mereka teman sekamarku, Edric Eckbert, Hansel Radcliff, dan Ted Fergie."
Winnie berdiri dan mengangguk sambil tersenyum.
Hansel memandang Winnie dan mengaguminya dalam hati. Gadis ini terlalu sempurna. Dia berkulit putih, alis lurus dan tubuhnya proporsional, memang menunjukkan seorang gadis yang belajar musik.
"Ayo makan di Restoran Coocoo. Teman sekamar Winnie juga akan datang. Apa kalian ingin ganti baju dulu?" kemudian Gary menoleh ke arah Edric dan berkata, "Edric, bawa Easter juga."
Semua orang di asrama mengetahui kondisi Edric. Biasanya, Edric jarang mengajak Easter ke restoran yang layak, dan Gary ingin mengambil kesempatan untuk membantu kawannya.
"Aku sudah putus dengannya," jawab Edric jujur.
“Putus? Kenapa?” Gary terkejut.
"Apa harus dikatakan?" Hansel melirik Gary yang akhirnya mengerti alasannya, pasti karena kemiskinan.
Winnie melihat ponselnya dan mengangkat kepalanya, "Teman sekamarku mengirim pesan. Mereka sekarang sudah berangkat. Teman-temanku gampang marah. Jangan membuat mereka menunggu terlalu lama."
"Kalau begitu Edric, Hansel dan Ted, cepat ganti pakaian, cuci muka, dan pergi!" Gary mendesak Edric dan yang lainnya, lalu memegang tangan Winnie, "Mari kita tunggu mereka di luar."
Gary dan Winnie berdiri di luar asrama. Dia tampak sedikit tidak senang melihat tangan Winnie yang terlipat, dan bertanya, "Ada apa?"
Winnie mengerutkan kening, "Teman-teman seasramamu agak terlalu biasa, ya? Hansel benar-benar tidak tampan, Ted bisa dianggap rata-rata, Edric sebenarnya tampan, tetapi dilihat dari pakaiannya, dia pasti tidak punya banyak uang. Bagaimana aku bisa menghadapi teman sekamarku?"
Gary merasa sedikit tidak nyaman, dan berkata sambil tersenyum, "Hanya acara makan biasa, bukan kencan buta. Mengapa begitu mempedulikan citramu?"
"Apa kamu pikir mereka benar-benar datang untuk makan? Meskipun tidak mengatakannya dengan jelas, berdasarkan pemahamanku, alasan mereka mendesakku untuk makan dengan teman sekamarmu adalah untuk menemukan pacar. Setelah menunjukkan fotomu, mereka pasti mengira teman sekamarmu mirip denganmu!" jelas Winnie sambil mengerutkan keningnya.
"Salahkan aku yang tidak memberitahumu kalau mereka semua dari jurusan Biologi." Gary tersenyum pahit. Awalnya, dia ditempatkan di asrama Edric karena jurusan Pendidikan Jasmani tidak memiliki asrama yang cukup.
Winnie menyarankan, "Bagaimana jika kamu memberi tahu teman sekamarmu kalau acaranya dibatalkan, dan biarkan mereka kembali ke asrama? Mungkin akan memalukan jika mereka tetap pergi."
"Kembali? Tidak, ayo kita pergi!" Gary tidak setuju, dia sudah membiarkan Edric dan yang lainnya untuk mandi dan berganti pakaian, jika akhirnya mengatakan kalau acaranya dibatalkan, bukankah seperti dia sengaja menambahkan minyak dalam api, dan menimbulkan keributan?
"Baiklah, aku tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi." ucap Winnie cemberut.
Pada saat yang bersamaan, ada panggilan telepon dari teman sekamarnya, Winnie pun menjawabnya, "Elena ... Kalian sudah sampai rupanya. Bagaima-eh ... kalian akan tahu nanti, aku tidak bisa mengatakan ... Baiklah, aku akan mendesak mereka. Tunggu sebentar lagi!"
Saat mereka berbicara, ketiga orang tersebut akhirnya keluar dari kamar.
"Gary, dapatkah kamu melihat seberapa bagus tubuhku?" Hansel, seorang playboy level 300, menatap Gary dengan penuh harap.
"Cukup keren!" Gary tersenyum dan menepuk bahunya. Dia merasa beruntung karena tidak mendengar saran Winnie. Kalau tidak, pasti akan menjadi pukulan yang berat baginya!
Gary memandang Edric yang mengikuti di belakangnya dan mengerutkan kening, "Edric, mengapa penampilanmu tetap sama? Kita akan bertemu dengan para gadis, apa kamu tidak bisa mengganti pakaian?"
"Tubuh Edric adalah yang terbaik, apa yang ingin kamu ubah?" Ted berkata dengan acuh tak acuh. Gary berasal dari jurusan Pendidikan Jasmani, sedang mereka dari jurusan Biologi, tentu ada perbedaannya. Juga kondisi keuangan Edric, jelas tidak sebaik dirinya dan Hansel.
Winnie dalam hati menggelengkan kepalanya. Acara hari ini mungkin akan menjadi kekecewaan terbesar bagi teman sekamarnya.
"Berhenti bicara. Ayo kita pergi!" Winnie mendesaknya. Mereka akhirnya berjalan keluar asrama.
Pada waktu yang sama, di Restoran Coocoo di luar kampus.
Tiga gadis muda dan cantik tengah duduk di sebuah meja. Sekilas saja melihat, dapat diketahui kalau mereka berasal dari keluarga berada.
Diantaranya, ada seorang gadis berambut panjang menutupi bahunya. Dia mengenakan pakaian sifon yang bahunya tidak bertali. Wajah kecilnya dihiasi dengan mata besar, bibir tipis, kulit putih transparan, dan sepasang anting yang berkilau. Belum lagi hidungnya yang mancung dan kecil, dia tampak seperti gadis muda cantik yang baru saja keluar dari buku komik.
Dia yang tercantik dari ketiganya, dan mungkin juga yang paling kaya. Sebagian besar pembicaraan berkisar mengenai dirinya.
"Elena, ada benjolan di dahimu. Apa kamu bertengkar dengan seseorang dalam dua hari terakhir?" seorang gadis yang duduk di samping Elena tiba-tiba melihat benjolan kecil di dahinya.
"Oh, ini." Elena menyentuh benjolan kecil di dahinya. Wajahnya yang manis tampak sedikit marah, "Lupakan saja. Pagi tadi, aku pergi ke Citibank untuk melakukan bisnis dengan Ayahku. Di sana aku ditabrak pria sialan."
“Ditabrak? Apa setelahnya dia meminta maaf padamu?”
"Tentu saja, bukankah kualitas nasabah Citibank cukup baik."
Elena mencari gambar di ponselnya dan menemukan bahwa fotonya tidak terlalu jelas. Kemudian dia meletakkan ponselnya, wajahnya kembali tersenyum, "Dia meminta maaf. Kalian juga tahu orang-orang macam apa yang dilayani Citibank, 'kan? Coba tebak apa yang dia kenakan? Pakaiannya seperti pedagang kaki lima, aku sedikit terkejut ketika melihatnya."
"Pedagang kaki lima? Maksudmu, dia sangat sederhana?"
"Butuh 2 miliar untuk bisa membuka kartu. Menurut acara TV, semakin rendah hati seseorang, semakin kaya mereka. Maka dia pasti sangat kaya. Elena, cepat beri tahu kami tentang dia."
"Apa?" Elena mendecakkan lidah, "Ketika manajer datang untuk bertanya, dia bahkan tidak punya kartu. Aku pikir dia seperti orang bodoh yang belum pernah melihat dunia, pergi dengan membabi buta menuju Citibank.”
"Kurasa dia pasti berpikir kalau kartu Bank OCBC NISP dan Bank HSBC juga bisa digunakan di Citibank."
"Pada waktu itu, dia pasti malu sampai mati."
"Kemudian, aku tidak melihatnya lagi dan pergi begitu saja dengan Ayahku. Mendapat pelajaran demikian, kita lihat apa dia masih berani melakukannya di masa depan. Mungkin dia harus pergi kemana pun dengan kepala tertutup!"
"Pemuda tersebut bukan anak kecil lagi, tetapi mengapa otaknya tidak digunakan? Aku pikir dia ditakdirkan untuk melajang seumur hidupnya. Siapa pun yang mencari pria seperti dia, mereka pasti benar-benar buta!"
"Berhenti membicarakannya, toh kami tidak akan bertemu lagi. Hei, kenapa Winnie dan yang lainnya belum datang?" Elena memegang ponselnya dan sedikit mengernyit. Dia melihat layar ponsel yang menampilkan obrolannya dengan Winnie.
"Pacar Winnie terlihat cukup tampan, ramping dan kurus. Aku sangat menyukai tipe demikian. Jika teman sekamarnya seperti dia, jangan berebut denganku!"
"Lihatlah dirimu, gadis kecil!" yang lainnya tertawa, "Winnie mengatakan kalau pacarnya berasal dari jurusan Pendidikan Jasmani, jadi kualitasnya pasti bagus. Kita lihat saja nanti yang kita suka, jangan langsung mengatakannya, kita akan membaginya sendiri."
Ketiga gadis tersebut mengobrol dan tertawa, kemudian saling memandang dan memperbaiki dandanan satu sama lain.
Pada saat yang bersamaan, Winnie membawa Edric dan lainnya berjalan memasuki Restoran Coocoo.