Memories In The Future/C2 Satu minggu saja, kau mau menjadi kekasihku?
+ Add to Library
Memories In The Future/C2 Satu minggu saja, kau mau menjadi kekasihku?
+ Add to Library

C2 Satu minggu saja, kau mau menjadi kekasihku?

Dua tahun kemudian.

"Hai."

Milly menengadahkan wajahnya. Menatap pria yang sudah berdiri di sampingnya. Pria yang telah 2 tahun menghilang dari hidupnya. Pria yang dulu membuatnya jatuh cinta sekaligus patah hati. "Hai." Milly kembali menatap meja bartender, menghindari tatapan mata yang masih mampu menarik hatinya.

"Boleh aku duduk?"

Milly melirik sedikit. "Perlu aku jawab??"

Kennan tersenyum. Ya, dia Kennan, pria yang menjadi masa lalu, tapi satu-satunya penghuni hati hingga kini. Kennan duduk di samping Milly. "Long time no see."

Milly tersenyum tanpa menatap mata yang terus menatapnya.

"I miss you," lanjut Kennan.

Milly meneguk wine nya, dia memerlukan keberanian untuk hanya sekedar menatap matanya saja. "Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu akan menikah?" Akhirnya Milly memberanikan diri bertanya dan menatap pemilik hatinya.

Kennan tersenyum. "Ya, 2 minggu lagi aku menikah."

"Selamat. Semoga kau bahagia." Milly tersenyum tipis.

Kennan menunduk sesaat. "Jika bukan denganmu, aku tidak bisa menjamin aku bisa bahagia."

Sontak pernyataan itu membuat Milly merasakan sesak di dadanya, gadis itu menghilangkan senyum di bibirnya seketika. Dia menghela napas berat, dan kembali menatap gelas di genggamannya. Jika menuruti kata hatinya, dia ingin menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Kennan. Milly tersenyum miris. "Begitukah?"

Kennan mengangguk, lalu tersenyum. "Kau masih mau, jika aku ajak menikah?"

Milly tersenyum. "Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban." Milly meraih mantel yang bersandar di kursi, lalu mengenggam tas tangan. "Aku pergi." Gadis itu berdiri.

"Tunggu." Kennan meraih tangan Milly. "Jangan pergi. Aku ingin bersamamu. Aku sangat merindukanmu."

Milly berbalik menatap Kennan. "Aku tahu. Dan aku harus menghindari itu." Milly melirik ponsel Kennan yang diletakannya di meja. Lampu ponsel menyala, ada panggilan masuk. Terpampang Tunangan di sana. "Tunanganmu." Sambil mengangkat alis dan mata mengarah pada ponsel.

Kennan tidak bergeming. "Aku tidak perduli. Aku hanya ingin bersamamu saja. Aku mohon," lanjut Kennan lirih.

Milly membeku. Hati dan pikirannya sedang bergejolak, ingin pergi, namun juga ingin tinggal.

Kennan menatap Milly sesaat, lalu menggenggam tangan Milly dengan perasaan rindu yang sudah mencuat. Kennan menarik Milly, membawa Milly menjauh dari tempat itu. Menepis semua masalah yang mungkin akan datang nanti. Dia sudah tidak peduli. Dua minggu lagi, dia tidak akan bisa melakukan ini. Menggenggam tangan gadis pemilik hatinya.

Mereka berdua menyusuri koridor dan berujung pada satu ruang yang dulu sekali menjadi tempat mereka menoreh kenangan pertama, First Kiss. Kennan membawa Milly memasuki ruangan itu tanpa perlawanan. Setelah menutup pintu. Kennan melepas genggamannya. Kedua tangannya mengapit lengan Milly, gadis itu sedang menunduk. Dia menangis.

Kennan mengerutkan alis. "Kenapa menangis?" Kennan melihat bahu Milly bergetar. Kennan menyentuh lembut dagu Milly, mengangkat wajah cantiknya, matanya terpejam. Ujungnya mengalirkan air bening. Kennan mengecup bibir Milly dengan lembut. "Jangan menangis, aku mohon. Aku menjadi lemah saat melihatmu menangis." Kennan kembali mengecup bibir Milly, sesaat tapi berkali-kali.

"Hentikan Kennan." Dorongan ringan dan suara serak khas wanita menangis, menghentikan Kennan dan kecupannya. Milly membuka matanya, bibirnya bergetar. "Aku tidak ingin patah hati lagi." Milly menatap mata Kennan dengan tajam.

Kennan, hatinya perih mendengar kata itu dari gadis pujaannya. "Satu minggu saja. Kau mau menjadi kekasihku lagi? Satu minggu." Entah kenapa Kennan mengucapkan kata semenyakitkan itu untuk Milly.

Milly terdiam, menatap mata Kennan dengan berjuta pertanyaan yang berlarian di dalam kepalanya.

"Hmmm. Untuk terkhir kalinya. Aku mohon!!" Kennan masih setia dengan sorot matanya yang penuh harap.

"Kau gila?" Milly melepaskan dari kukungan Kennan dia berbalik.

"Untuk terakhir kalinya. Setelah ini, aku tidak akan menemui dan mengganggumu."

Milly tidak menggubris. Dia memaksa pintu VIP itu terbuka. Kennan menekan pintu dengan kedua tangannya di kanan dan kiri Milly.

"Aku mohon, setelah ini aku akan hidup bersama orang yang tidak aku cintai. Setelah ini, aku akan hidup sepeti mayat berjalan. Untuk terakhir kalinya, aku menginginkanmu, Milly."

Milly terdiam, tubuhnya membeku. Matanya telah berkaca-kaca. Dia berbalik, menengadahkan wajah menatap Kennan dengan segenap kerinduan. Deru napas keduanya tidak beraturan, antara menahan rindu, marah dan kekecewaan di saat yang bersamaan. Dia tidak lagi menuruti isi kepalanya, kedua tangannya meraih tengkuk Kennan dan memaksanya mendekat. Milly yang memulainya. Dia menepis semua yang ada di isi kepalanya saat ini. Yang dia perdulikan hanya melepas kerinduan pada pria pemilik hatinya. Bibir hangatnya menyentuh bibir Kennan. Merasakan gejolak yang tidak lagi dapat dibendung. Keduanya memejamkan mata, dengan tangan Milly yang sudah melingkar di bahu Kennan, dan tangan Kennan yang melingkar di pinggang Milly.

Bibir mereka saling melumat, dan menyecap. Mereka memperdalam ciuman. Kennan mengeratkan pelukannya hingga tidak ada jarak antara tubuh mereka. Kennan mundur langkah demi langkah. Hingga dia terjatuh dan duduk di sofa. Dengan Milly yang ada di pangkuannya. Ciuman mereka tidak terlepas.

Tangan Kennan mulai bergerilya memberi belaian pada seluruh tubuh Milly. Milly meleguh ringan. Kennan dan Milly melepas ciuman mereka sesaat, napas mereka terengah-engah, saling menatap. "Aku mencintaimu. Aku janji tidak akan ada wanita lain lagi."

Milly tersenyum dengan perih. Milly kembali mencium bibir Kennan, dan disambut dengan lumatan hangat yang semakin lama menjadi semakin panas.

Kennan menggerakkan tangannya. Menurunkan resleting dress Milly, dan memasukkan tangannya, dan membiarkan tangannya kembali merasakan kulit kekasihnya ini. Milly kembali meleguh. Sama seperti Kennan, kini tangan Milly bergerak melepas kancing kemaja Kennan satu persatu. Keringat mulai membanjiri mereka, antara menahan gejolak nafsu dan kerinduan.

Ciuman kembali terlepas. "Boleh??" Kennan menatap Milly dengan napas yang terengah-enggah. Milly mengangguk, lalu tersenyum.

***

Semua berjalan sempurna, remang-remang dan sepi di tengah keramaian. Kennan mengecup seluruh wajah Milly. Milly memejamkan matanya. Meresakan hangatnya kecupan yang selama ini dia rindukan.

"Aku merindukanmu." Milly yang tengah bersandar dalam pelukan hangat Kennan, kembali meneteskan air matanya.

Kennan mengecup mata Milly. "Aku juga. Aku merindukanmu. Sangat."

Milly membuka matanya. Dia diam sesaat. "Aku mau, kita menjadi sepasang kekasih untuk satu minggu. Sebelum aku kehilanganmu untuk selamanya."

Ego dan amarah telah menutupi batin keduanya. Masa lalu dan masa depan mereka kesampingkan sesaat. Meminta ruang untuk merasakan bahagia berdua.

Hanya berdua.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height