Mommy! Where's Daddy?/C6 BOSS PLIN PLAN
+ Add to Library
Mommy! Where's Daddy?/C6 BOSS PLIN PLAN
+ Add to Library

C6 BOSS PLIN PLAN

"Dad?"

"yes Son?" Regan sedang menjalankan peran nya sebagai Ayah dari kedua bocah kembar ini, wajahnya tampak begitu bahagia menikmati perannya sekarang namun tersirat keinginan besar yang tak ada yang tau satupun, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu akan bagaimana peran ini berjalan nantinya.

"do you know our name?"

"ehmm" Regan terdiam diberi pertanyaan yang begitu mudah itu, hei jika dipikir - pikir Ayah mana yang tidak mengetahui nama anaknya.

"oh Son, Daddy lebih menyukai memanggilmu dengan sebutan Son . sedangkan untuk ..." kali ini Regan sudah benar - benar mati kutu, "Thab- Thabyl.."

"Shabyl! dad.." koreksi Reyand.

"ah ya, Shabyl... Daddy lebih suka memanggilmu Love."

"oh (R)leally? Mom always call me Love dad, well you are the same!" celetuk Shabyl spontan, jelas itu makin membuat Regan tersenyum bangga, untuk mengambil hati dan mendekati anak sang mantan tak sesulit itu kan. so, ia akan memulai permainan ini dengan baik.

" by the way, my name is Reyand!" ucap Reyand dengan nada datar, Regan yang mendengar nada tak biasa itu mengalihkan pandangannya ke arah spion tengah mobil dan melihat raut wajah Reyand yang berubah dingin. hell anak kecil itu sedikit mirip dengannya, apa bocah itu sudah mengetahui akal bulusnya?

tak menghiraukan perubahan raut wajah Reaynd, Regan kembali fokus dengan berkendaranya. pikirannya kembali tergiang - ngiang dengan informasih yang di berikan bawahannya mengenai Shalom yang sudah hamil semenjak SMA.

"Apa kalian lapar?" tanya Regan seperkian menit dari keheningan yang tercipta.

"ehmm yes!" teriak Shabyl semangat.

"bisakah Daddy mampir ke restaurant yang biasa kami kunjungi?"

"ehmm dimana itu?"

"Restaurant Kenanga dad!" ucapan Reyand membuat tubuh tegap lelaki itu membeku, Regan kembali di bawa untuk mengingat masa lalu nya. restaurant itu adalah tempat yang selalu ia dan Shalom kunjungi, dan juga sebagai tempat terakhir perpisahan mereka.

"waw, kamu tau dari mana Son?" kau pandai mengingat?" tebak Regan memecah kecanggungan .

"Mom, selalu mengajak kami kesana, dan katanya ia sangat berharap disana kami bisa bertemu Daddy suatu hari nanti. tapi pada kenyataannya kami malah bertemu Dad di sekolah." jelas bocah laki - laki itu panjang lebar, Regan hanya bisa tersenyum kaku mendengarnya. apakah benar Shalom mempunyai laki - laki lain saat itu? bagaimana cintanya dulu? hey bukan kah kau sudah membencinya Regan, bagaimana bisa kau masih berharap dirinya menunggu dirimu kembali? benak Regan berteriak hingga lamunannya terhenti saat mendengar teriakkan kedua bocah yang sedang duduk di bangku belakang nya.

"Dad!"

"awasss!"

Tinnnnnnnnnnnnnnnn ckitttttt..

hah hah hah hiks hiks..

"hey Love are you ok? i'm Sorry!" Shabyl menangis kencang saat mengetahui Daddynya melamun entah karena apa, dan mereka hampir saja menambrak sebuah pengendara motor di depan sana, untung nasib baik mengikuti. sang pengendara motor tak tertabrak dan selamat tanpa gores sedikitpun karena Regan sudah lebih dulu sadar dari lamunannya.

"hey I'm sorry!" ulang Regan kemudian memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dengan aman dan hendak mengangkat Shabyl kepangkuannya dan menenangkan bocah itu.

begitu pula dengan Reyand, pria itu sempat mengangkat Reyand pertama kali untuk duduk di depan dan menanyakan keadaannya, untungnya Reyand baik - baik saja, seperti nya memang mental seorang Reyand sekuat baja lain dengan Shabyl yang sudah menangis sesegukkan.

"hey hey cup cup udah ya, sini Daddy pangku biar tenang." Regan akhirnya menyetir dengan posisi shabyl berada di pangkuannya dengan sesekali masih terdengar sesegukkan karena habis menangis. entah mengapa hatinya terasa tersentuh dan jantungnya berdetak kencang berpelukkan dengan anak Shalom, ada apa ini? perasaan apa ini, Tuhan?

sesampainya mereka di restaurant 'Kenanga' Regan keluar mobil dengan mengendong Shabyl dan mengandeng Reyand. bagaikan sebuah pahatan maha karya yang begitu indah di pandang, Regan yang tegap gagah dan tampan membawa dua bocah yang 99 % berwajah mirip satu sama lain yang tak kalah cakep dengan dirinya menjadi tontonan para pelanggan lain.

terutama sang pelayan yang sudah mengenal baik mereka, tentu saja karena mereka merupakan pelanggan restaurant itu. "haloo selamat siang, selamat datang di resto Kenanga.." greeting seorang pelayan dengan ramah dan tersenyum cerah mendapati si kembar berkunjung.

"haii dedek gemes..."

Reyand yang biasa mendapat cubitan di pipinya oleh sang pelayan hanya cemberut dan menepis tangan pelayan tersebut dengan kesal. bukannya takut mendapat respon seperti itu, sang pelayaan malah terkekeh dan semakin menjahili dua kembar itu.

"wahhh baru pertama kali lihat mereka sama Ayahnya!" ucap salah satu pelayan lainnya.

"iya mana ganteng, ya ampun lihat deh Dedek Rey kayak pinang di belah dua sama Ayahnya. mirip banget cuk!" ucap pelayan pria yang agak gemulay itu dengan lantang, tentu saja membuat Regan mendengar perkataan mereka.

lelaki itu hanya tersenyum dalam diam, dan memesan makanan favorite si kembar. Shabyl yang betah di gendongan Regan tetap diam, namun matanya memperhatikan pelayan - pelayan yang tampak genit kepada sang Daddy, tentu saja semua itu membuatnya memasang wajah masam dan semakin memeluk sang Daddy tampannya ini.

setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya mereka mendapatkan pesanan mereka, tak lupa membayar pesanannya Regan dan si kembar segera bergegas dari sana.

.............

sampai di perusahaan, berawal dari lobi hingga menuju lift ke ruangannya semua mata tertuju pada seorang pria dewasa yang tampan dengan dua anak kecil yang juga di anugrahkan wajah yang rupawan, seakan melihat sebuah adegan film, mereka terpana dengan keakraban di antara ketiga nya. bahkan tak sedikit yang mengirah anak - anak tersebut adalah sang cucu pemilik perusahaan. anak dari sang Asisten Direktur, kenapa bisa bersama direktur baru mereka.

bahkan direktur baru itu pun belum 24 jam berada di perusahaan ini. sungguh, mereka benar - benar tak menyangkah pemandangan ini akan mereka lihat, apalagi di dukung dengan wajah si kembar yang tampak mirip dengan direktur baru mereka ini. sebenarnya sisapa sang direktur? pertanyaan itu kini bersarang di semua otak karyawan yang melihat pemandangan saat ini.

sudah sekitar lima belas menit di ruangannya , Regan hanya duduk termenung di kursi meja kerjanya sedangkan si kembar berada di sofa dengan makanan mereka, setelah meminta ob untuk menata makanan yang baru dibeli. Regan hanya membiarkan kedua bocah itu untuk makan dengan sendirinya, walaupun agak berantakan tak menjadi masalah baginya.

lama memandangi jendela besar yang ada disana dengan sound suara anak - anak membuat Regan sedikit tenang, terkadang suara celoteh keduanya malah membuat sang taipan tenang tanpa rasa risih walaupun terkesan berisik.

Clek..

suara pintu mengagetkan ketiga manusia disana, Shalom yang terlihat lebih baik perlahan menutup kembali pintu kamar dan terkejut melihat anak - anaknya duduk anteng dengan berbagai macam makanan, serta apa? bagaimana bisa mereka membiarkan anaknya memakan Ice cream dengan wadah jumbo seperti ini?

"ada apa ini? kenapa kalian bisa di sini?" tanya ibu dua anak itu, ia bahkan tidak menyadari keberadaan Regan disana.

Shalom melototkan matanya melihat kelakuan kedua anaknya yang seolah tak merasa bersalah sudah memakan makanan yang begitu berlebihan, Ice cream? Shalom dengan cepat merampas kotak persegi itu karena ice cream tersebut bertoping potongan buah strawberry.

Shalom mengangkat putrinya dan memeriksa tubuh Shabyl yang sudah terlihat meninggalkan ruam di kulitnya.

"Shabyl!" panik wanita itu dengan wajah cemas, Regan tersentak melihat Shalom yang menampilkan raut wajah panik.

"Mommy, hiks... gatal mom, mulut Thabyl pelih (perih).. hiks Mommy hueeekkk.."

Byur... Shalom semakin panik ketika Shabyl dnegan luwes nya memuntahkan segala macam yang dimakan bocah itu tadi, wajahnya sudah pucat dan mata Shabyl berkunang - kunang. melihat itu Regan bergegas mengangkat Shabyl dan berjalan cepat menuju keluar dengan sempat - sempatnya menelpon sang sopir untuk menyiapkan mobil di depan kantor cepat.

"Mom?" ucap Reyand ikut cemas melihat sang adik yang sudah hampir tak sadarkan diri Shalom kemudian mengandeng Reyand dan memasuki mobil Regan menuju rumah sakit.

semua pasnag mata kembali membanjiri mereka, lagi - lagi pemandangan yang begitu membuat stok napas habis, pasalnya sepanjang koridor dan lobi kantor mereka melihat sang boss mengendong bocah perempuan dengan keadaan panik dan di ikuti dua manusia lainnya yang menampilkan wajah yang sama.

di sepanjang perjalan Shalom terus memeriksa denyut nadi Shabyl, Shalom seakan mati rasa mendapati anaknya seperti itu. ia tak akan habis pikir jika terjadi sesuatu yang tak di harapkan terjadi pada anaknya.

setelah menempuh waktu hampir dua puluh menit untuk sampai di rumah sakit, kini mereka sedang berada di koridor yang bertepatan di depan ruangan dimana sang anak di bawah ke ruang UGD untuk pemeriksaan, mereka duduk dengan wajah cemas menunggu kabar baik dari sang dokter.

Reyand selalu berada di pelukkan Ibunya sejak sampai dirumah sakit, bocah lelaki itu ketakutan. dulu sang adik juga pernah mengalami hal ini. Shalom sedari tadi sudah menangis sembari memeluk putra nya dengan erat sedangkan Regan hanya bisa berdiri menatap pintu UGD itu kapan akan terbuka.

"Dad!" panggil Reyand kemudian melepas pelukan Shalom dan menghampiri Regan.

Regan terlihat cemas, bagaimana pun ceritanya ia tetap merasa sangat bersalah karena telah memberikan makanan sembarangan kepada Shabyl, ia masih belum mengetahui abgaimana bisa Shabyl mengalami hal tersebut.

bukan hanya Regan yang tersentak dengan panggilan Reyand, namun Shalom juga ikut menengadah kan kepalanya dan melihat raut wajah Regan yang tampak biasa saat Reyand memanggil nya dengan sebutan' Dad'

"yes Son!" makin dibuat binggung dengan keduanya, Shalom berdiri dan ikut berjalan ke arah Regan yang sudah menyamakan tingginya dengan Reyand.

"kalian? ada apa ini, kenapa kamu memanggil nya Dad? Reyand! jawab Mommy!" ucap Shalom dengan nada tak percaya.

"because he is my daddy!"

"dia bukan Daddy kamu Reyand, berhentilah bergurau! sini balik ke Mommy!" perintah Shalom dengan wajah garang.

"gak usah bawak - bawak urusan kita sama anak - anak! jangan menjadi Shalom yang egois seperti dulu, bisa?" ucap Regan datar dengan nada ketusnya. membuat Shalom membuang muka padanya. makin membenci sikap lelaki ini yang plin plan, bukan kah ia tampak menjijikan di mata Regan kenapa masih peduli.

"Reyand, kamu denger Mommy kan! telingah kamu masih berfungsi tidak?" tekan Shalom kepada Reyand yang tampak masih memeluk Regan kencang.

mempererat rangkulannya di leher Regan, membuat Shalom tak bisa meraih anak itu." Reyand Mommy bilang sekali lagi, lepasin. sini sama Mommy!!" ucap Shalom mulai geram dengan tingkah anaknya dan berbicara dengan suara keras, sang anak yang terkejut dengan teriakan sang Mommy langsung bergetar menangis. walaupun terlihat dingin, Reyand tetaplah anak kecil yang akan menangis jika sudah di bentak seperti ini.

"bisa ngesampingin ego kamu dulu?" ucap Regan datar dengan wajah dinginnya membuat Shalom terdiam dan memandang tak percaya kepada Regan. menghelah napasnya lelah Shalom berbalik duduk kembali.

"plin plan!" ejek Shalom pelan dan beranjak dari hadapan keduanya.

Clek..

"dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya Shalom dengan cemas menghampiri sang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD dan Shabyl yang akan di pindahkan, anak itu sedang tidak sadarkan diri sekarang.

"Alhamdulillah, anak ibu cepat dibawa ke rumah sakit, Alergi nya jadi tidak terlalu parah."

"saya sudah curiga bahwa alergi Shabyl kambuh karena tadi saya kecolongan mencegah dia makan ice cream strawberry." Regan mendekat di sebelah Shalom memperhatikan ucapan sang dokter.

"hmm baiklah, lainkali pastikan makanan yang di makan anak ibu dan bapak tidak mengandung serbuk sari buah Strawberry ya. kalau begitu saya akan resepkan obat dan Shabyl bisa pulang besok."

"Shabyl alergi serbuk sari buah Strawberry?" tanya Regan tiba - tiba. mendengar pertanyaan itu, wajah Shalom mendadak pucat. ia baru menyadari bahwa Regan juga alergi dengan buah merah berbintik itu.

"Faktor genetik paling sering jadi penyebab. Alerginya pun tidak selalu sama seperti orang tuanya. Bisa saja sang Ayah alergi buah strawberry sedangkan anaknya alergi pollen(serbuk sari)" penjelasan sang dokter makin membuat Shalom terasa berat untuk melangkah terlebih lagi wajah datar Regan sudah memandangnya berbeda.

"sekarang kalian sudah bisa menjenguknya, saya permisi."

"baik dok terimakasih!" ucap Shalom kemudian hendak memasuki ruangan Shabyl yang sebelumnya sudah di pindahkan di ruangan perawatan intensif.

"waw kebetulan sekali atau memang ...ada satu rahasia di antara kita yang belum selesai. Shalom Haidah Cantika." ucapan dengan nada datar namun tersirat menekan Shalom.

Regan berhasil membekukan seluruh aliran darah Shalom hingga wanita itu terdiam dan tak berani membalas tatapan Regan sama sekali.

.

.

.

.

tobe continued*

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height