Mon Amour/C4 Sebuah Alasan
+ Add to Library
Mon Amour/C4 Sebuah Alasan
+ Add to Library

C4 Sebuah Alasan

Rindu itu kejam

Diam-diam, dia mematikan

•°•

Kapan Kinan bisa tersenyum lagi? Kepala Maya penuh dengan pertanyaan yang sama setiap hari.

Segala macam cara sudah dilakukan, agar Kinan bisa seperti dulu.

Nihil.

Lama Maya tidak melihat, sebuah senyum bahagia terukir di wajahnya.

Gelap. Selalu begitu. Bahkan mendung pun, masih kalah suramnya dari raut wajah Kinan.

Bagi Kinan, sulit untuknya menjelaskan. Tentang kerinduan dan keiklasan.

Hatinya berdesir perih, setiap dia ingat peristiwa kehilangan tujuh tahun lalu.

Masa di mana dia baru mengenal cinta pertama. Menemukan seorang sahabat, yang begitu berarti.

Mereka pergi, hampir di waktu yang sama.

Luka tertoreh di dalam hati. Sakit menyiksa, tiada obat.

Hanya perjumpaan yang Kinan harapkan di antara dua kerinduan.

Bertemu kembali dengan Toni dalam keabadian, atau datangnya Prima kembali.

Kinan menunggu, takdir mana yang akan berpihak padanya.

Hari ini Maya lagi mode baik. Soalnya, dia baru dengar ceramah yang bilang kalau doa mau cepat dikabulkan, manusia harus banyak berbuat baik.

Kalau begitu, dia akan banyak berbuat baik. Supaya doa dikabulkan. Hajatnya, diterima bekerja di Sun Organizing.

Tidak peduli seberapa banyak gaji yang bisa didapatkan. Melihat bos yang begitu memesona, dia sangat berharap bisa bekerja di sana.

Korbannya, siapa lagi kalau bukan Kinan.

Hidup Maya!

"Kamu ngapain?" protes Kinan saat melihat Maya menghadang jalannya.

"Hari ini gue bakal bantuin lo."

Kinan mengerutkan dahi. Dia yang tadinya mau menyiram bunga di halaman, mengurungkan niat.

Mengambil sebuah box yang ada di atas meja, Kinan melangkah masuk ke dalam.

Maya mengikuti.

Sampai di dapur, box yang tadi dibawa, dia letakkan di lemari paling bawah. Rupanya itu milik ibunya, yang berisi piring kecil.

Usai menaruh box, Kinan berkacak pinggang. "Jujur, pasti ada maunya."

"Gue ke kantor itu kemarin."

"Kantor yang mana?"

"Yang lo cariin dari internet itu. Sun Organizing," Maya menandaskan.

Kinan mengangguk dengan ritme lambat. "Terus, apa?"

Maya memepet Kinan. "Lo tau gak, dia siapa?'

Kinan mundur sedikit ke belakang. "Siapa memang?" tanyanya.

"Dia itu-" Maya menjeda ucapannya.

"Dia-"

Menunggu siapa yang akan Maya sebut, mungkin kenal, Kinan jadi terpaku.

Menunggu ....

Menunggu ....

"Dia itu pangeran, yang ganteng banget, Nan!" Akhirnya Maya mengatakan juga, siapa.

Mendesah, Kinan merasa sedikit kecewa. Ini bukan kali pertama Maya bicara soal pria tampan.

Kembali ke halaman depan, Kinan mengambil selang air untuk menyiram bunga.

"Lo beneran, deh, nggak ada antusiasnya denger kata cowok ganteng," beo Maya.

Kinan tersenyum tipis. "Semoga keterima, ya."

Maya mencebik. Dia dekati sahabatnya tersebut. "Mau sampai kapan, lo gini. Gue kangen sama lo yang dulu."

"Kita tiap hari ketemu, mana mungkin kamu kangen."

Maya memanyunkan bibir, melihat Kinan sekilas sambil memberengut. Entahlah, dia ini benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh.

Maksudnya, Maya rindu dengan sosok Kinan yang dulu.

Kinan yang ceria, bisa bermanja-manja, juga bisa membuat gurauan bersama.

Sekarang dia berbeda.

Dia terlihat sangat kuat, bukan Kinan yang cengeng. Namun, dia juga kehilangan satu hal dalam hidupnya. Tawanya. Sudah lama itu hilang.

Berpikir sebentar, Maya jadi punya ide untuk mengajak Kinan ke luar.

"Mall Bulan, lagi ada diskon, nih. Ke sana, yuk!" ajak Maya.

"Kamu aja, May."

Ck! Maya menarik selang yang Kinanti pegang. "Temenin gue. Sekalian kita cuci mata, siapa tau ketemu 'gandengan'."

"Begini maksudnya?" Kinan menarik tangan Maya.

Maya menepis tangan Kinan. "Masa sama lo!" rutuknya. "Buruan siap-siap. Pokoknya temenin gue hari ini."

"Bukannya kamu harus hemat?"

"Tenang, gue masih ada simpenan uang. Hari ini, lo gue traktir."

Kinan terpaksa mengiyakan. Takut temannya yang pqling cerewet, merajuk.

"Selesai siram bunga dulu, ya. Sekalian tunggu ibu pulang."

Maya melingkarkan telunjuk dan jempolnya. "Siap!"

°•°

Ananta tengah berpikir keras di ruang pribadinya. Saat ini, dia berada di rumah. Ada satu ruangan khusus di lantai atas, yang berisi beberapa berkas kerjanya. Selain untuk bekerja, dia juga suka menggunakan ruangan itu untuk menyendiri.

Kinanti ... Kinan ... Kinan, Ananta terus menggumamkan nama itu. Matanya terpejam, tetapi bukan tidur. Dalam posisi duduk, dia memikirkan gadis yang ia lihat di pemakaman adiknya.

Memikirkan peristiwa tujuh tahun lalu, Ananta memaksa dirinya untuk mengingat sesuatu. Dia coba ingat, apa saja yang pernah mendiang Toni katakan.

"Di mana Kinan?" Suara lirih Toni, di masa kritisnya.

Matanya terbuka. Yah, dia sekarang ingat nama Kinan.

Nama yang selalu adiknya tanyakan dalam kondisi antara sadar dan tidak.

Jika gadis yang dia lihat itu adalah Kinan yang Toni maksud, berarti Ananta harus apa setelah ini?

Dia ... kenapa masih datang ke makam Toni?

Matanya, menyiratkan bahwa dia menunggu seseorang. Siapa yang dia tunggu?

Ada suara ketukan dari luar.

"Ananta, Ibu membawakanmu teh, Sayang."

Ananta menengok ke belakang. Dari jendela dia bisa lihat kalau hari mulai gelap. Baru sadar, ternyata sudah cukup lama dia berpikir.

"Sebentar, Bu." Ananta bergegas membukakan pintu.

Pintu dibuka. Jena tersenyum kala melihat putranya. "Ibu bawakan teh dan cemilan untukmu."

Ananta mengambil nakas yang dibawa, sambil mengajak ibunya masuk ke dalam.

Duduk, Ananta menyesap teh buatan ibunya.

"Manis seperti Ibu."

Jena memukul perlahan lengan anaknya. "Bilang itu ke gadis lain, jangan dengan perempuan tua macam ibumu ini."

Ananta meletakkan cangkir tehnya. "Coba tanya ke seluruh penjuru nusantara, mereka pasti jawab Ibu yang paling cantik."

Jena kemudian duduk di kursi depan Ananta. "Ananta, anakku yang pandai bicara."

Keduanya sama-sama melempar senyum. Sejurus kemudian, Ananta menatap Jena lamat. Dia tahu, meski coba menutupi perasaaannya, Jena masih bersedih. Begitu pun dengan sang ayah.

Kehilangan anak yang amat dikasihi bukanlah perkara mudah. Apalagi setelah pengorbanan yang begitu banyak, mereka tetap harus kehilangan Toni.

Tahun-tahun pertama setelah kepergian Toni dihadapi Ananta dan keluarga dengan sulit. Butuh kerja keras ekstra, agar Ananta bisa mengembalikan apa yang pernah menjadi milik mereka dulu.

Sadar diperhatikan, Jena meraih tangan Ananta.

"Jangan bekerja terlalu keras."

Ananta mengusap lembut tangan Jena. "Ananta cuma berusaha untuk mengembalikan apa yang kita punya dulu."

"Yang Ibu punya dulu, adalah dua orang putra. Keduanya, sangat Ibu cintai."

Ada lengkungan bak bulan sabit terukir di bibir Ananta.

Jena meremas lembut tangan putranya. "Berjanjilah untuk selalu sehat."

"Ibu, juga."

"Cari gadis yang baik, supaya ada yang lebih telaten mengurusmu."

Ananta menyandarkan tubuhnya di kursi. "Memangnya kenapa? Apa, Ibu bosen urus Ananta?"

"Kamu gak sadar kalau sudah tua, karena terlalu sibuk kerja, Sayang."

Ananta mengerling pada Jena.

"Ibu serius, Sayang,"

Tak ada bantahan, hanya terdengar helaan napas Ananta.

"Ibu tinggal dulu, ya." Jena beranjak.

"Bu!" panggil Ananta.

Jena menoleh.

"Pinjam kunci kamar Toni, Ananta ada perlu."

Jena mengangguk. "Nanti Ibu suruh si Mbak yang antar ke sini."

Jena membuka pintu. "Jangan sampai terlambat makan malam!" Dia mengingatkan sebelum menutup pintu.

°•°

Ibunya masih merawat dengan baik barang-barang milik Toni. Buktinya, Ananta mendapati semua masih tersusun rapi dan bersih.

Ananta mengambil satu album foto dari rak berwarna hitam di sisi kanan tempat tidur Toni.

Dibukanya album berwarna biru mua tersebut.

Sesekali dia tersenyum. Melihat gambar Toni di dalam sana. Ketika sehat, adiknya memang orang yang ceria dan sedikit 'gila'.

Tidak ada yang beres dari ekspresinya, kecuali saat goto keluarga.

Menutup album, Ananta mencari benda lain.

Satu buah kotak berukuran cukup besar, dia temukan di bagian bawah.

Ananta menariknya.

Terkunci! Dia bergumam.

Melirik ke arah foto Toni yang terpajang di dinding, Ananta bicara sendiri.

"Toni, Mas-mu ini boleh buka kotaknya, 'kan?" Dia bersikap seolah foto afiknya bisa menjawab.

Ananta sendiri tidak mengerti akan dorongan yang ada di dalam dirinya.

Kenapa, ini begitu kuat.

Mata sayu perempuan yang dilihatnya, membuat hati Ananta bergetar.

Kasihan. Mungkin itu yang dimaksud perasaannya.

Ananta mencari kunci di sela-sela lemari. Ia juga meraba bagian alas. Saat jemarinya menyentuh sesuatu di balik lipatan baju, Ananta mengambil benda tersebut.

Dapat!

Kunci dicoba. Ananta sangat berharap ini berhasil.

Beruntung, percobaan pertama langsung sukses. Kotak terbuka dan dia menemukan benda-benda milik mendiang Toni.

Ananta menemukan satu buah foto. Di balik foto ada tulisan, 'My Friends'.

Ananta tertawa kecil. Wajah adiknya sudah tampak pucat. Gambar diambil satu minggu sebelum Toni berangkat ke Singapur. Ananta bisa tahu dari tanggal yang tertulis di bawahnya.

Lucu. Wajah Prima tak pernah berubah. Dia selalu jadi orang yang berekspresi datar dan kaku.

Wajar kalau Ananta menertawakan eksperesi sahabat Toni tersebut.

Lanjut mencari. Ananta menemukan beberapa buah kaset dan walkman milik Toni. Iseng mencoba, ternyata alat untuk mendengar musik legendaris tersebut masih berfungsi.

Jangan heran. Meski pada tahun 2001 sudah ada Ipod, Toni memang lebih suka menggunakan walkman. Menurutnya ini lebih klasik.

Satu kaset Ananta coba putar.

Oh sial! Dia tertawa sendiri di atas tempat tidur, saat mendengar suara dari kaset. Ternyata rekaman suara Toni yang bermain gitar sambil bernyanyi.

Manusia memang tidak ada yang sempurna. Dia tampan, tetapi suara gitar dan nyanyiannya sangat buruk.

Berhenti mendengar lagu buruk yang tadi, Ananta memutar kaset lain.

"Januari, 2011. Penyakitku semakin parah ...," lirih Toni, membuat Ananta termangu.

"Ayah dan ibu, mulai bereaksi berlebihan atas apa yang aku katakan."

"Kemo? Itu ternyata lebih sakit dari yang dikira. Satu kemo, tubuhku rasanya terbakar. Dua minggu berlalu, sakitnya masih bisa aku ingat."

Serasa tertohok, tanpa sadar Ananta menitikkan air mata. Selama ini, dia terlalu sibuk bekerja, sampai lupa menengok kamar adiknya.

Setelah tujuh tahun, dia baru tahu apa yang tersimpan di dalam kamar Toni.

Satu kaset selesai. Ananta memutar kaset lain.

"Seseorang, jika menemukan rekaman ini. Itu artinya, aku tidak punya kesempatan untuk menyampaikan pada orangnya langsung ...."

Ananta dengarkan sampai selesai. Rupanya, Toni punya pesan yang belum tersampaikan.

Sebagai kakak, Ananta bisa bayangkan betapa perih hati Toni ketika dia mengatakan semua.

Seperti isyarat bahwa dia tahu telah dikhianati, Toni tetap mementingkan sahabatnya.

Sekarang, Ananta tahu kenapa perasaaan ini sangat membuncah. Pesan Toni akan Ananta penuhi.

Dan Maya, dia mungkin bisa membantu.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height