C2 Fake happiness
Pernikahan mereka berjalan dengan lancar. Hingga seminggu pernikahan mereka, Eduardo terpaksa keluar negeri karna mengurusi cabang perusahaannya, meninggalkan sang istri yang baru dinikahinya.
"Nggakpapa kan kalau Diana disini?" kata Eduardo sembari menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Eduardo sengaja ke rumah Laura untuk mengantarkan Diana. Eduardo takut jika Diana akan kesepian.
Laura pun memasang senyumnya. "Nggakpapa, santai saja."
Hati Diana kini was-was, ia tahu jika Laura hanya pura-pura menerimanya. Namun ini adalah kesempatan terbaiknya, kesempatan untuk dekat dengan sang mertua. Cinta akan tumbuh seiring kebersamaan.
"Terus kapan kamu berangkat?" tanya Laura lalu minum susu rendah lemak kesukaannya.
"Pesawatnya berangkat sejam lagi mah," jawab Eduardo.
Laura menyeringai senang. "Kalau begitu kenapa masih disini? Bandara itu jauh! Kau bisa ketinggalan pesawat!" Laura pun menoleh kearah Diana. "Iya kan?"
Diana mengangguk gugup. "Iya! Kau bisa telat mas!"
Eduardo mengangguk setuju. Dengan bantuan Diana, Eduardo mengemas keperluannya selama ada di luar negri. Laura dan Diana mengantarkan Eduardo kedepan rumah, sebelum berangkat Eduardo berpamitan kepada dua wanita itu. Eduardo pun berangkat bersama supir. Sekarang, neraka untuk Diana dimulai.
"Sini ikut!" Laura langsung menyeret Diana.
"Kemana mah?" tanya Diana takut.
Laura memandangnya marah. Ia semakin memperkuat tarikannya. "Udah ikut aja! Jangan kebanyakan protes!"
Laura menyeret Diana ke tempat cuci baju. Ada 5 keranjang yang penuh dengan baju kotor. "Kamu cuci semua itu pakai tangan!" titah Laura.
Diana terkejut dengan tumpukan baju yang ada. "Tapi mah, ini banyak banget!"
"Apa perduliku? Semua pembantu sedang pulang kampung, mesin cuci sedang rusak. Kau satu-satunya disini, jadi kamu yang harus mengerjakannya!" kata Laura tak terbantahkan.
"Tapi ...."
"Heh, seharusnya kamu itu sadar diri! Masih mending anak saya itu mau sama kamu! Sekarang kamu mau jadi ratu di rumah ini hah?" bentak Laura.
"Iya mah," kata Diana parau.
Laura pun pergi meninggalkan Diana dengan tumpukan baju kotor tersebut. Secara tak sadar, air mata Diana turun perlahan melewati kedua pipinya. Dulu, ibunya tak pernah membiarkan Diana untuk mencuci baju sebanyak ini. Tapi sekarang Diana diperlakukan layaknya pembantu oleh mertua sendiri.
Diana meraih ember sedang dihadapannya lalu mengisinya dengan air dan deterjen. Diana pun memasukan baju kotor ke ember hingga penuh. Diana mengambil salah satu baju yang terendam dengan deterjen lalu menguceknya dipapan penggilasan. Ia melakukan hal tersebut hingga baju kotor habis, Diana membilas baju tersebut dan menjemurnya dibelakang rumah. Peluh membanjiri tubuh Diana. Bukan hanya keringat, badan Diana juga pegal.
Akhirnya selesai juga. Diana menatap deretan jemuran dengan puas. Ia pun duduk diambang pintu rumah. Capek banget rasanya. Aku kira masih pagi, ternyata sudah tengah hari.
"Disini kau rupanya!" Laura datang dari arah belakang Diana. Ia menatap garang Diana.
Diana pun berdiri dan menatap Laura. "Ada apa mah?"
"Pakai nanya lagi! Sudah siang! Saya lapar, cepat masak!" bentak Laura yang menunjuk kearah dapur.
"I ... ya mah." Diana pun lari tergopoh-gopoh menuju dapur. Laura tersenyum senang melihat Diana lari seperti dikejar setan.
Diana langsung memeriksa kulkas. Ia mengambil bahan-bahan untuk membuat tumis kangkung udang. Dengan terampil ia membersikan dan memotong semua bahan masakan. Kompor menyala, Diana langsung menumis bumbu lalu memasukan kangkung dan udang. Tak lupa Diana mencicipinya setelah matang.
"Enak! Pasti mamah suka," kata Diana senang.
Tak lama Laura datang. "Masak apa kamu?" Laura pun melirik masakan Diana. "Makanan apa ini!!!"
"Dicoba dulu mah."
Laura pun meraih garpu yang tak jauh dari kompor. Dengan senyum remeh, Laura mencoba masakan Diana. Ia mengunyahnya dengan pelan, membuat Diana harap-harap cemas. Laura mengerut tak suka dan melepehkannya ke lantai.
"Kenapa mah?"
"Makanan nggak enak ini mau kasih ke saya? Kamu mau meracuni saya?" bentak Laura.
Diana melongo tak percaya. "Tapi aku cobain enak kok mah!" ucap Diana membela diri.
"Terus, kamu nyalahin saya? Dasar mantu tidak tahu diri! Membuang waktu saja! Lebih baik saya makan di Restoran!" Laura membanting garpu ke lantai dan pergi.
Air mata Diana kembali mengalir. Dadanya terasa sesak ingin berteriak. Sebegitu buruknya kah Diana? Sampai masakannya pun tak dihargai. Diana serba salah dimata mertuanya. Benar kata orang-orang, cinta itu butuh restu. Ya, Diana memaksakan diri untuk menikahi Eduardo tanpa restu Laura. Karena cinta, Diana mengabaikan hal itu. Sekarang, Diana menerima akibatnya.
.
.
.
.
.
Hari sudah berganti. Diana tak menyadarinya. Rasa sakit hati yang ditorehkan oleh Laura membuat satu detik di rumah ini sama dengan 1 tahun. Ketika malam pun Laura menyuruhnya bersih-bersih gudang, alhasil Diana tidur jam 1 pagi. Karena kelelahan Diana bangun jam 9 pagi, untung saja Laura tak marah.
Pagi-pagi ia mengecek ponselnya, terdapat pesan dari sang suami. Ingin sekali mengeluarkan semua keluh kesahnya kepada Eduardo, namun Diana takut jika Eduardo akan membenci Laura. Diana memilih memendamnya. Diana pun membalas pesan Eduardo dengan baik, seperti tak ada masalah.
Diana pun memutuskan untuk keluar dari kamar, takut Laura mencarinya. Saat turun dari tangga, Diana mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Penasaran, Diana menghampirinya.
Ternyata itu teman-teman Laura. Mereka bercanda ria sembari menyantap camilan. Diana tak mau menggangu mereka. Ketika hendak pergi, salah satu teman Laura menyebut namanya. Ia menjadi penasaran dan menguping pembicaraan mereka.
"Eh, menantu mu itu kemana? Kok nggak kelihatan?" tanya salah satu teman Laura.
Laura nampak sedih dan menghela napas. "Dia masih tidur, maklumlah pulang subuh."
"Pulang subuh? Memangnya menantumu itu kemana?" sahut orang yang duduk disamping Laura.
"Nggak tahu. Tapi dia pulang pakai baju mini dan badannya bau alkohol," kata Laura.
Teman-teman Laura pun menghujat Diana sebagai wanita tak bermoral. Sementara Diana yang menguping hanya bisa menahan tangis. Kenapa Laura mengatakan hal buruk tentang Diana? Padahal dari kemarin Diana tak pergi satu jengkal pun dari rumah ini.
"Kok kamu bisa sesantai gitu sih sis? Kalau aku, sudah ku jambak dia!" sahut teman Laura dengan emosi.
"Bener tuh! Bisa-bisanya istri kayak jalang gitu!"
"Iya! Kenapa juga jeng Laura merestuinya?"
Laura menampakan wajah sedihnya. "Mau bagaimana lagi? Kalau dia diganggu malah marah. Kalau aku nggak merestuinya, Eduardo bakal pergi jauh dari saya. Saya hanya punya Eduardo. seorang ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya, walau saya harus menderita."
Semua teman Laura nampak bersimpati. Sementara Diana membekap mulutnya agar tak berteriak. Ia langsung berlari ke halaman belakang. Disana Diana menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasib sebagai menantu yang tak diharapkan.
.
.
.
.
.
Tbc