+ Add to Library
+ Add to Library

C6 Pulang

Diana memutuskan untuk pulang ke kampung halaman ibunya. Di dalam bus, Diana terus saja menangis. Walaupun berulang kali ia mensugesti dirinya untuk melupakan Eduardo, Diana tetap saja tak bisa. Setidaknya tak ada orang yang menyadari ia adalah Diana Putri yang dituduh selingkuh dan terkenal akan hal itu.

Diana menatap jendela bus yang basah karena hujan. Ia jadi teringat akan kenangannya bersama Eduardo ketika mereka berada di depan menara Eifel. Eduardo berjanji untuk percaya kepadanya, tapi semua itu sirna. Dengan keji Laura memfitnahnya dan Eduardo lebih percaya dengan mulut berbisa ibunya.

"Kau jahat mas, kau tak percaya aku. Padahal kau sudah berjanji!" isak Diana menatapi pemandangan jendela bus. Orang lain nampak tak perduli memilih memejamkan mata melawan rasa dingin hujan.

Diana membuat tulisan abstrak di jendela bus yang berembun. "7 tahun kita bersama, apa tak cukup untuk kau percaya kepadaku? Hiks...." Diana kembali menangis.

Dia adalah wanita realistis yang menginginkan harta dan cinta secara bersamaan. Ketika ia melihat di sebuah drama, seorang wanita miskin dengan pria kaya yang sangat mencintainya, akan terlihat sangat romantis tapi kenyataannya sungguh tragis.

Detik demi detik berlalu. Diana tak tahu berapa jam ia lewati. Diana menghabiskan waktu hanya untuk merenung dan meratapi nasib hingga tertidur karena terlalu lelah. Kernet bus membangunkannya. "Mbak, sudah sampai." Ia menepuk pelan bahu Diana.

Diana terlonjak kaget. Ia menatapi sekitar lalu menoleh kearah kernet. "Sudah sampai ya mas, maaf." Diana mengusap wajahnya kasar.

"Iya mbak, cepat pulang. Wajah mbak kelihatan capek banget!" sang kernet pun pergi.

Beberapa orang telah mengantri untuk turun dari bus. Diana bersiap dan mengambil barang bawaannya. Ia turun dan hari mulai gelap. Untungnya, jarak terminal dan rumah ibunya tak terlalu jauh. Diana memutuskan untuk jalan kaki. Rasa sedih ia rasakan ketika menginjakan kakinya di Yogyakarta, kota kelahirannya.

Dulu,Eduardo tak pernah menyuruhnya jalan kaki.

Dulu,ada orang disampingnya.

Dulu,ia tak seperti ini.

Dulu,ia tak pernah ditatap sinis.

Dan itu hanya dulu,kini sudah berubah.

Langkahnya terasa berat. Apa yang akan ia katakan dihadapan ibunya? Bahkan dulu ketika menikah ibunya tak boleh hadir, sekarang ketika cerai Diana kembali? Oh, betapa durhakanya ia.

"Apakah ibu akan memaafkanku? Diana menatap langit gelap dengan mata berkaca-kaca. Apa yang kau harapkan? Dasar tak tahu budi!"

Rasa sedih Diana telah menggeser rasa lelah akibat ia berjalan, Diana telah sampai. Rumah yang menjadi saksi ia besar. Rumah yang lama tak ia pijak, terakhir kali ia kesini untuk meminta restu. Diana menoleh ke kanan dan kiri, tak ada tetangga yang keluar karena ini sudah malam. Diana mengumpulkan keberanian untuk bertemu ibunya. Ia mengetuk pintu rumah.

"Semoga ibu mau membuka pintu untukku," harapan kecil Diana sebelum mengetuk pintu.

Tok...

Diana tersenyum kecut. Belum ada jawaban. Dengan keberanian yang tipis, ia mengetuk kembali.

Tok...Tok...Tok...

"Ia sebentar!!!" teriak seseorang yang berada didalam rumah. Diana semakin gugup.

Kriet...

Suara pintu terbuka, menampilkan sesosok wanita tua yang mengenakan mukena. Tanpa basa-basi. Diana langsung memeluk kaki ibunya.

''ibu... '' seru Diana, ia mulai terisak.

Halimah, ibu Diana, kaget dan langsung membantu anaknya itu untuk berdiri. "Kok nang kene? ana apa nduk?" Diana berdiri dengan bantuan Halimah. Tubuh Diana lemas tak bertenaga.

Halimah kembali menanyakan tentang apa yang terjadi, Diana malah semakin terisak. Halimah tak tega dan menuntun Diana untuk masuk kedalam rumah. Dengan sabar, Halimah memeluk dan mengelus punggung Diana. Halimah kira, Diana bahagia sekarang. Oleh karena itu, Diana sedikit sulit dihubungi. Kini, Diana menangis tersedu-sedu didekapannya. Bahkan, Halimah tak melepaskan mukenanya. Ada apa ini?

"Maafkan aku ibu,"ucap Diana dan melepaskan pelukannya.

Halimah mengangguk dan mengusap rambut putri satu-satunya itu. "Ibu mau copot mukena dulu, ibu tak ambil minum buat kamu. Aja nangis ta nduk.” Diana mengangguk sebagai jawaban.

Halimah pun ke belakang. Ia mencopot mukenanya dan mengambilkan minum untuk Diana. “Ngombe sik nduk." Halimah membantu Diana untuk minum. Sesudah minum Diana sudah lebih tenang.

"Ana apa ta nduk? Ayo cerita karo ibu,” bujuk Halimah.

Diana menghela napas berat. "Aku cerai sama Eduardo buk."

Halimah kaget bukan main. "Cerai? Kalian hurung ana 1 tahun nikah kok cerai! Ada apa sebenarnya!"tuntut Halimah tak habis pikir. Tak ada angin, tak ada hujan meraka cerai.

Dengan sekuat tenaga Diana cerita sembari menahan tangis. "Aku difitnah selingkuh sama mertuaku sendiri bu. Suamiku malah tak percaya aku. Dia malah menalakku dan mencampakkanku.”

Halimah masih terdiam menunggu cerita selanjutnya. "Padahal aku sudah belajar menjadi menantu yang baik, tapi nggak cukup. Mereka ingin menantu yang kaya, bukan yang miskin kayak aku."

Halimah menggeram marah. "Ibu dulu bilang apa! Kamu ngak nurut sama ibu! sing sabar ya nduk!" Diana menunduk dan mengusap air matanya. Ibunyalah yang bisa memahaminya saat ini.

“Kamu disini saja ya,” kata Halimah dan Diana mengangguk setuju.

"Mereka itu siapa! Seenaknya ngolok-olok kita! Kita pancen wong ora duwe, tapi duwe harga diri! Ora pantes kaya ngene!" koar Halimah.

Dulu, Halimah tak suka dengan Eduardo. Entah kenapa. Melihat Eduardo dan Diana yang saling mencintai, Halimah pun merestui mereka.

"Apa tak parani kae wong! Tak santet po pie?" lanjut Halimah dengan aksen daerah nya.

Diana pun mengelus bahu Halimah. "Udah bu yang sabar, yang ikhlas."

Halimah pun memandang Diana. "Ini! Sing buat kamu ditindas! Kamu pasrahan! Nggak lawan!" cerocos Halimah kepada Diana.

"Ya mau bagaimana lagi bu? Mereka orang kaya, kita orang miskin. Mereka punya kekuasaan, kita enggak. Kita ngelawan bukannya menang malah mati," jelas Diana.

"Tapi ini ndak bisa dibiarkan!" kata Halimah marah.

"Yang sabar bu, biar Allah yang balas," ujar Diana disertai senyuman.

Halimah menghela napas. "Kamu ini ya, persis banget bapak mu. Sabar karo wong sing nglarani."

Diana tersenyum dan menggenggam tangan Halimah. "Kan aku anak bapak dan ibu. Bagaimana sih kok lupa!"

"Iya anak ku, anak yang ditindas orang lain. Malah ora ngelawan meneh!" balas Halimah sewot.

"Kan kata bapak kita harus saling memaafkan," kata Diana.

Tak lama, Diana merasakan mual yang begitu hebat. "Huek!!!"

Halimah kaget. "Ana apa nduk? Kamu sakit?"

Tak ada jawaban. Diana berlari menuju kamar mandi yang letaknya telah hafal diluar kepala, Halimah pun menyusul Diana dengan wajah khawatirnya yang begitu ketara. Diana memuntahkan semua isi perutnya. Namun nihil,hanya ada cairan putih yang keluar dari mulut Diana. Ada apa dengan Diana?

.

.

.

.

.

Tbc

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height