C13 Chapter 13
"Ugh... Jack ya di situ baby."
"Seperti ini?" tanya Jack dengan suara parau saat memasukan jari-jarinya dalam inti Luna, wanita itu menutup matanya. Luna berhasil menggoda Jack dan sekarang Jack merasa terbakar dengan ramuan murahan yang berhasil Luna campurkan dalam minuman laki-laki itu.
"Ouh please. No please..." Luna mengeluh kecewa saat Jack malah mengelurkan jarinya. Wanita itu menatap bossnya kecewa. Apa-apaan ini? Kenapa Jack mempermainkan dirinya?
"Bukankah kau juga menginginkan diriku?" tanya Luna tanpa malu seperti seorang jalang murahan. Jack menatap lawannya dengan kabut gairah yang terlihat jelas di matanya, tapi apalagi yang ditunggu laki-laki ini? Luna sudah sangat siap sekarang?
"Pelan-pelan sweety. Tiger tidak akan senang, jika kamu langsung pada intinya. Tiger ingin dimanja terlebih dahulu." Goda Jack dengan memegang pucuk payudara Luna dan meremasnya. Awalnya ia memberi rangsangan ringan, tapi lama-lama Jack memeras dengan kuat. Membuat Luna mengeluh dan tak sabaran kapan si bastard ini mengisi miliknya.
"Bangun." perintah Jack. Luna menurut, wanita itu sekarang berlutut di atas ranjang.
"Apakah kamu ingin bermain-main seperti MR. Grey? Yang ia beri kenikmatan pada Anastasia." bisik Jack sambil menggigit telinga Luna dan sambil meniup leher wanita itu. Luna sudah tak kuat, tapi Jack sangat ingin menyiksa dirinya.
"Lakukan apapun, saya benci perasaan ini!" jawab Luna tak sabar. Jack tersenyum. Ini adalah gadis yang ia inginkan dari dulu, seorang submitive yang tunduk pada apapun yang ia lakukan.
"Apakah kamu pernah coba pakai lilin?" Luna menggeleng. Percayalah, bahkan dirinya masih perawan ting-ting. Ia ingin menggoda Jack karena sejak pertama kali ia sudah jatuh pada laki-laki itu, tapi Luna selalu bertekad tak boleh tunduk pada laki-laki. Satu-satunya cara untuk membuat laki-laki tunduk adalah sex. Jika laki-laki sudah suka pada tubuhmu ia akan melakukan apapun yang kalian minta. Dan Jack salah mengartikan sifat Luna selama ini.
Luna sudah bertekad lelaki angkuh seperti Jack harus jatuh dalam genggamannya. Luna harus melawan budaya patriarki.
"Mari kita bersenang-senang." Luna menunggu dengan gugup, apa yang akan Jack lakukan pada dirinya. Saat ia melihat punggung lebar dan tegap laki-laki itu berbalik. Jack membuka laci nakas dan saat berbalik, Luna hanya bisa menelan ludahnya gugup. Sebuah tali pengikat berwarna putih. Luna yakin, ia akan diikat. Apa Jack akan melakukan BDSM?
"Berbaringlah." Luna hanya menurut, ini satu-satunya cara agar Jack tunduk padanya. Karena jika Jack sudah bucin ia dunia laki-laki ini bisa ia genggam. Diam-diam Luna mengepalkan tangannya. Bersabarlah, karena kamu juga akan mendapatkan kesenangan.
"Ulurkan tanganmu ke atas." Luna menurut. Jack mengumpulkan kedua tangan tersebut dan mengikatnya. Luna menahan napas, ia bersyukur Jack tidak mengikat mati yang bisa membuat tangannya lecet nanti.
"Lebarkan kakinya." Luna melebarkan kakinya. Jack membawa sebatang lilin dan korek api. Apa Jack akan mengajak dirinya ngepet sekarang? Luna menggeleng dengan pemikiran gilanya.
Jack mengambil wadah kecil yang biasa sebagai peletak lilin untuk sembahyang yang ada ujung runcing. Jack membawa lilin ke atas kasur.
"Sebaiknya mata kamu ditutup." Luna mengira, Jack akan menutup matanya pakai kain merah seperti Mr. Grey pada Anstasia. Tapi ia salah, Jack dengan kurang ajar mengambil bra merah terang miliknya dan menutup mata Luna. Luna bersyukur bra miliknya masih wangi, jika tidak Luna bisa pingsan sekarang.
Luna bisa merasakan, sekarang Jack duduk tepat di antara lembah miliknya.
Dan Luna bisa merasakan saat sesuatu yang panas dan rasanya terbakar mulai diteteskan di atas dadanya. Oh Tuhan, Jack menyiksa dirinya.
Bahkan, Luna bisa merasakan milik Jack sengaja bergesekan tapi laki-laki itu sengaja ingin menghukumnya.
"Bukankah ini menyenangkan." Luna diam. Sambil mengepalkan tangannya, kalau tak ingat misi ia ingin menendang Jack sekarang.
Jack terus meneteskan benda panas itu di atas tubuhnya dan membuang saat sudah dingin, dan bodohnya Jack bagaimana Luna bisa membersihkan semua cairan lilin ini di tubuhnya. Jack memang suka mencari perkerjaan.
Milik Jack semakin menggoda milik Luna saat laki-laki itu semakin menggesekaan miliknya. Jika tak ingat tangannya sedang diikat sekarang Luna akan mencabut milik Jack dan langsung memasukan dalam miliknya. Jack sialan!
Tangan Jack meremas dan terus meneteskan cairan panas tersebut. Luna hanya berlonjak geli dan sakit, tapi ia lebih menderita saat milik Jack tak juga dimasukan dalam miliknya. Miliknya sudah sangat becek sekarang. Luna ingin beteriak tapi ia yakin Jack akan semakin menyiksa dirinya.
"Ough." Luna mengeluh, saat Jack memasuki dirinya dengan keras tanpa ada permisi dan langsung menembus dinding keperawanannya. Gila! Jack bisa membuat napasnya putus, karena Jack tidak mengira-ngira miliknya masih sangat sempit. Dasar bos gila!
"Oh shit! Kenapa kau tak bilang, jika kau masih sempit seperti ini?" Kaki Luna menjepit punggung Jack, saat laki-laki itu memasuki dirinya keluar masuk. Ini yang Luna impikan. Tapi apa Jack tidak ingin mencium bibirnya? Seperti yang ia lihat di video biru?
"Nikmat?" tanya Jack menyentak miliknya makin dalam. Luna mengangguk.
"Bagus! Besok, saya akan mengantung dirimu sambil menyetubuhi dengan keadaan berdiri. Bukankah itu menyenangkan? Atau kamu berbaring di atas tuts piano sambil aku menyetubuhi dengan keras. Ouh sial! Membayangkan saja, aku sudah mau sampai!" Jack semakin menggerakan miliknya dan mencabut dengan cepat saat merasakan miliknya dan membunga cairan mililnya di atas perut Luna. Luna tidak mendapatkan kenikmatan tapi saat milik Jack dilepas ia hanya merasakan kepedihan. Pedih yang terasa di bawah dan juga hatinya. Luna bodoh, jika ia malah harus melakukan semua ini dengan hati.
Luna akan menanti hari-hari penyiksaan nikmat yang akan Jack beri pada dirinya. Sam juga harus melawan hatinya jangan sampai ia yang tunduk pada laki-laki bajigan ini.
Ilene menutup laptopnya. Gila! Demi apa, ajaran sesat Moon ia berani menulis cerita erotis yang kelewat dark. Ilene yakin, setelah ini ia akan mengeksplor lebih banyak bentuk sex yang berbeda dari kebanyakan. Bisa saja ia menulis cerita satu perempuan di-gangbang ramai-ramai. Ilene bergidik ngeri. Wajahnya polos, tapi tidak dengan isi otaknya. Salahkan saja Moon!
Gadis itu merenggakan jari-jarinya. Dan melihat sekelilingnya, dua teko minuman dingin habis. Menulis yang hot memang butuh air dingin yang banyak dan banyak makanan ringan yang hanya tersisa bungkusnya. Walau begitu, Ilene merasa begitu lega dan puas. Belum pernah selama menulis, ia merasa puas dengan hasilnya. Mungkin semua campur tangan dari Moon.
Ilene memutar bola matanya. Lagi-lagi Moon. Rasanya seperti hidupnya tak bisa lagi dipisahkan dari Moon. Semoga saja mereka kompak hingga ia mendapat gelar penulis best seller.
Ilene langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tidur lebih baik, ketika bangun tidur ia sudah submit tugasnya. Karena ia yakin, setelah ini Moon tidak akan minta revisi tapi jika masih ada revisi, itu memang keterlaluan. Ilene sudah sungguh-sungguh dan menulis dengan hati yang tulus, berharap yang membaca nanti bisa merasakan apa yang Ilene tulis. Ilene ingin tulisan yang ia buat bernyawa, banyak orang yang menyukai karakter yang ia buat.
"Beneran ngatuk. Moon Ai tidur dulu ya. Bangun Ai submit, kamu harus puas ya. Awas tak puas, kusumpahin rambutmu botak."
Ilene memeluk bantal miliknya. Sebelum masuk dalam alam mimpi, bahkan ia belum sempat berberes.