+ Add to Library
+ Add to Library

C5 Kisah 4

Endaru dan Suro akhirnya ditarik dan didorong dengan ancaman moncong senapan hingga berhenti di depan undakan pendopo. Seluruh tatapan yang hadir di sana tertuju pada mereka—pada tatapan dingin Endaru dan pada dada telanjang Suro yang dipenuhi dengan bekas luka akibat sabetan senjata tajam. Rambut sebahu Endaru terikat ke belakang dengan anak-anak yang saling berjatuhan. Sedangkan rambut ikal Suro terlihat awut-awutan sehingga menambah kesan liar di wajah mereka.

Bisik-bisik menggelombang.

“Pria sakti dari Ponorogo!”

“Warok yang kebal senjata!”

“Ora iso mati!” [Tidak bisa mati!]

Salah satu opas mendorong bahu Endaru dengan moncong senapan agar segera berlutut dan berjalan jongkok menuju ke hadapan sang bupati dan residen Bojonegoro. Suro mengikuti di belakang Endaru. Kedua tangan mereka terbelenggu besi dan masih harus mengapurancang. Tatapan mereka harus tertunduk ke lantai.

Sejumlah polisi dengan parang dan bedil turut berjajar rapi di depan pendopo untuk menghalau kerumunan warga yang penuh dengan rasa ingin tahu. Di tengah-tengah pendopo, para pejabat tinggi Karesidenan Bojonegoro duduk melingkari meja. Di bagian tengah ada residen Bojonegoro—Bram van der Stok—yang bertindak sebagai hakim karena peristiwa ini terjadi di wilayah administrasinya. Kepala kepolisian sekaligus jaksa adalah seorang indo dengan wajah hampir sepenuhnya pribumi—kecuali hidung dan warna matanya yang kelabu. Pria itu mengambil tempat duduk di samping residen. Pada sisi meja sebelah kiri, duduk seorang qadi dengan sorban putih besar dari kain mori yang dililitkan di kepala menyerupai mahkota sultan Turki. Di sampingnya, duduk seorang totok yang bertugas sebagai penerjemah. Pada sisi meja sebelah kanan ada bupati Bojonegoro yang didampingi seorang demang. Mereka semua yang akan memimpin jalannya persidangan.

Jaksa mulai membacakan tuduhan kepada Endaru dan Suro dalam bahasa Belanda tanpa cela. "Jij martelde Meneer Barend Crusoe op vrijdag 7 september 1898, een controleur bij het Bojonegoro kertogdom, tot de dood."

Residen bertanya pada Endaru dan Suro dalam bahasa Melayu, “Apa kowe tahu dan jelas itu semua tuduhan?”

Suro dengan lantang tanpa berpikir panjang menjawab dalam bahasa Belanda, “Niet duidelijk, Meneer!” [Tidak jelas, Tuan Besar!]

Palu diketuk oleh Residen. “Pribumi dilarang gunakan bahasa Belanda! Gunakan bahasa kowe sendiri!”

Residen memberikan perintah pada penerjemah yang masih duduk tenang di samping qadi untuk melaksanakan tugasnya.

“Kowe pada hari Jumat Legi tanggal 07 September 1898 melakukan penganiayaan pada Meneer Barend Crussoe, seorang kontrolir di kadipaten Bojonegoro yang sekaligus menjadi tuan tanah dan majikan kalian hingga meninggal dunia,” ucap sang penerjemah dalam bahasa Melayu dengan suara sengau hampir berdahak di pangkal tenggorokan.

Residen kembali membacakan tuduhan yang langsung diterjemahkan oleh pria berambut cokelat kemerahan itu dari tempatnya duduk. “Hasil pemeriksaan oleh dokter menyatakan, Meneer Barend Crussoe meninggal karena luka sayatan pada lehernya.”

“Ya, saya yang telah membunuh pria biadab itu!” pekik Endaru yang diikuti oleh sorak sorai di sepanjang halaman untuk memberikan dukungan.

Residen mengetuk palu agar mereka kembali tenang. Sejumlah opas yang bertugas segera mengacungkan bedil dan parang untuk meredakan kegaduhan warga.

Suro begitu geram dengan kelancangan Endaru. “Bukan dia, Tuan Besar! Saya yang menggorok Londo itu sampai mati menggunakan celurit! Tuan opas sendiri yang menangkap saya bersama dengan celurit berdarah itu di rumah Crussoe.”

Sorak sorai kembali membahana dengan lebih semarak. Mereka begitu terkejut dan tidak menyangka, jika dua orang tersangka pelaku pembunuhan itu saling berebut mengakui kejahatannya. Bisik-bisik pun menggelombang.

“Kena gantung mereka!”

“Hukuman rodi seumur hidup itu pasti ....”

Di antara kerumunan orang-orang dusun dan warga yang sengaja datang dari luar kadipaten, terdapat sepasang mata yang tak pernah lepas dari punggung tegak Endaru.

“Tenang semua!” Residen yang menjadi hakim berulang kali harus mengetukkan palu. Dia periksa kembali catatan yang dibuat oleh petugas kepolisian dengan teliti. “Endaru, berdasarkan catatan ini kowe bukan anak dari Suromenggolo. Kowe adalah pendatang gelap di rumah Crussoe!”

Bisik-bisik kembali membuncah.

“Bagaimana kowe bisa sampai berada di rumah keluarga Crussoe dan membunuhnya? Katakan yang sebenar-benarnya jika kowe menginginkan keadilan dan kesempatan untuk membela diri!”

“Tuan Besar,” Suro menyembah sambil merangkak lebih maju. “Anak ini tidak bersalah. Dia hanya kebetulan berada di sana. Sahaya ... Sahaya yang telah membunuh Meneer Crussoe. Tuan Besar bisa menghadirkan Mevrow Crussoe sebagai saksi.”

“Suromenggolo, kowe diam dulu!” dagu sang Residen menunjuk pada pemuda berusia 22 tahun yang masih menatapi lantai itu. “Endaru alias Enes, katakan pembelaanmu sekarang juga!”

Mendengar nama kecilnya disebut, tubuh Endaru menggigil seketika. Tatapannya terangkat dari lantai. Dia pandangi para petinggi di hadapannya dengan tatapan mengabur. Barut luka di bawah mata kanannya tiba-tiba berdenyut, serasa baru saja ditorehkan di sana.

“Katakan dari mana kowe berasal dan apa tujuan kowe menyelinap ke rumah Crussoe?” bentak sang Residen.

Semua orang seketika senyap. Telinga kanan Endaru bergerak samar hampir-hampir tak ada yang melihat, kecuali Suro yang mulai gelisah melihat tanda-tanda itu.

Mereka telah membangunkan macan tidur.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height