C7 Kisah 6
Endaru mengamati salah seorang warok yang berwajah lebih tua dengan cambang bauk dan kumis lebat berjalan mendekat ke arah mereka. Pria itu menunduk dan memberi tabik dengan suaranya yang berat dan tenang.
“Kami dari Wengker, diutus pimpinan untuk menyampaikan pesan kepada Yayu. Keelokan paras putra Yayu sudah tersiar sampai ke tempat kami. Bukankah lebih aman jika dia berada dalam perlindungan kami? Pendidikan dan kebutuhan akan disediakan. Indukan kerbau dan anakannya juga akan kami berikan setiap tahun untuk Yayu.”
Tanpa sepengetahuan Endaru, Gandari memasang wajah marah dan muak di hadapan para bandit merah sambil mencengkeram lengan Endaru dengan kuat. Akan tetapi, tak disangka-sangka Gandari malah jatuh berlutut dengan kedua tangan mengapurancang.
“Ampun, Ndoro! Kami hanya orang biasa yang senantiasa hidup melarat. Tolong, biarkanlah kami hidup seperti ini untuk selamanya!”
Salah satu warok menarik bahu Gandari agar kembali berdiri. Ada kebingungan yang melutuki Endaru. Sang ibu berlagak seakan tak mengenal mereka, tetapi para warok itu bersikap sebaliknya—berhati-hati di hadapan Gandari.
“Kami tidak membeli putra Yayu. Kerbau dan anakan itu bukan untuk mahar pinangan. Tidakkah anak ini perlu tahu kebenarannya?”
Air mata dan isakan mewarnai permohonan dan sembah perempuan bertubuh sintal itu.
“Kami bisa menjamin keselamatan kalian dari ancaman dan kesewenang-wenangan warok lain termasuk Demang Sastro,” bujuk sang Warok.
“Ampun, Ndoro ... Ampuni kami!” Gandari memeluk kepala Endaru dengan lelehan ingus dan air mata yang berderai-derai. Dia tak dapat menahan diri hingga tanpa sadar mencengkeram terlalu kuat lengan Endaru.
Bocah lelaki itu tak tahu-menahu tentang apa yang sedang terjadi. Dia hanya memiliki satu pemahaman bulat, jika seorang warok sudah jatuh hati dan mendatangimu, maka kau tak akan pernah bisa lari kecuali nyawa terlepas dari raga.
Warok tua itu meraih tubuh Endaru dan memeriksa sekujur tubuhnya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Penyelidikannya terhenti pada sepasang mata bocah itu yang bening. “Kau memiliki paras dan raga yang indah, Nak. Dari matamu terpancar jiwa warok sejati. Orang-orang akan dengan sendirinya mendekat dan tunduk padamu. Akan tetapi, jika salah ditangani kemalangan bisa menimpamu di kemudian hari.”
“Apa maksudmu, Ndoro?” ujar Endaru lirih.
Sekali lagi warok tua itu menatap lekat pada mata Endaru. Sesaat bibirnya lirih merapal sebuah mantra. Samar-samar pria itu dapat melihat warna asli pada mata kanan Endaru yang kebiruan. Tiba-tiba pria itu mundur dan terhuyung.
Endaru membisu merasakan cengkeraman Gandari yang semakin menghunjam di lengannya.
“Gandari, kau harus segera membuat keputusan! Jika tidak, nasib anak ini mungkin bisa tergelincir. Jika sampai terjadi, tak akan ada yang bisa menghentikannya,” kata sang warok yang gelisah.
Endaru meronta berusaha melepaskan diri dari mereka. “Aku benci dengan kalian semua! Orang-orang dewasa yang selalu menutupi kebenaran dariku!” teriak Endaru sambil berlari menerabas semak-semak, menuruni bukit, dan menghilang di balik susuran lindap hutan.
***
Gandari menuju ke gubuk bambunya setelah memasukkan kerbau ke kandang. Tangan telanjangnya terulur hendak membuka pintu, tetapi urung saat mendengar raungan dan kegaduhan dari dalam rumah.
Dia menghela. Perlahan disorongnya juga pintu bambu itu hingga terbuka. Terlihat Endaru tengah membungkuk mencangkuli lantai tanah rumahnya yang menjadi simbol kesabaran sang ibu dengan sekuat tenaga. Dia luapkan segala bentuk kemarahan, ketakutan, dan kebencian dengan terus merusak lantai tanah yang setiap hari Gandari sapu dan padatkan agar rata.
Gandari tak mampu berkata. Dia duduk bersimpuh di ambang pintu dengan nelangsa. Lantai tanah itu kini berlubang-lubang dengan sisa cangkulan yang terserak di setiap jengkal seperti raga dan perasaannya yang tak berdaya.
Setelah puas melampiaskan kemarahan, Endaru melempar cangkulnya hingga menghantam dinding gedek dan terpental. Tubuh berpeluhnya limbung ke lantai tanah yang berbenggol-benggol, “Jadi kepada siapa Emak akan serahkan tubuh ini?”
Gandari menggeleng lemah tak mampu menentang tatapan sang putra.
“Berapa imbalan yang akan Emak terima untuk harga tubuhku?” Endaru memberontak dengan sangat kasarnya.
Hunjaman lidah sang putra membunuh jiwa Gandari sebagai seorang wanita dengan gelar ibunda. Dia bangkit dari ambang pintu dan mengambil belati yang terselip di samping pembaringan. Tangan kirinya menarik paksa Endaru keluar rumah hingga kedua kaki bocah itu terseret-seret, sedangkan tangan kanannya menggenggam erat belati yang bilahnya berkilat-kilat.
Endaru tak melawan. Dia serahkan tubuhnya untuk sang ibu. Dia rela bila harus meregang nyawa di tangan orang yang telah melahirkannya daripada harus menjadi budak warok mana pun di dunia ini.
Gandari menidurkan Endaru ke permukaan batu kali yang datar di samping rumah—tempat dia menggiling beras menjadi tepung. Pipi bocah itu menempel sempurna di permukaan batu yang halus dan hangat. Air bening meleleh dari sudut-sudut matanya meski terkatup dengan sangat rapat.
“Kau menangis? Kau tak menangis saat pertama kali aku lahirkan ke dunia ini! Kau tak menangis saat bapakmu pergi tanpa bicara dan menoleh kepada kita! Kau juga tak menangis saat para warok itu mencoba merebutmu dariku. Namun, kini kau menangis di hadapan belati ini?”
Endaru terisak untuk pertama kali. “Aku menangis karena Emak harus menderita seorang diri setelah aku mati.”
Belati terlepas dari genggaman Gandari. Dia mundur sambil membekap mulut. Bahunya melorot dengan punggung naik turun menahan gigil ketakutan.
Endaru mengambil belati itu dari tanah, “Jika Emak tidak bisa maka aku sendiri yang akan melakukannya!”
Bocah itu membalikkan mata belati menghadap ke lehernya. Tangan kecil Endaru gemetar sesaat sebelum mulai mengayunkan belati untuk menembusi batang lehernya sendiri.
***