C8 Kisah 7
Plash! Mata belati terayun. Darah segar menetes-netes dari ujung bilahnya. Tangan Gandari terlambat menahan ayunan tangan sang putra yang berusaha mengakhiri hidup.
“Tidak! Putraku, Endaru?” Gopah-gopoh sepasang telapak pucat Gandari merengkuh wajah sang putra yang bersimbah darah. Anyir menguar dan memelesak memenuhi penciuman.
Anak itu membeku tak bersuara. Kedua tangannya menekan wajah yang berdarah-darah. Belati meleset dari tenggorokan mengenai mata sebelah kanan.
Kraak! Gandari merobek ujung jariknya untuk membebat wajah Endaru.
Mereka saling mendekap. Gandari memangku dan menimang-nimang putranya seakan bocah itu masih bayi merah dalam buaian tangan. “Anak bodoh!”
Dagu Gandari menekan kuat puncak kepala Endaru. Tubuh mereka berayun-ayun maju mundur sambil duduk berpelukan di tanah. Dada mereka menganga karena luka jiwa. Pandangan mereka tersapu senja yang menyemburatkan warna merah, biru, dan ungu yang menjadi saksi bisu.
“Wajahku tak akan elok lagi, Mak. Mereka pasti tak akan menginginkanku!” bisik Endaru lemah di dalam dekapan sang ibu.
“Sungguh kau adalah putraku, bukan putra pria yang meninggalkanmu itu—yang menggadaikan dirinya untuk kesaktian para warok! Gusti Pangeran Sing Kuasa, dia ini adalah putra yang lahir dari peranakanku. Jadikanlah dia tetap putraku ....”
Tubuh Endaru menegang. Dia menolak diayun-ayun ke depan dan belakang lebih lama oleh sang ibu. Rasa sakit berdenyut-denyut di sekitar mata kanannya yang terluka. Risiko kebutaan seakan tak berarti daripada kenyataan tak tertanggungkan tentang riwayat kepergian sang bapak.
“Siapa Bapak sebenarnya, Mak? Bagaimana para warok itu bisa mengenalnya? Kenapa mereka begitu menginginkanku?”
Gandari mulai menembangkan Gambuh. Wajahnya tenggelam dalam bayang kelimut malam.
“Ilang kasopanipun. Ora bayu weyane ngalumpuk. Sakciptane wardaya kang bebayani. Ubayane ora payu. Amung ketaman pakewuh ....” [“Hilang kesopanannya. Tidak mempunyai kekuatan serta lemah. Hal yang dilakukan selalu berbahaya. Sumpah serta janji yang hanya di mulut. Ujungnya hanya akan bertemu sesuatu yang tidak membuat hati senang ....”]
“Siapa Bapakku, Mak? Kenapa warok Wengker ketakutan melihatku? Ada apa dengan mataku?” Endaru menghentikan tembang sang ibu.
“Bapakmu adalah putra dari Warok Sentikno—pimpinan Padepokan Wengker di alas Jenangan. Suatu hari, dia pergi ke Padepokan Bantarangin di Somoroto untuk ngelmu pada Warok Sastro. Di sana kami bertemu. Aku adalah putri dari budak keluarga Warok Sastro. Aku tidak tahu-menahu tentang kehidupan dan lelaku para warok. Karena para perempuan seperti kami dipisahkan dan dibatasi aktivitasnya hanya sampai di sumur dan dapur.” Mata Gandari menewarang.
“Suatu ketika, Bapakmu mendatangi dan mengajakku minggat. Dia bilang ingin hidup berdua denganku di dalam hutan yang jauh dari ingar-bingar kehidupan para warok. Aku pun jatuh cinta padanya sehingga setuju untuk mengikuti rencananya. Semua baik-baik saja sampai kau lahir ....”
“Apa aku menjadi beban dan kesulitan dalam kehidupan kalian?” Endaru meraba pipi ibunya.
Perempuan itu menatap Endaru dan menggeleng. Air mata mulai merembes dan berlinang membasahi pipi kuning langsat Gandari.
“Kau lahir bertepatan dengan gerhana matahari. Bapakmu berusaha menyembunyikanmu. Kami begitu ketakutan jika ada warga atau warok Bantarangin yang mendengar kabar kelahiranmu. Mereka akan membunuh anak-anak yang lahir pada saat gerhana. Anak Batara mereka menyebutnya,” kenang Gandari pada peristiwa kelahiran putranya.
“Bapakmu menolak menyentuhmu saat tahu kau lahir sebagai bayi laki-laki. Bahkan, dia pergi begitu saja setelah merapal mantra dan menyerahkanmu padaku. Hal itu membuatku sedih dan nelangsa,” lanjut perempuan itu.
“Apa Bapak membenciku, Mak?”
Gandari menggeleng. “Dia berkata sangat mencintaimu, tetapi juga begitu takut jika menjadi penyebab kerusakan padamu. Aku tak paham apa yang dia ucapkan dan khawatirkan sampai kakekmu—Sentikno—datang ingin membawamu!”
“Apa yang dia inginkan?”
“Bertahun-tahun aku berusaha menyembunyikanmu dari dunia. Saat pertama lahir, mata kananmu begitu biru. Orang-orang dulu bilang, mata biru menjadi penanda anak yang lahir pada saat gerhana suci. Gerhana itu hanya terjadi 300 tahun sekali. Anak-anak yang lahir pada saat gerhana suci akan memiliki nasib yang sangat baik atau sebaliknya membawa keburukan untuk dunia. Oleh karena para warok itu tak ingin mengambil resiko munculnya kerusakan, sehingga mereka memburu bayi-bayi Batara yang bermata biru dan membunuhnya.”
“Kakek ingin membunuhku?” pekik Endaru.
Gandari menggeleng. “Dia ingin menyelamatkanmu dari warok Bantarangin. Warok Wengker dan warok Bantarangin selalu berseberangan. Warok Wengker selalu menyelamatkan anak-anak yang akan dijadikan gemblak. Tapi aku tak ingin kau terlibat dalam dunia warok.”
Gandari menghentikan ceritanya dan mengusap bebat kain pada mata kanan Endaru. “Seiring berjalannya waktu, warna biru pada matamu mulai menghitam. Kakekmu menyelubungi matamu dengan sebuah mantra. Aku merasa sudah yakin tak ada yang akan mengetahui rahasia ini. Termasuk Demang Sastro dan para warok Wengker. Tidak! Ibu mana yang rela menyerahkan anaknya kepada para warok itu?”
Endaru menunduk. Penuturan sang ibu menjawab seluruh kegelisahan dan ketakutan yang selama ini dia pendam sendiri. Tak jarang dia melihat perubahan warna mata kanannya pada pantulan cermin. Setiap hal itu terjadi, Endaru merasa matanya mulai sakit. “Tapi warok tua tadi ... dia berkata bisa melihat warna biru pada mataku. Bagaimana bisa?”
Gandari terkesiap. Ucapan Endaru seakan mewakili kekhawatirannya selama ini. “Hanya warok sejati—yang benar-benar menjaga kesucian diri—yang dapat melihat kebenaran di balik selubung mantra.”
“Apa Demang Sastro juga melihat hal yang sama pada mataku?”
“Tidak! Sastro hanya melihat ketampanan pada wajahmu seperti dia melihat ketampanan pada wajah bapakmu! Dia ingin menjadikan kalian gemblaknya, hanya itu.” Perempuan itu mengguncang kedua bahu Endaru seakan baru ditampar kembali ke alam sadar. “Malam Suro tinggal beberapa hari lagi, mungkin besok Demang Sastro akan datang ke sini. Pergilah kau, Nak, malam ini juga ke Tegalsari. Mintalah perlindungan dari orang-orang saleh di sana. Semoga kau selamat, Nak.”
Dari kejauhan terdengar derap tapak kaki kuda, satu ... dua ... lebih banyak lagi yang tiba. Mereka mendekat dan semakin dekat. Gandari bangkit dengan pandangan berputar-putar. Dia raba-raba tanah mencari belati yang tadi terlepas.
“Pergilah, Nak! Pergilah! Carilah keselamatan dan ngelmu pada orang-orang saleh di sana! Jauhi para warok itu ... Selamanya jauhi!”
Perempuan itu masuk ke rumah setelah melepas jabat tangan dan mendorong Endaru pergi seorang diri dengan wajah masih merembaskan darah. Gandari memasang palang dan mengunci diri di dalam gubuknya.
***