Random Husband/C1 Bersua Kembali
+ Add to Library
Random Husband/C1 Bersua Kembali
+ Add to Library
The following content is only suitable for user over 18 years old. Please make sure your age meets the requirement.

C1 Bersua Kembali

Jalanan kota terlihat begitu macet dipadati berbagai jenis kendaraan. Mulai dari yang harga dibawah rata-rata sampai mampu meratakan dompet tak berbekas, telah berjajar rapi. Gedung-gedung yang menjulang menantang langit, tak pernah lelah untuk bekerja. Manik mata wanita berbalut setelan kerja yang elegan, tampak panik menatap jamnya karena waktu terus bergulir. Sementara dirinya harus sudah sampai di pagelaran busana sekarang.

Rasa penantian menunggu celah jalan untuk sampai ke tempat tujuan, akhirnya telah berada di ambang batas. Gadis bermanik mata hazel yang tajam itu memutuskan meninggalkan taksi yang ia tumpangi. Pandangannya merajalela ke mana-mana mencari suatu kendaraan yang bisa membawanya pergi secepat mungkin. Namun, hasilnya tetap nihil. Ditekannya keyword ponselnya untuk menulis pesan kepada asistennya bahwa dirinya tak bisa datang.

Kaki jenjang itu memutuskan berjalan ke arah sebuah restoran khas Italia yang lumayan jauh dari tempat ia berdiri. Di bawah terik sang raja siang gadis itu melangkah sambil mengibas-ibaskan kipas lipat yang selalu dibawa ke mana-mana. Tak lupa kacamata hitam ia kenakan sebagai milineris.

Meski menggunakan hak tinggi perempuan itu tetap bisa berjalan dengan cepat. Namun, tetap anggun. Dibukanya pintu restoran sambil menyelipkan anak rambutnya yang menjuntai terbawa angin. Setiap pandangan mata tertuju padanya. Tidak hanya pria, tetapi juga para wanita. Jika pria memandang gadis itu dengan tatapan memuja, sementara para wanita akan iri dengan kecantikannya. Wajah tirus dengan mata sipit dan hidung mancung serta bibir alami merah menggoda membuat siapa pun langsung terkesima, kecuali seorang pria yang sedang asyik menikmati pizza-nya.

Gadis bermanik mata hazel itu kebingungan tatkala melihat kursi-kursi telah penuh. Akhirnya, netranya menangkap sebuah meja yang masih menyisakan bangku kosong. Ia langkahkan kakinya ke tempat itu dengan senyum mengembang.

“Permisi,” ujarnya halus pada pria yang menempati salah satu kursi di meja itu.

“Ya.” Hanya jawaban singkat itu yang terdengar.

“Maaf, bolehkah saya duduk di sini? Meja lain bangkunya sudah terisi semua,” pintanya dengan diakhiri senyuman manis.

Pria itu hanya mengangguk. Setelah diperkenankan duduk gadis bermanik mata hazel itu langsung memesan chicken parmigiana. Sementara untuk minuman dirinya memesan segelas jus jeruk.

“Ngomong-ngomong perkenalkan nama saya Fransisca. Bisa dipanggil Caca.” Gadis itu mengulurkan tangannya, tetapi pria di depannya tak kunjung menjabat tangannya. Caca dengan senyum dipaksakan menarik tangannya perlahan. Dirinya kesal, sebelumnya tak ada pria yang sanggup menolak pesonanya, tetapi hari ini kehormatannya merasa direndahkan.

“Aku sudah tahu.” Akhirnya, lelaki itu membuka suaranya yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Pasti Anda pernah melihat saya di televisi atau majalah,” ujar Caca dengan nada yang rendah dan sopan. Meski batinnya kesal.

“Apakah kau seterkenal itu?” Terdengar jelas nada mengejek di sana. Benar-benar kesabaran Caca sedang diuji. Untungnya itu tempat umum dan berkelas sehingga tak mungkin gadis berhazel itu meluapkan amarahnya di sana.

“Lalu, Anda tahu dari mana?” tanya Caca dengan nada seramah mungkin dan tatapan lembut.

“Aku mengenalmu, makanya tahu,” jelasnya dengan nada sinis. Caca mengernyitkan dahinya. Mencoba mengingat-ingat siapa lelaki tampan nan menyebalkan di depannya. Namun, hasilnya nihil.

“Benarkah? Anda siapa, ya?” Ditatapnya lelaki itu lekat.

“Sepuluh tahun tak berjumpa ternyata penyakit pikunmu sudah bertambah parah. Dasar, Permen!” Suara lelaki ini begitu terdengar tak bersahabat.

Caca mengingat betul hanya satu makhluk yang memanggilnya dengan sebutan ‘Permen’ karena nama panggilannya adalah Caca, tetapi pria itu memplesetkan menjadi Permen Chacha. Dialah Arvano, salah satu pemuda idaman di sekolahnya sewaktu SMA.

“Oh, kau Vano.” Tunjuk Caca kepada pemuda di depannya. Pria itu hanya tersenyum masam.

“Aku tak menyangka bisa bertemu lagi dengan pangeran sekolah yang paling menyebalkan. Kau bekerja di mana, Van?” tanya Caca sambil mengamati apa saja yang dikenakan pria itu. Ditatapnya jam rolex yang melingkar di pergelangan Vano yang harganya pasti sangat mahal. Dapat disimpulkan lelaki di hadapannya memiliki penghasilan yang luar biasa.

“Kenapa aku harus memberi tahumu? Emang itu penting?”

“Emh, tidak. Kau terlihat sangat mapan sekarang. Pastinya kau bukan pegawai biasa, tetapi aku tidak melihat cincin pernikahan di jemarimu. Bukankah akan mudah mendapatkan istri jika kau tampan dan mapan?” ujar Caca tanpa basa-basi. Dirinya memang suka berbicara pada intinya.

“Itu bukan urusanmu. Seperti kau sudah menikah saja.” Vano menatap Caca dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ya, aku memang belum menikah karena aku tak percaya cinta. Kalau kau kan beda.”

Vano terkekeh.

“Wanita sepertimu memang tidak akan pernah menikah. Kau hanya suka harta dan takhta. Mana mungkin kau mau mengurus suami dan anak-anak,”

ujar Vano dengan tatapan mencemooh.

Caca menggeleng sambil mengiris dagingnya, lalu melumurinya dengan saus.

“Tidak-tidak. Itu tak benar. Tentu saja aku ingin menikah meski ada atau tanpa cinta. Ya, kau benar aku sangat menyukai uang makanya aku ingin menikah dengan lelaki tampan dan mapan tapi setiap pria yang kukenal yang telah memenuhi kriteriaku itu brengsek.”

Caca memang tak pernah sungkan untuk mengatakan keburukannya yang sangat mencintai takhta dan harta. Dirinya memang besar di lingkungan para konglomerat yang saling jatuh-menjatuhkan hanya untuk setiap posisi. Siapa yang kuat dia yang bertahan, itulah yang menjadi acuan hidupnya.

“Jelas saja kau mencari calon suami di diskotik. Mana ada yang tak berengsek.”

“Jangan sok tahu, Van. Aku mencari calon suami ya di tempat-tempat orang kaya raya berada. Seperti ladang bisnis.”

“Mungkin kau harus merubah penampilanmu itu kalau kau seperti itu hanya pria mata keranjang yang tertarik dengan wanita yang memakai pakaian kekecilan,” ejek Vano tanpa melihat wajah Fransisca yang telah ia pastikan sangat kesal.

“Terserahlah, memang bentuk tubuhku yang bagus bukan kekecilan. Kadang aku senang ada yang memuji bentuk tubuhku yang indah dan kadang aku juga sebal dengan orang-orang sepertimu yang merendahkanku. Apa aku harus pakai pakaian mumi saja baru orang-orang bisa diam tak menghujatku lagi?” tanya Caca sebal.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height