Random Wife/C12 Di Balik Resepsi
+ Add to Library
Random Wife/C12 Di Balik Resepsi
+ Add to Library

C12 Di Balik Resepsi

Indira mengamati sekelilingnya--takjub dengan dekorasi yang begitu mewah. Suaminya tak berbohong kalau mengadakan pesta pernikahan besar-besaran. Benar saja lelaki itu mendatangkan koki dari Italia untuk menghidangkan kudapan yang akan disajikan kepada para kolega Fabian. Tak hanya itu, pianis yang sekaligus komposer profesional dari Jerman juga hadir memainkan piano--yang mengiringi sepanjang acara. Belum lagi, sang penyanyi solo Asia yang sudah mulai merambah dunia musik Eropa juga Fabian hubungi untuk menyanyikan lagu pernikahan di pestanya--siapa lagi, kalau bukan Lana Vay--sang penyanyi klasik legendaris.

Indira melirik ke arah Fabian curiga. Tak mungkin manusia kikir seperti Fabian, bisa berubah seketika. Mau begitu saja menghamburkan uangnya.

Fabian hanya tersenyum santai. Meski, ia tahu istrinya tengah kebingungan dengan semua yang telah ia siapkan. “Dir, bagus kan dekorasinya?” tanyanya basa-basi.

“Iya, habis berapa?” bisik Indira dengan tatapan penuh selidik.

“Apanya?” Fabian pura-pura tidak tahu.

“Untuk pesta ini, Mas Fabian mengeluarkan berapa banyak uang? Pasti tidak sedikit.”

“Kenapa? Memangnya, kamu mau ganti?”

“Ya, enggaklah. Mana punya uang Dira untuk membayar ini semua. Dira, kan bukan bos.”

“Fabian,” panggil Elina yang mengalihkan pembicaraan sepasang suami-istri tersebut.

“Iya, Ma, ada apa?” Fabian mengernyit heran mendapti sang mama tersenyum penuh misterius.

“Mama, mau nyumbang puisi. Mama mau bacain puisi karya Mama buat kalian,” katanya antusias.

Fabian menggeleng. Pasalnya, ia tak yakin dengan kepiawaian mamanya merangkai kata untuk berpuisi. Dilihat dari sepak terjang novelnya saja sudah jelas gaya diksi sang mama merujuk kepada humor, bukan puitis romantis. Ia tidak mau acara pestanya berantakan karena sang mama.

“Enggak ah, Ma. Mending Mama duduk aja, kalau capek sambil ngemil,” Fabian tersenyum semanis mungkin, takut mamanya tersinggung.

“Kok enggak boleh, sih? Mama, kan mau menunjukkan bakat terpendam Mama,” protes Elina tak terima. Pasalnya, ia telah meminta suaminya tujuh hari, tujuh malam mendengarkan latihannya berpuisi. Dirinya tidak mau semua usahanya sia-sia. Apalagi, mengecewakan pengorbanan sang suami yang terpaksa bergadang karena hanya untuk mendengarkan suaranya tiap malam.

“Sudahlah, Sayang. Kamu enggak usah berpuisi, nanti malah tamunya pada terkesima sama suara kamu. Bukannya, terpesona sama pasangan pengantinnya,” Glory menengahi.

Elina menggeleng, ia hendak menyahut. Namun, Fabian terlebih dahulu bicara. “Ma, jangan tega sama anak. Masa, Mama nanti yang lebih eksis di acara pernikahan Fabian,” kata Fabian dengan nada meyakinkan. “Lagian, nanti kalau Mama baca puisi terus banyak pria yang terpesona kan bahaya. Jaga perasaan Papa, Ma,” bisik Fabian agar tak terdengar oleh ayahnya.

“Iya ..., iya. Mama enggak bakal nyumbang suara emas Mama. Kalau gitu, Mama mau nyumbangin novel Mama sebagai suvenir buat tamu yang beruntung.”

Fabian langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Indira. Ia menyilangkan kedua tangannya seraya menggelengkan kepalanya. “Enggak usah, Ma. Makasih, novel Mama terlalu esklusif. Sayang kalau dibagiin, mending dijual aja, Ma. Kan best seller, mau difilmin juga.”

“Ya, justru esklusif itu, Mama mau bagi. Jadi, ini hadiah berkelas,” bangganya penuh percaya diri karena novel yang akan ia bagikan adalah novel yang tidak akan dicetak ulang lagi. Kalau dalam dunia pecinta buku, dikenal istilah rare atau langka--suatu buku yang tidak dicetak lagi dengan jumlah terbatas akan dijual dengan harga sangat mahal, bahkan satu buku bekas bisa menembus jutaan rupiah harga jualnya. Maka dari itu banyak orang ingin mengkoleksi buku rare.

“Enggak usah aja, Ma. Dijual aja, dilelang dengan harga mahal kalau perlu. Jangan dibagiin, nanti dikira bukunya enggak laku lagi,” tegas Fabian membuat Elina berpikir sejenak.

“Mana mungkin begitu, semua orang tahu buku Mama yang judul “Perempuan Pemakan Rayap” itu best seller. Langsung habis waktu PO dalam waktu 6 jam, padahal dicetak 10 ribu ekslempar,” elaknya tak terima. “Kenapa sih kamu enggak mau menerima buku Mama buat gift para tamu? Enggak mau nerima uang dari ayah kamu juga buat pesta ini. Kenapa kamu enggak mau nerima pemberian kami?”

“Fabian, kan udah gede, Ma. Lagian, Fabian yang nikah masa Mama sama Papa yang biayain,” sahut Fabian dengan nada santai.

Indira semakin bertambah curiga dengan suaminya. Pasalnya, itu bukan gaya Fabian sekali. Keluar uang banyak sedikit saja, biasanya menjerit.

“Iya, Mama sama Papa enggak boleh ngebantu. Tapi, orang lain malah boleh,” geram Elina.

Indira menatap Fabian penuh tanya, tapi yang ditatap menghindari tatapannya. “Maksudnya, bantuan orang lain apa, Ma?” Indira bersuara.

“Fabian, malah menerima beberapa set berlian pemberian dari temannya yang dia jadikan gift untuk tamu yang beruntung.”

“Apa?” Refleks Indira menyahut.

“Itu bukan dikasih cuma-cuma, Ma. Kan, itu endorse emas buatan perusahaan punya Gio,” Fabian meralat.

Apa-apaan ini? Indira menggelengkan kepala, pasalnya ia baru tahu pesta pernikahan bisa ada endorse. Dirinya curiga kalau semua kemewahan pesta ini juga endorse.

“Sudahlah, Sayang, biarkan saja! Fabian pasti punya rencana yang terbaik untuk kebahagiaannya dan Indira,” Glory menenangkan istrinya seraya mengusap-usap tangan Elina. “Lebih baik kita dansa aja,” bujuk Glory. Elina mengangguk, lalu pergi bersama suaminya.

“Tapi, semua ini enggak mungkin endorse semua, kan,” Indira tersenyum sebiasa mungkin.

“Enggak,” bantah Fabian seketika.

“Berarti Mas Fabian hebat dong, bisa datangin koki, pianis, sama penyanyi dari luar negeri. Kok, Mas Fabian bisa kontak mereka?”

“Koki itu temanku. Kebetulan dia lagi di kota ini. Terus, pianis itu yang mendatangkan adalah partner bisnisku yang berasal dari Prancis sebagai hadiah pernikahan dan permohonan maaf karena tak bisa datang. Sementara penyanyinya adalah rekan bisnisku.”

Indira mengangguk. Sudah ia duga, suaminya pasti tak akan mengeluarkan banyak uang untuk pesta ini. Benar-benar licik, pikir Indira terhadap Fabian.

“Fabian!” panggil sosok bertubuh jangkung dengan mata jamrud. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Fabian dan Indira perlahan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Senyuman tersungging di bibir Fabian, ia begitu senang temannya datang ke pestanya. Namun, tak seperti yang Indira rasakan. Perempuan itu tengah mencengkeram kuat gaunnya dengan tangan kiri untuk menenangkan diri dari kegelisahannya. Ia mengerjapkan matanya berulang, tetapi sosok di hadapannya tak berubah. Semakin jelas, tak mengkabur.

“Gio, akhirnya kau datang juga,” Fabian menyalami Gio dengan ceria.

“Kau menungguku, ya?” Gio tersenyum seraya melirik ke arau Indira. “Maaf, aku terlambat. Tadi, aku hampir lupa membawa hadiah pernikahan. Makanya, aku pulang kembali mengambil ini,” Gio menyodorkan kado di hadapannya kepada Fabian.

“Ini apa?” Fabian bertanya dengan penasaran.

“Jam tangan pasangan,” kata Gio dengan santai. Buka saja.”

Fabian langsung membuka kotak hitam itu. “Lihat Dir, bagus banget,” Fabian menunjukkan jam itu kepada Indira yang membuat Indira mundur selangkah. Ia menatap Gio dengan tatapan kesal.

“Sergio,” lirihnya spontan yang masih didengar Fabian.

“Kamu mengenal Gio?” tanya Fabian dengan nada sesantai mungkin. “Gi, kalian saling mengenal.”

“Aku hanya tahu, kalau istrimu putri dari keluarga Pradipta. Dan, aku yakin, dia hanya tahu namaku saja karena kita pernah bertemu beberapa kali di acara keluarga,” jelas Gio santai.

“Benarkah?” Fabian menatap Gio curiga.

“Kau tak percaya denganku. Kalau kami benar-benar saling mengenal, mana mungkin wanita secantik dirinya menjadi istrimu sekarang. Pastinya, sudah menjadi istriku duluan,” Gio terkekeh, ia seolah-olah tengah bercanda. “Jangan tegang gitu, Fab! Sungguh, kami tidak begitu mengenal.”

***

Fabian hanya tersenyum menanggapi ucapan Gio. Ia yakin, kalau lelaki itu telah berbohong. Terlihat dari ekspresi Indira yang tak nyaman melihat sosok di hadapannya.

“Ohh ..., kok dateng sendiri, kekasihmu ke mana Gi?” tanya Fabian mengalihkan pembicaraan. Pasalnya, setahu Fabian Gio memiliki kekasih yang tinggal di luar negeri. Belum lagi, temannya itu mengatakan kalau dirinya akan datang ke pesta Fabian dan Indira bersama sang kekasih.

Raut wajah Gio tampak muram seketika. Namun tak lama kemudian, ia tersenyum. “Kekasihku ada di sini, kok,” Gio melirik ke arah Indira yang langsung membuang muka.

Indira mencengkeram gaunnya erat. Ia mencoba mengatur ekspresinya setenang mungkin. Seharusnya dirinya tidak gugup, apalagi takut. Namun, entah kenapa dirinya menjadi salah tingkah hanya karena melihat Gio setelah sekian lama tak bertemu.

“Mana?” tanya Fabian seraya melirik ke arah sekitar, pura-pura tak mengerti tatapan Gio ke Indira.

“Dia sangat cantik, Fab,” Gio mengalihkan pandangannya ke arah Fabian. “Dia memang tak bersamaku, tapi dia ada di hatiku selalu, Fab. Meski sekarang dia milik orang lain.”

“Maaf, aku tak tahu. Ternyata kau sudah putus. Padahal, kau bilang mau menikahinya akhir tahun ini.”

“Kami tidak putus. Tahu-tahu saja dia sudah mau menikah dengan pria lain waktu itu,” Sergio menghela napas sejenak. “Beberapa waktu yang lalu, aku datang ke acara pemberkatannya. Dia sangat cantik, tapi sayangnya bukan aku pria yang ada di sampingnya.”

“Yang tabah ya, Gi. Aku yakin, kau pasti akan mendapatkan yang lebih darinya.”

“Ya, semoga begitu. Mau bagaimana lagi, aku tak mungkin merebutnya dari suaminya, kan?” Gio terkekeh, “ngomong-ngomong kalian serasi sekali. Semoga langgeng. Jaga istrimu baik-baik, Fab.”

“Iya, terima kasih doanya. Pasti aku akan selalu menjaga istriku.”

Gio berdeham, “Soalnya, wanita seperti Indira ini sangat digilai banyak pria di luar sana. Hati-hati saja Fab, siapa tahu ada pria lain yang menginginkan istrimu. Lagi pula, janda lebih menggoda daripada perawan.”

Fabian yang semula menanggapi ucapan Gio santai, lama-kelamaan jengkel. Ia menjadi sangat penasaran ada hubungan apa Indira dengan Gio? Pasalnya, Gio terlihat begitu tertarik dengan Indira.

“Kau suka ya dengan istriku?” Fabian menatap Gio penuh selidik.

“Hahaha ..., ya ampun Fab, kau cemburu?” Gio menyugar rambutnya. “Jujur, iya.”

“Indira, kalau Fabian menyakitimu, langsung tinggalkan saja. Aku siap menggantikan posisinya,” gurau Gio yang mengandung arti tersembunyi.

“Sampai kapan pun, saya tidak akan meninggalkan suami saya. Mas Fabian adalah pria yang baik. Mana mungkin akan menyakiti saya,” tutur Indira lembut seraya menatap ke arah suaminya.

“Bagus, kalau begitu. Fabian ini teman baikku,” tekan Gio pada dua kata di akhir. “Aku tahu benar seperti apa Fabian. Dia benar-benar pria baik-baik. Harusnya, kamu sangat bersyukur mendapatkannya. Jadi, jangan kecewakan Fabian.”

“Iya, Mas Fabian memang benar-benat pria baik-baik. Makanya saya beruntung mendapatkannya dan saya benar-benar tepat memilih pendamping,” sahut Indira dengan nada tenang.

Gio tersenyum masam sekilas, “Ya, makanya itu jangan kecewakan Fabian. Sayangi dia sebaik mungkin karena pria yang baik kalau dikhianti bisa sakit hati,” Gio menekankan dua kata terakhir yang menggambarkan perasaannya sekarang. “Jangan tinggalkan Fabian dalam keadaan apa pun. Jangan coba mencari-cari pria yang lebih tampan dan kaya darinya.”

“Gi, kau mengatakan semua itu seolah-olah istriku bukan wanita baik-baik. Kami saling mencintai, tak mungkin saling menyakiti satu sama lain. Apalagi, menduakan,” tegas Fabian mengingatkan, kalau perkataan Gio sudah melewati batas. “Istriku jadi ketakutan melihatmu. Jangan bercanda seperti itu!”

“Tenanglah, Fab. Kalau istrimu wanita baik-baik, tak seharusnya dia takut dengan perkataanku,” Gio tertawa renyah. “Lagian ya, kekasihku begitu baik selama ini, nyatanya dia malah menikah dengan pria lain tanpa memikirkan perasaanku.”

“Itu mantan kekasihmu, bukan istriku. Jangan mentang-mentang kau patah hati, lalu menyamakan semua wanita seperti mantan kekasihmu.”

“Maafkan aku, Fab. Maafkan saya Nyonya Muda Gabrilio atas kelancangan saya,” Gio berkata dengan nada lembut penuh sesal. “Aku tak ada maksud sama sekali. Istrimu benar-benar cantik seperti mantan kekasihku. Bagai pinang dibelah dua. Sekali lagi maafkan aku yang tak bisa mengontrol emosi.”

“Iya, aku paham. Aku yakin, Tuhan pasti akan memberikanmu jodoh yang lebih baik darinya.”

“Terima kasih doanya, semoga saja begitu karena aku tak mungkin merebutnya dari suaminya. Yang bisa kulakukan hanya mencoba merelakannya, kan?” Gio tertawa dengan nada hambar.

“Tenanglah, Gi. Aku yakin wanita di luar sana pasti banyak yang mau denganmu.”

***

Indira menghirup udara dalam-dalam. Ia merasa lega bisa terbebas dari Gio. Sejak tadi Gio berada di sekitar Fabian. Entah karena mereka begitu akrab atau Gio memiliki maksud terselubung. Yang jelas Indira merasa tak nyaman. Makanya, ia memilih menjauh dari keramaian para tamu dengan duduk di sudut paling ujung.

“Nyonya Fabian sedang apa di sini, kenapa duduk sendirian?” sapa Gio seraya duduk di samping Indira.

Indira yang melamun langsung terperanjat kaget. Ia meneguk salivanya dengan tatapan tak percaya Gio ada di hadapannya. “Sergio?”

“Iya, Anda sepertinya tak suka kalau saya di sini,” katanya masih dengan bahasa formal.

“Enggak kok, biasa aja. Gi, hentikan basa-basinya. Apa maumu?”

“Aku tidak mau apa pun, kecuali penjelasan. Kenapa kamu tega, Dir?”

“Gi, lupakan semua yang terjadi di masa lalu. Aku harap kita bisa berteman baik lagi seperti dulu,” harap Indira dengan nada lembut seraya memegang tangan Gio.

Gio menarik tangannya dan menunjukkan cincin di jemari manisnya. “Setelah kamu menyematkan cincin ini di jariku, kamu bisa mengatakan dengan mudahnya melupakan apa yang terjadi di masa lalu.”

“Maaf, Gi. Kamu tahu kalau pertunangan itu aku tak pernah mengharapkannya dan tak bisa menolaknya. Kamu tahu itu. Jangan terus menyudutkanku. Seolah-olah kamu yang paling tersakiti,” Indira menitikkan air matanya yang tak kuasa dibendung.

“Kamu pembohong, Dir. Di mana janjimu yang katanya akan selalu bersamaku. Nyatanya kamu cuma meninggalkan surat dan menghilang entah ke mana. Aku mencari-carimu ke Jerman karena mendengar kamu menyusul si pecundang itu. Ternyata kamu ada di sini tak ke mana-mana. Kenapa kamu bersembunyi dariku?”

Indira menggeleng, “Aku tak bersembunyi. Aku hanya ingin memulai kehidupan baru. Melupakan masa lalu yang menyakitkan dan aku tidak sanggup lagi kalau harus berpura-pura mencintaimu. Aku sudah mencoba untuk mencintaimu, tapi tetap saja aku tak bisa mencintaimu, Gi. Maafkan aku,” mohon Indira dengan tatapan lembut.

“Benarkah kamu tidak mencintaiku? Aku yakin kamu memiliki rasa yang sama denganku, tapi kamu menipisnya karena takut terluka lagi. Kamu juga takut hubungan pertemanan kita hancur, hanya karena rasa cinta. Tak mungkin kamu tak mencintaiku, kalau kamu tak mencintaiku mana mungkin malam itu kita begitu dekat.”

“Aku memang mencintaimu, sekarang kamu puas?”

Suara pecahan gelas terdengar, terlihat sosok Fabian yang terdiam lesu di sana. Raut wajahnya syarat akan kesedihan.

Fabian yang menjadi pusat perhatian segera menyadari apa yang baru saja terjadi. Gelas yang ia bawa terjatuh, langsung dipunguti serpihan kacanya, tapi buru-buru ada pelayan yang membantunya. Namun, Fabian menolak. Ia tetap membersihkannya sendiri sampai tangannya tergores.

Indira yang melihat suaminya segera bergegas meninggalkan Sergio. Ia hendak membantu Fabian, tapi lelaki itu hanya tersenyum seraya menggeleng--pertanda ia tak ingin dibantu--terlihat juga tak peduli pada rasa sakit yang menggores jarinya. Itu tak sebanding dengan sakit di hatinya.

“Mas, itu tangan Mas Fabian terluka,” ujar Indira seraya memegang tangan suaminya. Ia tersenyum getir dan cemas. “Udah, ya. Biar pelayan aja yang beresin. Mas, ikut Indira aja buat ngobatin yang tergores,” bujuk Indira dengan tatapan lembut.

“Enggak usah. Ini di lap aja darahnya pakai tisu. Cuma ke gores dikit, kok,” Fabian berdiri mengambil tisu di dekat meja, lalu membersihkan lukanya dan kembali mengambil beberapa tisu untuk membungkus pecahan kaca dan langsung membuangnya di tempat sampah.

Indira langsung menyuruh pelayan untuk mengelap lantai yang kotor dan berjalan mengikuti suaminya. Dirinya berdoa dalam hati agar Fabian tak salah paham dan mau memaafkan kesalahan ucapannya. Ia tak menyangka kalau akan begini jadinya karena emosi tadi dengan Sergio.

“Mas, tunggu Dira!” panggil Dira dengan nada sendu. Ia berharap Fabian berhenti melangkah.

Fabian mencoba tetap tersenyum. Ia berbalik dan mengulurkan tangannya kepada sang istri. “Iya, ayo sini!”

Indira tidak mengenggam tangan suaminya karena terluka. Ia lebih memilih melingkarkan tangannya di lengan suaminya. “Mas,” tekan Indira seraya menatap lekat raut wajah Fabian yang tampak biasa-biasa saja.

“Iya, apa Dir?”

“Dira minta maaf. Mas, marah ya?” Ragu-ragu Indira bertanya.

“Enggak, marah untuk apa? Harusnya, Mas yang minta maaf karena jadi buat pestanya berantakan, gara-gara Mas jatuhin gelas.”

“Bener ya, enggak marah? Indira sayang banget sama Mas. Dira takut Mas kenapa-napa,” Indira berkata dengan nada begitu lembut.

‘Hanya sayang, Dir? Lalu, kamu tidak mencintaiku? Cintamu hanya untuk Gio?’ Fabian membatin dengan perasaan yang begitu terluka. Ia menatap sayu raut wajah istrinya. Harusnya dirinya merasa bahagia bisa memiliki Indira, tetapi kenapa sekarang ia merasa sangat bersalah. Seharusnya, ia tak memaksa Indira menikah dengannya. Jadi, Indira bisa bersama Sergio, bukan terpaksa bersamanya. Fabian terus menyalahkan dirinya dalam hati.

“Iya, terima kasih. Aku juga sangat menyayangimu dan mencintaimu,” Fabian berkata begitu tulus. “Meski kamu tidak mencintaiku,” lirih Fabian nyaris tak terdengar seraya memejamkan matanya--berharap apa yang baru saja ia lihat dengar hanya ilusi.

“Apa Mas? Mas Fabian bilang apa?” Indira menatap suaminya serius.

“Lupakan aja. Bukan apa-apa.”

***

Indira tak kunjung memejamkan matanya. Pasalnya, Fabian tidak bertingkah seperti biasanya yang selalu menggodanya. Semenjak dari pesta, ia banyak diam atau berdeham saja.

Fabian juga tak bisa memejamkan matanya. Malam ini terasa berat untuknya. Berulang kali, perkataan sang istri terulang di memorinya.

Indira mencintai Sergio! Tiga kata itu sangat mengganggu Fabian. Ingin sekali ia lupa ingatan jangka pendek seketika.

“Mas, udah tidur?” tanya Indira seraya menarik pelan baju sang suaminya yang kini tidur membelakanginya. “Kalau belum nyanyiin Dira dong, kayak biasanya,” Indira terus berkata, tapi tidak ada respon dari Fabian.

“Mas, kayaknya belum tidur, deh?” Indira bangkit, lalu duduk memandangi wajah suaminya yang memejamkan mata. “Serius ini udah tidur?” Indira mengoyang-goyangkan tubuh suaminya agar lelaki itu membuka matanya karena dirinya perlu bicara dan ia yakin Fabian belum tidur.

“Mas, kalau enggak melek Indira tendang biar guling-guling di lantai, loh. Mas Fabian belum tidur, tapi malah pura-pura tidur,” geramnya.

Fabian sedari tadi hanya terdiam. Ia tidak mau banyak bicara dengan Indira dalam keadaan kacau seperti saat ini. Ia butuh menenangkan diri.

Indira benar-benar tidak berbohong, ia berbaring miring, lalu mengayunkan kakinya kuat-kuat dan benar saja Fabian terjatuh tersungkur hanya dengan sekali tendangan. Lelaki itu langsung memekik, seraya memegangi punggungnya yang terasa sakit. Sementara Indira langsung turun dari ranjang dan memeluk suaminya seketika.

“Akhirnya, Mas bangun juga,” ujar Indira dengan senyuman, lalu melepaskan pelukannya.

“Sakit, Dir. Kamu malah senyum-senyum. Ini namanya KDRT. Baru seminggu nikah kamu udah main kekerasan. Kok jahat, sih?”

“Habisnya Mas diem aja Dira ajak ngomong, padahal enggak tidur. Suami macam apa yang kayak gitu, tega diemin istrinya. Katanya cinta sama Indira, tapi Mas malah nyakitin hati Dira,” Indira memanyunkan bibirnya. “Dira, kan enggak suka didiemin. Kalau ada masalah ngomong kenapa?”

“Kamu kok playing victim, ya. Harusnya Mas yang kecewa karena kamu ternyata enggak mencintai, Mas. Tega, kamu Dir.” Fabian berkata dengan nada lirih. Akhirnya, unek-unek yang ia tahan keluar juga.

“Dulu yang maksa Dira jadi istri Mas, siapa? Inget ya, Mas. Dira udah kekeh nolak Mas, tapi Mas terus yang cari cara biar Dira jadi istri Mas. Kalau Dira enggak cinta sama Mas, terus itu salah Dira gitu?” Indira berkata dengan nada lesu.

“Iya, bener. Ini salah, Mas. Seharusnya Mas enggak pernah maksa kamu. Mas enggak tahu kalau kamu kekasihnya Sergio. Kalau Mas tahu, enggak bakal nikung teman. Apalagi, kalian masih saling mencintai.”

“Apaan, sih. Sergio itu bukan kekasihnya Dira. Kalau Sergio kekasih Dira, mana mungkin sebelum Indira mau nikah sama Mas, Indira kencan sama pria lain. Lagian ya, mana mungkin Dira mau nikah sama Mas, kalau Dira enggak cinta sama Mas,” tekan Indira pada tiga kata terakhir. “Mas tuh pelit, nyebelin, bossy, kang modus, cerewet juga kalau Dira enggak cinta sama Mas, mana mungkin Dira mau nikah sama Mas.”

“Kalau kamu bukan kekasih Sergio dan enggak cinta sama Sergio, kenapa tadi kamu bilang cinta dia dan dari tadi Sergio itu nyindir kamu, tapi Mas pura-pura enggak tahu. Jahat kan, ya. Padahal, Sergio temen Mas sendiri,” Fabian menatap Indira dengan nada sendu.

“Tahu sendiri kan, Indira suka ngomong asal. Lagian Indira mau ngomong tapi bohong, eh Mas keburu dateng,” jelas Indira santai. “Dia aja yang enggak bisa nerima, kalau Indira tolak. Emang sih, Indira pernah tukar cincin sama dia, tapi itu terpaksa. Makanya, Indira coba jelasin ke Sergio pelan-pelan, tapi dianya enggak mau lepasin Indira. Ya udah, Indira tinggal. Indira enggak mungkin kan tetap bersama Sergio, kalau Indira enggak cinta.”

“Serius kamu enggak cinta sama dia? Terus ngapain kamu kayak nunggu seseorang waktu di hari pernikahan kita. Waktu itu kamu enggak nungguin Gio, kan? Gio juga dateng waktu itu.”

“Enggak, justru di situ karena ada Sergio, Dira jadi was-was aja, takut dia nganggu. Selain itu, Dira juga ngerasa bersalah karena waktu jadi tunangannya, Indira masih mencintai pria lain.”

“Kalau gitu ngomong dari tadi. Mas jadi enggak galau.”

“Suruh siapa enggak nanya. Sok-sokan galau lagi, enggak pantes kalau Mas galau mah. Nanti, siapa yang godain Dira, kalau Mas galau. Hidup Indira jadi enggak bewarna.”

“Ini ngombal, ya? Mendingan jangan ngombalin, Mas, tapi pijitin Mas. Ini punggungku sakit tahu, gara-gara kamu. Lagian, kamu udah janji kalau Mas bisa bikin pesta yang megah, kamu mau nurutin apa yang Mas mau seharian.”

“Iya, Mas.” Indira langsung mengecup pipi suaminya. Ia bersyukur Fabian tak marah lagi.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height