Random Wife/C2 Tradegi Hotel
+ Add to Library
Random Wife/C2 Tradegi Hotel
+ Add to Library

C2 Tradegi Hotel

-Tampan dan mapan sudah biasa, yang dermawan baru luar biasa-

Indira kembali ke kemudi, setelah ia bertanya-tanya kepada pengemudi di depannya, kenapa jalanannya macet tak seperti biasanya. Ternyata ada truk yang mengalami kecelakaan, sehingga jalanan akan ditutup dan dialihkan. Perempuan ini mendesah lesu seraya menatap bosnya yang asyik memainkan ponsel, tak acuh kepada kondisi keramaian di sekitarnya.

“Pak, ada kecelakaan,” adu Indira setelah menutup pintu mobilnya.

“Ohh, ya udah doian aja yang kecelakaan baik-baik saja,” tanggap Fabian dengan datar, masih asyik dengan ponselnya.

Indira ingin sekali memukul kepala Fabian agar lelaki itu sadar. “Bapak yang paling tampan dan cerdas,” tekan Indira pada kata terakhir, “kalau ada kecelakaan, otomatis macet, Bapak. Bapak mau nunggu di sini atau bagaimana? Kalau saya mau cari ojek aja, mau nginep di rumah teman saya,” Indira berusaha tetap lembut.

Fabian langsung menghentikan aktivitasnya, lalu mematikan ponselnya. Ditatapnya Indira dengan raut wajah kesal, “Kamu kok enggak setia, sih? Masa saya ditinggal sendirian, pegawai macam apa itu. Kalau saya nanti dibegal gimana atau ada yang mau culik saya,” sahut Fabian asal--yang jelas ia tahu, kalau tidak akan ada orang yang mau menculiknya. Dirinya juga bisa bela diri, tapi tetap saja alasan tidak masuk akal itu ia ucapkan.

“Ya syukur, kalau Bapak diculik. Hidup saya jadi tenang,” ceplosnya yang tak ia sadari karena kepalanya sudah terasa pusing, belum lagi ngantuk yang menjalar. Ia ingin tidur segera, tapi masih saja harus mengurus Fabian--mengantarkan lelaki itu sampai kediamannya--baru Indira bisa pulang.

Fabian yang mendengar itu terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah menjadi dingin, “Kalau saya diculik, orang pertama yang akan disalahkan ya kamu atau malahan kamu bisa dicurigai kerjasama dengan penculiknya,” ketusnya yang membuat Indira tersadar akan ucapannya, matanya mengerjap seketika. “Kalau saya diculik, kamu enggak bakal gajian selama beberapa bulan, sebagai sanksi.”

Indira menggeleng frustrasi. Ia berandai-andai, dulu tak gegabah menandatangani kontrak kerja dengan bos super pelit itu, pasti tidak mungkin dirinya akan terjebak di posisi ini. Dirinya harus bersabar sampai tahun depan, karena kontrak yang ia tanda tangani itu sampai lima tahun. Kalau dia keluar sebelum masa kontrak habis, maka ia harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar denda yang begitu banyak. Sempat berpikir membuat Fabian kesal dan marah kepadanya agar memecatnya, tapi itu tidak mungkin direalisasikan. Berulang kali, Fabian mengatakan tak akan memecatnya sampai kapan pun dan kalau Indira membuat kesalahan, ya potong gaji atau disuruh melakukan ini-itu.

Indira mengingat kembali, sewaktu diwawancarai dengan Fabian langsung, ia merasa calon bosnya itu sangat ramah, baik, dan bijaksana. Di matanya Fabian begitu kharismatik, makanya dirinya mau menjadi sekretaris Fabian. Tapi, faktanya Fabian begitu menyebalkan padanya.

“Jangan gitu dong, Pak. Saya kan cuma bercanda, biar enggak kaku,” Indira tersenyum kikuk.

“Ya udah, tepiin mobilnya ke sana. Terus kita belok ke hotel itu aja,” Fabian menunjuk salah satu hotel bintang lima, “kita nginep di hotel aja. Nunggu enggak macet itu lama.”

“Terus nanti saya gimana?”

“Ikutlah. Besok yang nganter saya pulang siapa kalau bukan kamu. Saya ini kan capek berat, udah kerja seharian. Masa harus nyetir juga,” jelasnya santai.

Indira menggerutu dalam hati. Kalau Fabian saja lelah, apalagi dirinya yang diperlakukan seperti kacung oleh Fabian.

“Tadi, saya udah transfer uang ke rekening kamu sebagai bayaran kerja tambahan hari ini. Jadi, enggak usah cemberut kayak gitu,” Fabian membuka ponselnya lagi, lalu mencari bukti transfernya.

Indira membelalakkan matanya, masih tidak percaya. Bos pelit itu mau membayar kerja kerasnya hari ini.

“Itu nominalnya enggak salah, Pak. Dua juta? Bukan, dua ratus ribu?”

“Enggak, saya lagi senang. Kan, saya mau nikah,” Fabian tersenyum begitu manis. “Tadi, kamu kan udah janji sama saya, mau nyariin saya pendamping. Beneran cariin loh! Kalau enggak, nanti kamu yang saya gandeng ke altar.”

Indira geli kalau harus membayangkan menjadi Nyonya Fabian Gabrilio. Oleh karena itu, ia harus bekerja keras agar menemukan jodoh yang tepat untuk Fabian.

“Iya, Pak,” Indira melihat jalanan sekitar, sepertinya sudah waktunya mobil sang bos bergerak menepi, lalu berbelok memasuki gerbang hotel, kemudian menuju basement.

“Sudah sampai, Pak.” Indira langsung menyodorkan kunci mobil yang ia kendarai ke sang pemilik, lalu turun dari mobil.

Fabian berjalan dengan stay cool, layaknya bos. Ia memasang raut wajah datar. Sementara Indira yang belum mengganti hak tinggi dengan sepatu kesayangannya, harus berjalan seperti siput. Ia tertinggal jauh dari lelaki itu.

Indira yang baru sampai ke lobi, langsung mendapatkan tatapan dingin dari Fabian. “Dir, dari mana saja sih?”

“Nggak ke mana-mana, Pak. Saya hanya kesulitan jalan karena pakai hak tinggi.”

“Ohh..., saya udah pesan kamar. Ayo, ikut saya,” katanya.

Indira hanya mengekor, lalu masuk lift dengan raut wajah letih. Ia benar-benar mengantuk.

Tak sampai satu menit, lift sudah membawanya ke lantai 3. Mereka segera berjalan menuju kamar.

“Emh, Pak. Key card buat kamar saya mana?” tanya Indira memberanikan diri, saat Fabian mencoba membuka pintu kamarnya.

“Ngapain. Saya cuma pesan satu kamar doang.”

“Kamarnya full booked, ya? Mungkin karena macet, banyak yang nginep di hotel ya, Pak?”

Fabian menggeleng. “Enggak kok, masih ada beberapa kamar yang belum dipesan. Buktinya, saya bisa pilih kamar yang paling murah tarifnya.”

“Lah, kenapa pesan cuma satu?” protes Indira jengkel. Manik matanya yang sayu begitu terlihat kesal.

“Hemat, Dir. Sayang buang-buang uang, cuma buat numpang tidur semalam. Kalau kamu mau pesan kamar, ya silakan. Tapi, bayar sendiri.”

Jawaban Fabian benar-benar menjengkelkan. Tak pernah ia sangka ada bos seperti itu. Selama ini dirinya sering membaca cerita bos di novel yang digambarkan sosok bos itu dingin tapi royal, suka membuat perempuan terkesima. Bos yang ia temui malah kampret.

“Kenapa diam? Ayo masuk! Tenang enggak bakal saya apa-apain, soalnya saya ini pria berkelas. Seharusnya, saya yang takut kamu apa-apain.”

Indira tidak salah dengar, bukan? Bosnya itu malah takut diapa-apakan olehnya.

“Kok bisa?”

“Kamu kan kesel banget sama saya. Siapa tahu kalau saya tidur, kamu mau bunuh saya?”

“Nah itu tahu. Saya mau cekik Bapak,” cetusnya yang sudah terlalu kesal.

“Kamu kelihatannya benci banget sama saya, ya? Jangan gitu dong, saya ini orang baik. Enggak patut dibenci.” Fabian menatap Indira lembut, “biasanya kalau terlalu membenci, ujungnya cinta lho, Dir.”

Indira tidak menghiraukan lagi ucapan Fabian. Ia bergegas masuk ke kamar dengan raut wajah kesal. Begitu masuk ke kamar, perempuan ini langsung merebahkan diri di ranjang, selepas menaruh blazernya di sofa.

“Dira!” Fabian meninggikan intonasinya, begitu melihat Indira yang tidur tengkurap dengan posisi miring--yang makan tempat. “Bangun! Kok kamu yang enak-enakan tidur di ranjang? Padahal, saya kan yang pesan, saya yang bayar, dan saya bosnya.”

Indira menyahut dengan mata yang terpejam, “Bapak itu bos saya kalau di kantor. Di sini Bapak bukan bos saya, jadi enggak usah ngatur-ngatur saya.”

“Eh, kamu udah berani ngelawan saya, ya?” Fabian protes, ia langsung merangkak ke ranjang, lalu dikelitikinya telapak kaki Indira. Perempuan itu terkikik, dan terpaksa beranjak dari tidurnya.

“Bapak, udah dong ngelitikinya,” celetuk Indira seraya memegangi tangan Fabian.

“Suruh siapa kamu nakal. Mending cuma saya kelitiki, kalau saya benar-benar marah, udah saya potong gaji kamu yang buat bulan depan.”

“Dikit-dikit potong gaji, dasar pelit! Tadi, waktu kasih saya transferan, saya pikir pelitnya mulai luntur. Eh tahunya enggak,” decak Indira tanpa melihat ke arah Fabian.

“Suka-suka saya, dong. Mau hemat kek, atau mau pelit, kan saya yang jalani,” balasnya dengan nada sewot.

“Ya udah, berarti saya mau ngapain aja itu suka-suka saya. Jadi, Bapak enggak berhak ngatur-ngatur saya. Kan, ini hidup-hidup saya, saya yang jalani.”

Fabian membeo, ia tidak menyangka kalau Indira akan menyahut seperti itu. Namun, ia tidak akan mengalah. “Ya, enggak gitu juga. Kamu bawahan saya, jadi tetaplah saya harus ngatur-ngatur kamu. Kan kamu, saya gaji.”

Rasa kantuk yang tadinya membuat Indira terbuai untuk segera memejamkan mata, kini sirna seketika. Tergantikan dengan rasa kesal yang menggebu. Dan, entah kenapa perdebatannya dengan Fabian membuat perutnya terasa lapar.

“Pak, kata ayah saya kalau jadi orang itu ‘ojo dumeh duwe’. Mentang-mentang punya uang, terus seenaknya bisa semena-mena.” Indira mengingatkan Fabian akan perilakunya yang suka mengatur-atur Indira di luar job desk-nya. Dirinya sebenarnya tidak mempermasalahkan sama sekali kalau tugasnya banyak atau harus lembur, jika masih batas wajar dan sesuai dengan tugasnya sebagai sekretaris.

Fabian tersenyum sekilas, nyaris tidak terlihat. Ia suka jawaban Indira yang tidak pernah terduga. Meski kadang gemas dan kesal karena perempuan itu menyudutkannya.

“Harta dan takhta yang Bapak punya itu titipan, Pak. Semuanya bisa hilang begitu saja, kalau Tuhan berkhendak,” lanjut Indira dengan suara tegas, ia mantapkan ucapannya, “jangan mentang-mentang Bapak itu bos, kaya raya terus bisa seenaknya sama karyawan karena Bapak bisa gaji karyawan Bapak. Sekaya-kayanya Bapak itu cuma manusia, sama seperti karyawan Bapak.”

“Kapan saya semena-mena sama karyawan saya? Perasaan saya orangnya ramah. Sama yang lebih tua juga menghormati,” Fabian tersenyum percaya diri.

“Sama karyawan lain baik, sama OB juga baik. Karena saking baiknya, saya yang suruh buatin minum Bapak setiap hari. Oh iya, sama sopir Bapak juga baik, sopirnya sering cuti tetap aja dibolehin. Kalau saya yang cuti, Bapak ngomel-ngomel terus. Bapak ini nganggep saya apa? Babu? Kacung?” Indira mengingat kembali setiap waktu dirinya meminta cuti, pasti tidak dibolehkan oleh Fabian. Ia hanya diperkenankan cuti, kalau benar-benar sakit. Pernah sekali dirinya mengaku sakit agar bisa mendapatkan cuti, tapi tidak berhasil karena Fabian menyuruh orang untuk menyusul ke kontrakannya untuk memastikan apakah ia benar-benar sakit atau tidak.

“Kamu kan pegawai terbaik saya. Makanya, pekerjaan kamu banyak karena saya percaya sama kamu,” kekehnya tidak mau disalahkan.

“Itu mah nyusahin saya mulu. Enak di Bapak, pahit di saya. Kalau Bapak emang atasan yang baik, buktiin dong! Jangan ngomong doang!”

“Kamu mau bukti apa? Saya nikahin aja enggak mau.”

“Apa hubungannya sama nikah, Pak? Enggak ada,” cetus Indira dengan nada lesu. Ia benar-benar harus sabar. “Pesenin saya pizza dong, laper.”

“Cuma pesenin doang, siap!” Fabian langsung memesan makanan via telepon yang disediakan hotel.

“Enggak pesan sekalian buat Bapak?” tanya Indira basa-basi.

“Enggak ah, makanan di restoran hotel itu mahal. Sayang buang-buang duit,” Fabian menyahut dengan santai, “kamu enggak sayang apa sama uang kamu buat beli pizza di sini?”

Indira mengernyit. Ia mencoba mencerna ucapan Fabian. “Maksud Bapak, saya suruh bayar sendiri gitu? Kan, saya nyuruh Bapak beliin saya pizza. Gimana sih?”

“Tadi, kamu bilang pesenin, ya. Bukan beliin.”

“Dasar pelit. Saya doain Bapak sulit jodoh,” gerutu Indira dengan nada ketus, lalu merebahkan tubuhnya kembali.

“Kalau saya sulit jodoh, kamu harus tanggung jawab pokoknya. Kamu yang saya nikahin. Titik.”

“Mimpi, sampai Lucinta Lunak punya anak kembar, tetap saya enggak mau nikah sama makhluk kikir kayak Bapak.”

“Mimpi itu adalah kenyataan yang tertunda, Dir. Saya yakin kok, kamu jodoh saya.”

Indira pura-pura tidak dengar, ia ingin segera tertidur. Nafsu makannnya hilang sudah. Pikirannya hanya satu sekarang, cepat-cepat pagi agar dia bisa pulang. Dirinya tak sanggup, jika harus menghabiskan banyak waktunya bersama Fabian yang bisa membuatnya darah tinggi.

“Dir, kamu marah, ya?” Fabian menengok ke samping.

“Maaf, Dir. Terus saya tidur di mana, kalau kamu tidurnya begini?” tanyanya lagi yang tak mungkin ditanggapi oleh Indira. “Sisihan boleh?” Fabian menepuk pelan bahu Indira.

Indira tetap diam tak merespon.

“Terus pizza-nya gimana?”

Fabian yang tetap tidak digubris oleh Indira, akhirnya memilih diam. Ia keluarkan ponselnya untuk bermain game untuk mengalihkan penatnya. Tapi daya baterai ponselnya akan habis.

Fabian yang tidak membawa pengisi daya langsung mengambil pengisi daya milik Indira yang tergeletak di atas nakas. Ia pinjam untuk mengisi daya baterai ponselnya. Namun, tidak lama kemudian muncul percikan api dari pengisi daya yang tertancap di stop kontak itu yang membuat listrik di ruangan itu mati seketika. Ruangan yang semula terang benderang, kini menjadi gelap.

Fabian yang kaget langsung beranjak dari tempat duduk, ia langsung memeluk Indira yang baru saja terduduk karena mendengar suara percikan api dan bau listrik terbakar. “Dir, gelap!”

Indira langsung melongo, “Apaan sih Bapak, kok main peluk-peluk?”

“Saya takut, Dir. Saya takut gelap,” jelasnya semakin mempererat pelukannya.

“Sejak kapan Bapak takut gelap? Masa badan segede gajah takut gelap?” Indira yakin Fabian tidak punya fobia. Ia langsung memberontak agar bisa terlepas dari pelukan Fabian. Akhirnya, Fabian melepaskan pelukannya dengan sukarela.

“Enak aja segede gajah, saya ini enggak gendut tahu. Saya kan fobia gelap, Dir.”

“Setahu saya Bapak enggak punya fobia gelap, kalau fobia enggak pelit, saya yakin.”

“Sejak hari ini, saya fobia gelap.”

Indira menaruh punggung tangannya di dahi Fabian untuk memastikan bosnya itu sakit, atau memang aneh.

“Bapak kok aneh, sih. Modus, ya. Bilang fobia, biar bisa meluk saya?” tuduh Indira curiga.

“Saya menyelam sambil minum air. Menenangkan diri dari rasa takut dan pengen tahu rasanya peluk kamu gimana,” jujurnya yang membuat Indira ingin memukul Fabian seketika. Namun, ia tidak berani melakukan itu.

Indira berdecak, “Pak, mendingan Bapak ke resepsionis sana. Lapor kalau listrik di kamar ini mati karena korsleting.”

“Enggak ah, saya takut. Justru karena itu saya fobia.”

“Lah, kok fobia?”

“Nanti kalau saya yang disalahin gimana? Terus saya yang suruh bayar ganti rugi buat benerin listrik di kamar ini gimana? Saya kan jadi takut.”

Indira tidak habis pikir, ada orang sepelit Fabian. Ingin sekali dirinya membuat cerita bertema azab bos kikir seperti film-film hidayah agar orang-orang seperti Fabian sadar.

***

Beberapa saat kemudian, listrik di kamar hotel Indira menyala setelah sang teknisi beraksi. Tadi, wanita itu mengalah ke resepsionis untuk melaporkan apa yang terjadi di kamarnya. Kalau tidak begitu, ia tidak mungkin bisa tidur nyenyak karena gelap.

Fabian yang baru kembali mengantarkan sang teknisi keluar, langsung tersenyum sembari menatap Indira. “Dir, ini pizza-nya udah datang,” ujarnya seraya menyodorkan ke arah Indira yang menekuk wajahnya karena kesal dengan Fabian.

“Udah dibayar?” tanyanya ketus.

“Sudah, saya bayarin sebagai rasa terima kasih,” jawabnya dengan senyuman tulus.

Indira langsung mengambil kotak itu, manik matanya membelalak sempurna melihat parutan keju yang bertaburan menjadi toping. Ia menatapnya penuh binar, lalu menoleh ke arah Fabian sekilas, “Terima kasih, Pak.” Indira mengucapkan rasa terima kasihnya, meski ia kesal dengan lelaki itu.

Fabian hanya berdeham, ia memandangi Indira saksama. Begitu menawan sekretarisnya itu di matanya.

Indira mengigit sepotong pizza dengan penuh perasaan, manik matanya terpejam sesaat. Benar-benar menikmatinya.

Fabian menatap bibir mungil itu yang tergerak maju mundur begitu menggemaskan. Ia tersenyum sekilas mengingat bibir yang selalu mendebatnya itu.

“Kenapa Pak ngelihatin saya begitu?” Indira bertanya dengan sisa makanan yang masih ada di mulutnya, belum tertelan semua, karena ia masih mengunyahnya.

“Enak, Dir? Lahap sekali,” Fabian mengusap-usap surai Indira lembut. Membuat wanita itu terdiam seketika. Ada getaran aneh saat telapak tangan itu menyentuh kepalanya. Manik matanya kontan mengerjap-kerjap. Lalu, memandangi Fabian lekat yang tengah tersenyum manis. Terlihat memesona, aura maskulin yang menenangkan--membuatnya terkesima sesaat. Bayangan kilasan Fabian yang menjengkelkan, entah kenapa menghilang di mata Indira saat ini.

Indira hanyut sesaat dengan perlakuan Fabian, ia memejamkan matanya untuk menyingkirkan semua pikirannya yang mengatakan Fabian itu memesona. Tak lama kemudian, Fabian menjauhkan tangannya dari surai hitam bergelombang itu. Ia duduk seraya menopang dagunya. Mengamati Indira dengan posisi itu.

Aroma kayu manis yang menguar dari tubuh Fabian terasa jauh dari indra penciuman Indira, membuatnya tersadar seketika. Ia kembali membuka kelopak matanya.

“Kamu ngantuk ya, Dir?” Fabian menyimpulkan perilaku Indira itu.

“Iya, tapi laper juga. Bapak enggak laper?” tanyanya sesantai mungkin, meski debaran jantungnya tak menentu. Ada yang aneh dengan dirinya sekarang.

“Iya.”

“Mau makan pizza?”

Fabian mengangguk, tangannya sudah tergerak hendak mengambil sepotong pizza, tapi Indira mengambil kotak itu dan menyembunyikan di belakangnya.

Fabian menyipitkan matanya, “Kok diambil?”

“Kalau mau makan pizza, ya pesan lagi dong. Ini kan punya saya. Udah dikasih, ya jangan diminta,” kekehnya, lalu melanjutkan aksi makannya.

“Kan saya yang pesan dan bayar. Masa cuma mencicipi enggak boleh.”

“Bapak kan kaya, tinggal pesan lagi kenapa.”

“Sayang uang, saya kan mau makan dikit aja.”

Indira hendak menjawab tapi bibirnya terbungkam seketika, tatkala melihat aksi Fabian yang mengenggam tangannya mengarahkannya ke mulut lelaki itu. Renyut jantung Indira menjadi bertambah tak keruan. Sementara Fabian dengan santainya, memakan sedikit pizza yang tinggal separuh itu. Ia mengunyahnya dengan raut wajah datar.

Indira terheran-heran dengan perilaku Fabian. Setahunya lelaki itu paling higenis dan menjaga kesehatannya. Ia tidak menyangka seorang Fabian Gabrilio memakan pizza yang sudah dimakan Indira sebagian.

“Bapak, kok makan pizza sisa saya?” Indira mengamati perubahan ekspresi Fabian yang begitu cepat dari datar menjadi berseri-seri. “Bapak laper apa kesurupan?” Indira langsung mengembalikan pizza yang tersisa ke kotak dan menaruhnya di atas nakas, lalu membersihkan tangannya dengan tisu basah.

“Ya, enggak mungkin kesurupanlah. Ini hotel mahal, masa ada hantunya,” balasnya santai dengan kikikkan kecil. “Makan sisa makanan calon istri mah enggak pa-pa, apalagi dari tangannya langsung. Pahit pun, jadi manis. Apalagi yang lezat, tambah lezat.”

Indira yang mendengar itu merasa geli, sekaligus kepalanya berdenyut-denyut. Namun di sisi lain, ada rasa senang saat Fabian mengucapkan dirinya calon istri lelaki itu. Aneh. Pikirannya benar-benar bermasalah, pikirnya berulang-ulang.

“Kok diem?” Fabian menepuk tangan Indira pelan, membuyarkan lamunan wanita itu.

“Enggak nyangka aja, Bapak mau makan sisa saya. Sementara kan, Bapak bos saya. Lagi pula, Bapak ini orang terhigenis karena takut cepet mati,” cibirnya mengingat perilaku Fabian yang suka membawa satu set sendok, garpu, pisau, dan sumpit pribadi untuk digunakannya saat makan di tempat umum. Dan sebelum makan, pasti ia menyuruh Indira mencicipi makanan atau minumannya. Dirinya akan makan atau minum, jika sudah dipastikan layak konsumsi dan tidak mengandung racun.

“Saya punya alasan untuk itu,” akunya dengan raut wajah muram. Sepertinya ada suatu hal yang dipikirkan Fabian.

“Ya, pasti punya alasan. Bapak juga pasti punya alasan kenapa tiba-tiba pengen nikah dan malah ngajak nikah saya,” Indira mengalihkan pembicaraan. Ia penasaran dengan sikap Fabian itu yang terus mengajaknya menikah.

“Saya kan udah cukup umur, wajarlah kalau pengin cepet nikah dalam waktu deket ini. Saya pengin ngerasain punya istri yang merhatiin saya. Punya anak yang bisa diajak main bareng. Saya enggak mau hidup sebatang kara,” jujurnya dengan nada serius. Lelaki ini tidak mau hidup sendirian di masa tuanya. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga kecilnya. Makanya, ia ingin menikah dan hidup bahagia bersama istri dan anaknya.

Indira hanya mengangguk. Masuk akal, pikirnya.

“Terus ngapain saya yang diajak nikah?”

“Saya selama ini enggak pernah dekat sama wanita mana pun dalam arti khusus. Saya enggak tahu caranya memperlakukan wanita dengan baik,” sahutnya dengan nada lesu mengingat masa remajanya sampai sekarang, tak pernah menjalin kasih dengan siapa pun. “Saya dulu enggak pernah berpikir menjalin hubungan dan enggak punya ketertarikan sama wanita--”

“Bapak homo,” potong Indira seraya menutup bibirnya dengan telapak tangannya.

“Bukan gitu, jangan main potong. Saya ini normal, kok.”

“Bisa jadi, kan. Biasanya cowok yang kelihatan tampan dan gagah itu malah belok.”

“Kalau enggak percaya. Kita buktiin aja. Sini saya cium,” Fabian menggeser posisinya mendekat ke arah Indira. Lalu, memejamkan matanya yang langsung mendapatkan balasan berupa tarikan di hidungnya.

Fabian sontak membuka matanya dan menyingkirkan tangan Indira.

“Sakit, Dir!”

“Bapak sih enggak sopan. Saya laporin Komnas Anak, lho. Ini namanya pelecehan terhadap anak di bawah umur.”

“Kamu itu udah tua, usia 28 tahun juga. Di bawah umur dari mana coba?”

“Biarin napa, Pak.” Indira menjawab dengan ketus. “Jangan-jangan Bapak ngajak saya ke hotel, mau ngapa-ngapain saya, kan,” tuduh Indira yang jelas tidak mungkin. Ia hanya menggoda lelaki itu.

“Enak aja, saya pria baik-baik. Calon penghuni surga, mana mungkin begitu. Cuma mau cium doang, kok. Kan saya cuma mau buktiin kalau saya normal, gitu aja kok enggak boleh.”

“Itu mah enak di Bapak. Enggak enak di saya. Dasar modus,” Indira langsung berbaring dan menarik selimutnya.

Fabian hanya tersenyum, ia langsung beranjak menuju sofa.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height