Random Wife/C8 Mengujungi Pujaan Hati
+ Add to Library
Random Wife/C8 Mengujungi Pujaan Hati
+ Add to Library

C8 Mengujungi Pujaan Hati

Udara malam begitu dingin, tetapi tak membuat nyali Fabian menciut. Ia berjalan keluar dari mobilnya dengan senyum mengembang. Ditatapnya dengan lekat setangkai bunga mawar yang ia petik dari taman di rumah orang tuanya.

Kini, ia melangkah dengan santai. Senyuman tak pernah sirna dari bibirnya. Dengan perasaan yang membuncah diketuknya pintu bewarna putih gading milik keluarga Pradipta. Tak ada rasa gugup sedikitpun, meski ini pertama kali dirinya menginjak kediaman kedua orang tua Indira.

Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan yang mengikat rambutnya asal-asalan, tetapi tetap memesona. Fabian yang melihat sang pujaan hati semakin tersenyum lebar.

“Ngapain Bapak malam-malam ke sini?” tanya Indira langsung pada topiknya, tanpa basa-basi.

“Kamu kok enggak sopan banget. Harusnya, saya itu dipersilakan masuk. Masa langsung diintrograsi,” Fabian menyebikkan bibirnya persis anak kecil yang kehilangan permen.

Indira membukakan pintunya dengan raut wajah ditekuk, setelah mengembuskan napasnya kasar. “Mari masuk, Pak Fabian,” Indira mengadahkan tangannya seolah-olah menyambut kedatangan seorang pangeran ke dalam istana. Begitu penuh hormat.

“Enggak gitu juga kali.”

“Disambut beneran kok protes. Ya udah, saya usir aja,” Indira tersenyum masam. “Bapak pulang sana, udah malem. Nanti digondol Wewe Gombel, lho, kalau kemalaman pulangnya.”

“Emang saya anak kecil? Kamu pintar banget kalau suruh ngelawak. Ini saya kan mau bertamu, kok malah diusir? Kamu jahat banget sama saya. Enggak ngehargain perjuangan saya ke sini. Dingin-dingin gerimis, macet, jalanannya banyak yang rusak, demi kamu saya ke sini,” Fabian menatap Indira dengan raut wajah lesu. Ia memperlihatkan seolah-olah dirinya teraniaya agar Indira merasa kasihan padanya. Namun, Indira malah semakin kesal akan kelakuan Fabian.

“Emang saya nyuruh Bapak ke sini?”

“Enggak, tapi kamu bilang di telpon kangen sama saya. Demi kamu, saya rela ke sini agar kamu enggak kangen lagi sama saya.”

Indira terkekeh. Dirinya saja yang dipaksa oleh Fabian mengatakan rindu. Padahal, tidak sama sekali. Bagaimana tidak, walau tidak pernah bertemu selama seminggu, tetapi lelaki itu menghubunginya terus. Setiap hari mereka video call. Dan belum lagi, lelaki itu selalu mengirimkan pesan yang jauh dari kata romantis. Sederet kalimat menyebalkan, tapi entah kenapa membuat Indira terus tersenyum.

“Perasaan Bapak aja itu. Lagian, saya bilang kangen karena Bapak yang maksa. Bapak kan percaya diri sekali. Daripada ribut, saya iyain. Nyenengin orang tua kan dapat pahala.”

“Orang tua?”

“Bapak kan emang udah tua. Udah pantas jadi orang tua,” Indira berkata sekenanya.

“Betul itu, makanya ayo nikah. Biar kita bisa punya anak yang lucu mengemaskan kayak saya.”

Indira memutar bola matanya, lalu menatap Fabian dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bapak mengemaskan, dilihat dari sedotan ditutup, ya?”

“Udah enggak usah bully. Dingin, Dir. Suruh masuk kenapa?”

“Kan saya udah mempersilakan masuk. Bapak aja yang banyak protes.”

Fabian langsung masuk, melewati Indira. Kemudian, ia duduk di sofa tanpa dipersilakan.

Indira hanya menggelengkan kepala seraya menutup pintu.

“Bapak mau minum apa?” tawar Indira seraya duduk di hadapan Fabian.

“Apa aja yang hangat.”

Indira langsung mengetikkan pesan di ponselnya, menyuruh pelayannya untuk membuatkan teh hangat dan menyajikan kudapan untuk Fabian. “Tunggu, bentar ya, Pak. Lagi dibuatin tehnya.”

“Iya, enggak pa-pa.” Fabian menatap isi ruang tamu Indira yang didesain semanis mungkin. Dipenuhi dengan warna merah muda. Ia merasa sedang di ruang kerja mamanya. “Dekorasi rumah kamu kok merah muda, kok enggak peach?”

“Nyesuain waktu. Kalau mau valentine ya didekorasi manis.”

“Ohh ..., tapi ini bukan valentine. Mau tahun baru.”

“Suka-sukalah, Pak. Begitu aja dipermasalahin. Dasar ....”

“Dir, calon mertua saya pada ke mana. Kok sepi?”

“Kalau yang dimaksud Bapak itu orang tua saya. Jawabannya, orang tua saya lagi ke Bali. Dan, mereka bukan calon mertua Bapak. Saya juga bukan calon istri Bapak.”

“Kamu kan udah kencan sama saya. Terus status saya kok belum di-upgrade jadi calon suami. Wah, ini enggak bener.”

Fabian menatap Indira tidak terima. Sementara yang ditatap bingung karena tidak pernah merasa berkencan dengan Fabian. Indira mencoba mengingat kapan dirinya melakukan hal itu. Kencan seperti apa yang dimaksud oleh orang seperti Fabian?

“Sinyalnya jelek, Pak. Update cerita wattpad aja sulit, Pak. Apalagi, mau upgrade status jodoh, tambah sulit. Jadi, Bapak terima aja status Bapak yang ke-pending.” Indira berkata asal. “Lagian, kapan kita kencan?”

“Sebelum saya pergi ke Singapura? Kita kan kencan.”

Indira mendelik. Mengingat hari itu yang membuatnya semakin kesal. Di mana Fabian yang katanya mau mengajaknya jalan-jalan, ternyata malah disuruh menemani dan memilih belanjaan apa saja yang dibutuhkan Fabian untuk persiapan ke Singapura. Hal yang membuatnya kesal adalah, ketika ia memilihkan pakaian atau apa Fabian mengatakan lebih bagus apa yang ia punya dan harganya lebih terjangkau dari apa yang Indira pilihkan.

“Itu bukan kencan. Saya jadi kacung Bapak lagi,” protes Indira. “Mana oleh-olehnya?” tagih Indira mengadahkan tangan.

“Saya lupa. Saya kasih ini aja,” Fabian akhirnya memberikan setangkai mawar yang dibawanya dari rumah.

Indira menatap bunga mawar itu dengan saksama. Plastik yang membungkus bentuknya lumayan aneh, meski bisa dikatakan rapi. Namun, ia tetap mengambilnya. “Ini Bapak beli di mana? Kok bentuknya kayak gini bungkusnya?”

“Itu enggak beli. Saya bikin sendiri. Kan saya sayang banget sama kamu, sampai belain kena duri.”

Indira menatap ibu jari kanan Fabian yang di plester. Ia merasa iba. “Kasihan, tapi cuma alasannya itu? Bukan karena mau ngirit?” canda Indira.

“Tahu aja kamu, Dir. Daripada beli mahal-mahal, ujung-ujungnya layu, ya bikin sendiri. Apalagi, ini lebih romantis, Dir,” bangganya dengan senyuman semringah.

“Sekali kikir, ya kikir,” gerutu Indira yang masih terdengar oleh Fabian.

“Dir, kamu suka bunga mawar enggak sih sebenarnya?”

“Suka-suka aja. Kenapa?”

“Saya suka bingung. Bunga mawar enggak begitu wangi, ya. Terus banyak duri, tapi kenapa wanita pada suka bunga mawar? Dan, saya juga kasihan sama bunga mawar.”

“Karena bunga mawar indah, Pak. Kasihan kenapa?”

“Karena banyak yang suka, terus semakin banyak bunga mawar yang dipetik, lalu terbuang sia-sia karena layu.”

“Pak, semua bunga pasti layu cepat atau lambat.”

“Iya, saya tahu. Tapi, kan bunganya cepat layu. Apa fungsinya coba dipetik, lalu dijadikan lambang cinta kalau nantinya layu. Makanya, saya enggak suka sebenarnya, kalau harus ngasih bunga sebagai tanda cinta. Bunga kan bisa layu, sementara cinta saya ke kamu enggak bakal layu, Dir.” Fabian tersenyum manis.

Indira tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia pura-pura biasa saja. Padahal, jantungnya berdebar tak keruan.

“Semakin hari, semakin pintar ya gombalnya.”

“Iya, dong. Biar pujaan hati saya cepat luluh. Terus saya bisa cepat nikah.”

“Tidak semudah itu Ferguso!”

“Lalu aku harus bagaimana, Esmeralda?”

“Ya mana saya tahu, Bapak pikir sendiri. Cari cara dong biar saya terpesona sama Bapak.”

Fabian berdecak, “Sebenarnya kamu kan suka sama saya, tapi kenapa sih dipersulit. Tinggal nikah, terus sah. Butuh apa lagi coba?”

“Katanya Bapak mau berjuang dan membuktikan cinta sama saya. Jadi, enggak boleh pamrih kayak gitu. Saya kan mau lihat perjuangan Bapak. Kalau protes terus, mau saya pecat dari daftar calon jodoh?”

Fabian menggeleng. “Jangan, Marimar. Aku tak kuasa. Biar aku buktikan cintaku padamu agar kamu hanya melihatku seorang.”

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height