+ Add to Library
+ Add to Library

C6 Mengapa

Restya menatap nanar tubuh yang kaku di atas brangkar. Gadis belia itu tak berhasil terselamatkan. Beberapa saat setelah memasuki rumah sakit, nyawanya sudah tidak ada. Ia melihat orang tua gadis itu menangis tak keruan sehingga pingsan. Ini bukan pertama kalinya, dia melihat seseorang meninggal. Namun, melihat gadis itu mengingatkan kepada sepupunya yang meninggal ketika remaja.

Zio yang tadi melihat Restya berjalan ke ruang jenazah langsung mengikuti perempuan itu. Dia bingung kenapa Restya menitikkan air mata melihat jasad itu. Apakah Restya mengenalnya, pikir Zio.

“Dokter Restya,” panggil Zio seraya menepuk pundak Restya pelan. Sontak gadis itu berbalik arah menghadap Zio.

“Dokter Zio,” sapa Restya dengan senyuman kaku.

“Kenapa di sini? Itu bukan pasien Dokter, kan?” tanya Zio memastikan.

Restya menggeleng.

“Dia seperti sepupu saya. Meninggal karena overdosis. Awalnya sepupu saya depresi karena masalah keluarga, lalu ia bertemu dengan orang yang salah sehingga menggunakan barang terlarang itu,” kata Restya dengan nada sendu.

Zio menunduk mengerti. Ia paham.

Zio mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang terbujur kaku di atas brangkar. Kulit perempuan malang itu berwarna kemerahan. Ia tak habis pikir kenapa orang-orang menggunakan barang haram itu untuk pengalihan dari kerasnya dunia. Padahal, menggunakan narkoba dan sejenisnya malah semakin menyiksa penggunanya. Bukan menyelesaikan masalah.

“Gadis ini kenapa, Dok? Kenapa tubuhnya memerah seperti ini?” tanya Zio dengan nada lembut.

“Dia keracunan karena mengkonsumsi biji datura metel secara berlebihan. Bisa dipastikan gadis ini memang berniat bunuh diri karena sebelum mengkonsumsinya, dia menuliskan surat yang intinya dia lelah untuk bernapas,” kata Restya dengan nada sendu.

“Kecubung? Tanaman itu mengandung zat alkaloid2. Bunuh diri dengan menggunakan kecubung adalah hal bodoh. Pasti di menit-menit kematiannya dia sangat tersiksa,” ceplos Zio tak habis pikir. Ia tahu sekali mengkonsumsi biji kecubung berlebihan membuat penggunanya akan mengalami muntah, pusing, mulut terasa kaku, dan sesak napas berujung kepada kematian.

Restya hanya terdiam.

“Kasihan dia. Kita doakan saja semoga keluarganya diberi ketabahan. Ngomong-ngomong, ini sudah waktunya makan siang. Saya mau mengajak Dokter makan siang,” ajak Zio dengan lembut seraya menggandeng tangan Restya.

Restya hanya mengangguk.

***

Zio terus memperhatikan Restya yang hanya mengaduk-aduk supnya.

“Dokter, kenapa? Masih memikirkan gadis belia tadi?” tanya Zio hati-hati.

Restya mengangguk. “Kita yang berprofesi menjadi dokter, pasti tahu betapa sulitnya menyembuhkan luka agar orang-orang tak merasakan sakit. Darah hingga kematian sering kita lihat. Sangat disayangkan jika ada orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,” tutur Restya dengan nada lembut.

“Orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri biasanya karena mereka tertekan. Berawal dari stress biasa hingga depresi yang berkepanjangan. Mereka butuh semangat dari orang-orang sekitar, tetapi kadang lingkungan tidak ada yang mendukung. Makanya pilihan terakhir adalah kematian,” ucap Zio dengan nada lesu.

“Padahal kematian bukan akhir dari segalanya. Bahkan, setelah kematian tidak ada ketenangan. Semua dosa kita dipertanggungjawabkan. Hanya orang yang beriman yang merasakan nikmat surga. Lalu, kenapa memilih bunuh diri yang jelas tidak disukai Tuhan?” ujar Restya dengan nada sendu.

“Bunuh diri hanya pilihan untuk mereka yang jauh dari Tuhan. Padahal jika kita mau mendekatkan diri pada Tuhan dengan berdoa dan berusaha, niscaya akan ada jalan keluar. Tuhan tidak pernah menguji umat-Nya diluar batas kemampuan mereka,” jawab Zio dengan nada mantap.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height