Romantic Hospital/C7 Salah Sangka
+ Add to Library
Romantic Hospital/C7 Salah Sangka
+ Add to Library

C7 Salah Sangka

Angin berembus dengan pongah. Menerbangkan dedaunan secara tak beraturan hingga salah satu daun itu terjatuh di kepala Restya. Perempuan itu hendak mengambil daun yang menempel di surai panjangnya yang kali ini tak terikat. Menjuntai dengan indahnya.

Cekrek. Suara bidikan kamera membuat Restya mengalihkan pandangannya. Ia mencari-cari sosok yang mengambil gambarnya. Namun, manik mata teduh tetapi tajam itu tak menemukan siapa pun di taman itu.

Restya menghela napas sejenak, sebelum melangkah menuju bangku taman dekat air mancur. Kaki jenjang itu melangkah dengan perlahan, juga waspada dengan hal yang ada di sekitarnya.

Manik mata Restya tertuju kepada sebuket bunga di bangku yang hendak ia duduki. Dia menengok ke sekeliling. Namun, nihil tak ada siapa-siapa. Tangan mungil itu perlahan mengambil buket bunga itu dengan hati-hati. Ada surat di sana.

Untuk Bunga Bakungku,

Matahari boleh pongah dengan panasnya

Angin boleh congkak dengan lajunya

Hujan boleh angkuh dengan derasnya

Rembulan boleh jumawa dengan sinarnya

Namun, tidak ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan yang memberikan senyum nan memesona di bibirmu

Maka, selalu tersenyumlah, Restya

Restya menatap bingung surat itu. Sebenarnya siapa yang mengirimkan itu untuknya? Apakah pria yang sama dengan bingkisan yang sering ia dapat sebelumnya dari mantan kekasihnya itu? Namun, kenapa pikirannya mengatakan kalau bunga ini sepertinya bukan dari lelaki itu?

Restya melipat kembali surat itu, lalu memasukkannya ke dalam buket bunga. Ia berdiri tegak seraya mencari tong sampah. Manik mata teduh itu melihat sebuah tong yang dekat dengan pohon mangga. Dia langsung berjalan ke sana dengan menggenggam bunga itu erat.

Restya membuang bunga itu dengan perasaan bercampur aduk. Entah kenapa ada rasa tak rela. Namun, di sisi lain dia ingin memusnahkan semua hal yang berhubungan dengan mantan kekasihnya.

“Tidak!” teriak Zio seraya berlari ke arah Restya.

Restya yang mendengar suara Zio, langsung berbalik arah. Dia mengernyit bingung. Ia tatap Zio dengan lekat.

“Tya, kenapa bunga dari saya dibuang?” tanya Zio dengan napas yang masih terputus-putus karena cara kerja jantungnya tak beraturan. Efek dari berlari.

Restya memutar bola matanya.

“Itu dari Kak Zio. Kenapa tidak bilang-bilang mau kasih bunga?” tanya Restya serius.

“Namanya bukan kejutan kalau saya kasih tahu,” jawab Zio sekenanya.

Restya mengangguk. Perempuan itu langsung berbalik arah ke tong sampah. Dia langsung membuka tutup tong sampah untuk mengambil bunga dari Zio itu kembali

Zio menahan tangan Restya.

“Jangan, Tya. Sudah kotor. Ada muntahan juga di sana. Tak usah diambil. Saya kasih yang baru,” terang Zio dengan nada lembut.

“Saya minta maaf. Saya enggak tahu itu dari Kak Zio. Saya kira dari--” Ucapan Restya menggantung. Bibirnya terasa kelu untuk sekadar menyebut nama pria yang mencampakkannya.

“Dikira dari mantan kekasih, ya? Kamu masih mencintainya?” tanya Zio hati-hati, takut Restya tersinggung.

Restya langsung menggeleng.

“Hati saya telah membeku. Tak akan mencair sedikitpun. Dia yang membuat saya seperti ini. Jadi, untuk apa saya menyimpan nama pria yang telah meninggalkan saya di dalam hati? Semua tentangnya telah berakhir,” jelas Restya santai.

Zio menangkap maksud ucapan Restya dengan baik. Ia mengerti sekarang, bunga bakungnya berubah karena ada yang melukainya.

“Res, kamu cantik dengan baju bewarna marun ini,” puji Zio seraya mengalihkan pembicaraan mereka. Dia takut ucapannya melukai hati Restya kalau membahas masa lalu.

“Terima kasih. Ngomong-ngomong, kenapa Kak Zio ada di sini? Menguntit? Jangan bilang Kak Zio juga yang mencuri potretku diam-diam tadi,” selidik Restya dengan nada serius.

Zio hanya terkekeh.

“Kan mau bikin kejutan. Sama seperti yang saya bilang tadi,” jelas Zio apa adanya.

“Oh.”

“Tya, kamu kalau senyum cantik sekali. Banyakin senyum, dong,” pinta Zio dengan nada lembut.

Restya tersenyum masam. “Saya bukan pengidap eccedentesiast3,” balas Restya sekenanya.

Zio yang mendengar jawaban Restya langsung mengernyit. Ia tak paham hubungan eccedentesiast dengan Restya. Restya menepuk bahu Zio pelan.

“Tidak usah melihat saya seperti itu. Kak Zio tahu sendiri, saya tidak baik-baik saja. Sifat saya yang beku, hanya pertahanan diri saya saja,” jelas Restya dengan nada santai.

Zio menatap Restya lekat. Dia paham sekarang. Restya tak mau banyak tersenyum agar terlihat kalau dia bahagia. Sementara kenyataannya dia terluka.

“Saya tidak butuh dikasihani. Jangan menatap saya seperti itu,” kata Restya penuh penekanan.

“Tidak. Saya bingung. Kamu terlalu tertutup. Saya enggak tahu betapa besarnya luka di hatimu, tapi yang saya tahu ada dua cara untuk mengatasi semua luka itu. Menghapus semua luka itu dan berusaha untuk bahagia atau berpura-pura bahagia. Namun kamu tidak memilih keduanya, kamu lebih memilih membiarkan luka itu sehingga rasa sakitnya masih terasa,” kata Zio dengan nada sendu.

“Tidak. Saya sudah berusaha menghilangkan rasa sakit itu, tapi ada saja yang menggores hati saya sehingga luka itu membesar,” terang Restya dengan nada serius.

“Kalau Dokter mau, Dokter bisa ceritakan masalah Dokter kepada saya. Siapa tahu, saya bisa membantu,” ujarnya lembut, kembali memanggil Restya dengan embel-embel dokter, seraya menatap lekat manik mata Restya.

Restya menghela napas, lalu tersenyum singkat seraya menatap Zio ragu.

“Tidak ada hal yang perlu saya bagi dengan Dokter, terima kasih perhatiannya,” balas Restya seraya beranjak dari tempat duduknya.

Zio langsung bangkit, kemudian tangannya menggenggam erat tangan Restya. Restya menoleh dengan tatapan datar.

“Restya, sampai kapan kamu memendam lukamu sendirian?” ujar Zio dengan nada sendu.

“Lupakan saja, Dok. Saya permisi,” pamit Restya seraya menjauhkan tangan Zio dari tangannya. Ia langsung melangkah pergi. Sementara Zio hanya terdiam lesu.

***

Sebuah cokelat terletak di meja kerja Restya, membuat kening sang pemilik tempat berkerut. Tangan Restya langsung terulur untuk mengambil cokelat itu. Ada amplop di bawahnya. Dibukanya amplop beraroma stroberi. Ia pun membaca saksama.

Cokelat yang manis pun tetap tak bisa mengalahkan manisnya senyumanmu, Restya. Maafkan, aku. Tak lagi kulihat senyum lagi di bibirmu. Ini semua salahku. Kuingin ucapkan sesuatu dalam bait rindu.

Ombak selalu beradu dalam malam sunyi

Angin terus berlari-lari, tak peduli

Aku ke sana-kemari sendiri

Mencari sang pujaan hati

Namun tak kudapati

Sosokmu lagi

Bagai tertusuk duri

Pedih melanda hati ini

Ingin kusampaikan rasaku pada angin

Ingin kuadukan cintaku pada hujan

Ingin kuceritakan rinduku pada bulan

Betapa kumenantikanmu untuk mengulang kenangan

Restya langsung merobek surat itu menjadi keping-keping, lalu mengambil tasnya. Kaki jenjangnya langsung pergi meninggalkan ruangannya dengan raut wajah kesal. Perempuan itu berjalan dengan gusar. Memorinya selalu diusik oleh bayang masa lalu. Apalagi, lelaki itu kini terus mencoba masuk ke dalam kehidupannya lagi.

Restya hendak keluar dari lobi, tetapi langkah perempuan itu terhenti begitu melihat punggung seseorang yang dulu sering ia rindukan. Sosok yang acapkali membuatnya nyaman, juga membuatnya sedih, kini nyata ada di hadapannya. Tak terasa bulir air mata Restya menitik. Rasa sesak melanda dadanya. Seolah-olah oksigen tak lagi bisa dihirup dengan bebas.

“Dokter Restya,” panggil Devan menyadarkan Restya. Perempuan itu langsung mengusap air mata, seraya mengatur napasnya perlahan agar normal kembali. Lelaki yang membelakangi Restya itu langsung berbalik begitu mendengar nama Restya dipanggil.

“Iya, Dok,” jawab Restya lembut seraya memasang wajah seceria mungkin, padahal kentara sekali ada gelisah yang melanda Restya jelas di paras ayunya.

“Anda kenapa?” tanya Devan dengan nada halus, penuh perhatian. Tangan lelaki itu bergerak untuk menghapus sisa air mata yang mengenang di pipi Restya. Sosok yang memperhatikan Restya pun menatap serius aksi Devan itu.

“Tidak apa-apa, Dok,” balas Restya kikuk.

Devan hanya mengangguk.

“Mau saya antar pulang,” tawar Devan dengan nada sumringah seraya mengulurkan tangannya. Restya menggenggam tangan Devan perlahan seraya mengangguk. Ia berjalan seolah-olah tak melihat sosok itu.

“Restya!” Suara yang amat Restya ingin lupakan, kini terdengar lagi mengumandangkan namanya. Dulu suara itu yang sangat ia nanti. Kini setiap apa pun yang berhubungan dengan sosok itu, hanya akan ada luka yang timbul di hati perempuan ini.

Restya menghentikan langkahnya dengan perasaan bercampur aduk. Sosok itu berjalan semakin mendekat ke arah Restya. Devan menatap serius lelaki yang mencoba mendekati Restya.

“Restya, aku ingin bicara,” katanya dengan suara serak yang terdengar sangat berat. Devan mengamati pria berpakaian sangat sederhana hanya menggunakan kemeja bewarna biru muda polos yang lengan bajunya digulung. Potongan rambut yang begitu rapi seperti pegawai kedinasan sangat kentara, belum lagi kacamata yang bertengger menutupi manik mata cokelat itu.

“Maaf, Anda siapa, ya?” tanya Restya seolah-olah tak kenal, lalu manik matanya seperti menilai lelaki di hadapannya.

“Ini aku, Rangga. Kamu tidak lupa kan, hanya karena aku berpenampilan seperti ini? Bukankah kamu menyukai pria sederhana?” sahutnya dengan nada lirih, hampir tak terdengar. Sepertinya kepercayaan diri lelaki itu mengendur.

Dalam hati, Restya mengiyakan. Dia menyukai pria yang sederhana dan apa adanya. Bukan bergaya ala-ala kaum sosialita yang terlihat nyentrik. Sementara lelaki yang ada di hadapannya dulu selalu tampil dengan gaya kekinian dan elegan. Deretan pakaian atau aksesoris ternama pasti akan menjadi penghias tubuhnya, tanpa berlebihan. Lelaki ini adalah anak bangsawan, berdarah biru. Jadi, tak heran kalau dia sangat stylish. Namun, pria yang ada di depan Restya ini sungguh berbeda.

“Maaf, Anda sepertinya salah orang, Tuan Rangga,” jawab Restya dengan nada tegas.

Devan mengernyit. Ia menatap Rangga dan Restya bergantian. Dia penasaran dengan apa yang akan terjadi.

“Res, aku tahu kamu marah. Tolong maafkan aku,” pintanya seraya menyatukan tangannya di depan dada. Restya hanya bergeming. “Aku masih mencintaimu, Res. Maafkan aku dulu. Tolong beri aku kesempatan,” imbuhnya lagi.

“Ini sebenarnya ada apa, ya?” tanya Devan menyela.

“Tidak tahu, Sayang. Mungkin dia salah satu penggemarku,” balas Restya seraya memandang Devan lekat penuh perasaan, lalu tersenyum. Devan mengernyit bingung. Masih tak paham.

“Dokter, maksudnya?”

“Sayang, dia itu mungkin cuma tahu aku. Aku tak mengenalnya. Tidak usah formal kenapa sih, Yang. Kan udah di luar jam kerja,” kata Restya seraya melepaskan genggaman tangan Devan, lalu tangannya merangkul lengan Devan erat. Ia ingin menunjukkan kepada Rangga, kalau dia sudah bahagia dengan pria lain.

Devan hanya mengangguk mengikuti ucapan Restya. Ia nanti akan bertanya lebih lanjut kepada perempuan itu jika sudah tepat waktunya.

“Ya udah, lagian yang lain juga udah pada pulang. Maaf ya, Mas, tolong jangan ganggu kekasih saya,” tegas Devan dengan suara penuh penekanan pada dua kata terakhir.

“Tidak usah berpura-pura, aku tahu Res. Kamu masih sendiri, tidak memiliki kekasih. Selama ini aku mengamatimu begitu tiba di negara ini,” elak Rangga tak percaya.

“Maaf, Tuan Rangga. Pria di sebelah saya ini adalah calon suami saya. Namanya Devan kalau Anda tak percaya, nanti kalau kami menikah Anda bisa datang,” terang Restya dengan nada seserius mungkin.

“Siapa pun Anda, saya kasih tahu. Percuma Anda mendekati calon istri saya, karena dia hanya mencintai dan mau menikah dengan saya. Iya, kan Sayang?” timpal Devan dengan nada tegas.

“Iya, Sayang. Aku hanya mencintai dan ingin menikah denganmu. Tak ada pria yang aku cintai selain dirimu.”

Rangga yang mendengar itu merasa ada ribuan duri yang menancap di hatinya. Begitu menyakitkan, sehingga ia tak mampu berbicara lagi. Dia merutuki kebodohannya di masa lalu, telah meninggalkan perempuan sebaik Restya.

Zio yang berdiri tak jauh dari Restya dan Devan bisa dengan jelas mendengar pembicaraan mereka. Entah kenapa, ia juga merasakan sesak di hati mendengar kalimat terakhir Restya yang mencintai Devan.

Zio berjalan memutar arah. Ia melangkah dengan lesu. Dia sekarang meyakini akan satu hal, kalau sebenarnya Restya hanya mempermainkan perasaannya karena yang perempuan itu cintai adalah sahabatnya. Mungkin ini adalah pembalasan dari Restya kepadanya akan semua perilakunya selama ini, pikir Zio.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height