Romantic Hospital/C9 Di Balik Rinai Hujan Ada Cerita
+ Add to Library
Romantic Hospital/C9 Di Balik Rinai Hujan Ada Cerita
+ Add to Library

C9 Di Balik Rinai Hujan Ada Cerita

-Sebaiknya orang membangun karakter lain, pasti dia akan kembali menjadi dirinya sendiri, ketika bersama orang terdekat yang membuatnya nyaman-

Suara gemuruh terdengar begitu jelas di indra pendengaran Restya. Ia langsung menengok ke kanan dan ke kiri untuk berteduh. Namun, manik matanya tak sengaja bertemu dengan Rangga. Dia langsung membuang wajahnya dan hendak pergi.

Restya berjalan terburu-buru menuju arah utara, diikuti pula dengan langkah Rangga. Lelaki itu terus memanggil perempuan itu dengan lantang. Namun, tak digubris sekalipun oleh Restya. Terpaksa lelaki itu berlari mengejar Restya.

Raut wajah Restya berubah kaku seketika. Manik matanya menajam, rasa sesak itu kembali menyeruak. Ingin sekali dia berbalik arah dan berteriak untuk meluapkan amarahnya kepada Rangga. Mengatakan semua hal yang membuatnya kecewa dan terpuruk di masa lalunya. Namun, tak mampu ia lakukan.

“Restya,” lirih Rangga seraya memegang tangan Restya tepat di dekat ayunan. Sontak Restya menghentikan langkahnya, ia melirik sekilas ke tangannya, tanpa menghadap Rangga. Ingatannya kembali ke masa lalu. Dulu, saat ia marah, sedih, dan bahagia, pasti tangan itu akan mengenggamnya. Maka dia akan merasa bahagia. Namun, kini tangan itu membuatnya hanya merasa tersakiti. Padahal, dia tidak diapa-apakan oleh sang pemilik tangan.

“Res, maafkan aku,” mohon Rangga dengan nada sendu seraya melangkah untuk berhadapan dengan Restya. Restya memutar bola matanya jengah.

“Tolong, Tuan, lepaskan tangan saya,” kata Restya dengan nada tegas seraya mencoba menyingkirkan tangan Rangga perlahan dengan senyuman masam.

Rangga cukup tahu diri untuk melepaskan tangannya agar menjauh dari tangan Restya.

“Aku tahu kalau aku tak pantas untuk dimaafkan. Sampai kapan kamu berpura-pura tak mengenalku? Res, aku tak pernah bermaksud meninggalkanmu atau menyakitimu,” ungkap Rangga dengan nada serius dan tatapan penuh sesal.

Restya menarik sudut bibirnya, lalu menatap Rangga dengan tatapan mencemooh. Kedua tangannya, ia lipat di depan dada.

“Mungkin dulu kita pernah mengenal. Akan tetapi, setelah hari di mana aku harus berdiri bersama calon suamiku di depan altar untuk mengucap janji suci, aku berjanji untuk melupakan kalau aku pernah memiliki tunangan dan memiliki calon suami yang bernama Rangga Admaja. Bagiku dia sudah mati bersama rasa cinta dan harapanku. Tolong Tuan, jangan ganggu aku lagi!” tegas Restya dengan raut wajah dingin. Matanya menatap tajam iris cokelat di hadapannya.

Rangga bergeming. Kata-kata Restya bagai belati yang menusuk tepat di ulu hatinya. Meninggalkan rasa sakit yang tiada tara. Ia tahu rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa sakit mantan kekasihnya itu.

“Jutaan kali aku minta maaf, pasti kamu tidak akan mau memaafkanku. Namun, tolong Restya dengarkan penjelasanku. Aku--”

“Cukup, kamu hanyalah pengecut. Pecundang, kamu saja tak percaya pada dirimu sendiri. Apalagi, kepadaku. Makanya kamu ragu menikahiku, kan? Lupakan kalau kita pernah mengenal. Aku sudah punya kehidupan yang baru,” balas Restya dengan nada sengit. Restya hendak melangkah, tetapi lagi-lagi tangannya di genggam oleh Rangga dengan tatapan sendu. Restya menghela napas.

Zio yang sudah sampai di taman, menyaksikan semua yang terjadi. Dia mendengar dengan jelas kalau Restya itu pernah dicampakkan. Ia dapat menyimpulkan kalau perempuan itu ditinggal di hari pernikahannya sehingga menimbulkan luka yang begitu besar. Dia paham akan hal itu, pasti sangat menyakitkan. Lebih sakit daripada dia yang ditinggal menikah oleh Elina, karena dia dan istri saudara kembarnya itu tak memiliki hubungan yang cukup serius.

“Restya,” panggil Zio seraya melangkah cepat ke arah Restya berdiri. Restya langsung menengok ke arah Zio dengan raut wajah datar, lalu ia ubah ekspresinya secepat mungkin dengan tersenyum ke arah Zio.

“Tolong lepaskan aku sekarang,” ujar Restya lirih. Rangga melepaskan tangan Restya, sebelum Zio sampai di hadapan mereka.

“Res, ternyata kamu di sini? Tadi, aku cari ke mana-mana, tapi enggak ketemu,” kata Zio basa-basi. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

“Maaf, Kak Zio. Soalnya, mau hujan. Jadi, aku mencari tempat untuk berteduh,” jawab Restya sekenanya.

“Dia siapa, Res?” tanya Rangga dengan nada lembut seraya mengamati Zio saksama.

“Aku--”

“Ini Dokter Zio, seniorku,” terang Restya sebelum Zio menjelaskan siapa dia. Bisa menjadi masalah besar, kalau Zio salah bicara. Apalagi, setahu Rangga perempuan ini adalah kekasih Devan.

“Aku ada acara ya, Ngga. Permisi,” kata Restya seraya menggandeng tangan Zio.

“Restya tunggu,” kata Rangga dengan nada cepat.

Restya menghentikan langkahnya, lalu berbalik arah.

“Iya,” ucapnya seramah mungkin agar Zio tak curiga dan memberikan banyak pertanyaan padanya.

“Ini untukmu,” ucap Rangga seraya mengeluarkan kotak beludru.

Restya mengernyit. “Kalung, kamu dulu menginginkannya. Ini aku berikan untukmu.” Rangga mengulurkan kotak itu, tetapi tak kunjung diambil oleh Restya. Perempuan itu tentu saja tak mau menerima barang pemberian Rangga lagi.

“Maaf ya, Bung. Restya sepertinya tidak suka dengan kalung pemberianmu. Lebih baik kau simpan kembali,” tutur Zio dengan nada tegas.

Rangga tersenyum masam. “Memangnya kau siapa? Jangan sok tahu. Kau kan bukan kekasihnya. Jadi, jangan sok berlagak tahu apa yang disukai atau tidak disukai oleh Restya,” tukas Rangga dengan nada sinis.

“Kalau aku memang--”

“Stop! Jangan berantem. Ngga, terima kasih. Sayangnya, aku tidak suka kalung itu. Benar yang dikatakan Kak Zio, lebih baik kau simpan kembali kalungmu,” sahut Restya seraya menatap Rangga dengan tatapan mencela.

“Iya, benar. Kekasihku tak suka kalung darimu. Dia hanya menyukai apa yang aku berikan. Iya kan, Sayang?” celetuk Devan yang sudah berada di hadapan mereka dengan membawa payung. Sontak Restya membulatkan matanya. Ia tak menyangka kalau Devan juga akan muncul di tempat itu. Perempuan ini langsung melirik ke arah Zio, ia merasa tidak enak hati dengan apa yang diucapkan Devan barusan. Dia sudah berjanji akan menjadi kekasih Zio selama lelaki itu masih berada di tempat yang sama dengan yang ia pijak untuk dua bulan ke depan. Zio hanya memasang wajah datar, entah tengah menyembunyikan semua perasaan cemburunya atau kesulitan berkata-kata karena semua yang tiba-tiba.

Rangga langsung menoleh ke arah Devan dengan tatapan kesal.

“Eh, Sayang. Ayo pulang, kayaknya mau hujan,” kata Devan lagi seraya menarik tangan Restya, lalu perempuan itu hanya mengangguk dengan perasaan yang bercampur aduk.

“Zio, aku duluan ya sama Restya. Hati-hati di jalan,” ujar Devan lagi.

Rangga pun langsung melangkah pergi. Ia memilih untuk mengalah hari ini dan mencoba mencari cara agar bisa mendapatkan Restya kembali besok. Sementara Zio memandang Restya datar dan enggan menanggapi ucapan Devan. Ia tak menyangka hari ini begitu menyebalkan untuknya. Padahal, ia yang membuat janji kencan dengan Restya, tetapi perempuan itu malah pergi dengan orang lain.

Perlahan-lahan air hujan menitik, membasahi rerumputan. Namun, Zio tak kunjung berteduh. Lelaki itu terus mengamati punggung Restya yang menjauh. Memperhatikan Devan yang membuka payung, lalu merangkul bahu Restya seperti kekasih pada umumnya. Restya menengok sekilas ke arah Zio.

‘Maafkan aku, Kak Zio.’

Manik mata Zio terlihat begitu sayu, tatapannya semakin dalam menatap netra milik Restya. Langkah kaki perempuan itu terhenti seketika, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Devan. Pria itu juga menghentikan langkahnya seraya mengernyit karena dipandang dengan tatapan yang sulit diartikan.

Restya menyingkirkan tangan Devan perlahan seraya tersenyum kikuk.

“Terima kasih Dokter atas bantuannya,” kata Restya dengan nada datar.

Devan mengangkat sudut bibirnya, lalu tersenyum cerah. Ia paham akan ucapan Restya.

“Sama-sama, Dok,” balas Devan dengan nada lembut.

“Sepertinya Kak Rangga sudah pergi. Saya pamit, Dokter Devan. Saya sudah ada janji dengan Dokter Zio,” jelas Restya dengan nada lembut penuh sopan-santun, agar Devan tak tersinggung. Lelaki itu malah terkekeh kecil, lalu memasukkan tangan kirinya ke saku celana.

“Dokter Restya, mau kembali ke sana?” kata Devan seraya menunjuk ke arah Zio dengan dagunya.

Restya mengangguk.

“Zio saja tidak mengejar Dokter Restya. Dia malah diam saja. Kenapa Dokter repot-repot kembali ke sana?” tanya Devan dengan nada tegas. Kata-kata itu mengandung arti yang dalam. Secara tak langsung, bisa jadi Devan sedang menyindirnya atau memang ingin tahu apa arti Zio di mata Restya. Ucapan lelaki itu seperti belati yang bisa menusuknya kalau salah digenggam. Benar-benar membuat Restya tersudut. Ia sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Devan itu.

Restya tersenyum menunjukkan lesung pipitnya, lalu ia menatap Devan dengan lembut.

“Saya harus kembali karena saya harus menepati janji. Janji adalah hutang, kan, Dokter Devan? Kalau saya pergi, saya malah terlihat tidak tahu diri. Mencampakkan Dokter Zio dengan pergi bersama Anda,” terang Restya dengan nada dingin. Mimik wajahnya berubah seketika, menjadi kaku. Sorot matanya meredup.

Devan tersenyum simpul.

“Dokter Restya lucu, ya. Kalau saya menjadi Dokter, saya tidak akan menjawab seperti itu tapi--” Devan menggantungkan kalimatnya, lalu tersenyum miring.

“Mana mungkin saya meninggalkan calon suami saya di tengah hujan, lalu saya malah memilih pergi dengan pria lain. Saya takut membuatnya salah paham. Apalagi, cemburu. Saya tak sanggup membuatnya terluka karena itu juga melukai hati saya. Kalau saya jadi Dokter akan bicara seperti itu,” lanjut Devan santai.

Restya memutar bola matanya. Sudah dari awal, ia duga. Devan memang tak bisa dianggap sebagai tembok yang menyangga atap untuknya, tapi dinding yang menghalangi langkahnya. Sebaik apa pun Devan kepadanya, pasti lelaki itu akan berpihak pada sahabatnya, pikir Restya.

“Angin tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Makanya kita tahu keberadaannya. Sikap saya terlihat, tidak seperti angin. Harusnya Dokter tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Dokter menyaksikannya. Permisi,” sahut Restya dengan nada dingin.

“Iya, saya menyaksikan banyak hal. Kalau hydrangea, bukan bunga bakung. Bunga yang melambangkan kebekuan itu memang cantik, sayang sangat dingin dan kaku. Tak mudah tersentuh.”

Restya tak mengindahkan ucapan Devan. Ia berusaha menutup rapat-rapat telinganya, lalu melangkah ke arah Zio yang tengah melangkah dengan arah yang tak menentu, sepertinya lelaki itu melamun bersama hujan.

Devan bergumam dalam hati. Ia merutuki sifat Restya yang dingin itu.

Restya terus menyerukan nama Zio seraya melangkah. Tepat di ujung taman, Zio menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Restya yang tengah tergopoh-gopoh mengejarnya dengan napas tak beraturan.

Zio tersenyum sekilas, ia tak menyangka Restya mengejarnya. Memilih berlarian di tengah hujan yang semakin deras, terbawa angin yang lumayan kencang pula hanya untuk menemuinya.

“Kak Zio,” panggil Restya tepat di hadapan Zio dengan napas tersengal.

Zio memegang kedua bahu Restya lembut.

“Kenapa kembali?” tanya Zio cemas. Ia mengingat kembali perilakunya dulu yang meninggalkan Restya di tengah hujan, sehingga perempuan itu jatuh sakit. Ia takut Restya sakit lagi karenanya.

Restya mendongak, ia tatap manik mata Zio dengan raut wajah kikuk.

“Kak Zio, nyindir, ya? Marah? Maaf, deh. Nanti aku jelasin. Ini cuma salah paham,” tutur Restya lembut dengan nada serius.

Zio menggeleng.

“Aku tidak menyindir, apalagi marah. Cuma takut saja kalau kamu jatuh sakit. Lebih baik kan kamu pulang dengan Devan,” tutur Zio lembut, dengan tatapan penuh perhatian.

“Lah, kita kan sudah janjian. Masa aku tega meninggalkan Kak Zio. Aku kan enggak kayak Kak Zio yang tega meninggalkan aku sendirian di tengah hujan,” jawab Restya sekenanya.

Zio hanya tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Restya. Kemudian, ia mengulurkan tangannya ke arah Restya yang langsung digenggam oleh perempuan itu.

“Res, masih ingat enggak?” tanya Zio memastikan.

Restya mengangguk.

“Permen, cokelat, biskuit!” teriak Restya seraya memperlihatkan jarinya untuk menghitung angka satu sampai tiga.

Zio langsung tersenyum begitu Restya selesai berteriak dan menarik tangannya untuk ikut berlari. Dulu, ia seringkali bertemu dengan Restya saat hujan dan menyaksikan gadis itu menunggu pelangi. Makanya, Zio sering memanggil Restya dengan sebutan ‘Pelangi’. Selain pribadinya yang ceria, ia juga suka melihat pelangi.

Akhirnya, langkah kaki mereka terhenti di sebuah tempat duduk beratap di tengah taman. Restya langsung melepaskan genggaman tangannya dengan Zio seraya mengatur napasnya. Ia menatap manik mata Zio lekat yang tengah tersenyum padanya. Namun, perempuan ini tak membalas. Sepertinya banyak hal yang menyelusup dalam otaknya. Perlahan-lahan tanda peringatan di otaknya bekerja dengan cepat, ia mendoktrin dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Zio. Posisinya hanyalah kekasih semu, jadi tak harus melakukan peran sebaik mungkin yang penting lelaki itu mendapatkan apa yang ia mau.

Raut wajah Restya kembali datar seketika. Ia mengatakan pada dia untuk mengubur semua yang berhubungan dengan masa lalu, apa pun itu. Dia pernah melakukan banyak hal dengan Zio, tetapi itu dulu. Bukan sekarang. Dia yang dulu pun telah mati, untuk apa mengenang masa itu atau membangkitkan kembali peristiwa yang pernah terjadi dulu.

“Aku selalu tak habis pikir, kenapa kalau hujan ada gadis yang malah berdiri di tengah hujan. Kalau aku sogok dengan cokelat, permen dan biskuit, gadis itu baru mau berlari untuk berteduh,” ucap Zio membuka pembicaraan.

Restya hanya tersenyum simpul.

“Tak kusangka, dia sudah tumbuh menjadi dokter hebat sekarang. Cantik pula,” sambung Zio dengan nada serius.

“Semua berlalu dengan cepat. Kak Zio yang tengil juga sudah berubah. Waktu itu memutar segalanya. Sudahlah, lupakan masa lalu karena kita tidak hidup untuk mengingat masa lalu, sepanjang masa. Ada masa depan yang menanti,” balas Rrstya dengan nada datar.

“Cerdas, tapi masa lalu juga patut dikenang kalau indah dan kalau ada yang menyakitkan, harusnya dijadikan cambukan untuk menumbuhkan semangat hidup. Dokter Restya kalau ngomong pinter, tapi praktiknya nol.”

Restya langsung menghadap ke arah Zio. Ia menaikkan alis sebelah kanannya.

“Kenapa menatap saya begitu? Buktinya benar kan masih terbayang mantan. Kalau tidak kamu sudah menikah sekarang,” kata Zio lembut supaya Restya tidak merasa tersinggung. Meski tetap saja perkataan itu menyinggung pada akhirnya.

Restya hendak menjawab, tetapi ada suara gemuruh yang begitu keras, lalu petir menggelegar saling bersahutan. Sontak perempuan itu langsung memeluk Zio seraya memejamkan matanya. Ia dapat mendengar detak jantung Zio yang berdetak dengan cepat.

“Tidak pernah berubah,” lirih Zio seraya mengusap-usap punggung Restya.

Restya memejamkan matanya sejenak, lalu perlahan-lahan manik matanya tertutup untuk menenangkan segala pemikirannya. Dia mendengar detak jantung Zio yang tak keruan. Berdesir dengan hebat. Membuatnya diam membisu. Kemudian, ia membuka kelopak matanya perlahan, lalu mendongak untuk menatap Zio.

Restya lalu melepaskan pelukannya. Ia langsung bergeser, kemudian menatap ke arah lain dengan memikirkan sesuatu.

Zio tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arah air yang berjatuhan.

“Hujannya semakin deras,” kata Zio, lalu menengok ke arah Restya yang masih melamun.

“Res, kamu kedinginan sekali enggak? Bajumu basah,” ujar Zio kembali seraya memegang bahu Restya pelan. Perempuan itu lumayan kaget, lalu mengernyit.

“Kamu kedinginan?” ulang Zio.

Restya menggeleng. “Biasa saja. Tidak seperti malam itu benar-benar kedinginan,” sahut Restya sekenanya.

Zio menghirup udara dalam-dalam, lalu tersenyum sekilas. “Maafkan, aku. Sekali lagi maafkan aku.”

Restya langsung menoleh ke arah Zio, lalu mengubah mimik wajahnya menjadi lebih bersahabat yang semulanya kaku.

“Tidak usah minta maaf, aku yang harusnya minta maaf. Tidak sopan. Kak Zio sudah mencemaskan kondisiku, aku malah menjawab seperti itu,” tutur Restya lembut seraya menyelipkan anak rambutnya ke daun telinga kanannya.

Zio bergeming sejenak. “Iya, tidak apa-apa. Ini kalau nunggu hujan reda kelamaan. Jarak parkiran dari sini dekat. Kalau kamu tidak keberatan, aku mau mengajakmu menerobos hujan sekalian. Nanti kita cari toko baju terdekat, lalu ke restoran sekalian. Pasti kamu lapar, kan?” jelas Zio lembut dengan menatap Restya penuh perhatian.

Restya mengembungkan pipinya. Membuat Zio tersenyum. Ingin sekali lelaki itu mencubit pipi Restya karena saking gemasnya. Perempuan itu tampak begitu imut mengemaskan, pikir Zio.

Restya menatap Zio dengan dingin, lalu perlahan bibirnya melengkung membentuk senyuman. Tatapannya pun berubah seketika. Kemudian, ia mengangguk.

“Iya, aku lapar. Ayo, Kak Zi. Bagaimana kalau balapan lari? Yang menang yang traktir makan,” ajak Restya dengan nada antusias.

“Jangan, ah. Jangan lari-lari. Hujan deras seperti ini tanah menjadi lembek, nanti bisa tergelincir,” tolak Zio lembut.

“Bilang saja takut kalah,” ujar Restya santai.

Zio menggeleng. “Kalau kalah terus cuma traktir, aku tidak masalah,” jawab Zio dengan nada santai seraya memasukkan kedua tangannya ke kedua saku celananya.

“Tapi laki-laki itu gengsian. Tidak mau kalah dari perempuan. Iya, kan?” cecar Restya dengan nada serius.

Zio terkekeh. “Mungkin, iya gengsian. Tapi kalau tidak mau mengalah, belum tentu. Buktinya, aku yang lebih sering mengalah padamu. Tidak semua pria seperti itu dan tidak semua pria itu brengsek. Kalau semua pria brengsek, pasti pengadilan penuh karena banyak wanita yang minta diceraikan suaminya,” tutur Zio lembut seraya memasang raut wajah sumringah.

“Kalau kamu merasa tersakiti oleh pria, itu tandanya kamu belum menemukan pria yang benar-benar mencintai dan menyayangimu. Bukan berarti semua pria brengsek,” lanjut Zio dengan santai.

Restya mengangguk seraya tersenyum.

“Iya, tapi sayangnya Tuhan mengirimkan banyak pria brengsek dalam hidupku. Aku terlalu malas membuang waktu untuk berurusan dengan pria. Bahkan, aku berpikir untuk tidak menikah,” papar Restya dengan nada datar, pandangannya lurus ke depan. Mengamati dengan saksama air hujan yang jatuh membasahi rerumputan. Manik mata Restya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Ia terus berusaha menutupi betapa rapuhnya dia dengan memasang raut wajah dingin.

Zio mengerti. Tak mudah menyembuhkan luka yang tergores begitu dalam sekian lamanya. Ia mencoba bersabar agar Restya mau berubah. Kembali ceria seperti dahulu. Meski pada akhirnya, perempuan itu tak bersamanya dan bahagia dengan pria lain. Cukup melihat perempuan itu bahagia sudah membuatnya tenang. Meski hatinya pasti terluka.

“Aku tahu. Pasti tak mudah untukmu. Di luar sana, banyak pria yang baik. Cobalah buka hatimu untuk salah satu dari mereka,” bujuk Zio dengan tatapan lembut.

Restya terkekeh. “Kak Zio, tahu enggak? Kalau Dokter Devan saja yang baik melamarku, tapi aku menolaknya,” gurau Restya dengan nada meyakinkan yang langsung ditanggapi Zio serius.

“Benarkah?”

Restya berjalan mendekat ke arah Zio langsung berbisik ke telinga lelaki itu. “Benar, tapi bohong,” katanya diakhiri dengan tawa.

Zio menarik napas sesaat. “Oh. Res, di sana ada kucing bisa terbang.” Zio berbohong seraya menunjuk ke arah belakang Restya. Perempuan itu langsung menengok ke belakang. Matanya mencari-cari apa yang dikatakan Zio, tetapi hasilnya nihil. Perempuan ini langsung berdecak sebal. Ia langsung menengok kembali ke arah Zio yang ternyata telah berlari ke arah parkiran.

“Kak Zio, tunggu!” teriak Restya dengan raut wajah kesal. Ia langsung berlari dan Zio menengok seraya tersenyum, lalu berhenti seraya menjulurkan lidahnya seperti anak-anak yang tengah menantang temannya. Lelaki itu langsung berlari kembali.

Restya tergesa-gesa hingga ia tak menyadari tanah gembur akibat hujan di depannya. Membuat dia tergelincir. Naasnya wajah perempuan itu penuh dengan tanah begitu jatuh. Tubuhnya terasa sakit seketika. Nyeri di perutnya terutama karena ada batu yang mengganjal saat ia jatuh.

Zio langsung berhenti mendengar jeritan Restya. Ia langsung berbalik arah dengan cemas. Kemudian, berlari dengan cepat.

Zio segera membantu Restya duduk. Ia memeriksa luka di tubuh perempuan itu. Tangannya memar, pipinya juga lecet meski banyak tertutup tanah.

“Ya Tuhan, Res. Mana saja yang sakit?” tanya Zio khawatir.

Restya menatap Zio lesu. “Semua,” rengeknya seraya memegang perutnya.

Dengan terburu-buru, Zio menggendong Restya menuju ke mobilnya. Sementara perempuan itu memejamkan mata menahan nyeri di seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan wajahnya yang kotor karena tanah menjadi bersih, walau tak seperti semula karena sapuan air hujan yang deras.

Begitu sampai di pakiran, Zio langsung menurunkan Restya dan membukakan pintu untuknya. Ia segera masuk ke mobil sambil mengambil kotak obat yang selalu ia bawa di mobilnya. Tangan lelaki itu langsung mengulurkan tisu kepada Restya untuk membersihkan wajahnya. Sebelum ia beraksi membersihkan luka di tangan Restya, lalu mengobatinya.

“Ya Tuhan, sikumu lumayan dalam lecetnya,” kata Zio dengan suara lirih. Manik matanya tampak cemas. Tangannya terus bermain dengan kasa membalut luka Restya setelah diberi obat merah. Perempuan itu meringis menahan sakit.

“Pelan-pelan kenapa, Kak,” katanya dengan nada lirih serata memegang lengan Zio.

“Tahan. Sakitnya tidak seperti orang yang setelah melakukan operasi besar,” jelas Zio dengan nada lembut. Ia menatap manik mata Restya sekilas dengan lekat, sebelum kembali beraksi.

Restya terdiam sejenak. Manik matanya terasa gusar. Ia mengingat sesuatu.

“Kak Zi, aku lupa memberitahumu kalau lusa ada rapat dengan departemen bedah syaraf. Katanya ada operasi besar yang melibatkan dokter bedah umum dan syaraf,” tutur Restya dengan nada datar.

Zio mendongak dengan mengkerutkan dahinya.

“Benarkah?” tanya Zio memastikan. Restya hanya mengangguk.

“Oh. Res, aku minta maaf. Sekali lagi aku melukaimu,” tutur Zio dengan nada halus seraya menggenggam tangan kanan Restya seraya mengusap-usap telapak tangan perempuan itu dengan membuat pola tak beraturan.

“Kak Zio tak salah kok. Ini salahku yang tak hati-hati,” balas Restya sekenanya, lalu ia tersenyum dengan ringisan. Tangan kanannya tak sengaja memegang perutnya yang terluka malah tambah membuatnya kesakitan. Kontan kelopak mata perempuan itu tertutup menahan nyeri dengan mengigit bibir bawahnya pelan.

Mata Zio pun beralih memandang ke arah tangan Restya. Ia melihat dengan jelas ada bercak darah di baju yang dikenakan wanita itu. Lelaki itu mendongak melihat raut wajah Restya yang terlihat menahan perih.

“Perutmu kenapa?” tanya Zio khawatir seraya memegang kedua pundak Restya seraya mengguncang tubuh itu pelan untuk menyadarkan Restya.

“Tadi, sewaktu aku terjatuh, ada batu dan pecahan keramik di tanah tempatku tergelincir yang melukai perutku saat aku jatuh ke tanah,” ujar Restya dengan suara pelan.

Zio langsung menyingkirkan tangan Restya di perut wanita itu terluka. Ia menyingkap sedikit baju Restya yang memperlihatkan luka yang lumayan lebar dan dalam di sana membentuk pola tak beraturan.

“Ya Tuhan separah ini,” lirih Zio seraya mengambil tisu untuk membersihkan darah yang mengalir di sana.

“Res, ini harus dijahit. Kita ke rumah sakit sekarang atau klinik. Aku akan menutupnya dengan kain kasa untuk sementara,” tutur Zio dengan nada lembut.

Restya hanya mengangguk.

Zio langsung tersenyum, lalu ia mengambil plester untuk merekatkan kain kasa di perut Restya dengan lembut--membuat perempuan itu memekik kesakitan--karena Zio tak sengaja menekan lukanya.

“Sakit, Kak! Kau sengaja, ya,” tuduh Restya asal.

Zio langsung menggeleng dan memegang kedua tangan Restya seraya memohon maaf.

“Maaf, aku benar-benar tak sengaja,” tuturnya lembut. “Kalau gitu kita cari klinik agar bisa segera dijahit,” lanjut Zio dengan nada rendah.

***

Perut Restya terasa lapar. Ia ingin makan tetapi kondisinya yang terluka membuatnya hanya bisa tidur di ranjang. Kakinya begitu sakit kalau banyak digerakkan. Tangannya juga lecet. Perempuan ini menggeram frustrasi. Bisa-bisanya dia berlaku seceroboh itu. Tak pernah disangka, kenapa dia bisa kembali mengulang masa lalu yang suka berlarian menggejar Zio. Perempuan itu tersenyum masam. Kemudian, merutuki dia sendiri.

“Bodoh, Restya kau bukan gadis kecil polos lagi,” ujar Restya dengan suara lirih. Setelah mengucapkannya, ia meringis dengan air mata yang menitik. Ingatannya melayang ke masa lalu, di mana ia tengah memakan kue bolu di atas batu, tiba-tiba Zio datang dari belakang, semua kue yang ia bawa di kotak yang berada di sampingnya langsung diambil Zio. Kemudian, lelaki itu berlari dan Restya mengejarnya, sehingga dia terjatuh. Namun, hanya lututnya yang memar. Ia pura-pura marah dengan Zio yang langsung membuat lelaki itu meminta maaf berkali-kali dan berimbas Zio yang dikerjai habis-habisan oleh Restya.

Ingatan Restya kembali ke masa kini, diusapnya rambutnya tak teratur dengan tangan sebelah kiri. Dia merasakan perasaan yang aneh. Ada rasa yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Dalam hati kecilnya, ia juga rindu masa di mana bisa tertawa dan bercanda dengan orang-orang sekitarnya. Selalu tersenyum ceria. Namun rasanya bertindak seperti masa lalu, hanya membuatnya terluka dan berharap kalau semua masih baik-baik saja itu hanya akan membuatnya semakin jatuh terperosok ke dalam ilusi semu.

Zio yang baru saja masuk ke kamar dan membawa semangkuk sup langsung menekuk wajahnya begitu melihat air mata menitik dari netra Restya. Ia benar-benar merasa bersalah sekarang karena perempuan itu terluka, akibat kecerobohannya. Lelaki ini terburu-buru meletakkan semangkuk sup itu di atas meja kecil di kamarnya.

“Res, kamu kenapa. Apa lukamu bertambah parah?” tanya Zio hati-hati seraya menatap tangan Restya bergantian yang terluka.

Restya langsung tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum sekilas.

“Tidak. Memangnya kenapa?” tanya Restya sesantai mungkin. Meski hatinya sangat resah. Ia menatap Zio setenang mungkin. Namun, semakin dalam ia menatap manik mata lelaki itu membuatnya semakin bimbang dan ada rasa takut yang sulit dijabarkan. Bukan takut dengan sosoknya, tetapi perasaan yang membuatnya takut melukai pria itu. Entah kenapa dia merasa bersalah pada Zio atas sikapnya selama ini, padahal jelas-jelas ia tak pernah peduli dengan apa yang dirasakan pria itu. Semakin lelaki itu menjauh darinya, perempuan ibu berpikir akan semakin lebih baik hidupnya. Namun, kenapa hati kecilnya berkata lain?

Tangan Zio tergerak untuk menghapus sisa bulir-bulir air mata yang menitik di mata Restya dengan kedua ibu jarinya. Entah kenapa perlakuan Zio malah membuat dada Restya terasa sesak. Pikirannya melayang-layang bebas. Semua ingatan masa lalu bercampur aduk satu sama lain. Restya memegang tangan Zio, lalu menjauhkan perlahan dari wajahnya dengan tangan kirinya yang juga terluka walau tak parah.

“Tolong, jangan menangis! Maafkan aku,” lirih Zio dengan suara semampunya. Ia mengusap-usap lembut surai hitam legam perempuan itu dengan lembut.

“Kamu makan dulu, ya. Pasti lapar, kan?” tanya Zio dengan nada rendah.

Restya hanya mengangguk, lalu lelaki itu mengambil baki yang tadi ia letakkan di meja makan.

“Buka mulutmu,” kata Zio dengan menyendok sup buatannya.

Restya tak kunjung membuka mulutnya.

“Kenapa Kak Zio baik padaku?” tanya Restya dengan nada serius.

Zio mengernyit. “Aku malah merasa tak pernah berbuat baik kepadamu. Malah aku sering menyakitimu. Jujur, aku tak ingin melukaimu. Namun pada akhirnya, kamu terluka juga karena diriku. Sekali lagi, maafkan aku,” mohon Zio dengan Restya.

“Tidak usah minta maaf. Kak Zio tak salah. Kak Zio meski dulu selalu menjahiliku dan menggodaku, tapi Kak Zio pula yang selalu ada untukku di saat aku terluka. Menghiburku dengan gurauan tak bermutu yang tidak aku mengerti, tapi pada akhirnya aku ketawa karena segala tingkah konyol Kak Zio. Saat aku mau sesuatu pasti dituruti. Aku selalu berharap kalau kakakku seperti Kak Zio. Sayangnya, kakakku terlalu sibuk untuk bermain dengan adiknya,” papar Restya diakhiri dengan senyum simpul.

“Ketika bertemu kembali, aku kira Kak Zio membenciku dan menganggapku rival, tapi kalau dipikir sebenarnya Kak Zio tidak pernah membenciku. Aku tidak tahu kenapa Kak Zio berperilaku seperti itu. Mengataiku dengan berbagai kalimat pedas, padahal niat Kak Zio baik cuma menyuruhku makan dan hal kecil lainnya,” lanjut Restya dengan nada lesu.

“Aku--” Ucapan Zio terputus karena Restya malah terkekeh.

“Tak usah dijelaskan. Seharusnya aku sadar diri, kalau Kak Zio berperilaku seperti itu karena perilaku diriku juga yang buruk,” balas Restya dengan nada santai.

“Mendingan kamu jangan banyak memikirkan hal sekarang. Lebih baik makan dulu,” kata Zio dengan lembut.

“Kak Zio, aku bertanya sekali lagi. Kenapa Kak Zio baik padaku?” Restya menatap lekat manik mata teduh itu.

“Karena aku peduli dan menyayangimu,” jawab Zio dengan nada tulus.

“Apakah Kak Zio akan tetap peduli padaku dan menyayangiku kalau aku berlaku kasar atau menyakiti Kak Zio?”

Zio bergeming. Ia masih tak mengerti apa maunya Restya. Dia menatap lekat manik mata itu mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi.

“Kenapa diam? Apakah Kak Zio akan membenciku?” Suara Restya menaik. Zio menggeleng.

“Aku tidak pernah membenci seseorang selama ini. Ayahku selalu mengajarkan untuk selalu memaafkan. Mungkin marah, aku sering. Kalau aku membenci seorang perempuan itu lebih tak mungkin lagi. Apalagi, kalau itu adalah dirimu,” tutur Zio lembut.

“Kalau begitu, aku tak punya cara untuk membuat Kak Zio membenciku. Kalau begitu Kak Zio mau membantuku, kan?”

“Apa?”

“Bersahabatlah terus dengan Devan apa pun yang terjadi.”

“Maksudnya?” tanya Zio bingung.

“Tolong jangan benci Devan. Jika akhirnya kami bersama karena aku sangat mencintainya dan aku ingin menjadi istrinya.”

Jantung Zio berdetak tak keruan. Raut wajahnya memucat seketika, manik mata itu berubah sayu seperti daun-daunan kering yang tersapu angin. Ia mencoba tersenyum perlahan, meski terkesan kaku. Dia sudah berjanji untuk ikhlas melepaskan perempuan yang selalu menari-nari dalam pikirannya.

Restya menatap Zio dengan lekat, begitu serius. Ia benar-benar tengah memperhatikan reaksi pria itu atas ucapannya tadi. Penasaran akan jawaban yang nantinya keluar dari mulut lelaki itu.

“Sampai kapan pun Devan adalah temanku. Maka dengan tulus hati, aku pasti senang jika dia bahagia bersamamu. Walau hubungan kami akhir-akhir ini merenggang. Lagi pula, aku sudah bilang kalau aku tak akan lagi mengejarmu atau memaksamu menikah denganku, karena aku tahu cinta tak bisa dipaksakan,” kata Zio dengan nada halus, diakhiri dengan senyuman yang lembut. Walau hatinya berkata lain, lelaki itu tetap berusaha terlihat baik-baik saja.

Restya hanya tersenyum masam.

“Res, sudah waktunya kamu bahagia. Maka menikahlah dan hidup bahagia dengan Devan. Berdamailah dengan masa lalu. Lupakan kenangan akan mantan kekasihmu itu. Aku yakin Devan bisa menjagamu dengan baik. Dia pria yang baik,” sambung Zio dengan nada tulus, meski matanya menyiratkan luka yang mendalam di hatinya. Namun disatu sisi, ia senang karena Restya menemukan pria yang baik seperti Devan. Dia berharap setelah ia pergi, Restya akan selalu bahagia.

Restya yang mendengar ucapan Zio entah mengapa malah kesal mendengar jawaban lelaki itu karena dengan mudahnya merelakan dia bersama Devan.

“Kalau begitu Kak Zio, jangan terburu-buru meninggalkan negara ini sebelum aku menikah dengan Devan. Kak Zio akan menjadi tamu paling spesial untuk kami. Jadi, tolong tinggallah lebih lama lagi. Untuk aku dan Devan,” ucap Restya dengan nada santai. Ia terus memperhatikan mimik wajah Zio. Lelaki itu tampak gusar.

“Aku pasti datang, tapi aku tetap akan meninggalkan negara ini secepatnya. Lebih baik kamu makan dulu agar cepat sehat,” bujuk Zio seraya mengarahkan sendok ke mulut Restya. Perempuan itu membuka mulutnya dengan santai, lalu mengunyah makanan yang masuk. Rasa sup itu begitu lezat dan hangat di mulut, sedikit memberi ketenangan. Kemudian, ia menatap Zio dengan datar.

“Kak Zi--”

“Shuuut! Makan dulu. Bicaranya nanti lagi, kalau sudah habis,” balas Zio dengan nada lembut seraya menyendok lagi sup itu. Dia memandangi Restya lekat. Berharap hari akan kebersamaan dengan perempuan itu tak cepat berlalu.

Restya terus mengunyah setiap suapan dari Zio dengan perlahan sampai semangkuk sup itu habis. Begitu mangkuk itu kosong, ia langsung meneguk minuman yang juga gelasnya dipegangi Zio karena tangannya terluka.

“Kak,” panggil Restya kepada Zio yang hendak beranjak pergi keluar membawa baki dan mangkuk sup tadi ke pantri.

“Apa?” tanya Zio seraya berbalik arah.

“Terima kasih,” sahut Restya dengan diakhiri senyuman getir. Zio hanya mengangguk, lalu keluar.

Restya memutar bola matanya. Ia menggerutu seperti kicauan burung. Dia tengah memperhitungkan setiap langkah yang ia tempuh. Salah atau benar karena bisa saja apa yang dia lakukan berdampak buruk pada dirinya sendiri.

Restya melamun dengan memandang lurus arah jendela yang tirainya bergerak-gerak karena sapuan angin. Perempuan itu memikirkan banyak hal. Jemarinya bergerak perlahan dengan tak menentu.

Zio kembali dengan membawa sebuah kotak berukiran naga. Ia tersenyum cerah ke arah Restya yang masih terpaku dengan pemikiran-pemikirannya.

“Res,” panggil Zio lirih seraya memegang pundak Restya lembut. Restya mendongak, lalu tersenyum. “Ini untukmu,” ujar Zio dengan nada lembut seraya menyodorkan kotak yang ia bawa.

Restya mengernyit. “Tangan kananku kan sakit. Kalau aku ambil tangan kiri sopan enggak?”

Zio langsung mengambil telapak tangan kiri Restya dan memberikan kotak itu di atas telapak tangan perempuan itu.

“Apa ini?” Restya mengerutkan dahinya.

“Kalung batu giok. Ini aku berikan sebagai kenang-kenangan. Katanya kalung ini membawa keberuntungan,” jelas Zio dengan nada sumringah.

“Aku tidak bisa menerimanya,” tolak Restya dengan nada lembut.

“Kenapa?”

“Ini terlalu berharga. Tidak baik pula seorang perempuan menyimpan barang yang begitu mahal dari seorang pria yang bukan pasangannya,” sahut Restya seraya mengulurkan kembali kotak itu ke Zio dengan tangan kirinya. Lelaki itu meraihnya dengan raut wajah lesu.

“Anggap saja ini sebagai hadiah dari seorang kakak laki-laki kepada adik perempuannya. Kau tak mau mengenangku sama sekali kalau aku pergi?” tanya Zio ragu.

Restya mengendikkan bahunya. “Entahlah. Aku tidak tahu. Lagi pula, tidak ada kenangan yang begitu spesial di antara kita. Hanya sebatas rekan kerja atau teman saja,” balas Restya dengan tatapan kosong.

Zio tersenyum, lebih tepatnya senyuman itu mencemooh dia.

“Kak Zio, mari ciptakan kenangan yang indah agar aku tak ragu mengenangnya. Semua kenangan di masa laluku kebanyakan buruk,” balas Restya dengan nada santai. “Sebagai kakak dan adik yang saling menjaga,” lanjut Restya yang diakhiri senyuman.

Zio mengangguk. “Res, boleh aku bertanya?”

Restya mengangguk.

“Tolong jawab dengan jujur.”

“Baik. Mau tanya apa?”

“Di matamu aku ini seperti apa?” Zio menatap sendu Restya.

“Kak Zio pria yang baik, penyayang walau menyebalkan, dermawan, pastinya cerdas, cekatan, tampan, dan mapan. Suami idaman.”

Hening sejenak. Zio menutup matanya sejenak. Mengatur napasnya sebelum berkata. Ia mengumpulkan banyak keberanian untuk mengucapkan apa yang dia ingin katakan.

“Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku atau menikah denganku. Namun, aku memaksamu untuk berkata jujur apa kurangnya diriku di matamu?” Zio menatap manik mata Restya lurus. Penuh dengan perasaan.

“Tidak tahu. Aku tidak memperhatikan apa pun kekuranganmu. Bagiku itu tak penting. Setiap orang pasti punya kekurangan, bukan?”

“Lalu, kenapa kamu sering mempermainkan diriku? Kamu tahu ucapan lembutmu itu menyakiti hatiku secara perlahan. Kenapa kamu seperti orang yang pura-pura tidak tahu dan dengan santainya kamu mengatakan hal yang melukai hatiku.”

“Apa salahku? Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku ucapkan, kalau Kak Zio terluka itu bukan urusanku. Sebenarnya Kak Zio sendiri yang melukai hati Kak Zio sendiri. Bukan aku.”

Zio menatap Restya lesu.

‘Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukai hatimu. Namun, hanya dengan cara ini agar kau menjauh dariku,’ batin Restya mencoba menatap Zio dengan tatapan biasa-biasa saja. Meski begitu air matanya tak bisa diajak kompromi. Menitik hingga jatuh ke pipinya. Ia langsung membuang wajahnya dari hadapan Zio, mengusap air matanya yang semakin deras. Mencoba agar bibirnya tetap terbungkam agar tak keluar isakkan sedikit pun.

“Teruslah bersikap seperti itu kalau kau bahagia. Semoga saja jika memang benar Devan mau menikahinu, dia akan selalu sabar menghadapi segala sikapmu yang keras kepala dan angkuh itu,” kata Zio dengan nada datar, lalu ia beranjak pergi.

Restya mengalihkan pandangannya ke arah punggung Zio yang melangkah keluar pintu. Lolos sudah isakkan yang ia tahan semenjak tadi.

“Bahkan aku tidak tahu apa yang aku mau. Bagaimana aku bisa bahagia?” gumam Restya diakhiri dengan senyuman miris. Dadanya terasa sesak, kepalanya begitu pening memikirkan semua apa yang terjadi dalam hidupnya.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height