C3 Apa Yang Aku Lakukan
Eve menarik napas panjang untuk bersiap berteriak sekuat tenaga di jembatan dekat rumah mereka. Matanya yang memerah, bengkak, karena dia sudah menangis seharian.
“Gue mau mati saja! Gue nggak mau hidup lagi!” Eve berteriak dengan kesal karena telah tertipu oleh cowok brengs*k itu.
“Ngomong yang bener!” Adam mendekati dengan kesal, ikut emosi akan ucapannya yang aneh.
Mereka sudah memasuki bulan-bulan terakhir di SMU, ujian akhir akan dilaksanakan seminggu lagi. Hubungan Eve dengan Andrew yang sempurna itu sudah berakhir, dalam waktu enam bulan saja, Andrew yang menurut Eve baik dan ganteng itu tertangkap berselingkuh. Bukan hanya diduakan, tapi ternyata Eve adalah pacarnya yang ketiga. Ketika gadis itu sedang berjalan di mall siang tadi, ada seorang cewek yang menghampirinya dan langsung menampar tanpa berkata apa-apa.
Dengan tidak terima Eve segera meminta penjelasan, tapi justru dia malah yang menjadi pihak pelakor. Eve begitu malu, dan meminta Andrew untuk setidaknya menjelaskan, tapi cowok bedeb*h itu malah menudingnya bahwa Eve yang terus mendekatinya.
Ternyata setiap dia berselingkuh, dia akan membelikan berbagai hadiah untuk Eve. Kenyataan itu menghancurkan hati Eve berkeping-keping yang dengan polosnya sudah memberikan seluruh hatinya untuk cowok itu. Dia menangis tersedu-sedu mengadu kepada Adam, selalu begitu. Entah kenapa dia selalu berkencan dengan cowok brengsek.
“Gue benci cowok! Gue ga akan pernah percaya makhluk yang namanya cowok lagi!” teriak Eve ke arah jalan yang ramai di bawah jembatan. Suaranya tentu saja terbawa angin, tapi setidaknya Eve merasa lega karena sudah menumpahkan emosinya.
"Gue benci cowok, semua cowok sama ajah, ga bisa dipercaya!" ulangnya lagi.
“Eh, gue cowok ya!” Adam dengan kesal membalas ucapan terakhir Eve. Wanita muda itu menatapnya sesaat lalu mendengus geli, “Tentu saja dia cowok, cowok yang ganteng,” pikir Eve dalam hati. Bahkan tadi siang ada teman sekelas Eve yang memintanya untuk memberikan surat cinta untuknya. Seperti biasa Eve menyimpannya. Gadis itu tidak pernah menyampaikannya pada Adam. Dulu Eve pernah bertanya pada Adam, apakah dia tertarik untuk memiliki pacar, dan dia menggelengkan kepalanya, maka semenjak itu Eve selalu menyimpan surat cinta untuknya.
“Tapi lo kan ga dihitung,” jawab Eve geli. Dia menatap Adam dengan air mata mengalir di pipinya. Dia mendengus, seakan-akan apa yang baru saja Adam katakan itu bohong.
“Apanya? Emang gue kurang cowok apanya?” ucap Adam jengkel. Tiba-tiba Eve berjalan mendekatinya. “Oh dia tidak ada kurang apa-apa sebagai cowok, bahkan jika dia bukan sahabatku pasti aku juga sudah menyatakan cinta dari dulu,” pikir Eve sambil menatapnya.
“Lo memang cowok, tapi lo kan sahabat gue. Sahabat sampai selamanya,” ucap Eve tiba-tiba ingin masuk dalam pelukannya. Gadis itu tanpa aba-aba langsung memeluk Adam dengan erat. Cowok itu terkejut tapi lalu memeluk Eve kembali. Gadis itu bersandar padanya, menikmati kenyamanan yang Adam berikan. Bahkan saat Eve meletakkan kepalanya di pundak Adam, lekukannya terasa sangat pas.
“Ah rasanya sungguh nyaman,” pikir Adam merasa aneh. Dia menepuk-nepuk punggung Eve dengan ragu-ragu. Napasnya menjadi tertahan. Rasanya walau aneh, tetapi sungguh nyaman. Seperti kemarin-kemarin, jantung Adam langsung berdebar kencang, dalam hati cowok itu sungguh berharap, Eve tidak menyadarinya karena jika dia bertanya kenapa, Adam tidak tahu harus menjawab apa.
…
“Gue tidak mau berpisah sama lo!” rengek Eva dengan mata sembab, air mata baru terjatuh di pipinya yang kemerahan. Dia lalu memandang Mamanya dengan sedih. Adam juga sangat terkejut saat menyadari kalau mereka akan terpisah sangat jauh. Dia kembali menatap layar laptop Eve dengan tidak percaya.
“Mama, Eve nggak mau berpisah dengan Adam, bagaimana ini?” keluh Eve dengan sedih. Adam hanya bisa memperhatikan perawakan ibu dan anak itu yang serupa tapi tak sama. Mamanya Eve juga terlihat kecewa, wanita paruh baya itu memandang anaknya yang terus-menerus menangis.
“Yah mau bagaimana Eve, kamu keterima di Udayana, sedangkan Adam di Universitas Indonesia?” Mamanya Eve agak jengkel dengan anak perempuannya yang merengek terus, dia lalu sambil mengelus rambut Eve, mendesah panjang.
“Aku maunya bareng dengan Adam, kita kuliah sama-sama, gimana aku bisa sendiri di sana?” Eve kembali melihat layar laptop. Adam juga ikut melihat layar laptop Eve yang kecil itu, Eve bisa merasakan hembusan napasnya karena dia menjadi sangat dekat. Seketika gadis itu merasa tersengat listrik. Adam mendengus kesal karena sebenarnya dia juga enggan berpisah dengan Eve, tapi dia menahan perasaannya dalam-dalam.
Adam merasa sungguh beruntung mendapatkan undangan untuk bisa langsung masuk di fakultas ekonomi jurusan akuntansi Universitas Indonesia hanya dengan nilai raportnya. Adam mendapatkan beasiswa setelah mengalahkan ribuan siswa lain di seluruh Indonesia. Eve mengikuti pilihan Adam tentunya, tapi dia harus mengikuti test masuk seperti yang lain, tapi sayangnya mereka justru malah terpisah jauh.
“Pilihan pertamaku UI, aku hanya iseng tulis Udayana sebagai pilihan kedua,” tangis Eve berharap mamanya bisa melakukan sesuatu, walau Adam tahu itu mustahil.
“Sudahlah, sudah untung kamu masuk PTN!” seru mamanya Eve, Gadis itu mengerti, karena tidak mungkin dia bisa masuk kampus swasta, mamanya tidak bisa membayarnya. Dengan kesal mamanya mendengus lalu akhirnya dengan tidak sabar meninggalkan merekai ke dapur.
“Bagaimana ini Adam, kita terpisah?” ucap Eve memandangnya. Adam juga dengan bingung menatapnya kembali karena juga tidak memiliki kata-kata menghibur karena sebenarnya dia pun merasa sedih.
“Kan bisa telepon, video call?” jawabnya pelan pada akhirnya.
“Tapi tetap tidak sama?” Eve menatap Adam dengan sinis. Dia kesal dengan jawaban klise itu.
“Nanti yang bawakan lo makan malam siapa? yang cuci baju lo?” Dia segera mencari-cari alasan yang terlalu memaksa.
“Astaga Eve, gue bisa sendiri kok!” Adam malu, sepertinya sepanjang Eve mengenalnya, Adam hanya menyusahkan Eve terus. Wanita muda itu memandang Adam dengan penuh emosi, cahaya lampu kekuningan menyinari sebagian wajahnya. Karena menangis mata, hidung dan pipi Eve agak kemerahan, terlihat kontras di kulit Eve yang putih. Eve benar-benar tidak bisa membayangkan harus berpisah dengan Adam.
“Nanti kalau gw mau curhat gimana? Kalau via telepon kan ga enak.” Eve membanting laptop dengan kasar karena kesal
“Makanya jangan pacaran, kuliah cepet langsung balik Jakarta lagi. 4 tahun ga berasa!” ucap Adam berbohong, dia tahu pasti akan terasa lama sekali, sehari tidak bertemu dengan Eve Adam sudah bisa gila, apalagi 4 tahun. Eve memandang Adam dengan bola matanya yang membesar. “Hah, 4 tahun ga berasa? sehari saja ga bertemu dengan Adam, rasanya hatiku mau meledak!” pikir Eve dalam hati..
“4 tahun nggak berasa? Emang bisa langsung kelar kuliahnya?" Eve mendengus sebal.
“Terus emang gue nggak pulang-pulang, emang lo ga mau ketemu gue lebih cepat?" Eve dengan kesal berjalan mendekatinya, “Apakah dia begitu mudahnya berpisah denganku?” pikir Eve sakit hati.
“Yah… maksud gw, lo tau lah!” jawab Adam tergagap. Adam segera mundur dengan tertib, karena kadang cubitan Eve sampai berbekas lama.
Gadis itu menengadah dengan tatapan sinis untuk melihat wajah cowok itu saat dia berniat mencubitnya. Adam mendengus saat kami berdiri berhadapan. Tubuh Eve yang mungil hanya sedada Adam. Tapi entah kenapa Adam tiba-tiba menangkap wajah Eve dengan kedua tangannya, dan mendekatkan wajahnya kepada gadis itu.
Jantung Eve sontak berdebar sangat cepat, dia memperhatikan bibirnya yang mendekat, apakah dia mau menciumku? Eve tidak pernah berpikir seperti itu pada Adam. Ini hal yang baru, matanya yang hangat menata[nya, seketika timbul perasaan aneh dihati Eve. “Aku ingin merasakan ciumannya,” pikirnya dalam hati.
“Aku mau, gw mau, bertemu lo lebih cepat, Kita pasti bisa, kamu pasti bisa.” Adam menghapus bekas air mata di pipi Eve dengan lembut, suaranya rendah berbeda seperti biasanya. Eve tercekat dan hanya bisa menatap mata hitam cowok itu.
Wajah mungil Eve sangat pas di telapak tangan Adam, gadis itu membuka matanya lebar-lebar karena kaget. Bibirnya yang merah terbuka sedikit, dia menahan napasnya, saat Adam menyentuh bibir itu dengan jemarinya. Eve mendesah yang segera membuat Adam tersadar. Secepat kilat Adam melepaskan pegangannya secepat tadi ketika Adam memegang wajah Eve tadi.
“Apaan sih tadi!” ucap Eve setelah jantungnya lebih tenang, Adam segera memutar badannya sambil menggaruk dagu untuk menghindari pandangan Eve yang menusuk. “Apa yang aku telah lakukan. Kenapa aku jadi ingin merasakan bibir merah muda Eve? Kontrol dirimu Adam!” hardiknya dalam hati. Begitu Eve terlepas ia mundur menjauhi Adam sedikit. Adam juga tidak tahu apa yang barusan dia lakukan. Cowok jangkung itu segera berpura-pura lapar agar suasana tidak janggal.
“Mama kemana, lapar nih?” Adam memegang perutnya yang rata.
“Se..sebentar, gue cek dulu!” ujar Eve setelah beberapa lama memandangi Adam. “s*al kenapa aku jadi gagap?” Maki Eve merasa wajahnya panas, saat dia berjalan ke dapur.
Wajah Adam juga terasa panas, jantungnya juga masih berdebar kencang. “Apa yang aku lakukan barusan?” pikir Adam menyalahi diri sendiri.