C5 Apakah Kamu Menyukaiku?
Sejak saat itu, Adam menghilang selama seminggu, Eve sama sekali tidak bisa menghubunginya, saat di datangi ke kosannya juga, cowok itu tidak ada. Eve sangat kecewa. Dia berpikir Adam akan segera mengakui perasaannya. Tapi adanya, cowok itu malah menghilang.
Setelah seminggu lewat. Cowok itu malah kembali bertindak seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia datang dengan wajah penuh peluh memberikan sebuah kado yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink.
“Nanti aja bukanya, sekarang kita jalan-jalan yuk,” ujarnya dengan senyum lebar. Sepanjang hari Eve mencoba bertanya atau mengorek apa yang cowok itu lakukan selama seminggu ini, tapi Adam selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan.
Tapi sejak mereka sudah berjalan kembali pulang. Adam tiba-tiba menjadi diam dan hanya menggandeng tangan Eve. Mereka kembali menyusuri lorong menuju rumah mereka. Lalu Eve memeluk Adam saat mereka sampai ke depan rumahnya.
“Adam,” desah Eve menikmati kehangatan tubuh cowok itu. Adam mencoba mendorong Eve tapi gadis itu melekat erat pada dadanya. “Eve, nanti dilihat orang.” Adam melihat ke kanan dan kiri. Namun Eve malah menghirup aroma tubuh Adam yang khas. Adam menatapnya dan keinginan itu muncul kembali.
“Oh Eve, kita sahabat, sahabat tak seharusnya seperti ini,” desahnya sambil mengelus lembut rambut Eve yang tebal.
“Nggak apa-apa, gue suka seperti ini. Sama cowok lain gue selalu bandingin mereka sama lo. Sekarang gue nggak usah banding-bandingin lagi, karena gue dah sama lo. Gue baru sadar kalau selama ini lo, cowok yang selalu ada buat gue. Jangan dorong gw lagi, plis biarin gue seperti ini,” desah Eve dalam dada Adam. Dia mendengar debar jantung Adam yang semakin cepat.
Cowok jangkung itu mendorongnya dengan lembut dan menatap wajahnya. Eve awalnya malu-malu, namun dia lega karena telah jujur. “Nyatakan cintamu padaku Dam, aku pasti akan menerimamu,” pikir Eve memohon dalam hari. Tapi Adam malah tersenyum. Dia menarik Eve dan mengecup keningnya.
“Gue juga suka seperti ini, hanya gue takut. Kalau nanti kita sampai pisah. Eve, lo dah ada seumur hidup gue. Gue nggak mau kehilangan lo.” Adam mendesah sambil mencium pipi Eve. Tanpa sadar cowok itu sudah mendorong Eve ke cerukan pintu gerbang Eve, sehingga mereka sudah tersembunyi dari pandangan umum. Eve melingkarkan tangannya ke pundak Adam.
“Aku nggak mau dicium disitu,” desahnya sambil bernjinjit. Mereka begitu dekat hidung mereka hampir bersentuhan, Adam tidak menarik dirinya seperti biasanya, dia hanya diam. Lalu Eve menutup matanya dan mencium bibir cowok itu.
Adam membalasnya dan kali ini dia membalasnya dengan penuh gairah. Dia langsung memeluk erat Eve dan melumat habis bibir itu. Debaran jantung mereka saling beradu dan Eve mengerang nikmat menyadarkan Adam atas apa yang dia baru saja lakukan.
“Oh Eve,” desahnya seakan begitu tersiksa.
“Aku mau...gue menyukai ini, kita yang seperti ini, gue mau, Dam” rengek Eve, mengecup pelan bibir Adam lagi, kali ini cowok itu mengelak. Dia melepaskan diri dari Eve dan keluar dari cerukan itu.
“Sebaiknya gue pergi, kita tak seharusnya begini,” ujar Adam cepat lalu berlari menuju kosannya. Eve memandang sosoknya yang lama kelamaan menghilang. Eve mendesah sedih lalu masuk ke rumahnya sendiri.
“Apakah dia tidak menyukaiku? Seperti aku menyukainya?” tanya Eve dalam hati dengan sedih.
Sejak hari itu, Adam kembali menghilang sampai tak terasa hari Eve berangkat ke Bali sudah tiba. Tiba-tiba pagi itu Adam muncul seperti tidak ada apa-apa selama berminggu-minggu yang lalu. Eve mendesah saat membuka pintu untuk Adam. Hatinya terlanjur hancur dan kecewa.
Mereka akhirnya sudah sibuk untuk menyiapkan kepergian Eve, tanpa banyak bicara. Dan tanpa berkata apa-apa, akhirnya Eve terus menggenggam tangan Adam sepanjang jalan menuju bandara. Eve merasa dilema, dia ingin marah dan berteriak padanya, namun ini adalah saat terakhir Eve bisa memeluknya atau menggandengnya seperti ini. Eve tidak mau melepaskan Adam walau hanya sejenak.
Eve ingin penjelasan Adam atas tindakannya kemarin, atau setidaknya... pembenaran atas perasaan Eve yang sudah berubah kepadanya. Eve tidak lagi bisa mengabaikan perasaannya kepada Adam. Dia tahu kalau dia benar-benar jatuh cinta kepadanya. Waktu terus terbuang saat mereka malah saling diam.
Adam merasa hidupnya akan berakhir hari itu. Dia tidak pernah siap untuk melepaskan Eve ke Bali. dari semalam dia tidak bisa tidur. Dia hanya bisa menatap nyalang ke arah rumah Eve. Ciuman mereka terakhir terasa begitu salah namun Adam terus mengulangnya dalam pikirannya. Saat mereka bergandengan seperti saat ini, pandangannya terus ke bibir mungilnya yang memerah. Dia tidak bisa mengalihkan pikirannya. Ini yang bahaya, jika dia terus seperti ini, makan persahabatan mereka akan terganggu.
Tiba-tiba pengumuman sudah terdengar dari pengeras suara bandara, Seketika Adam merasa panik. sudah saatnya Eve masuk ke pesawat yang akan membawanya ke Pulau Bali. Mereka berdiri berhadapan di bandara yang penuh dengan orang lalu lalang. Eve sudah siap pergi dengan tiket di tangannya.
“Gue harus pergi sekarang.” ucap Eve serius dengan suara berat. “Katakan sesuatu Adam, katakan kalau kamu menyukaiku?” harap Eve dalam hati. Dia menatap wajah Adam yang kaku dari pagi itu. Cowok itu mengangguk dalam diam, menahan perasaannya rapat-rapat di relung hati paling dalam dan hanya memandangnya.
“Aku benar-benar akan pergi sekarang Adam!” Eve mengulangi lagi perkataannya tapi cowok jangkung itu dengan menyebalkan hanya diam dan menatap Eve kembali. Rasa mencekat muncul di tenggorokan Eve, dia sudah berada di ujung tangis. “Please Adam, say something?” pinta Eve dalam hati.
“Kamu ga ada sesuatu yang mau kamu katakan?" Eve menyerah, “Biarlah aku yang memancing,” pikir Eve menekan harga dirinya. Mata Eve memandang bola mata Adam tanpa terputus. Pria itu baru saja mau mengatakan sesuatu, ketika tiba-tiba ada arus orang lewat yang mendorong, sehingga pandangan mereka terputus.
Keputusan Adam seketika berubah, Dia tidak bisa mengatakannya. Tidak boleh. Mereka adalah sahabat sampai selamanya, dia tidak bisa mengambil resiko untuk kehilangannya nanti.
“Bagaimana jika perasaan Eve tidak sama dengannya? Bagaimana jika karena itu dia tiba-tiba bosan lagi, seperti biasanya. Aku tak akan bisa hidup lagi jika dia tidak mau berbicara lagi denganku?” pikir Adam panik dalam hati. Setelah arus orang-orang itu menghilang. Adam yakin keputusannya sudah benar.
“Tidak ada, aku nggak ada, … nggak ada yang gue mau omongin.” Adam membuang wajahnya, melihat ke arah lain untuk menutupi hatinya yang hancur. Eve sungguh kecewa.
Dia menggertakkan giginya. “Apa mungkin apa yang kurasakan hanya bayanganku saja, Adam hanya menganggapku teman, ciuman kemarin adalah karena aku yang terlalu memaksa?” tanya Eve dalam hati Ada rasa marah dan malu muncul di hati Eve. Dia merasa seperti wanita murahan yang telah melempar dirinya pada Adam dan dibuang oleh cowok itu segera.
"Baiklah!” pekik Eve marah, dia tak bermaksud sekasar itu, tapi nyatanya suaranya melengking dengan penuh kebencian.
“Mama, aku pergi dulu!” seru Eve segera menjauhi Adam dan mendekati Mamanya. Mama Eve melihat ke arah Adam sesaat tapi kemudian memeluk anaknya kembali.
“Hati-hati ya nak, kalau sudah sampai, telepon mama ya, jangan lupa ya nak!” teriak mama sambil memeluk Eve lembut. Gadis mengangguk sambil menahan tangis. Kecewa, marah dan sedih berkecamuk di hatinya. Ternyata Adam memang hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih. Eve yang salah untuk mengharapkan akan terjadi sesuatu pada mereka, Adam tidak merasakan hal yang sama seperti dirinya.
“Eve!” gadis itu segera memutar tubuhnya dengan cepat, wajahnya seketika berubah sumringah.
“Ya, Dam, kamu mau mengatakan sesuatu?” tanya Eve penuh harap.
“Bukan, aku mau memberikan kamu sesuatu, aku hampir lupa…Ini, aku kemarin membelinya untukmu.” Eve tertegun melihat Adam mengeluarkan kantok plastik berisi jaket yang dia waktu itu sangat inginkan.
“Ini kan sangat mahal Dam, jangan bilang kemarin kamu menghilang untuk kerja sambilan untuk beli ini?” tanya Eve menyelidik. Adam tersenyum sedih.
“Setidaknya aku dapat sedikit membalas semua kebaikanmu padaku,” ucapnya pelan sambil menatap bola mata kecoklatan milik Eve dengan penuh perasaan.
“Aku tidak mau ini, aku mau kamu mengatakan sesuatu padaku,” jawab Eve menantang. Tapi Adam langsung diam dan memeluk gadis itu erat-erat. Pengumuman kembali mengudara dan Adam melepaskan pelukannya lagi. Dengan lembut dia mengecup kening Eve dengan penuh kasih sayang.
“Bye Eve,” desahnya pelan.
“Dam?” Tapi pria itu mundur dan melambai.
Eve mendengus kasar dan segera menarik koper merahnya sambil menahan emosinya, dia bahkan menahan dirinya untuk tidak menatap Adam lagi. Dia marah, sangat marah. Adam masih terus menatap Eve sampai tubuh mungilnya menghilang di balik pintu. Sahabatnya itu akan terbang ke Bali sedangkan dia juga mulai hari itu akan pindah ke Depok.
Eve berjalan ke dalam dengan cepat. Setelah beberapa saat berpura-pura tegar, gadis itu akhirnya menangis tersedu-sedu setelah mereka tidak dapat melihatnya lagi. “Bodohnya aku... betapa bodohnya aku,” isaknya dalam hati.
“Kalian… yakin akan seperti ini?” tanya mamanya Eve kepada Adam membuyarkan lamunan Adam..
“Apanya?” tanya Adami tidak enak. Mamanya Eve memandang Adam dengan pandangan penuh kekecewaan.
“Yah kalau memang itu maumu, mama akan mencoba mengerti.” ujarnya lagi.
Adam membuang pandangannya lagi. “Dia tidak bisa, jika mereka mengubah hubungan mereka, bagaimana jika terjadi sesuatu? Aku tidak sanggup kehilangan Eve?” ratapnya dalam hati berusaha membenarkan tindakannya. “Tapi jika ini benar, mengapa hatiku terasa sangat pilu?” tanyanya lagi.