C6 Seseorang Yang Baru
Denpasar, akhirnya Eve sampai juga di Pulau Dewata. Gadis itu merebahkan diri di tempat tidur barunya setelah merapikan kamar kosannya.Dia ingin menelpon Adam dan menceritakan semua yang telah dia lakukan sejak sampai ke Denpasar, tapi Adam sendiri tidak ada usaha untuk menghubungi Eve sejak hari itu. Rasa sesak di hati Eve kembali lagi. Ia mengepalkan jarinya sambil mendengus kesal. “Aku harus melupakan perasaanku padanya, kami hanya sahabat, sahabat sampai selamanya, tidak akan ada percintaan di antara kami berdua!” ujarnya dalam hati dengan sedih. “Kamu harus ingat itu, Eve!” perintahnya ke pada dirinya sendiri.
Saat memaki dirinya sendiri, Pintu kamar Eve tiba-tiba diketuk, gadis itu segera menuju pintu dan membukanya.
"Halo, aku Melinda, aku di kamar sebelah," ucap gadis itu sambil memberikan tangannya, Eve menyalaminya. Gadis itu berwajah cantik dan eksotis sekali, kulitnya gelap rambutnya keriting ikal, matanya besar hitam dengan bulu mata lentik.
"Halo, aku Eve." jawab Eve tersenyum.
"Eve, as in Adam and Eve?" (Eve, seperti dalam Adam dan Hawa?) tanyanya cepat. Eve mengangguk tertawa kecil, menyadari betapa mirisnya itu. “Semua tahu jika pasangan Adam adalah Hawa, tapi mengapa Adam hanya menganggapku teman, Cih! Menyebalkan,” maki Eve lagi dalam hati.
Dengan segera Eve dan Melinda menjadi teman dekat, karena Melinda adalah teman yang mudah bergaul dengan siapa saja. Selain teman yang seru, dia juga ternyata berkuliah di Udayana, dengan jurusan yang sama, Eve merasa sungguh beruntung. Hanya karena bersama Melinda yang supel, dia mudah bersahabat dengan semua orang, Eve yang merasa gugup di hari pertama kuliahnya.
.
Walau suasana dan budaya yang berbeda membuat Eve merasa sendiri, ada Melinda yang bersamanya, duduk sebangku saat pelajaran pengantar mikro dimulai. Sejujurnya Eve memilih akuntansi hanya agar bisa bersama Adam, wanita itu sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran akuntansi, atau apapun yang berhubungan dengan angka. Hanya dalam waktu setengah jam pelajaran dimulai, sedikit pun tidak ada yang Eve dapat mengerti.
Eve menghela nafas menatap ke Melinda yang sepertinya sangat menikmati pelajaran. Tapi tak lama berlalu pintu kelas terbuka dan seorang cowok ganteng masuk ke kelas. Bajunya memang agak terlalu ketat dan memakai celana putih bersih disaat seperti ini agak aneh, tapi wajahnya ganteng sekali, alisnya tebal dan bibirnya bisa merah muda, dia seperti artis Korea.
"Mell, liat ga ganteng banget!" Eve menunjuk pada Melinda yang sibuk mencatat. Melinda melihat ke arah telunjuk eve lalu mengerutkan keningnya sambil menilai.
"Emm, lumayan," jawabnya setelah beberapa lama, lalu kembali menatap papan tulis..
"Tapi pake celana putih keknya nggak banget deh Eve." lanjutnya.
“Ah bodo amat! yang pasti kini aku punya semangat untuk masuk ke kelas,” pikir Eve senang.
Setelah susah payah akhirnya hari pertama kuliah pun selesai, Eve sebenarnya ingin segera kembali ke kosan untuk beristirahat sambil kembali merapikan kosan, tapi Eve diajak Melinda ke Kuta. Karena takut merasa tidak asyik, Eve akhirnya setuju dan menemani Melinda ke Kuta. Ternyata dia tidak sendiri, Melinda diajak oleh beberapa temannya yang Eve tidak kenal.
Walau awalnya Eve merasa gugup saat harus naik ke salah satu mobil teman laki-laki Melinda, tapi pada akhirnya dia bisa menikmati kebersamaan dengan teman-teman barunya. Dengan sifat supel Melinda, kegugupan Eve bisa mencair sehingga sepanjang jalan mereka dapat saling bercanda dan tertawa. Untuk sejenak waktu, Eve bisa melupakan Adam. “Buat apa aku memikirkan Adam yang tak peduli denganku, lebih baik aku bermain bersama teman-temanku,” pikirnya dalam hati seakan ingin membalas dendam.
Salah satu dari teman Melinda yang bernama Adrian terus menempel pada Eve. Awalnya Eve hanya bersikap ramah padanya, namun di akhir hari, Eve tersadar kalau pria itu sedang mencoba mendekatinya. Eve yang belum mau berhubungan dengan segala cara mencoba menghindari pria itu. Tapi sekuat apapun Eve menghindar, pria itu terus menempel padanya. Eve tidak menyukai gaya Adrian yang urakan.
“Kamu akan cantik mengenakan itu, warnanya sangat sesuai dengan warna kulitmu,” ujar Adrian sambil menunjuk ke bikini yang dipajang di sebuah etalase toko. Eve mendengus, Seumur hidupnya, Eve tidak pernah mengenakan baju renang 2 potong. Melinda terkikik saat mendengar ucapan Adrian.
“Kalau aku cocok nggak?” tanyanya dengan manja, Adrian melihatnya seakan menilai.
“Hmm, cocok juga, tapi lebih cocok yang disebelahnya,” ucap Adrian menunjuk baju renang model bikini berwarna putih biru. Melinda mengangguk-angguk setuju.
“Besok-besok kita beli yuk!” ujar Melinda dengan semangat. Eve kembali menatap etalase sambil berpikir. “Kalau aku pakai baju bikini seperti itu reaksi Adam bagaimana ya?”
…
Adam juga mulai mengikuti pelajaran di kampus barunya. Karena dia masuk melalui jalur khusus. Adam harus terus mempertahankan IPK-nya. Adam harus belajar mati-matian agar nilainya selalu baik. Setelah Eve pergi hari itu, Adam menunggu kabarnya, tapi walau hari sudah berakhir beberapa kali, gadis itu tidak menghubunginya. Adam mencoba berpikir positif, mungkin dia sibuk mengatur kamar kosan barunya.
Pada siang itu Adam sudah menyelesaikan kelas pertamanya dan sedang berjalan untuk menuju kelas keduanya ketika ada seorang gadis menarik tangannya. Adam berhenti berjalan dengan kaget menoleh menatapnya.
“Halo… nama kamu Adam ya?” tanya seorang gadis berambut pendek sebahu kepadaku, dia melepaskan tangannya saat kami baru keluar dari kelas, Adam mengangguk dan dia tersenyum riang.
“Hai, namaku Karen, kita sekelas di kelas pengantar akuntansi 1 tadi.” ucapnya lagi menyodorkan tangannya. Adam kembali mengangguk.
“Dam, aku boleh pinjam catatan mu tadi barusan?” tanya Karen sambil tersenyum manis. Adam sebenarnya keberatan meminjamkan catatannya karena dia akan membutuhkan buku catatan itu untuk masuk ke mata kuliah yang lain. Karen dengan cepat menyadari kalau Adam keberatan akan permintaannya. Wanita itu segera mencari akal.
“Umm kalau nggak aku langsung salin deh, aku tadi ketinggalan hanya sebagian-sebagian kok.” ujarnya segera memberikan solusi bagi Adam.
“Oke.” jawab Adam, pria itu hendak duduk di lantai pinggir kelas, membiarkan Karen mencatat tapi wanita itu segera menggeleng cepat.
“Jangan disini dong aku kan pakai rok," keluhnya sambil menunjukkan gaun terusannya. “Ah iya dia memakai gaun,” pikir Adam dalam hati, baru menyadari pakaian wanita di hadapannya. Selama ini dia terpesona dengan bola mata wanita itu yang seperti bola kaca keemasan.
"Yuk sambil makan, aku sekelas kamu juga nanti, jam kedua pengantar bisnis kan?” tanya Karen lagi. Adam hanya mengangguk membenarkan.
“Yo wes, yuk kita makan dulu!” seru wanita itu dengan seenaknya menarik tangan Adam menuju kantin. Dengan terkejut, Adam seperti domba yang ditarik oleh gembalanya.
Kondisi kantin cukup ramai, sepertinya banyak mahasiswa yang belum sempat sarapan karena terlambat ikut kelas pagi, akhirnya sarapan di istirahat pertama ini. Namun karena keadaan keuangan yang memprihatinkan, Adam hanya bisa memesan es teh manis walau belum sarapan, itu juga karena pelayan tukang nasi goreng terus menawarkan minuman saat Karen memesan nasi goreng sosis dan es kopi. Dia menyeruput es kopinya dengan senang sampai tinggal setengah, lalu baru memulai makan nasi gorengnya.
“Aku makan dulu ya.” ucap Karen permisi. Adam mengangguk lalu membuka buku pengantar bisnisnya dan mulai belajar dengan serius. Dengan santai Adam membalik buku itu sampai beberapa lembar saat dia menyadari Karen sudah berhenti makan dan memandangnya dengan matanya yang bulat.
“Dam, aku kenyang.” serunya tak lama sembari mendorong piring nasinya yang separuh kosong kepada pria itu. Bola matanya yang berwarna coklat muda itu menatap sedih piring nasinya sambil memegang perutnya, sedangkan Adam menatapnya bingung. “Maksudnya apa?” tanyanya dalam hati.
“Kamu aja yang habisin yah?” rengek Karen lagi kepada Adam. Pria itu menatap Karen dengan tidak percaya. “Bisa-bisanya dia menyuruhku memakan nasi sisanya?” tanya Adam lagi dalam hati, dia menatap wajah wanita cantik di hadapannya itu sambil menilai apakah wanita itu serius atau hanya bercanda. Tetapi wanita itu malah memajukan bibirnya dengan manja sambil mendorong piringnya lebih dekat kepada Adam.
"Biarkan saja." jawab Adam akhirnya saat wanita itu terus menatapnya dengan matanya yang seperti anak anjing meminta main. Dia seketika merasa bingung bagaimana menghadapi kelakuan absurd wanita itu.
“Kalau nggak dihabiskan, kata mamaku, nasinya nangis nanti,” serunya semakin manja sambil mendorong piring nasinya semakin dekat kepada Adam, lalu seakan semua masalahnya selesai, dia dengan santai mengambil sisa es teh manis Adam dan meminumnya. Pemuda berbadan kerempeng itu menatap sisa nasi goreng Karen dengan ragu, sebenarnya wangi nasi goreng pete yang di hadapannya sangat menggoda Adam yang belum makan dari pagi. Es Teh manis tidak dapat menutupi rasa kelaparannya. Dia menelan salivanya sambil memandang Karen yang sedang tersenyum manis kepadanya.
“Cepet, kalau nggak diabisin, dosa loh, ucapnya mengancam sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya kepada Adam. Wanita itu terus minum isi gelas itu sampai habis dan menukarnya dengan mendorong es kopinya kepada Adam. dengan kening berkerut Adam memandang kembali separuh nasi goreng Karen dan es kopinya yang masih cukup banyak. Sambil menghela napas tidak mengerti kenapa pada akhirnya dia mengikuti perintah Karen. Pria itu mulai makan sisa nasi goreng pete Karen dan juga minum sisa es kopinya. Karen tersenyum lebar saat pandangan mereka bertemu, seakan Adam sudah melakukan hal yang benar.
“Eh iya mana bukunya aku pinjam ya? Kamu habiskan dulu makanannya, aku langsung catet sekarang juga.” ujarnya seraya mengeluarkan binder note dari tas punggungnya yang berwarna merah muda.
Adam segera mengeluarkan bukunya dan memberikannya pada Karen. Wanita itu menerimanya sambi mengeluarkan lidahnya di ujung bibir. Dia mengambil pen dan dia mulai mencatat. Wajahnya yang cantik terlihat imut saat dia mulai menulis. Bola mata coklat mudanya fokus pada ujung pen, seperti anak SD sedang belajar menulis, tanpa sadar Adam terus memperhatikannya sambil menghabiskan nasi goreng pete Karen.
Tidak lama berselang, dia sudah selesai mencatat, Karen memang tidak bohong, dia memang sudah mencatat sebagian tetapi memang ada yang beberapa bagian yang ketinggalan. Dia meregangkan tubuhnya seakan sudah melakukan hal yang berat sambil melenguh keras. Sampai beberapa pasang mata menoleh melihatnya dengan tatapan mencela. Namun wanita itu tidak peduli, dia lalu segera mengembalikan catatan Adam dengan senyum yang lebar.
“Sudah selesai makannya?” tanyanya sambil melihat piring dan gelasnya yang kosong. Adam seketika merasa malu karena telah menghabiskan semuanya tanpa sadar. Piringnya licin bersis tak ada sisa.
“Sudah,” jawab Adam pelan sambil menggaruk dagu karena merasa gelisah. Namun yang Karen lakukan malah semakin membuat Adam merasa canggung. Wanita itu segera berdiri lalu merangkul tangan Adam..
“Ayo kita masuk kelas!” seru Karen dengan riang sambil menarik tangan Adam. Dengan napas tertahan Adam lalu ikut bangkit dan mengikutinya dengan diam berjalan menuju ke kelas. walaupun dalam keadaan bingung dengan tindak tanduk Karen yang seenaknya, Adam merasa merasa lega akhirnya memiliki teman baru.