Scary Brother/C9 Sister Complex
+ Add to Library
Scary Brother/C9 Sister Complex
+ Add to Library

C9 Sister Complex

"hah!!!"

Liliane terbangun dari tidurnya, mimpi buruk itu kembali terulang. Persis seperti kejadian nyata yang dialaminya dulu. Peluh membasahi seluruh wajah dan lehernya, keringat dingin terus bercucuran dari dahi dan pelipis gadis itu. Detak jantung tak karuan dan ia terus memegang dadanya sendiri guna menetralkannya, nafasnya memburu seperti berlari bermil-mil jauhnya.

Liliane duduk memeluk lututnya sendiri diatas ranjang, mimpi itu telah ia kubur dalam-dalam. Lantas mengapa kenangan buruk itu hadir kembali meski hanya dalam mimpi? Ia menangis sesegukan dengan menyembunyikan wajahnya dilipatan kedua tangannya, bahunya bergetar hebat saat teringat kembali padanya memori yang seharusnya tidak pernah muncul itu.

Meski dalam kilasan mimpi, nyatanya kejadian tersebut sama persis dengan kenyataannya. Tidak ada yang kurang dan lebih dalam rekaman mimpinya semalam, semua kejadian, perasaan dan alur sama persis dan terasa nyata. Dan yang lebih membuatnya terpukul, sentuhan Nando seakan benar-benar nyata meskipun hanya dalam mimpi sekalipun. Mungkinkah karena ia baru saja bertemu dengan pria itu?

Ataukah ia terus memikirkan Nando hingga memori itu muncul kembali?

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Liliane mendongak setelah mendengar pintu terbuka.

"astaga Lily, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Martha dengan nada khawatir ketika hendak membersihkan kamar Liliane dan membangunkan gadis itu.

"tidak Martha, aku hanya sedang mimpi buruk" jawab Liliane menyembunyikan kesedihannya dengan berusaha tersenyum.

"oh, begitu. Baiklah, sepertinya kau harus segera membersihkan diri, tuan muda menunggu dibawah" ujarnya, Liliane hanya bisa terdiam. Nando menunggunya dibawah, itu artinya ia harus bertemu dengan kakaknya itu. Sungguh hal yang langka mendengar pria itu menunggunya.

Liliane beranjak dari ranjangnya, ia melihat Martha membereskan tempat tidurnya sebelum ia memasuki kamar mandi. Liliane membuka piyama tidurnya, menyalakan shower dan menikmati rintikan air hangat yang membasahi sekujur tubuhnya. Perasaan itu, sama persis ketika hujan mengguyur seluruh tubuhnya ketika hari dimana Nando merenggut semuanya darinya.

Entah mengapa semenjak saat itu, Liliane menyukai rintikan air yang mengenai tubuhnya. Terutama air hujan, ingin sekali merasakan hal tersebut lebih lama karena ia sangat menyukainya. Meski akan membuatnya sakit, tapi rintikan air mampu membuatnya merasa lebih baik. Agar dapat merasakan sesuatu yang telah lama hilang, sesuatu yang sepertinya amat ia cintai.

Gadis itu keluar dari kamarnya, menuruni tangga menuju ruang makan. Terlihat pria itu telah rapi dengan jas kerjanya seraya mengutak-atik smartphone dan menyesap secangkir kopi, merasa diperhatikan kedua mata elang itu menatap Liliane. Membuat Liliane merasa gugup diperhatikan seperti itu, sepertinya pria itu menilai penampilannya dari atas kepala hingga ujung kaki.

Liliane menuju bak cucian piring, guna mencuci satu piring kotor yang ia lihat sekilas. Martha sepertinya sedang sibuk membereskan kamarnya, jadilah Liliane berinisiatif membersihkannya sendiri.

"apa yang kau lakukan?" desis pria itu ketika Liliane hendak menyentuh piring kotor tersebut.

"uhm... Mencucinya..." balas Liliane seraya melihat Nando dengan terkejut.

"aku tidak menyuruhmu untuk menjadi maid, DUDUK!" Bentaknya kasar, jantung Liliane hampir saja copot. Ia hanya bisa terdiam dan menuruti perintah kakaknya itu, Liliane duduk disamping Nando sesuai titah pria itu. Gadis itu masih bingung, sebenarnya dia kemari untuk bekerja atau hanya menumpang secara gratis, hingga saat ini Nando belum juga memberi penjelasan.

Rasa canggung meliputi mereka berdua, beberapa detik yang akward. Liliane masih terus terbayang akan mimpinya, sementara Nando dengan kegiatannya semalam yang membayangkan wajah Liliane menggantikan Sonya, sangat gila.

Liliane sebenarnya ingin sekali menyapa pria itu atau sekedar berbasa-basi, namun sepertinya Nando tidak perduli dengan apapun selain gila bekerja. Lihat saja! Pria itu kini hanya fokus dengan smartphonenya. Terlihat begitu tampan dengan jarak sedekat ini, Liliane sampai menggigit bibir bawahnya sendiri.

"kau kuliah hari ini?" tanya Nando tanpa melihat kearah Liliane, sungguh menyebalkan batin Lily.

"iya."

"peraturan dirumahku.. Tidak boleh pulang larut malam, tidak boleh membawa laki-laki masuk kedalam rumah dan tidak boleh menggunakan obat-obatan terlarang" ucapnya ketus seraya menatap tajam Liliane.

Liliane merasa seperti tertohok dengan segala peraturan tersebut, dia pikir aku gadis yang seperti apa? Protes Liliane dalam hati, tentu saja ia akan mengikuti aturan yang dibuat oleh tuan rumah. Liliane akan sangat menghormati segala peraturan dari kakaknya itu, apalagi mengingat akan hutangnya.

"baiklah, aku harus pergi bekerja" ujar Nando lalu menyambar jas dan tas kerjanya yang tergantung dikursi. Pria itu pergi begitu saja dengan gerakan yang tiba-tiba, membuat Liliane terkejut sambil memegang dadanya sendiri. Pria itu memang sangat aneh...

Liliane menuangkan susu kedalam gelasnya, menegaknya hingga tandas lalu membersihkan bibirnya dengan lidahnya. Sesekali gadis itu menggeram nikmat, ia memang menyukai susu. Tanpa sadar sepasang mata elang sedari tadi terus mengamatinya dibalik pilar besar rumah itu. Nando menggeram, entah mengapa adik kecilnya itu terlihat sangat seksi diumurnya yang terbilang telah dewasa itu.

Mengambil Liliane dari ibunya ternyata adalah ide yang buruk, tapi membiarkan gadis itu berada disana terlalu lama dapat membunuh Liliane secara perlahan. Nando mengerti betul bagaimana sikap Vivian terhadap Liliane, Nando bahkan meragukan bahwa Liliane adalah anak kandung dari Vivian. Karena gadis itu selalu mendapat perlakuan buruk dari ibunya sendiri.

"sir...?" Nando terkejut ketika Martha memanggilnya, pria itu terlihat gugup setelah maidnya memergokinya mengintip adiknua sendiri. Nando mencoba menetralkan wajahnya sedatar mungkin seperti biasanya, walaupun saat ini jantungnya berdegub tak karuan.

"Martha..." sapa Nando agar terlihat seformal mungkin lalu meninggalkan tempat itu seraya merapihkan jas kerjanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi Nando pergi berlalu begitu saja.

Martha mengangguk sopan saat tuannya itu pergi, ia sempat mengernyit bingung. Mengapa tuannya yang terbilang sering gonta ganti wanita itu selalu menatap adiknya sendiri secara diam-diam, padahal yang Martha ketahui Nando dan Liliane tidak terlalu banyak bicara ketika sedang berdekatan atau sekedar berpapasan.

Wanita tua itu tersenyum mengerti, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh tuannya itu. Namun apapun itu, Martha selalu mendukungnya. Baginya Nando bagaikan anaknya sendiri, sejak bayi ia mengurus pria itu. Sejak sang Ayah Mr. Skinner menikah dengan Vivian, Martha sudah bekerja pada Mr. Skinner. Bertahun-tahun lamanya ia mengabdi kepada keluarga ini, membuatnya sangat mengerti tentang lika-liku perjalanan yang dilalui oleh Nando. Terkecuali Liliane...

Entah apa yang disembunyikan oleh Nando pasal adiknya itu, Nando tidak pernah sekali menyebut namanya atau mengungkit adiknya itu. Hanya perasaan Martha saja, atau memang Nando menaruh hati kepada gadis itu, atau mungkin mereka berdua memiliki kenangan sebelumnya...

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height