Schatje/C2 Luka bertalu.
+ Add to Library
Schatje/C2 Luka bertalu.
+ Add to Library

C2 Luka bertalu.

Tubuh shirtless itu bergerak ke segala arah mencari posisi yang nyaman untuknya meski waktu takkan berbohong kalau sekarang sudah pukul delapan pagi, tapi tamu apartemen Yuda masih bermalas-malasan di ranjang tanpa menyadari kalau perempuan itu tak lagi ada di sebelahnya.

Denial membuka mata perlahan, posisinya telentang seraya arahkan tangan kanan untuk meraba posisi sebelahnya, tapi nihil. Saat itu juga Denial beranjak duduk dan menoleh, ia tak dapati sesuatu yang harusnya dilihat lagi pagi ini.

"Gue semalam enggak mimpi, kan?" Denial edarkan pandang dan temukan beberapa helai pakaiannya tercecer di lantai, ia hanya kenakan boxer saja. "Dia di mana?"

Denial buru-buru turun dari ranjang, ia kenakan lagi pakaiannya dan melangkah tergesa keluar kamar, ia dapati Yuda yang duduk di balik meja makan seraya nikmati sarapan paginya yakni setangkup roti tawar berlapis selai cokelat.

"Eh, udah bangun lo." Yuda masukan potongan roti yang ia tusuk dengan garpu ke mulutnya, laki-laki itu sudah rapi dengan pakaian formal karyawan kantor.

"Cewek itu mana?" tanya Denial yang tak bisa sembunyikan raut cemasnya, ia berdiri di ambang pintu dapur.

"Yang lo bawa semalam? Dia udah pamit pulang sekitar jam enam, kenapa emang?"

"Pulang?" Denial terlihat syok, ia melangkah pelan hampiri meja makan dan tarik kursi sebelum akhirnya duduk di sebelah Yuda.

Gue bahkan nggak tau dia siapa, Karenina.

"Kenapa emang? Bukannya bagus kan, urusan kalian udah kelar. Dia nggak mabuk lagi kayak semalam, tapi kok—" Yuda menerawang. "Tatapan dia dingin banget ya."

Denial bergeming, pikirannya terpental pada bayang perempuan itu semalam tentang seperti apa tatapan sayu Karenina yang pasrah, bibirnya juga terkunci rapat tanpa sedikit pun mendesah tatkala Denial mendobrak paksa apa yang tidak seharusnya. Hanya buliran air mata yang kembali meluncur saat rasa sakit bak sengatan petir itu menjalar ke sekujur tubuh Karenina, mungkin efek alkohol yang sanggup membuatnya bertahan hingga kemarin malan menjadi saksi kalau Karenina sudah tidak lagi suci di tangan laki-laki asing yang belum sehari di kenalnya.

Denial benar-benar terbius oleh tatapan sayu itu, tapi kenapa tatapan dingin yang kembali Karenina arahkan pada orang lain. Mungkinkah gadis itu pandai mainkan trik agar orang lain tak mengusiknya hanya lewat sebuah eboni?

Meninggalkan Denial yang sibuk melamun, Yuda beranjak saat sarapannya telah habis, ia melewati Denial begitu saja dan hampiri kamar tamu.

Setelahnya pekikan Yuda mengusik indra pendengaran Denial. "KENAPA BANYAK BERCAK DARAH DI KASUR GUE? LO APAIN ITU CEWEK, DEN!"

***

Pipi kanan Karenina terasa panas usai mendapat tamparan dari Liliana—sang oma—yang marah besar usai melihat begitu banyak jejak kissmark di leher sang cucu. Lagi, semalam Karenina tak pulang tanpa kabar, alhasil wanita itu benar-benar murka hingga hilang kendali dan memukul Karenina.

Guyuran air shower membasahi tubuh Karenina yang masih terbalut seragam kantor, ia biarkan air dingin itu menghilangkan aroma tubuh Denial yang sempat menyatu dengannya semalam. Rasa nyeri masih terasa di bagian intimnya, tapi tak mungkin lebih sakit dari luka batin yang Karenina rasakan sejak kemarin. Mungkin kemarin salah satunya, sebab masih banyak pilu yang belum terungkap.

"Pantas Rega tinggalin kamu, Karen! Mana mau dia sama perempuan kotor, pantas dia mau tunangan sama orang lain. Kamu memang perempuan nggak tahu malu, mau taruh di mana muka oma!"

Plak!

Karenina bergeming, ia sama sekali tak berkutik setelah telapak tangan Lili mendarat dengan kasar di pipi kanan Karenina. Hanya kembang kempis dada yang masih wakilkan kalau gadis itu bertahan di sana hingga Lili melangkah masuk kamar dan banting pintu.

Tangan-tangan kurus itu menyugar rambut panjangnya ke belakang seraya menengadah biarkan air shower basahi wajah yang sempat ditimpa air hangat tangisan.

Karenina beralih peluk lengan sendiri dan menunduk, ia rasakan tubuhnya gemetaran hingga akhirnya terduduk, ternyata masih cukup lemas berdiri tegak dengan kuat akibat efek alkohol dan percintaan panas pertamanya semalam.

Nggak apa-apa Karenina, kamu kuat. Bukannya udah biasa diginiin? Semua orang selalu pandang kamu sebelah mata, cuma sebelah mata, jadi pandang mereka dengan asing.

Karenina matikan kran shower, ia beralih hampiri bathup yang terisi penuh oleh air. Karenina masuk ke dalamnya, duduk seraya sandarkan punggung dan luruskan kaki sebelum empunya putuskan meluruh hingga kepalanya tenggelam dengan mata terpejam.

"Mama! Mamaku di mana!" Gadis kecil dengan pita merah yang mengikat rambut panjangnya terus berteriak saat garis polisi sudah dibentangkan di TKP sebuah jembatan, mobil Liana kosong dan empunya telah terjun ke sungai setelah alami depresi cukup lama.

"Mundur, Karen! Nanti kamu jatuh!" bentak Rahadian—ayah Karenina—yang kini angkat tubuh putri kecilnya, tampak air mata mengucur deras basahi wajah Karenina.

"Mama mana, mama mana. Aku mau ikut mama ...."

"Polisi pasti temukan mama, tenang dulu, Nak." Rahadian usap wajah Karenina yang basah, ia sendiri ketakutan luar biasa hadapi situasi menegangkan itu bahkan ketika Liana lakukan aksi bunuh diri di depan mata sang putri yang baru berusia enam tahun.

Putrinya dibiarkan melihat kejadian tragis yang tak seharusnya.

Tiga hari berlalu, Liana kembali meski terbaring dalam peti mati.

***

"Kamu itu lucu, ya, Den. Pulang dari Korea bukannya langsung pulang ke rumah malah keluyuran nggak jelas, kenapa nggak angkat telepon dari mama?"

Seperti anak kecil yang sedang dimarahi, Denial bergeming menunduk sok takut dengan omelan sang ibu yang baginya sudah seperti nenek sihir jahat, padahal niatnya sangat mulia: memberi tahu anaknya yang nakal agar tak melakukan hal buruk.

Namun, Denial Nuraga tetaplah seperti Denial kecil yang suka membangkang sekalipun setiap hari mendapat ocehan dari sang ibu. Tingkahnya agak lucu, nakal dan tentu saja tak tahu aturan. Buktinya, malam kemarin yang sangat jelas.

"Koper yang sampai rumah, terus orangnya di mana? Memangnya kamu pikir mama nggak khawatir kamu nggak ada kabar sama sekali, semalam tidur di mana?" Suara Anne melunak, ia tangkup wajah Denial hingga empunya berani tatap mata sang ibu. "Maaf ya kalau mama marah-marah, mama takut kamu kenapa-kenapa. Kamu kan tiga tahun tinggalin Jakarta, nggak kangen sama mama?"

Denial tersenyum, akhirnya ia juga yang akan menang setelah pasang sikap sok lugu yang membuat siapa-siapa jelas kasihan. Denial peluk tubuh Anne dan sandarkan dagunya di bahu kanan sang ibu.

"Denial juga kangen Mama, kemarin nginep di apartemen Yuda." Ia lepas pelukannya dan edarkan pandang. "Ah iya, papa mana?"

"Ngantor, apalagi. Papa kamu hidupnya kan di kantor, udah kaya tapi masih kerja aja." Bisa dibilang kalau karakter Denial dan Anne hampir mirip, sama-sama barbar dan sarkas, sama-sama masa bodoh dengan sesuatu yang bukan urusannya, serta humoris.

"Mungkin nunggu punya mansion yang banyak, baru berhenti kerja. Atau nunggu bisa jadi Presiden Amerika," ujar Denial seraya berpikir, "eh, tapi nggak mungkin sih, papa kan rakyat Indonesia."

Anne terkekeh, ia tepuk bahu sang putra. "Udah, sekarang mandi terus makan. Nanti malam pasti ada yang mau dibicarakan sama papamu."

"Siap!" Denial pasang hormat, ia tinggalkan area ruang tamu hampiri anak tangga yang mengarah ke lantai dua, ada tiga kamar berjejer, kamar paling kiri adalah kamar yang lama ditinggalkan oleh Denial sejak putuskan kuliah strata dua di Korea. Hari ini, kamar itu akan ditinggali lagi oleh pemiliknya yang siap membuat berantakan semua, seperti dulu.

Begitu masuk kamar dan mengunci pintu, Denial rebahkan tubuhnya di ranjang seraya pejamkan mata. Sekilas, bayangan wajah Karenina muncul tanpa diundang, sekejap Denial kembali beranjak dan menggucak mata.

"Ada yang salah sama gue, dia bahkan enggak ngajak kenalan atau bilang terima kasih langsung gitu? Gue cuma tahu namanya aja, Karenina." Tangannya bergerak lepaskan jaket serta kaus, Denial tarik napas dalam-dalam kala membaui aroma parfum Karenina yang seakan masih menempel di tubuhnya. "Yang jelas, dia bukan pelacur. Dia nggak perawan lagi gara-gara gue, tapi masalah apa yang bikin perempuan sedingin itu sampai mabuk berat. Coba kalau semalam dia sama banyak laki-laki di sana, habis dia." Denial mengernyit sebelum menoyor kening sendiri. "Mikirin apa sih elo, Den. Bagus kalau nggak ketemu dia lagi, anggap aja surga yang datang sendiri."

Ponsel Denial berbunyi, cepat-cepat tangan itu rogoh dari saku celana.

Sebuah chat dari nomor Rega.

Gue ke klub semalam, lo nggak ada.

Ntar kita ketemu lagi di sana, reuni sama yang lain.

***

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height