C3 Bukan salah siapa-siapa.
"Bisa jujur sama papa, siapa yang berbuat itu sama kamu, Karen?" Rahadian masukan kedua tangannya ke saku celana, pria berkacamata itu berdiri di depan Karenina yang duduk di sofa panjang dekat jendela kamar. Karenina sendiri sudah mengatakan hal yang sama, mungkin telah mengulangnya sepuluh kali, tapi Rahadian sama sekali tak percaya. "Apa kamu enggak bisa ingat muka dia sedikit aja?"
Karenina menengadah dan menggeleng. "Semua itu kecelakaan, kesalahan Karen sendiri yang emang mabuk. Bisa kita lupakan semuanya?"
"Lupakan gimana? Kamu diperkosa orang, tapi kamu santai-santai aja kayak gini. Harusnya kamu bawa kasus pelecehan seksual ke ranah hukum!" tegas Rahadian, kilatan amarah terlihat di balik kacamatanya.
Karenina kembali menunduk dan rasakan dadanya cukup sesak sekadar menarik napas, ia sendiri sama sekali tak ingin permasalahkan semua yang terjadi malam itu. Karenina sangat ingat wajah laki-laki yang tidur dengannya, jika ingin menyalahkan sungguh bukan salah si laki-laki ketika Karenina sendiri yang memang menciumnya lebih dulu. Antara terkena efek mabuk dan kesadarannya malam itu seimbang, rasa sakit yang muncul pun Karenina bisa menahan.
Ia hanya frustrasi setelah mudahnya ditinggalkan, sebab wajah yang Karenina lihat malam itu seperti bukan wajah Denial, melainkan ... Rega.
"Bukan salah siapa-siapa, Karenina harus ke kantor sekarang. Kalau nggak ada yang perlu dibahas lagi sebaiknya Papa keluar," ujar Karenina tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kamu tahu kalau papa bukan manusia yang gampang menyerah, kan? Papa pasti temukan siapa yang perkosa kamu," tandas Rahadian sebelum tinggalkan kamar Karenina, perempuan itu kini angkat wajah dan tunjukan tatapan dingin yang sempat disembunyikan.
"Papa emang nggak akan menyerah, bahkan ketika tahu mama depresi, jangan pikir aku nggak tahu."
"Mama kenapa? Kok nangis lagi, itu minum obat apa?" tanya Karenina kecil yang berdiri di depan ibunya, Liana duduk di lantai seraya menekuk lutut dan sandarkan punggung pada sisi ranjang, mata wanita itu kentara merah bersamaan wajah yang basah.
"Mama nggak apa-apa, Karen kalau besar nanti nggak boleh nakal ya, harus nurut omongan oma sama papa." Liana tangkup wajah mungil yang dihiasi binar mata cokelat, mirip seperti matanya.
"Oma sama papa kok galak terus sama Mama, nggak boleh ke mana-mana. Karen takut kalau papa marahin Mama." Raut polos itu membuat Liliana semakin sedih, ia dekap sang putri dan lanjutkan tangisnya. "Mama jangan nangis terus, ayo main sama, Karen."
"Jadi anak yang baik, ya, Nak."
Angin masuk tanpa permisi ketika jendela kamar Karenina terbuka, tirai putih yang ditepikan tampak menari mengikuti ritme, sedangkan rambut panjang terurai itu sedikit menutupi wajah pemiliknya yang kini tampilkan raut sendu.
Karenina pejamkan mata sejenak seraya kepalkan tangan sekadar merasakan sesuatu yang kian hari kian bergejolak saja dalam relungnya, ada ingin untuk pergi dan hidup sendiri, hanya saja Karenina bukan tipikal perempuan yang mudah ingkar janji-terutama saat ia melakukannya pada Liana sebelum wanita itu putuskan pergi.
"Karen, dengar mama ya, Nak. Kalau besar nanti, terus jadi Karen yang disayang semua orang, jaga papa sama oma, jangan tinggalin mereka untuk alasan apa pun. Janji sama mama, kan?"
Karenina kecil yang kurang paham maksud perkataan Liana hanya bisa mengangguk dan tersenyum pamerkan deretan giginya.
Sekarang, Karenina mengerti maksud ucapan itu meski bertahun-tahun berlalu, usia Karenina sudah menginjak 24 tahun. Ingatan fotografis yang membuatnya mudah teringat segala kenangan atau bahkan ucapan yang pernah didengar telinga itu.
Karenina buka matanya, ia menoleh tatap keadaan di luar jendela dan biarkan angin pagi itu membelainya tiada henti. "Sebenarnya kenapa Karenina yang harus begini, apa mama tahu semua bakal terjadi? Jadi, kapan kita ketemu lagi, ma?"
Perempuan itu beranjak melangkah hampiri cermin sekadar rapikan rambutnya, ia sudah siap ke kantor dan lanjutkan rutinitas seperti biasa. Apa pun yang pernah Karenina lalui, mengeluh bukanlah sesuatu yang harus ia tancapkan di kepala, sebab masih banyak hari-hari berikutnya tanpa ia tahu yang pasti terjadi.
Ia beralih raih crossbody bag yang tergeletak di ranjang, ponsel serta kunci mobilnya sudah Karenina siapkan di dalam tas. Kini perempuan itu melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga dan menemukan Lili yang berdiri di dekat anak tangga pertama seraya memegang sebuah undangan warna gold.
Karenina hentikan langkah di depan Lili, ia tersenyum seraya berkata, "Selamat pagi, Oma."
"Cih, ini pagi-pagi undangan buatmu." Raut masam di wajah Lili memang tak bisa disembunyikan, ia ulurkan undangan yang dipegangnya pada Karenina. "Semoga nggak nangis darah." Setelahnya Lili berlalu tinggalkan Karenina yang kini remas railing kuat-kuat dengan tangan kirinya sebelum mengendur ketika helaan napas panjang akhirnya keluar, sifat Lili memang selalu seperti itu, sarkastik dan berpikiran negatif terhadap cucunya sendiri.
Karenina menunduk tatap undangan yang ia pegang, tak perlu membuka pun nama sepasang manusia di bagian depan cukup menegaskan maksud dan tujuan datangnya undangan itu.
Rega dan Salma.
"Secepat itu ya, Ga?" Karenina lanjutkan langkah hingga mencapai ruang tamu, ia lempar undangan tadi begitu saja ke sofa dan membiarkannya teronggok di sana.
***
"Jadi itu putra kedua Zian Nuraga, ya? Adiknya Elang Nuraga?"
"Itu Denial Nuraga?"
"Wah, itu anaknya Pak Zian yang katanya kuliah di Korea?"
"Ganteng, sebelas dua belas kayak abangnya."
Untung Denial tidak tuli, telinganya mendengar semua bisik-bisik karyawati kantor sang ayah yang baru dipijakinya hari ini. Jika bukan karena urusan magang, maka Denial tak sudi datang ke kantor yang dipenuhi segala kesibukan tanpa ada celah hiburan.
Seminggu berlalu, Zian sendiri biarkan sang putra bermain-main dengan teman lama hingga puas, setelah itu berbicara empat mata hingga berakhir dengan keputusan Denial yang harus mulai magang di kantor konstruksi milik sang ayah.
Pujian-pujian yang kini Denial dengar bukan kali pertama baginya, ada banyak ribuan gadis yang pernah lontarkan kata sama. Untungnya Denial bukan tipikal laki-laki yang mudah tebar pesona, tanpa melakukannya pun orang lain langsung terpikat jika melihat sosok itu lebih dekat. Jadi, Denial bersikap tak acuh dan terus melangkah tinggalkan lobi seraya masukan satu tangannya ke saku celana, tatapan terus mengarah ke depan tanpa peduli euforia para wanita yang histeris melihatnya.
Oke, Denial Nuraga memang tampan.
Denial berhenti di depan meja resepsionis, ia tatap wanita yang tampak bulatkan mata usai melihatnya. Name tag bertuliskan Sari Irena menempel di kemeja perempuan berambut pirang sebahu yang kini tatap Denial tanpa kedip, ternyata pahatan sempurna yang diciptakan Tuhan telah menggelitik fokus Sari.
"Ruang Pak Zian Nuraga di lantai berapa, ya?" tanya Denial to the point, ia tatap arloji yang kini tunjukan pukul delapan pagi.
"Pak Zian, ya? Ada di lantai tujuh. Mau diantar?" Sari menggigit bibir seraya remas ujung kemeja yang dipakainya, untung saja Denial tak melihat karena tertutup meja resepsionis.
Biasa aja kali, batin Denial.
"Nggak perlu, bisa cari sendiri kok, permisi." Denial melenggang pergi hampiri lift, ia masuk begitu saja dan tekan tombol nomor tujuh hingga benda tempatnya berdiri itu bergerak naik ke lantai yang ia tuju.
Seorang karyawati yang kenakan kemeja biru navy serta rok span hitam selutut baru tiba di kantor, rambut panjangnya terurai jatuh sebatas punggung. Tatapan dingin kembali dipamerkannya pada orang-orang kantor yang memang terbiasa dengan sikap Karenina Hasan, perempuan itu adalah sekretaris Zian selama hampir dua tahun belakangan, dan orang-orang mudah iri karena jabatan Karenina yang langsung diangkat jadi sekretaris setelah lolos interview tanpa tuntutan banyak syarat.
Lagi, Karenina sempat menjalin hubungan dengan manager kantor yakni Rega Maiyendra meski kini hubungan mereka telah kandas setelah desas-desus kalau Rega memiliki hubungan dengan perempuan lain terkuak, lalu kabar pertunangan Rega yang tinggal menghitung hari bukan lagi hoax, sebab Karenina juga telah menerima undangannya.
Perbedaan karakter antara Karenina dan Rega membuat hubungan mereka tak disukai banyak orang, Karenina yang lebih beku dan Rega humble membuat banyak orang beranggapan kalau Karenina tak cocok untuk Rega. Kini, doa para haters telah dikabulkan dengan berakhirnya hubungan kekasih itu.
Banyak yang menari indah di atas rasa sakit Karenina, tentu saja.
Karenina melangkah tinggalkan lobi tanpa peduli beberapa orang memperhatikannya dengan bisikan yang jelas menyakiti telinga, cemoohan akibat kandasnya hubungan dengan Rega menjadi trending topic selama seminggu belakangan, dan sekalipun Karenina tak pernah memusingkan opini orang lain.
Perempuan itu masuk lift dan tekan tombol nomor tujuh-tempat di mana ruangannya berada, ruangan yang bersebelahan dengan ruang Zian Nuraga.
Begitu keluar dari lift, langkah Karenina sudah harus terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya. Sepersekian detik mereka saling tatap tanpa kata sebelum Karenina menggeser posisinya dan lanjutkan langkah tanpa penghalang lagi.
Laki-laki itu pejamkan mata sejenak seraya kepalkan kedua tangan, rasakan gemas hadapi situasi yang kini sungguh asing baginya.
Rega memutar arah tatap punggung Karenina yang semakin mengecil sebelum berlalu di balik pintu ruang kerjanya. "Kata maaf nggak bisa ubah semuanya, ya, Karenina. Maaf."
***
"Nanti sekretaris papa bisa urus kamu sebentar, jadi jangan bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan mainanya. Di kantor ini kamu nggak bisa manja, nggak ada mama kamu," tegas Zian tatap sang putra yang berdiri di depan meja kerjanya, sedangkan Zian duduk dengan tenang.
"Iya, oke. Denial paham kok, urusan udah kelar, kan? Denial mau lihat ruang kerja Denial sekarang."
"Oke, ada di lantai tiga. Papa nggak mau membedakan antara kamu sama karyawan magang lainnya, semua setara biar kamu tahu susahnya kerja seperti apa." Zian memang selalu begitu, bijak tanpa pandang status.
"Oke." Denial kibaskan tangan kanan. "Denial bakal jadi karyawan teladan di sini, Denial permisi dan selamat pagi Pak Zian Nuraga." Laki-laki itu memutar tubuhnya dan melangkah keluar ruangan sang ayah, seorang perempuan juga baru keluar dari ruang sekretaris di sebelah ruangan Zian.
Tatapan mereka bertemu hingga akhirnya memori seminggu yang lalu kembali muncul di kepala masing-masing, tapi tak berlangsung lama ketika Karenina putuskan melangkah lewati Denial dan masuk ke ruang kerja Zian.
Denial melongo, ia merasa Karenina tak mengenalinya sama sekali. "Cewek itu bukannya yang waktu itu, kan? Dia kerja di sini?" Denial tatap pintu ruang kerja Karenina, sesuatu yang menempel di pintu cukup jelaskan posisi gadis itu di kantor. "Sekretarisnya papa?"
Karenina sudah keluar ruangan seraya memeluk setumpuk map biru dan hijau, ia kembali tatap Denial yang masih berdiri di posisi semula.
Tak ada senyum atau sapa, hanya tatapan dingin yang mewakili ekspresi Karenina.
"Tunggu sebentar," cegah Denial ketika Karenina sudah membuka pintu ruang kerjanya, gadis itu pun urungkan niat untuk masuk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Karenina sesopan mungkin.
"Lo cewek yang waktu itu, kan? Yang mabuk di klub, terus-"
"Nggak perlu dibahas," potong Karenina, "apa pun yang terjadi malam itu, saya harap nggak perlu lagi kamu ingat. Anggap aja nggak pernah terjadi apa-apa antara kita. Maaf, saya banyak kerjaan." Karenina kembali buka pintu dan masuk.
Denial mengerutkan kening. "Dia ngomong apa tadi? Anggap aja nggak terjadi apa-apa? Gue yang bikin dia nggak lagi virgin, tapi sikapnya bisa sesantai itu. Makhluk jenis apa sih dia."
***