+ Add to Library
+ Add to Library
The following content is only suitable for user over 18 years old. Please make sure your age meets the requirement.

C1 Chapter 1

Yelina duduk di dalam sebuah butik sambil menunggu abang taksi online datang menjemputnya. Yelina baru saja fitting gaun pengantin untuk terakhir kalinya hari ini untuk memastikan tidak ada perubahan pada bentuk tubuhnya. Dia ingin terlihat sempurna di pernikahannya yang akan digelar 3 minggu lagi, dengan seseorang yang sangat mencintai dan menemaninya selama 3 tahun ini.

Tadinya sang calon suami--Arya menemaninya di sana. Namun, ada panggilan telpon dari kantornya yang mengharuskan Arya kembali lagi ke kantor. Arya bukannya tega meninggalkan calon istrinya itu sendirian di butik. Dia mengajak Yelina untuk ikut ke kantor, baru habis itu mengantarkannya pulang. Yelina menolaknya, dia tidak mau menunggu di ruangan Arya nantinya. Walau Arya adalah seorang Direktur di sebuah perusahaan yang juga milik keluarga Arya, Yelina tidak mau kehadirannya di sana membuat kekasihnya itu tidak fokus bekerja.

Yelina tersenyum saat sang driver mengatakan sedikit lagi tiba di butik. Yelina senang karena dia tidak perlu menunggu lama. Dia segera berjalan keluar dari butik. Tanpa melihat nomor plat mobilnya, dia langsung membuka pintu mobil yang ada di depan butik.

"Jalan, Mas," ucap Yelina setelah memasuki mobil dan duduk di bangku tengah. Dia menundukkan kepala sibuk dengan ponselnya.

"Jalan ke mana, Mbak?"

"Sesuai tujuan yang saya tulis di aplikasi dong, Mas. Nggak tahu emang alamatnya?" tanya Yelina tanpa menoleh.

"Aplikasi apa ya Mbak, maksudnya? Saya nggak ngerti." Pengendara mobil itu kebingungan. Dia baru saja tiba di depan butik untuk mengambil pesanan mamanya, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memasuki mobilnya, eh lebih tepatnya mobil milik mamanya. Sedangkan miliknya pribadi sedang berada di bengkel.

"Mas itu.... " Yelina menjeda ucapannya begitu ada panggilan telpon masuk.

"Hallo?"

"............ "

"Apa?"

"............ "

"Sorry ya, Mas. Tunggu sebentar." Yelina mematikan sambungan telponnya.

Yelina mendongakkan kepalanya--menatap pengendara mobil yang sudah dinaikinya itu dari belakang. Malu sekali rasanya mengetahui bahwa dia salah naik mobil. Yelina pikir, mobil ini adalah mobil yang dia order. Karena sama-sama innova. Yelina tidak melihat lagi plat mobilnya sama apa tidak dengan yang tertera di aplikasi miliknya.

"Maaf, Mas. Saya salah masuk mobil. Maaf banget, ya... "

"Elin?!"

"Ares?!"

Keduanya serentak memanggil nama masing-masing ketika Ares membalikkan badannya.

"Sahabat lama gue ternyata yang salah naik mobil gue." Pria itu terkekeh. "Apa kabar lo?"

"Gu-gue baik," jawab Yelina terbata.

Makin ganteng aja sih, Res? Sadar Lin, dia cuma masa lalu. Yelina berusaha meyakinkan hatinya.

"Eh, Res. Gue harus buru-buru kayaknya. Abang taksi online-nya udah nungguin." Yelina hendak membuka pintu, tapi tidak jadi. Ares menahan tangannya.

"Pulang bareng gue aja. Biar gue yang bilang sama abangnya buat cancel," ucap Ares enteng.

"Tapi, Res... "

"Tenang aja. Orangnya nggak bakal marah kok. Yang mana mobilnya?" Ares membuka seatbelt-nya bersiap untuk turun. Yelina menunjukkan nomor plat mobil yang Ares maksud di ponselnya.

Tidak lama, Ares kembali dan mengetuk kaca mobil di samping Yelina duduk.

"Beres, Buk!"

"Orangnya beneran enggak marah?"

"Enggak kok, jawab Ares. "Oh ya, gue ke dalam bentar ambil pesanan nyokap. Tunggu ya, gue nggak lama." Ares mengedipkan matanya.

"Dasar playboy genit!" umpat Yelina setelah kepergian Ares. Dia memegangi dadanya.

Apa rasa itu masih ada?

Tidak bertemu selama 7 tahun lamanya, Ares yang bernama lengkap Aries Sanjaya masih saja ganteng di mata Yelina. Sahabatnya sejak duduk di bangku SMP tersebut malah bertambah kadar ketampanannya. Di usia 25 tahun, dia terlihat seperti masih berumur 22 tahun. Apalagi pakaian casual yang digunakan pria itu saat ini. Wanita mana pun pasti akan terpesona padanya.

Yelina menghela napasnya berat. Dia mencoba meraba-raba hatinya. Sebentar lagi, dia akan menikah. Yelina ingin memastikan kalau dihatinya tidak ada lagi nama pria itu. Pria yang disukainya secara diam-diam sejak SMP. Yelina bersembunyi dibalik topeng persahabatan mereka supaya bisa terus berada di dekat Ares. Bahkan Yelina sampai mendaftar di SMA yang sama dengan Ares biar tetap berada di sekitar pria itu.

Ares terkenal saat masih sekolah. Memiliki wajah yang tampan, tajir dan otak yang cerdas, dirinya selalu menjadi incaran para siswi. Tak heran hal itu membuatnya menjadi seorang playboy. Tidak terhitung berapa mantan pacar yang dimilikinya. Dia paling lama berpacaran hanya sebulan, sehabis itu dia akan memutuskan pacarnya dan mencari yang baru lagi. Tentu saja banyak yang antri untuk menjadi kekasihnya. Dulu, banyak siswi yang minta tolong kepada Yelina bagaimana supaya bisa dekat dengan Ares. Yelina sampai kewalahan sendiri waktu itu. Saking banyaknya fans Ares yang minta tolong padanya. Kadang, Yelina jengkel sendiri melihat kelakuan playboy Ares. Sudah berkali-kali Yelina menasehatinya, namun tidak pernah digubris. Kata Ares waktu itu, 'selagi masih muda manfaatkanlah ketenaranmu sebelum masanya redup'. Teori macam apa itu?

Seringkali Yelina merasa hatinya sakit melihat Ares dengan pacarnya yang bergonta-ganti. Tak jarang Ares mengumbar kemesraan di dekatnya. Yelina hanya bisa menangis setelah menyaksikan itu. Yelina sadar, dia bukanlah tipe wanita yang diinginkan Ares. Dia hanya wanita biasa, tidak mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan deretan mantan pacar Ares yang cantik, sexy, tinggi dan berasal dari keluarga kaya. Yelina memilih memendam rasanya pada Ares sampai pria itu melanjutkan study-nya keluar negeri. Yelina tadinya juga ingin kuliah di tempat yang sama dengan Ares. Terhalang biaya yang besar, Yelina tidak jadi mengikuti jejak Ares. Yelina masih mempunyai dua orang adik yang masih bersekolah dan butuh biaya besar. Papanya hanya seorang manajer di sebuah restoran. Jadi lah, Yelina kuliah di dalam negeri saja. Karena jika mengandalkan otak untuk dapat beasiswa di luar negeri juga, Yelina tidak bisa. Dia tidak cukup pintar di sekolahnya.

"Pindah depan kali! Berasa kayak sopir gue," ucap Ares ketika sudah berada di dalam mobilnya.

Yelina sempat ragu, namun akhirnya dia mengangguk dan membuka pintu di sampingnya.

"Mau langsung pulang?" tanya Ares sambil mengendarai mobilnya.

"Iya lah. Emang mau ke mana lagi?"

"Makan dulu yuk! Gue laper. Sekalian cerita-cerita kita. Sumpah, gue kangen banget sama lo," cerocos Ares.

"Emm, gimana, ya? Gue kayaknya mau pulang aja."

Ares berdecak. "Nggak mau tahu! Lo harus ikut gue makan dulu sebelum pulang."

Yelina terpaksa mengikuti Ares. Pria itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran. Mereka masuk ke dalam sana dan langsung memesan makanan.

"Udah 7 tahun loh, kita nggak ketemu. Lo ke mana aja sih, Lin?" Hanya Ares yang memanggil Yelina dengan panggilan Elin.

"Nggak ke mana-mana."

Ares kembali berdecak. "Bohong banget! Lo lagi nggak menghindari sesuatu 'kan?" Ares menaikkan salah satu alisnya--menatap Yelina penuh selidik. "Tiap kali reunian nggak pernah datang. Gue aja yang kuliah di luar beberapa kali datang malah. "What's wrong with you?"

"Gue lagi malas aja, Res." Yelina tentu saja berbohong. Dia hanya tidak ingin datang reuni karena takut bertemu dengan Ares di acara tersebut. Hatinya tidak baik-baik saja ketika melihat Ares.

"Bukan cuma itu aja, Lin. Lo juga nggak bisa dihubungin selama ini. Ganti nomor, nggak bilang sama gue? Bahkan gue cari nama lo di semua medsos enggak ketemu."

Yelina menyengir. "Sorry, gue lupa kasih tahu lo. Kalau medsos, gue ada tapi jarang dimainin."

"Basi!!"

"Res, maaf... "

"Kita itu apa sih, Lin? Dari SMP kita sahabatan. Begitu lulus SMA, lo malah ngilang begitu aja."

Karena gue berusaha buat lupain lo, Res. Gue nggak bisa terus-terusan terjebak di dalam persahabatan kita.

"Res... " Yelina memasang tampang memelas.

"Gue dianggap sahabat nggak sih, selama ini?"

Dulu gue malah pengennya lebih dari sahabat, Res. Tapi nggak lagi, buat saat ini.

"Gue anggap lo sahabat, kok. Sorry, selama ini gue sibuk kuliah terus habis itu kerja. Nggak lama setelah lo pergi, HP gue ilang. Terus gue ganti nomor." Yelina berbohong. Padahal dia sengaja mengganti kartunya supaya Ares tidak bisa menghubunginya lagi.

"Bener?"

"Iya. Gue lupa nomor belakang HP lo, takut salah hubungin orang entar," alibi Yelina.

"Terus, reuni kenapa nggak pernah datang?"

"Malas, Res. Gue kan udah bilang tadi. Gue malas deh, nanti ada yang nanya gini, 'kapan nikah?' Kan horor banget pertanyaan itu."

Ares tertawa mendengar perkataan Yelina.

"Bener juga, ya. Kalau udah lulus sekolah pasti suka ditanya gitu. Nggak peduli padahal masih kuliah juga." Ares menanggapi ucapan Yelina.

"Nah, itu! Tapi tahun ini gue niat datang sih, kalau ada reuni." Karena udah ketemu lo juga, gimana mau menghindar lagi?

Tawa Ares mereda. "Emang lo udah siap ditanya kapan married-nya? Eh, wait, lo belum married, 'kan?"

Yelina mengangguk, kemudian menggeleng.

"Gue udah siap. Dan gue belum married. Tapi... " Yelina menunjukkan cincin di jari manisnya. "Gue udah tunangan dan sebentar lagi mau married."

"Lo serius?!" Ares tampak terkejut mendengar ucapan Yelina.

"Iya. Entar gue kasih undangannya."

"Baru ketemu, gue udah langsung dapat kabar begini aja."

"Kenapa? Lo senang 'kan akhirnya sahabat lo satu ini enggak jomblo lagi."

Ares tersenyum tipis. "Gue senang kok, asalkan lo bahagia."

"Makasih. Lo sendiri gimana? Sekarang pacar lo siapa? Atau jangan-jangan elo nih, yang udah married?"

"Gue lagi nggak punya pacar. Dan pastinya, ya... gue juga belum married. Ada seseorang yang gue tunggu, tapi kayaknya gue keduluan sama orang lain."

"Siapa tuh? Ya kejar lah. Selagi janur kuning belum melengkung, Res. Kejar terus!" ucap Yelina memberi semangat.

Ares terkekeh. "Nanti gue pikir-pikir dulu deh. Oh ya, sini bagi nomor HP lo!" Yelina pun menyebutkan nomor ponselnya.

"Elin... " panggil Ares setelah dia menyimpan nomor ponsel Yelina.

"Hmmm."

"Lo semakin dewasa jadi tambah cantik."

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height