+ Add to Library
+ Add to Library

C8 Menggoda

Kehidupan memang tak selalu indah terkadang juga pahit. Ada kalanya dalam hidup bisa menghadapi kejadian yang tidak mengenakan, bisa membuat suasana hati menjadi buruk. Ini lah yang dirasakan Selvia. Ia menghubungi Yulius, memohon pada sang mantan suami untuk diijinkan bertemu dengan putra semata wayangnya, tapi hanya kekecewaan yang ia rasakan.

"Kamu pikir aku akan dengan mudah mempertemukan anakku dengan wanita seperti kamu?" ujar Yulius.

"Aku mohon padamu Ius, tolonglah aku. Sudah 2 bulan aku tidak bertemu dengan Kenzo, sekali saja pertemukan aku," ujar Selvia.

"Tidak!"

"Yulius...."

Selvia hanya bisa menghela napas saat Yulius memutuskan sambungan komunikasi mereka. Ia heran kenapa Yulius begitu membencinya? Mereka sudah bercerai dan Yulius saja telah memiliki kekasih.

Selvia memandangi wajahnya di depan cermin, ia melihat wajahnya yang sembab akibat menangis seharian merindukan Kenzo, anaknya. Selvia memutuskan untuk beristirahat di apartemen kecil yang disewanya, memejamkan matanya sambil memandangi wajah putranya dari layar ponsel.

*****

Hari semakin siang sinar matahari seakan menyengat dan membakar kulit putih Selvia. Ia mempercepat langkah kakinya menuju perusahaan Andre. Ia ingin bertemu dengan suami sahabatnya dan ingin bertanya tentang kejadian beberapa hari yang lalu saat lelaki itu membelai kedua gunung kembarnya.

Selvia menunggu di lobby perusahaan, mencoba menghubungi ponsel Andre, tapi tak ada jawaban.

"Nih laki-laki kok nyebelin banget ya," ujarnya kesal.

"Aku kirim pesan akh... biar dia ngerti."

Selvia : Selamat siang Andre. Ini aku, Selvia teman Diandra, aku sekarang ada di lobby perusahaanmu. Aku ingin bertemu denganmu. Ooh iya aku penasaran dengan reaksi Diandra jika tahu kalau suaminya sudah ... wanita lain di dalam kamarnya ya?

Selvia melihat layar ponselnya dengan harap-harap cemas. Ia berharap Andre membalas pesannya, tapi ternyata Andre menghubunginya.

"Apa maumu?" tanya Andre dingin.

"Ga banyak mau ku. Aku hanya ingin bertemu denganmu walau hanya sebentar."

"Aku tidak bisa."

"Serius kamu ga bisa Andre. Aku penasaran dengan wajah istrimu yang polos itu kalau tahu suaminya..."

"Oke... oke... kamu naik ke atas. Bilang sama resepsionis kalau kamu tamu ku."

"Oke."

Selvia menyunggingkan bibirnya, ternyata semudah itu bertemu dengan Andre. Ia mengira Andre akan menyuruh pihak keamanan untuk menyeretnya keluar dari perusahaannya.

Andre merasa cemas sendiri dengan kedatangan Selvia, ia khawatir jika Diandra mengetahui kedatangan Selvia di kantornya yang bisa membuat istrinya salah paham. Andre menutup matanya sendiri, sudah beberapa hari ini dia terbayang-bayang saat kejadian yang tak di sengaja itu di dalam kamar pribadinya.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Andre, Selvia masuk ke dalam ruangan dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya. Andre melihat penampilan Selvia yang tampak berbeda. Harus ia akui Selvia memang sangat cantik bahkan lebih cantik dari istrinya, Diandra.

"Kenapa kamu memandangiku terus? Aku ga akan pergi kemana-mana asal kamu mempersilahkan aku duduk di sofa mu itu." Selvia menujuk kearah sofa berwarna hitam yang ada di ruangan Andre.

"Si–silahkan duduk," ujar Andre gugup.

Sial! Kenapa aku bisa terpesona dengan wanita ini. Rutuk Andre di dalam batinnya.

Selvia yang sudah mengerti gerak-gerik Andre yang seakan terpesona dengan kecantikannya, semakin membuatnya ingin menggoda lelaki itu.

"Kamu hanya akan memandangi aku dari kejauhan. Duduk sini dong," ujar Selvia menepuk sofa di sampingnya.

"Aku di sini saja." Andre berbicara dari balik meja kerjanya.

"Ruanganmu bagus dan besar ya bahkan lebih besar dari apartemen studioku," ujar Selvia melihat kesegala arah ruangan Andre.

"Terima kasih dan sekarang kamu ga usah basa-basi lagi, apa maumu?"

"Mau ku?"

"Iya apa mau mu?"

"Ga banyak yang aku mau, aku hanya ingin kamu mengenalkan aku dengan rekan kerjamu yang kaya agar aku bisa menawarkan asuransi pada mereka."

"Hanya itu mau mu?"

"Apa kamu mau aku melakukan hal yang lain Andre?"

"Apa maksudmu?"

"Ayolah Andre jangan seperti bocah deh. Masa kamu ga ngerti dengan maksudku. Tapi, kalau kamu ga ngerti aku akan menghubungi Diandra dan mengatakan kalau su—"

"Stop! Hentikan semuanya Selvi! Kalau kamu mau seperti itu aku akan menghubungi temanku."

"Nah gitu dong. Mudahkan."

Andre mengeraskan rahangnya menahan emosinya menghadapi Selvia. Wanita ini pintar memanfaatkan kelemahannya. Andre menghubungi temannya yang ia tahu memang suka bermain api dengan wanita, ia yakin Selvia tidak hanya menawarkan asuransi.

Selvia melihat wajah Andre yang menahan marah, ia tahu lelaki itu tak suka diancam secara halus. Tapi, mau bagaimana lagi ia keuangannya semakin menipis. Apapun akan ia lakukan demi mendapatkan keinginannya.

"Nanti jam 9 di Central karaoke," ujar Andre.

"Hmm... apa harus ke karaoke? Apa tidak bisa di restoran atau apa gitu," ucap Selvia resah.

"Bukan urusanku."

Selvia melihat Andre dengan kecewa, apa lelaki itu tidak tertarik dengannya?

"Kenapa kamu belum pergi juga?"

"Ooh maaf... aku akan pergi."

"Selvi jangan kamu mengira kejadian di kamar itu akan selalu ku ingat. Aku malah sangat menyesal melakukan sudah menyentuhmu."

"Aku ga apa-apa kok Ndre. Aku malah suka kamu sentuh seperti itu."

Andre mengernyitkan dahinya melihat Selvia dengan heran.

"Ga usah kamu pikir Ndre, kamu memang lelaki yang baik."

Selvia melangkahkan kakinya keluar ruangan Andre dengan raut wajah kecewa. Yang ia inginkan Andre bukan lelaki yang lain.

"Sel." Andre memanggil Selvia.

Selvia mengulum bibirnya, ia merasa bahagia saat Andre memanggil namanya. Ia dengan cepat berbalik melihat Andre.

"Berapa nomor rekeningmu?" tanya Andre.

"Kenapa menanyakan nomor rekeningku?"

"Sudah jangan banyak bicara katakan berapa nomor rekeningmu."

Selvia menyebutkan nomor rekeningnya, Andre mengetik di ponselnya nomor rekening Selvia.

"Silakan kamu pulang."

"Terima kasih sudah membantuku."

Andre tidak menjawab perkataan Selvia. Selvia menghela napasnya dengan raut wajah yang kecewa terlihat jelas di mata Andre. Selvia menuju mobilnya dengan langkah gontai, ia duduk di jok mobil tanpa semangat.

Sebuah pesan datang di ponselnya.

Aku harap uang ini cukup untukmu supaya tidak mengungkit apapun yang pernah terjadi. Ini pertemuan pertama dan terakhir kita tanpa Diandra. Terima kasih.

Selvia dengan cepat melihat aplikasi ABC Mobile di ponselnya. Wajahnya yang tadi kecewa sekarang berubah saat melihat nominal uang 50.000.000 yang telah di transfer Andre padanya ke rekening tabungannya.

"Laki-laki ini makin membuatku semakin ingin memilikinya," ujar Selvia dengan berbagai macam rencana di dalam pikirannya.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height