C2 Kamu Sedang Hamil
"Thya, pernikahan adalah keputusan besar dalam hidupmu. Ibu tidak akan mengijinkanmu melakukannya." Lenny tahu alasan Cinthya melakukan hal itu.
Cinthya meletakkan tas berisi kotak makanan di atas meja lalu mengeluarkan isinya, "Aku menikah dengan anak dari teman Ibu, bukan orang lain."
"Temanku sudah lama meninggal dunia, dan aku tidak mengenal anaknya. Meski aku harus mengingkari janji, aku tetap ingin kamu menikah dengan orang yang kamu sukai. Bukannya menggunakan pernikahanmu sebagai alat barter. Jika seperti itu maka lebih baik selamanya aku tinggal di sini."
Orang yang dia sukai?
Meski kelak dia bertemu dengannya, tetapi dia sudah tidak pantas.
Dia menundukkan kepalanya sambil berpikir bahwa menikah dengan siapapun tidak penting. Yang terpenting adalah merebut kembali apa yang menjadi hak mereka.
Keesokan harinya mereka kembali ke Indonesia karena Lenny gagal membujuk Cinthya untuk merubah keputusannya.
Ardi memandang rendah sepasang ibu dan anak itu jadi dia tidak membawa mereka pulang ke rumah Keluarga Kurniawan. Dia menyewa sebuah rumah untuk mereka tinggali berdua, menunggu hingga hari pernikahan tiba, dan hanya Cinthya yang akan pulang ke rumah Keluarga Kurniawan.
Dan Cinthya juga tidak ingin pulang. Jika mereka pulang maka ibunya harus bertemu dengan wanita yang merusak pernikahannya. Daripada kesal lebih baik tinggal di rumah sewaan.
Lebih tenang dan nyaman.
Tetapi Lenny masih mengkhawatirkannya, "Thya, meski aku dan Nyonya Chandra berhubungan baik tetapi mereka tidak mungkin memilihmu jika pernikahan ini adalah hal yang baik."
Cinthya tidak ingin membahas hal ini lagi dengan ibunya. Jadi dia mengalihkan pembicaraan, "Ibu, makan dulu."
Lenny menghela napas panjang. Tampak jelas jika Cinthya tidak ingin membicarakan tentang hal ini. Selama ini dia sudah menderita tinggal dengan ibunya dan kini dia harus mengorbankan pernikahannya sendiri.
Meski tangan Cinthya memegang sendok tetapi dia tidak memiliki nafsu makan sama sekali, dan merasa agak mual.
"Apa kamu tidak enak badan?" Tanya Lenny penuh perhatian.
Cinthya tidak ingin membuat ibunya khawatir, jadi dia berkata bahwa dia kehilangan nafsu makannya karena naik pesawat terlalu lama.
Cinthya meletakkan sendok lalu masuk ke dalam kamar.
Setelah menutup pintu kamar dia bersandar di pintu. Meski dia tidak pernah hamil tetapi dia pernah melihat Lenny hamil. Saat itu ibunya mual-mual dan tidak ada nafsu makan.
Tanda-tandanya sama dengan yang dirasakannya sekarang.
Sudah satu bulan berlalu sejak malam itu dan menstruasinya sudah terlambat sepuluh hari lebih.
Dia tidak berani memikirkannya lagi. Apa yang terjadi malam itu sangatlah menghinakan bagi dirinya. Jika bukan untuk menyelamatkan ibu dan adiknya, tidak mungkin dia sampai menjual diri.
Tubuhnya gemetar saking takutnya...
"Kamu sedang hamil. Usia kehamilanmu sudah enam minggu."
Keluar dari rumah sakit, pikiran Cinthya hanya dipenuhi ucapan dokter yang mengatakan kalau dia sedang hamil.
Cinthya pergi ke rumah sakit sakit tanpa sepengetahuan ibunya, dan mendapatkan hasil yang membuat hatinya semakin kalut dan tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia akan melahirkan anak ini atau aborsi?
Tangannya tanpa sadar mulai mengelus perutnya. Meski anak ini kehadirannya tidak diharapkan dan bahkan seperti menghinanya, tetapi dia mulai tidak tega.
Muncul naluri keibuan yang berbahagia dan menanti kehadiran anaknya.
Dia merasa agak linglung.
Cinthya menyembunyikan hasil pemeriksaannya lalu masuk ke rumah sewaan mereka.
Tidak diduga, dia melihat Ardi berada di dalam rumah, wajahnya langsung berubah muram.
Untuk apa dia datang kemari?
Raut wajah Ardi sangat buruk. Mungkin karena dia datang untuk menemui Cinthya tetapi harus menunggu lama. Lalu dengan suara dingin Ardi berkata, "Ganti pakaianmu."
Cinthya mengerutkan alisnya, "Untuk apa?"
"Karena kamu akan menikah dengan Keluarga Chandra jadi kamu harus berjumpa dengan Tuan Muda dari Keluarga Chandra itu." Ardi melihatnya dari atas ke bawah, "Memangnya kamu akan bertemu dengannya mengenakan pakaian jelek ini? Apa kamu ingin mempermalukanku?"
Apa ini rasa sakit?
Cinthya berpikir, setelah menjual diri lalu menghadapi kematian adiknya maka dia akan kebal dari rasa sakit.
Tetapi mendengar ucapan tak berperasaan dari Ardi ternyata hatinya masih bisa merasakan rasa sakit.
Ardi telah mengirim ibu dan dirinya ke negara miskin, dan tidak pernah mengurus mereka lagi.
Darimana dia akan mendapatkan uang?
Jika dia memiliki uang, mana mungkin adiknya akan terlambat ditangani dan meninggal?
Sepasang tangannya diam-diam terkepal dengan erat.
Ardi tampaknya memikirkan hal yang sama, dan dengan pandangan canggung menatapnya, "Ayo jalan. Keluarga Chandra akan segera tiba, tidak baik jika mereka menunggu terlalu lama."
"Thya..." Lenny merasa khawatir dan masih ingin membujuk Cinthya. Karena dia sudah kehilangan seorang putra jadi kini dia hanya ingin menjaga putrinya dengan baik. Uang dan harta tidak penting baginya.
Dia tidak ingin putrinya masuk dalam Keluarga Kurniawan ataupun Keluarga Chandra
Keluarga konglomerat selalu memiliki berbagai masalah rumit, apalagi dia tidak tahu Tuan Muda Chandra itu orangnya seperti apa,
Dia sangat khawatir.
"Ibu." Cinthya memberi pandangan yang meyakinkan agar ibunya merasa tenang.
"Ayo, cepat jalan." Ardi mendesaknya dengan tidak sabar dan sedikit mendorongnya karena khawatir Cinthya berubah pikiran.
Ardi tidak menyukainya, dan Cinthya juga tidak memiliki perasaan apapun terhadap ayahnya.
Delapan tahun cukup untuk menyapu seluruh perasaan mereka sebagai keluarga.
Penampilan Cinthya terlalu menyedihkan, sementara orang yang akan dia temui adalah Keluarga Chandra, jadi Ardi mengajaknya ke sebuah butik mahal lalu membelikan pakaian baru untuknya.
Masuk ke dalam butik, pelayan butik segera menghampiri mereka. Ardi mendorong Cinthya ke depan, "Pilihkan pakaian yang bisa dia pakai."
Pelayan butik memperhatikan seluruh tubuhnya, setelah memperkirakan ukuran tubuh Cinthya, "Silakan ikuti saya."
Pelayan mengambil sebuah dress panjang berwarna biru muda untuk Cinthya, "Coba kenakan pakaian ini di ruang ganti."
Cinthya mengambilnya lalu berjalan menuju ke ruang ganti.
"Jack, apa kamu harus menikahi putri dari Keluarga Kurniawan?" Terdengar suara sedih seorang wanita.
Cinthya tiba-tiba mendengar suara, perhatiannya teralih ke ruangan di sebelahnya. Dari celah pintu dia dapat melihat seorang wanita sedang memeluk leher seorang pria sambil bermanja-manja, "Kamu jangan menikahi wanita lain, ya?"
Jackson Chandra memandang wanita itu dengan tatapan tidak berdaya. Pernikahan ini diatur oleh ibunya, jadi tidak bisa ditolak.
Tetapi saat teringat kejadian malam itu, dia tidak tega membuat wanita itu kecewa, "Malam itu, apa kamu merasa sangat sakit?"
Kurang lebih sebulan yang lalu, saat dia berada di salah satu negara miskin untuk mengecek sebuah proyek kerja, dia digigit seekor ular beracun. Racun ular itu menyebabkan nafsunya meledak dan harus dilampiaskan pada seorang wanita. Jika dia tidak melampiaskannnya maka dia bisa mati karena panas tinggi.
Saat itu Bianca Wellis yang menjadi obat penawar untuknya.
Dia sendiri tahu dan sadar kalau saat itu dia lepas kontrol.
Semua orang berkata, malam pertama untuk seorang wanita akan sangat menyakitkan tetapi malam itu Jackson tidak memperlakukannya dengan lembut, dia pasti merasa kesakitan.
Tetapi dia menahan semua dengan sabar dan tidak bersuara sedikitpun. Tubuh wanita itu hanya bergetar dalam pelukannya.
Dia tahu kalau Bianca sangat menyukainya tetapi dia tidak pernah memberinya kesempatan.
Alasan pertama adalah karena dia tidak mencintainya, dan alasan kedua karena ibunya telah mengatur perjodohan ini.
Tetapi Bianca selalu setia di sampingnya. Sejak kejadian malam itu dia merasa sudah sepantasnya jika dia memberi status pada wanita ini.
Sampai hari ini dia masih mengingat bercak merah yang sangat menyala dimatanya itu.
Bianca bersandar di dadanya, matanya menatap ke bawah, dia menjawab iya dengan nada manja.
Dia menyukai Jackson dan selama bertahun-tahun dia selalu berada di samping pria itu sebagai sekretarisnya. Tetapi dia tidak ingin Jackson mengetahui jika dia sudah tidak perawan. Seorang pria sangat memperdulikan tentang kesucian wanitanya, jadi malam itu dia mencari penduduk lokal dan memberinya uang untuk mencari seorang perawan untuk Jackson.
Setelah wanita itu pergi dari kamar, dia berpura-pura kalau dirinya yang menemani Jackson sepanjang malam.
"Jika kamu menyukai pakaian di tempat ini, kamu boleh membeli lebih banyak lagi." Ucap Jackson dengan nada memanjakan sambil mengelus rambut Bianca.
"Di sana adalah ruang ganti VIP. Kamu tidak boleh ke sana. Mari silakan ke ruangan sebelah kanan." Ucap pelayan butik mengingatkan Cynthia.
Setiap ruang ganti di butik mewah ini merupakan kamar terpisah. Dan ruang ganti VIP jauh lebih mewah lagi, karena di dalam ruang ganti ada ruang tamu untuk menunggu dan ruang ganti pribadi.
"Oh.." Cinthya mengambil pakaiannya lalu menuju ke ruangan sebelah kanan.
Di dalam ruang ganti, Cinthya teringat akan perbincangan pasangan tadi. Mereka tadi menyebut tentang Keluarga Kurniawan.
Apa jangan-jangan pria itu adalah...