Cinta Cinthya/C3 Aku Seharusnya Menikah dengan Kamu
+ Add to Library
Cinta Cinthya/C3 Aku Seharusnya Menikah dengan Kamu
+ Add to Library

C3 Aku Seharusnya Menikah dengan Kamu

Setelah berganti baju, Cinthya keluar dari kamar ganti lalu melihat ke arah kamar ganti di sebelah kiri. Saat ini pintunya telah tertutup rapat.

"Pakaian ini cocok dengan aura Anda."

Pelayan butik memiliki selera yang bagus. Cukup dengan melihat pelanggannya, dia dapat memilih pakaian yang cocok untuknya. Cinthya mengenakan gaun panjang berwarna biru muda, gaun itu membuat kulitnya tampak semakin putih. Sabuk di pinggang menampilkan pinggangnya yang ramping, meskipun sedikit kurus tetapi wajahnya cantik.

Ardi melihat pakaian itu cocok untuknya, lalu ke kasir untuk membayar. Dia tidak menyangka jika pakaian itu harganya enam juta rupiah. Tetapi karena akan bertemu dengan Keluarga Chandra dia tetap membayarnya dengan berat hati. Lalu dengan suara dingin dia berkata, "Ayo pergi."

Cinthya sejak awal telah mengetahui sikap ayahnya yang tidak berperasaan. Tetapi sampai saat ini hatinya masih terasa sakit.

Sambil menunduk dia mengikuti pria itu menuju ke mobil.

Mobil mereka segera tiba di depan villa milik Keluarga Kurniawan.

Supir membukakan pintu untuk Ardi. Sambil membungkuk dia turun dari mobil diikuti oleh Cinthya.

Ketika berdiri di depan gerbang, Cinthya terhenyak. Saat dia dan ibunya sedang menderita karena penyakit adiknya, ternyata ayahnya hidup bahagia dengan selingkuhan dan anaknya di villa megah ini.

Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya dengan erat.

"Kenapa kamu berdiri di situ seperti patung?" Ardi merasa tidak ada orang yang mengikuti dibelakangnya, lalu menoleh dan melihat Cinthya yang berdiri mematung di depan gerbang.

Cinthya bergegas mengikuti langkahnya. Lalu pelayan berkata kalau Keluarga Chandra belum tiba, jadi Ardi menyuruhnya menunggu di ruang tamu.

Sebuah piano terletak di dekat dinding jendela kaca di salah satu sudut ruang tamu. Piano itu bermerk Seidel, produk buatan Jerman dan harganya sangat mahal. Dia ingat saat berusia lima tahun, ibunya membelikan piano itu sebagai hadiah.

Sejak kecil dia suka bermain piano dan sejak berusia empat tahunan dia sudah mulai belajar piano. Tetapi setelah dikirim ke luar negeri dia tidak pernah menyentuh piano lagi.

Tanpa sadar dia menjulurkan tangannya ke atas piano, dia merasa familiar dan gembira.

Terdengar suara nyaring saat jari telunjuknya menekan tuts piano dengan lembut. Jarinya telah kaku karena telah lama tidak bermain piano.

"Siapa yang mengijinkanmu menyentuh pianoku?!" Suara nyaring yang terdengar judes muncul di belakang Cinthya.

Piano miliknya?

Cinthya berbalik dan melihat Siska Kurniawan telah berdiri di belakangnya dengan galak. Dia ingat usia Siska lebih muda setahun darinya dan mewarisi kecantikan dari ibunya yang bernama Rina Minar.

Hanya saja wajah cantiknya kini sedang menatap Cinthya dengan galak.

"Milikmu?"

Mereka telah menghancurkan kebahagiaan pernikahan ibunya. Lalu menggunakan uang milik ibunya dan sekarang apakah hadiah milik Cinthya juga menjadi miliknya?

Cinthya pelan-pelan mengepalkan tangannya, dalam hati dia terus mengingatkan dirinya agar tidak bertindak ceroboh. Dia tidak boleh emosional karena saat ini dia belum memiliki kemampuan untuk merebut harta yang menjadi haknya.

Dia harus sabar!

Dia bukan lagi gadis kecil berusia delapan tahun yang hanya bisa menangis. Sekarang dia telah dewasa!

"Kamu adalah... Cinthya?!" Siska baru tersadar kalau hari ini Keluarga Chandra akan datang jadi ayah menjemput sepasang ibu dan anak itu kembali ke Indonesia.

Siska masih ingat tampang menyedihkan Cinthya saat Ardi mengantar mereka ke luar negeri. Cinthya berlutut dan memeluk lutut Ardi sambil memohon agar tidak mengusir mereka.

"Kamu pasti merasa sangat gembira karena Ayah menjemput kalian pulang, bukan?" Siska menyilangkan tangan di depan dadanya lalu memandangnya dengan tatapan merendahkan, "Kamu jangan merasa bangga dulu. Karena Ayah menjemputmu pulang hanya untuk menikahkan kamu dengan Keluarga Chandra. Gosipnya pria itu..."

Bicara sampai di situ Siska tidak dapat menahan tawanya.

Ketika dia memikirkan Cinthya akan menikahi pria tanpa kemampuan seksual dan tidak bisa berjalan, dia tidak tahan untuk merasa bahagia di atas penderitaannya.

Pernikahan adalah hal yang sakral. Jika dia menikahi pria seperti itu, bukankah itu berarti hidupnya akan hancur?

Cinthya mengernyitkan dahinya.

Bersamaan dengan itu seorang pelayan masuk dan mengatakan, "Keluarga Chandra telah tiba."

Ardi sendiri yang menyambut kedatangan mereka.

Cinthya membalikkan badannya dan dia dapat melihat seorang pria yang di dorong masuk dengan kursi roda. Garis wajahnya tampak sangat jelas dan tampan, meski duduk di kursi roda tetapi membuat orang tidak berani meremehkannya.

Wajah ini, bukankah dia adalah pria yang tadi dilihatnya sedang bermesraan dengan seorang wanita di dalam ruang ganti?

Ternyata dia adalah Tuan Muda Chandra?!

Tetapi tadi di ruang ganti dia jelas-jelas bisa berdiri, bahkan dia bisa memangku wanita itu. Dan kakinya tampak baik-baik saja.

Apa yang sedang terjadi sekarang?

Dia masih tidak mengerti apa yang membuat pria ini berpura-pura cacat. Kemudian Ardi memanggilnya, "Cinthya, kemarilah. Ini adalah Tuan Muda Chandra."

Ardi sedikit membungkukkan badannya dengan hormat lalu bicara sambil tersenyum, "Tuan Muda, ini adalah Cinthya."

Ardi dalam hati menyayangkan keadaan Tuan Muda Chandra yang muda dan tampan tetapi cacat.

Jackson menatap Cinthya. Dahinya mengernyit saat melihat gadis itu, dari usia tampaknya dia masih muda dan terlalu kurus seperti orang kekurangan gizi.

Pernikahan mereka diatur oleh mendiang ibunya dan sebagai anak dia tidak dapat mengingkari perjanjian ini. Jadi setelah digigit ular di luar negeri, dia menyebarkan kabar bahwa racun ular belum hilang sepenuhnya dan menyebabkan dirinya cacat bahkan kehilangan kemampuan seksual. Tujuannya adalah membuat Keluarga Kurniawan membatalkan perjodohan mereka.

Tetapi dia tidak menyangka bahwa Keluarga Kurniawan tidak membatalkan perjodohan itu.

Jackson diam saja, raut wajahnya tampak muram. Ardi berpikir kalau Jackson merasa tidak puas pada Cinthya jadi dia menjelaskan dengan cepat, "Dia baru berusia 18 tahun, masih muda. Tunggu setelah tumbuh dewasa maka dia pasti menjadi wanita yang sangat cantik."

Dalam hati Jackson tersenyum dingin karena dia tidak memikirkan wajah gadis itu tetapi dia hanya merasa aneh. Ardi tetap ingin menikahkan putrinya meski tahu kondisi dirinya yang cacat.

Wajahnya tampak dingin, senyum dibibirnya tersungging penuh arti, "Saat bekerja di luar negri, aku mengalami kecelakaan. Aku khawatir kakiku sudah tidak dapat berjalan lagi, dan aku mungkin tidak dapat melakukan tugas seorang suami..."

"Aku tidak keberatan." Cinthya menjawab dengan cepat.

Ardi telah berjanji padanya. Jika dia bisa masuk ke dalam Keluarga Chandra maka Ardi akan mengembalikan mas kawin milik ibunya. Meski hari ini menikah dan besok harus bercerai, dia masih akan menyetujuinya.

Selama perbincangan mereka Cinthya mulai memahami apa yang terjadi saat ini. Pria itu jelas-jelas dapat berdiri tetapi ketika datang ke rumah Keluarga Kurniawan, dia berpura-pura cacat. Semua dilakukannya pasti demi wanita itu, dia ingin membatalkan perjanjian nikah mereka dan dia berharap Keluarga Kurniawan sendiri yang akan mengajukan pembatalannya.

Dia pasti tidak menyangka jika Ardi rela mengorbankan putri yang tidak disayanginya untuk memenuhi perjanjian tersebut.

Jackson menyipitkan mata sambil menatapnya.

Cinthya merinding takut melihat tatapan pria itu. Hatinya terasa pahit. Bagaimana mungkin dia ikhlas menjadi anggota Keluarga Chandra?

Bagaimana dia dapat kembali ke Indonesia dan merebut kembali harta ibunya jika dia menolak perjodohan tersebut?

Cinthya menarik bibirnya lalu menampilkan sebuah senyuman ramah. Hanya dia yang tahu rasa sakit dan penderitaannya, "Sejak kecil kita sudah dijodohkan, jadi aku akan menerima dirimu apa adanya."

Raut wajah Jackson semakin muram. Wanita ini cukup pintar bicara.

Ardi tidak mendengar ada yang salah dengan ucapannya jadi dia mencoba untuk bertanya, "Jadi tentang hari pernikahan..."

Raut wajah Jackson perlahan berubah tenang, "Tentu saja sesuai dengan perjanjian. Perjodohan sudah disepakati oleh kedua keluarga sejak lama, tidak mungkin dibatalkan."

Cinthya menundukkan wajahnya dan tidak berani menatap pria itu. Tampak jelas jika pria itu juga tidak puas dengan perjodohan mereka.

Dia hanya menyetujui pernikahan mereka karena terikat oleh perjanjian.

"Bagus kalau begitu." Ucap Ardi dengan gembira. Memanfaatkan anak yang tidak menarik lalu bisa menjadi besan dari Keluarga Chandra tentu saja hal yang sangat menguntungkan.

Meski Keluarga Kurniawan adalah keluarga kaya tetapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan Keluarga Chandra.

Kekayaan mereka berbeda bagai langit dan bumi!

Ardi membungkukkan tubuhnya lalu bicara dengan suara rendah, "Aku sudah menyiapkan makan malam, jadi kamu bisa makan dulu sebelum pulang."

Jackson mengernyitkan dahinya, dia merasa jijik dengan sikap Ardi yang seperti penjilat.

"Tidak perlu. Aku masih ada urusan lain." Jawab Jackson menolak tawarannya. Hans Rahmat mendorongnya keluar, tetapi ketika lewat di samping Cinthya dia mengangkat tangan sebagai tanda agar Hans berhenti. Pandangan matanya terangkat dan berkata, "Nona Kurniawan, apa Anda ada waktu?"

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height