C5 Malam Pengantin
Cinthya tidak memberi penjelasan apapun dan hanya tersenyum kepada Bibi Siti.
Hubungan pernikahannya dengan Jackson hanya sebatas perjanjian barter. Jadi dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadinya.
Cinthya malah merasa lebih bebas karena pria itu tidak berada di sana.
Cinthya masuk ke dalam kamar dan melihat perabotan kamar itu dengan jelas. Dekorasinya unik dengan warna hitam putih, membuatnya tampak bersih dan rapi. Meski simpel tetapi tidak murahan, membuat ruangan itu tampak elegan.
"Ini adalah kamar Tuan Muda." Kata Bibi Siti sambil tersenyum. Karena mereka sudah menikah jadi wajar saja jika mereka tidur sekamar.
Cinthya tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya dapat mengangguk lemah.
Cinthya agak kesulitan tidur karena malam ini pertama kali dia tidur di tempat orang asing. Kemudian dia bersandar di ranjang dan membuka applikasi Jobstreet dari ponselnya untuk mencari pekerjaan. Setelah memiliki pekerjaan dia akan dapat menjaga ibunya dan memberi masa depan yang baik bagi bayi dalam kandungannya.
Wah!
Cinthya tidak bisa percaya saat melihat lowongan pekerjaan sebagai penerjemah. Lowongan sebagai penerjemah tidaklah aneh tetapi yang mereka butuhkan adalah penerjemah yang memahami bahasa Negara Burundi.
Burundi adalah negara tempat Ardi membuangnya. Negara miskin dan gersang, tidak banyak orang yang mau mempelajari bahasa dari negara tersebut. Bahasa yang sering dipergunakan biasanya adalah bahasa dari negara-negara maju dan berkuasa.
Fasilitas yang ditawarkan perusahaan tersebut juga sangat bagus.
Jadi dia meninggalkan data pribadinya di sana.
Beberapa saat kemudian dia meletakkan ponsel dan mencoba untuk tidur.
Di malam yang tenang sinar rembulan masuk dari jendela menyinari kamar dengan lembut.
Wanita di atas ranjang tanpa sadar telah tertidur lelap, ketika sinar putih Maybach masuk ke dalam halaman villa.
Pintu mobil dibuka dan bayangan gagah turun dari mobil tersebut. Dia melangkah masuk ke dalam villa tetapi langkahnya tidak stabil, agak sempoyongan.
Dia melonggarkan kerahnya, bibirnya terasa kering. Dia masuk ke dalam dan segera menuang segelas air, jakunnya naik turun dengan cepat. Matanya yang hitam bercampur rona merah pertanda orang mabuk. Setelah minum rasa terbakar di tenggorokannya mereda. Saat pertemuan bisnis dia sudah banyak minum anggur putih. Lalu saat ulang tahun Bianca dia juga minum beberapa gelas anggur merah.
Dia merasa agak mabuk meski kemampuan minumnya cukup tinggi.
Dia melepaskan mantel lalu melemparnya ke sofa. Dia tidak ke kamar mandi tetapi langsung masuk ke kamar tidur.
Kamar dalam keadaan gelap tetapi dia sudah hafal posisi ranjangnya.
Dia segera berbaring.
Cinthya yang tengah tertidur lelap merasa ada gerakan tetapi keadaan kembali tenang, jadi dia meringkukkan tubuh dan melanjutkan tidurnya.
Pagi harinya.
Sinar terang mentari mulai menerobos masuk dan menyinari seluruh ruangan.
Di atas ranjang, seorang wanita yang tertidur lelap tengah meringkuk dalam lekukan lengan seorang pria.
Mereka bagai sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Bulu mata si pria sedikit bergetar lalu matanya terbuka dengan perlahan. Setelah mabuk semalaman dia merasa kepalanya agak berat. Dia ingin mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Dia baru akan mengangkat lengan dan bangun, ketika dia merasa kalau lengannya ditekan oleh sesuatu.
Dia menolehkan kepalanya dan melihat seorang wanita sedang meringkuk dalam pelukannya.
Rambut wanita itu hitam dan terjatuh dengan indah, setiap helainya lembut dan tersebar di lengan Jackson. Wajahnya putih dengan bulu mata lentik, bibirnya berwarna pink dan terbuka sedikit mendesahkan suara nafas lembut.
Pandangan matanya turun ke bawah dan melihat leher jenjang si wanita. Tulang selangka yang indah dan dada yang naik turun dengan pelan. Dia tidur miring, sehingga dapat terlihat gundukan cantik dari pakaian tidurnya yang agak terbuka.
Napas yang naik turun pelan semakin menambah aroma godaannya.
Jackson tanpa sadar menelan ludahnya dengan cepat. Dia tidak pernah memiliki pemikiran impulsif seperti ini pada Bianca. Tetapi sekarang dia malah bereaksi pada wanita yang baru ditemuinya dua kali.
Alisnya berkerut, seolah dia sangat kesal pada reaksi tubuh yang tidak bisa dikontrolnya tetapi dia juga tidak rela mengalihkan tatapannya dari tubuh wanita itu.
Cinthya bermimpi dia sedang berada di padang rumput Afrika, dan seekor singa yang galak sedang menatapnya, seolah akan segera menerkam dirinya.
Dia terbangun dari mimpinya dalam keadaan terkejut.
Momen ketika dia membuka matanya, ada sepasang mata yang hitam dan dalam sedang menatapnya. Tatapan itu seolah sedang terkejut tapi berusaha tetap kelihatan tenang.
Pikirannya kosong untuk sesaat.
Lalu dia membuka mata sambil menutupi dadanya dan dia bertanya sambil terbata-bata, "Kamu, kenapa kamu bisa berada di ranjangku?"
Pria itu dengan tenang menarik tatapannya lalu secara perlahan dia keluar dari selimut, "Ini adalah ranjangku."
Cinthya ingin membantahnya tetapi setelah sadar kini dia berada dimana, dia hanya dapat menelan ucapannya.
"Bukankah kamu pergi merayakan ulang tahun kekasihmu? Kenapa kamu kembali?" Cinthya turun dan berdiri di samping ranjang.
Nada bicaranya membawa sedikit aroma introgasi.
Kemarin kata Bibi Siti kalau malam ini Jackson tidak pulang. Cinthya merasa lebih leluasa dan tidur dengan tenang, saking lelapnya dia tidak tahu saat pria itu masuk ke dalam kamar.
Semalam dia dan pria ini tidur seranjang.
Mengingat dia tidur semalaman dalam pelukan Jackson membuat wajahnya sangat panas dan merona merah.
Kepalanya turun terkulai.
Jackson melepaskan kancing kemejanya. Semalam dia tidak mengganti pakaian dan kini kemejanya dipenuhi dengan aroma minuman keras. Kusut dan lengket membuat Jackson tidak nyaman. Lalu dia melirik wanita yang berdiri di samping ranjang, bibirnya tersenyum kecil dengan nakal, "Mana mungkin ada hal yang lebih penting dari malam pengantin kita?"
Cinthya, "..."
Pernikahan ini hanya barter dan mereka bukan pasangan yang sebenarnya.
Jackson membuka kemejanya.
Cinthya membalikkan kepalanya dengan terburu-buru. Pria ini berani berganti baju di depannya.
Sejak malam itu, Cinthya agak trauma berhubungan dengan pria terutama saat dia harus berada di dekat seorang pria.
Cinthya panik dan serba salah, "Aku, aku keluar dulu."
Dia secepat kilat berlari keluar dari kamar.
Jackson tidak menggubrisnya. Dia membuka sabuk lalu menuju ke kamar mandi.
Dia butuh mandi untuk menyegarkan pikirannya.
Suara air terdengar dari kamar mandi. Satu jam kemudian, Jackson keluar dari kamar mandi dengan aroma harum sabun. Setelah mandi, rambut hitam pendeknya tampak berantakan dan tubuh tinggi dengan kulit kuning langsat dibaluti jubah mandi putih. Ototnya mengintip dari balik jubah mandi yang tidak tertutup rapat dan menyebarkan aura pria seksi yang dikagumi wanita.
Dia berjalan ke depan lemari baju lalu membukanya. Ketika akan mengambil baju, dia melihat tas asing bergambar bunga matahari ditaruh dalam lemari tersebut.
Gerakannya terhenti. Apa tas ini milik wanita itu? Kenapa gambarnya kekanak-kanakan sekali?
Dan wanita itu sama sekali tidak segan-segan. Dia sudah menaruh seluruh barangnya ke dalam lemari.
Dahinya sedikit berkerut. Lalu dia mengambil bajunya tetapi saat menaruh kembali gantungan baju, dia tidak sengaja menjatuhkan tas wanita itu.
Resleting tas tidak tertutup rapat. Saat terjatuh seluruh barang di dalam tas itu ikut jatuh keluar. Isinya hanya pakaian sederhana dan kebutuhan sehari-hari.
Dia menunduk, saat akan memungut barang-barang itu Jackson menyadari selembar hasil cek USG...
Cinthya Kurniawan, wanita, 18 tahun, hamil muda, 6 minggu
Wanita itu sedang hamil?