Cinta Cinthya/C6 Saling Bergantung Satu Sama Lain
+ Add to Library
Cinta Cinthya/C6 Saling Bergantung Satu Sama Lain
+ Add to Library

C6 Saling Bergantung Satu Sama Lain

Jackson mengernyitkan alisnya dan dia merasa tertipu.

Di ruang makan, Bibi Siti sedang menyiapkan sarapan.

Dia melihat Cinthya masih mengenakan pakaian tidur, duduk seorang diri di sofa. Sambil tersenyum dia bertanya, "Apa semalam Anda tidur nyenyak?"

Semalam dia berpikir Jackson akan menemani Bianca dan tidak pulang. Tetapi saat tengah malam dia mendengar ada suara, lalu melihat ternyata Jackson pulang. Dan dia tidur di kamarnya.

Cinthya adalah istri yang dipilih oleh Nyonya, jadi pasti pilihan yang terbaik. Bibi Siti yang menjaganya sejak kecil merasa gembira melihat Tuan Muda akhirnya menikah.

Nada bicara dan raut wajahnya agak terlalu hangat dan seperti sedikit menggoda.

Tubuh Cinthya kaku lalu ia tersenyum tipis, "Cukup... cukup nyenyak."

"Kalau begitu Anda segera ganti baju, aku sedang menyiapkan sarapan. Nanti kalian bisa sarapan bersama." Bibi Siti ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.

Cinthya menunduk lalu melihat pakaian tidurnya. Pakaian yang dia bawa masih berada di kamar.

Apa sekarang pria itu telah selesai berganti baju?

Dia beranjak menuju ke kamar. Dia berdiri di depan pintu sambil mengetuknya pelan.

Tidak ada orang yang menjawab.

Dia mengetuknya sekali lagi tetapi masih tidak ada jawaban.

Dengan tidak berdaya dia mencoba membuka pintu kamar, dan pintu kamar itu tidak di kunci, bisa dibukanya dengan mudah

Hanya saja saat dia membuka pintu kamar, ada aura dingin yang menerpa tubuhnya sampai membuatnya menggigil.

Pria itu duduk di pinggir ranjang. Dia menatap dingin pada selembar kertas.

Selembar kertas itu...

Cinthya langsung tahu apa yang sedang dipegang pria itu. Selanjutnya dia melihat barang-barang pribadinya berserakan di lantai. Dia merasa pria itu telah melanggar privasinya. Lalu dia berlari mendekati pria itu dan merebut kertas dari tangannya. Dengan nada mengintrogasi dia bertanya, "Atas dasar apa kamu melihat barang pribadi orang lain tanpa permisi, melanggar privasiku!"

Situasi berbalik. Hehe...

Jackson hanya tertawa dingin, "Privasi?"

Wajahnya yang tersenyum palsu membuat orang ketakutan, "Di perutmu ada anak haram dan kamu mau menikah denganku. Apa kamu pantas bicara soal privasi?"

"Aku... aku..." Cinthya ingin menjelaskan tetapi dia tidak tahu harus mulai darimana.

Jackson berdiri, mendekatinya dengan langkah pelan namun tegas. Setiap langkahnya memiliki aura dominan, pandangan matanya gelap dan menyeramkan, "Katakan, apa tujuanmu?"

Apakah dia ingin memanfaatkannya sebagai ayah dari anak haram itu lalu menjadikan anak itu sebagai cucu pertama Keluarga Chandra?

Apa perjanjian yang dibuatnya hanya bagian dari rencana ini?

Semakin dipikirkan raut wajah Jackson semakin suram.

Cinthya menutup bibirnya. Tubuhnya gemetaran dan dia terus mundur ke belakang. Karena takut Jackson akan melukai anak dalam kandungannya jadi tanpa sadar tangan Cinthya melindungi area perutnya, "Aku bukan sengaja mau menutupi semua dari kamu. Hanya saja pernikahan ini cuma perjanjian singkat, aku rasa tidak perlu mengatakannya. Aku tidak memiliki tujuan apapun."

Nada suara Jackson terdengar menakutkan dan mengancam, "Benarkah?"

Cinthya masih melindungi perutnya dan perlahan meluruskan tubuhnya. Dia berusaha tampak tenang, "Benar. Masalah seperti ini, mana mungkin aku dapat menipumu. Jika aku memiliki pemikiran jahat maka aku akan mati dengan mengenaskan. Lagipula, jika aku membohongimu bukankah kamu memiliki banyak cara untuk membunuhku?"

Meski gerakannya sangat samar dan pelan tetapi masih disadari oleh Jackson. Pandangannya menyapu singkat perut yang sedang dilindungi wanita itu.

Lalu dia menatap wajah wanita itu dengan lekat, "Kenapa sebelumnya kamu tidak jujur?"

Jackson tak mungkin percaya dengan mudah.

Sepasang tangan Cinthya yang melindungi perutnya, terkepal erat. Anak dalam kandungannya adalah sebuah kecelakaan tetapi merupakan darah dagingnya sendiri. Dia sudah kehilangan adiknya jadi dia ingin melahirkan anak ini.

Kelak mereka bertiga akan hidup bersama dan saling bergantung satu sama lain.

Mengingat tentang kejadian malam itu membuat tubuhnya bergetar tanpa dapat ditahan dan telapak tangannya berkeringat dingin, "Aku... Aku juga baru mengetahuinya."

Dia bahkan tidak berani mengatakannya pada Lenny. Cinthya tidak berani menaruh hasil pemeriksaan dari rumah sakit di tempat tinggal mereka karena takut Lenny akan menemukannya.

Dia tidak menyangka akan menyebabkan masalah sebesar ini.

Membuat Jackson berpikir kalau dia memiliki tujuan yang tidak baik.

Dia baru berusia 18 tahun tetapi dia sudah...

Serusak apa kehidupan pribadinya?

Raut wajah Jackson sangat muram lalu dia bicara sambil memperingatkan Cinthya, "Selama satu bulan ini jangan membuat masalah. Jika aku tahu kamu menyebabkan masalah..."

"Tidak, aku tidak akan membuat masalah. Aku akan menjaga sikap, jika terjadi hal yang melewati batas maka silakan Tuan Chandra menghukumku." Cinthya buru-buru memberi kalimat jaminan.

Meski tidak dapat membuatnya percaya tetapi tidak boleh membuatnya curiga pada tujuan Cinthya.

Saat ini dia berada dalam kesulitan. Tidak ada gunanya menambah seorang musuh untuk merebut kembali haknya.

Jackson menatapnya dengan tatapan mengamati. Seolah sedang menimbang-nimbang kredibilitas dari ucapannya.

Tok tok... Kemudian terdengar suara Bibi Siti, "Sarapan sudah siap."

Jackson menarik kembali pandangan dan aura kejamnya, "Bereskan barang-barang yang berserakan di lantai."

Selesai bicara dia berbalik dan keluar dari kamar.

Setelah Jackson keluar, Cinthya merasa sepasang lututnya sangat lemas. Dia bersandar pada meja pendek di belakangnya untuk mengumpulkan tenaga. Tak lama kemudian dia menunduk dan memungut semua barang miliknya yang berserakan di lantai.

Dia menangis ketika melihat selembar kertas hasil USG di tangannya.

Lalu dia mengusap wajahnya dan berkata pada diri sendiri kalau dia tidak boleh menangis. Karena menangis adalah bentuk kelemahan.

Dia tidak boleh lemah karena ibu dan anak dalam kandungannya masih membutuhkan dirinya.

Dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas, lalu berganti pakaian dan keluar.

Ruang makan sudah tidak ada orang. Di atas meja makan ada cangkir kopi dan peralatan makan yang sudah kosong. Dia pasti sudah selesai sarapan dan berangkat.

Cinthya merasa lega karena berdekatan dengan pria itu membuatnya tertekan.

Dia berjalan menuju ke meja makan lalu mulai sarapan.

Selesai sarapan dia keluar. Dia ingin pulang menemui Lenny karena takut ibunya khawatir.

Begitu masuk ke dalam rumah dia sudah ditarik oleh Lenny yang bertanya, "Tuan Muda Keluarga Chandra itu..."

"Ibu." Nada suara Cinthya terdengar keras. Dia tidak ingin membahas hal itu, "Dia orang yang baik, jadi Ibu tidak perlu khawatir."

Lenny menghela napas. Anaknya sudah dewasa dan memiliki pemikirannya sendiri. Dia juga tidak suka mendengarnya terlalu cerewet. Hatinya sedikit kecewa, "Aku hanya khawatir padamu."

Dia takut pria itu bersikap tidak baik pada putrinya.

Cinthya memeluknya. Dia tidak sengaja berbicara keras, hanya saja dia sudah kehabisan tenaga setelah berdebat dan berusaha meyakinkan Jackson pagi tadi. Saat ini dia merasa agak lelah.

"Ibu, maaf, aku hanya agak lelah. Aku tidak sengaja."

"Aku tahu, Ibu tidak menyalahkanmu." Lenny mengelus punggungnya seolah dapat merasakan kelelahannya, "Kalau kamu lelah, istirahat saja dulu."

Cinthya menganggukkan kepalanya. Meskipun dia tidak ingin tidur tetapi dia memang merasa lelah. Setelah masuk ke kamar, tanpa sadar dia tertidur lelap.

Siang harinya, Lenny telah selesai memasak makan siang dan membangunkannya untuk makan.

Lenny mengambil semangkuk nasi untuk Cinthya yang sudah duduk di meja makan, "Aku memasak ikan kesukaanmu."

Lenny merasa bersalah pada putrinya. Meski dia sudah melahirkannya tetapi dia tidak dapat memberikan masa kecil yang indah bagi putrinya, tetapi malah membuatnya menderita.

Cinthya melihat ikan asam manis yang berada di atas meja. Sebelumnya, dia paling suka makan ikan asam manis tetapi sekarang dia malah merasa mual dan ingin muntah saat mencium bau makanan itu.

Dia tidak tahan lagi, uuhhh...

"Thya."

Cinthya tidak sempat bicara, dia segera berlari ke toilet sambil menutup mulutnya yang terasa akan segera muntah. Lalu dia muntah di depan wastafel.

Lenny yang khawatir segera mengikutinya. Dia wanita yang sudah berpengalaman, saat melihat reaksi putrinya, wajah Lenny berubah pucat. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi pada putrinya. Cinthya anak yang jujur dan bisa menjaga dirinya sendiri. Bahkan selama di sekolah dia tidak pernah pacaran.

Suara Lenny terdengar bergetar, "Thya... apa yang terjadi padamu?"

Tubuh Cinthya kaku seketika. Sepasang tangannya menggenggam erat pinggiran wastafel. Saat dia memutuskan untuk melahirkan anak ini maka cepat atau lambat Lenny pasti akan mengetahuinya.

Dia membalikkan tubuh dan menatap ibunya. Lalu dia mengumpulkan keberanian.

"Ibu... aku sedang hamil."

Lenny terhuyung, secara reflek dia mundur ke belakang. Dia tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. Apalagi Cinthya baru berusia 18 tahun.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height