C7 Aborsi Tanpa Rasa Sakit
"Apa yang terjadi padamu?!" Lenny bertanya dengan nada mengintrogasinya. Sepertinya dia bisa menebak apa yang terjadi, "Bukannya uang itu ganti rugi dari pelaku penyebab kecelakaan?"
Dia terluka karena kecelakaan lalu biaya pemakaman putranya, semua membutuhkan uang yang tidak sedikit. Setelah pulang ke Indonesia, Cinthya juga masih memberi uang padanya dan mengatakan uang itu sisa ganti rugi yang diberikan pelaku.
Cinthya tidak tahu harus berkata apa. Terlalu sulit untuk menceritakannya.
Karena dia diam saja, sama saja dengan mengaku. Dia seorang wanita bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Lenny merasa hatinya sangat sakit tetapi masih tidak berani percaya, "Kamu... apa kamu sudah menjual diri..."
Dia menggenggam pergelangan tangan Cinthya, "Kamu tidak boleh melahirkan anak ini! Ayo ikut aku ke rumah sakit!"
"Kenapa?" Cinthya berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Jika kamu melahirkan anak ini maka masa depanmu akan hancur!" Dia tidak boleh melahirkan anak ini. Sekarang dia sudah menikah, jika sampai diketahui orang lain, maka masa depannya akan hancur.
"Ibu, aku mohon padamu. Ijinkan aku melahirkannya." Cinthya menangis sambil memohon.
Seperti apapun Cinthya memohon tetapi Lenny tetap menggenggam tangannya dan bersikap tegas!
Hari itu juga dia menyeret Cinthya pergi ke rumah sakit.
Jika Cinthya tidak mau pergi maka dia menggunakan nyawanya sendiri sebagai ancaman.
Cinthya mau tidak mau harus pergi. Untuk melakukan aborsi tanpa rasa sakit perlu melakukan berbagai macam pemeriksaan kesehatan. Saat Lenny pergi mengambil hasil pemeriksaan, Cinthya duduk seorang diri di kursi panjang koridor. Kedua tangan memeluk perutnya.
Air matanya turun tanpa bisa ditahan.
Hatinya merasa sedih dan tidak berdaya.
"Jack, aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, hanya luka bakar kecil." Bianca tersenyum kecil. Dia mengenakan gaun hitam ketat yang menonjolkan lekukan tubuh indahnya. Sebuah jas tergantung di bahunya. Jackson mengenakan kemeja putih dengan manset yang terlipat, menunjukkan lengannya yang kekar.
Raut wajahnya tampak khawatir, "Luka bakar jika tidak segera ditangani dapat meninggalkan bekas."
Bianca menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Jackson, "Apa kamu tidak akan menyukaiku lagi jika lukanya membekas?"
"Jangan bicara ngawur!"
Bianca tersenyum riang karena dia tahu Jackson bukan pria berpikiran pendek yang hanya mementingkan penampilan.
Suara ini...
Cinthya mengangkat kepalanya, dia melihat di ujung koridor tampak Bianca bersandar pada Jackson sedang berjalan dengan pelan menuju ke arahnya.
Mereka tampak serasi bagai sepasang kekasih yang sempurna.
Sementara dia sendiri merasa seperti badut. Usianya masih muda tetapi sudah tidak perawan dan kini sedang hamil, dia bahkan tidak tahu siapa ayah dari anak dalam kandungannya.
Saat dia sedang tenggelam dalam lamunannya, dia dikejutkan oleh suara panggilan.
"Pasien selanjutnya." Ruang operasi terbuka dan suster berdiri di samping pintu. Di belakangnya ada seorang gadis muda yang memegang perutnya sambil bergumam, "Katanya aborsi tanpa rasa sakit tapi kenapa rasanya masih sakit juga?"
Jackson mengernyitkan alisnya lalu pandangannya terpaku pada wajah Cinthya. Di depannya tadi wanita itu tampak sangat melindungi anak dalam kandungannya. Tapi dalam waktu singkat dia ingin melakukan aborsi?
Dalam hati dia tersenyum dingin!
Bianca mengikuti arah pandangan Jackson...
Saat melihat Cinthya dia merasa familiar tetapi tidak tahu dimana pernah bertemu wanita itu. Lalu dia melihat ke arah Jackson, "Apa kamu mengenalnya?"
"Tidak kenal." Jawab Jackson sambil tersenyum dingin.
Dalam hati Jackson sudah melabeli Cinthya dengan berbagai hal negatif. Baru berusia 18 tahun tetapi kehidupan pribadinya sudah rusak sampai mengakibatkan kehamilan. Lalu di depannya tampak seperti wanita dengan naluri keibuan yang kuat tetapi di belakangnya malah pergi aborsi.
Dia tidak suka pada orang munafik.
"Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?" Tanya suster sambil meyakinkannya.
Cinthya tidak ingin tampak memprihatinkan, meski hatinya tidak rela, sakit, dan tidak berdaya tetapi dia masih mengangguk, "Aku sudah memikirkannya."
"Kalau begitu mari ikut aku masuk ke dalam."
Cinthnya menundukkan kepalanya dan tidak ingin melihat orang lain lagi lalu mengikuti suster masuk ke dalam ruang operasi. Ketika pintu ruang operasi tertutup dirinya terpisah dari keriuhan dunia luar.
Bianca tidak tenang karena dia merasa Jackson sedang marah. Lalu dia menggandeng lengannya sambil bicara dengan suara lembut, "Jack."
Raut wajah Jackson tampak dingin, "Ayo pergi."
Bianca mempererat gandengannya pada lengan Jackson. Dia menoleh dan melihat ruang operasi yang tertutup lalu melihat respon Jackson. Dia tampak mengenal wanita itu tetapi selama berada di sisinya, dia tidak pernah melihat wanita itu muncul di samping Jackson.
Dia tahu jelas wanita mana saja yang dikenal Jackson. Lalu siapa wanita barusan itu?
Dan apa yang membuatnya begitu marah?!
"Jack, wanita yang barusan itu..."
Jackson merangkulnya, dia tidak ingin membahas tentang hal itu, "Orang yang tidak penting. Kamu tidak perlu memikirkannya."
Bianca hanya bisa diam. Meski dia penasaran tetapi dia tidak bicara lagi.
Di dalam ruang operasi Cinthya melihat berbagai peralatan operasi yang dingin, semua itu membuatnya tersadar. Tidak, dia tidak boleh membunuh anaknya. Tidak boleh!
"Silakan berbaring, Nona." Kata dokter.
"Aku tidak ingin melakukannya." Kata Cinthya sambil menggeleng lalu berbalik dan berlari keluar.
Dia berlari dengan cepat. Karena panik, dia tidak memperhatikan jalan di depannya. Dia bertabrakan dengan seorang pria dan terjatuh ke dalam pelukannya.
Cinthya memegang dahinya dan meminta maaf berkali-kali, "Maaf, maaf..."
"Apa kamu Cinthya?"Ray Howard melihatnya mirip dengan Cinthya tetapi tidak berani memastikannya jadi dia mencoba untuk bertanya.