C1 Trik Untuk Cepat Menikah
“Menurutmu masuk akal enggak kalau aku memperkosa Gibran?”
Caramel macciato yang belum sempat ditelan langsung menyembur dari mulut Tania. “Kamu masih waras kan, De?”
“Masih, kamu tenang saja, Tan.” Amadea mengibaskan tangannya ke kiri dan ke kanan dengan santai.
“Masalahnya ngapain kamu mendadak mau memperkosa Gibran. Dia itu cowok dan pacarmu juga. Aku beneran enggak paham, De.”
“Ya, buat nikahin dia lah, Tan. Kamu gimana sih?”
“Oke, buat nikah, aku lupa betapa kebeletnya kamu.” Tania memegangi dada, gadis itu mendadak megap-megap hingga membuat Amadea curiga kalau asmanya kambuh.
“Bukan kebelet, Tan. Ini namanya relationship goal.”
“Oke, relationship goal. Tapi, enggak kudu nikah juga, De.”
“Terus menurutmu relationship goal itu apa kalau bukan nikah? Putus?” Amadea masih menolak untuk mengalah.
Tania memutar bola mata. Terlihat sedang mencerna kata-kata yang diucapkan Amadea barusan. “Benar juga sih. Enggak ada tujuan hubungan itu putus.”
“Nah, jadi sekarang kamu paham kan alasanku mau nikahin Gibran secepatnya?”
Amadea mengerjap beberapa kali dan menatap Tania dengan penuh harap. Dia berharap kalau teman dekatnya itu akan mengangguk. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Tania menggeleng.
“Masih enggak ngerti, De.”
Amadea mengembuskan napas berat. Setelah penjelasan yang sangat panjang ini bisa-bisanya Tania tidak memahami tujuannya. Dia langsung memijat pelipis. Dia pun ternyata gagal memahami dirinya sendiri yang berteman dengan Tania yang lambat dalam urusan percintaan.
“De!”
“Lanjut makan saja, Tan. Biar kamu sehat dan—” Amadea menarik napas.
“Dan?”
Biar nyambung kalau diajak ngomong.
Namun, Amadea memilih menelan kembali ucapannya dan mengeleng. “Bukan apa-apa.”
“Sebenarnya aku paham sih kalau kamu pengen banget nikah sama Gibran.”
Amadea langsung melebarkan kelopak mata. Tania paham pembicaraannya, keajaiban macam ini. Ya, Tuhan, nikmat mana yang bisa kudustakan, terima kasih sudah membuat Tania mendadak pintar.
“Menurut kamu gimana?”
“Ya, bukan gimana-gimana. Kamu tinggal nunggu Gibran melamar kamu.”
Oke, Amadea menarik klaimnya barusan. Tania ternyata tidak bertambah pintar. “Kamu juga tahu sendiri kalau Gibran itu lemot.”
“Kamu enggak sabar nunggu dia melamar.”
“Keburu ubanan, Tan.”
“Tapi, kamu sudah bilang?”
“Aku udah kasih kode berulang kali, tapi dia enggak paham juga,” tukas Amadea cepat.
“Gimana cara kamu kasih kodenya?”
Amadea berpikir sejenak dan mencoba mengingat-ingat. “Aku ngajakin dia ke toko furnitur dan keliling ke bagian ranjang buat pasangan.”
“Lalu?”
“Dia pikir kasurku rusak dan mau ganti.”
“Yang lain?”
“Aku sering pegang-pegangan atau deketin anak kecil kalau lagi sama dia.”
“Biar apa?”
“Biar Gibran tahu kalau aku pengen punya anak segera, Tania.”
“Jadi, biar segera dilamar?”
“Nah, itu tahu. Tumben pinter,” sindir Amadea.
“Terus anak kecilnya nangis enggak?” Tania kembali bertanya sembari memainkan garpu di tangannya.
Amadea berpikir sejenak. “Nangis sih.”
“Bisa jadi Gibran mikirnya kamu pedofil atau memang ada potensi sebagai penculik anak-anak profesional,” sahut Tania enteng.
“Kurang ajar!” Mata Amadea seketika memelotot ketika mendengar tuduhan Tania yang tidak masuk akal itu.
“Ya, hati orang siapa yang tahu. Bisa jadi Gibran memang mikir begitu, kan?” Tania mengangkat bahu dengan ringan seolah-olah tuduhannya hanya setaraf Amadea yang kentut sembarangan.
“Terus aku harus gimana. Masa iya aku harus beneran memperkosa Gibran.”
“Memangnya kalau kamu perkosa Gibran bakalan hamil terus maksa kamu tanggung jawab?”
Amadea mengangguk membenarkan. Kali ini jawaban Tania memang benar. Misalnya dia nekat datang ke apartemen Gibran untuk menodai pemuda itu, memangnya apa yang bisa dituntut darinya. Salah-salah dia bisa kena pasal pelecehan seksual. Bukannya langsung ke pelaminan, yang ada dia langsung masuk penjara lewat jalur undangan. Benar-benar tidak adil. Kalau pria bisa memaksa wanita untuk menikah dengannya dengan dibuat hamil atau apa, kenapa wanita tidak bisa melakukannya?
“Terus kalau masih maksa buat memperkosa Gibran,” lanjut Tania, ternyata temannya itu masih belum selesai bicara. “Dia bakalan kesenengan, pasti mau banget diperkosa lagi. Bukannya dinikahi kamu cuma bakalan dijadikan teman tidur doang kali, De.”
Amadea yang sejak tadi memainkan air liur di mulutnya dengan lidah mendadak tersedak. Teman tidur katanya. Oke, ini menohok dan mengejutkan. Fakta ini jauh lebih membuatnya terkejut ketimbang kepintaran Tania yang mendadak muncul di titik tidak terduga.
“Masa iya aku harus menyekap Gibran dan diam-diam menikahinya. Lalu, pas dia sadar tahu-tahu kami udah jadi suami istri deh.”
“Itu enggak sah nikahnya, De.”
“Aku tahu. Lalu, aku harus gimana?”
Andai saja ada buku panduan berisi metode paling efektif untuk membuat pacar langsung mengajak ke pelaminan maka Amadea akan langsung membeli bukunya. Atau pernikahan yang tetap sah meski calon mempelai tidak ada di tempat atau tidak dalam keadaan sadar. Bukan berarti dia ingin membuat Gibran pingsan lalu selama prosesnya dia akan ke kantor urusan agama untuk menikah.
“Sejauh ini kamu enggak bisa maksa Gibran, kan?”
Amadea menggeleng. “Enggak.”
“Satu-satunya jalan ya kamu menunggu Gibran melamar.”
“Sampai kapan?” tukas Amadea.
“Ya, enggak tahu. Kan kalian yang menentukan.”
“Kalau nunggu Gibran keburu kiamat dong, mana katanya akhir zaman sudah dekat,” gerutu Amadea.
Tania mengangguk beberapa kali. Entah membenarkan atau memang sudah lelah dengan semua gerutuan Amadea yang memang ingin segera naik ke pelaminan tetapi tidak bisa memaksa pacarnya untuk segera menikah. Mungkin Tania tidak paham alasannya untuk cepat-cepat melepas masa lajang, tetapi usianya sudah lewat kepala tiga dan keluarganya terus mendesaknya untuk segera menikah. Selain karena faktor usia, adik perempuannya juga ingin segera menikah. Masalahnya adiknya itu tidak mendapatkan izin untuk naik ke pelaminan lebih dulu kalau Amadea belum menikah. Tidak bisa melangkahi maka adiknya hanya bisa memaksa dan mendesaknya untuk menikahi Gibran. Amadea menarik napas berat dan ujung garpunya memainkan tiramisu di piringnya. Sayangnya, tidak pernah ada jalan pintas menuju pelaminan dan dia tidak bisa menikah sendirian.
“Kalau memang kamu enggak bisa maksa Gibran buat ngelamar kamu, gimana kalau kamu lamar dia lebih dulu, De?”
Amadea yang semula menusuk-nusuk tiramisunya dengan ujung garpu langsung mendongak. “Melamar Gibran maksudnya?”
“Iya, coba kamu lamar dia duluan, De.”
“Tapi, apa aku harus sejauh itu.”
“Kurasa ini lebih masuk akal ketimbang kamu memperkosa Gibran deh.”
“Iya sih.” Amadea membenarkan. “Bukan ide yang buruk juga.”
“Sekarang zamannya emansipasi, siapa tahu Gibran hanya enggak berani ngomong sama kamu atau belum nemu momen yang tepat makanya ditunda terus. Kalau kamu maju duluan bisa jadi Gibran langsung setuju karena setidaknya satu hal sudah terselesaikan.”
Amadea mengangguk lagi. Benar juga. Kalau memang Gibran tidak kunjung melamarnya maka mengajak pemuda itu menikah lebih dulu bisa jadi ide yang brilian. Dia hanya perlu mencobanya, toh wanita menyatakan cinta lebih dulu sudah bukan hal yang tabu lagi. Jadi, seharusnya urusan lamaran atau ajakan pernikahan ini tidak akan jadi masalah kalau dia yang memulai duluan.