+ Add to Library
+ Add to Library

C4 Rencana

Amadea menerima totebag abu-abu yang baru diulurkan Gibran. Bau gurih masakan menguar dari dalamnya. Ah, calon Mama mertua mungkin masak rendang dan memberinya sedikit, seperti biasanya. Sedikit kecewa, tetapi Amadea sendiri tidak tahu benda apa yang diharapkannya dari perempuan itu. Calon mertuanya jelas tidak akan mengirim sebongkah berlian atau seperangkat alat ibadah ke kantor demi meminangnya jadi menantu.

“Makasih ya, Sayang.”

“Ini di kantor, De.” Gibran berdeham pelan.

Amadea tertawa pelan dan menggumamkan kata maaf pelan. “Iya, makasih ya, Gibran.”

“Sama-sama, Dea.”

“Nanti aku telepon Tante buat bilang makasih.”

“Oke.”

“Kamu mau makan bareng nanti?” tanya Amadea sambil mengangkat totebag di tangannya.

“Yang itu buat kamu saja, makan siangnya nanti kita cari yang lain,” ucap Gibran sembari berbalik.

“Oke, makasih ya.”

Gibran mengangguk sekali lagi lalu berlalu pergi. Mungkin banyak pekerjaan di divisinya hingga pemuda itu harus buru-buru pergi. Selain itu, Gibran pastu tidak ingin berlama-lama di sino. Pemuda itu tidak suka mengumbar kemesraan di kantor dan memilih untuk bersikap biasa saja. Amadea menghargai keinginan pemuda itu, toh Gibran sangat romantis kalau hanya berdua saja.

“Titipan makanan ya, De. Bagi dong!” Ifran yang mendadak bicara membuat Amadea Tersentak. Dia yang masih fokus menatap punggung Gibran langsung mendengkus sebal.

“Idih, ini titipan calon Mama mertua, enggak bisa dibagi-bagi.”

“Justru karena titipan Mama mertua itu maka harus dibagi-bagi, De. Biar berkah,” sahut Ifran yang sepertinya masih mengusahakan untuk icip-icip makanan.

“Ya, nanti.”

“Beneran ya, aku bakal beli nasi saja nanti terus lauknya rendang.”

Amadea hanya mendecih pelan mendengar Ifran yang terlihat senang sendiri karena akan mendapatkan bagian rendang titipan dari mamanya Gibran. Dia kemudian menaruh tas berisi makanan itu dan kembali duduk. Ifran juga sudah diam, kemungkinan mulai sibuk dengan jobdesk-nya. Maka dari itu, Amadea juga memilih untuk menekuni komputer di depannya, ada laporan yang harus selesai sebelum jam makan siang. Amadea menarik napas pelan kemudian menekuk tangannya hingga buku-buku jarinya berbunyi. Setelah itu, dia menekan tuts keyboard dan mulai menyusun laporan yang harus disampaikan pada atasannya nanti. Dia melakukannya sampai jam makan siang tiba.

Begitu waktu menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit, Amadea merenggangkan tubuh di kursi. Sendi-sendinya berbunyi pelan, tetapi tubuhnya terasa lebih enak sekarang. Setelah merasa cukup merenggangkan badan, Amadea membuka laci dan merogoh dompet di dalamnya.

“Kamu mau langsung keluar?” tanya Ifran tiba-tiba.

“Iyalah, sayangku sudah menunggu.”

“Sayangku, hoeeek—” Ifran langsung mengeluarkan suara mual. Namun, langsung berhenti ketika Amadea mencubitnya.

“Bilang saja kamu iri!”

“Enggak dong, apalagi sama pasangan nyebelin kayak kalian.” Ifran menggeleng beberapa kali.

Amadea hanya mengembuskan napas kesal, tetapi tidak ingin menanggapi lebih jauh. Gibran pasti sudah menunggunya jadi tidak perlu mengurus Ifran lebih jauh. Saat dia hendak berbalik, Ifran ternyata menarik bajunya.

“Kenapa lagi?”

“Rendangnya, De.”

Astaga iya, rendang. Dia nyaris melupakan permintaan Ifran yang tadi meminta rendang darinya. “Mau ditaruh di mana?”

“Tisu saja, De.”

“Ya, jangan tisu juga kali.”

“Terus gimana?”

Amadea meraih totebag dan memberikan Ifran. “Kalau nasinya sudah sampai, ambil dua potong. Enggak boleh lebih.”

“Wah, makasih. De.” Wajah Ifran mendadak berbinar-binar.

“Dua potong!”

“Iya, dua potong.”

“Janji?”

“Iya, janji Amadea. Percaya deh!”

Setelah memberikan totebag pada Ifran yang katanya hanya memesan nasi dari jasa makanan online, Amadea bergerak keluar untuk menemui Gibran. Pemuda itu ternyata sudah menunggu di lobi dan mereka langsung bergerak keluar untuk mencari makan siang.

“Mau makan ke mana?” tanya Amadea sembari menyamakan langkah dengan tungkai Gibran yang panjang.

“Soto ayam depan kantor saja gimana?”

Amadea berpikir sejenak. Warung soto itu lumayan panas karena tidak memiliki AC. Belum lagi kipas anginnya yang agak rusak itu lumayan menyusahkan. Selain rasa sotonya dan harganya yang murah, warung itu tidak punya kelebihan lain. Namun, dia tidak ingin mengecewakan Gibran. Apalagi dia hendak mengajaknya menikah, jadi membuat pacarnya itu senang adalah salah satu jalannya. Hitung-hitung usaha dan dalam berusaha maka dirinya harus bersabar.

“Baiklah,” kata Amadea akhirnya setelah menekan keinginannya untuk makan seblak di warung langganan yang lebih dingin dan nyaman.

Gibran tersenyum hingga barisan giginya terlihat sedikit. Sial, pacarnya ini benar-benar manis hingga Amadea ingin mengantonginya saja dan berharap tidak ada orang yang pernah melihat pacarnya. Pemuda itu bergerak lebih dulu hingga Amadea harus menyamakan langkah dengannya. Amadea menunduk dan menatap tangannya yang terkepal karena menahan diri agar tidak menjangkau jari-jemari pemuda itu. Gibran tidak akan suka disentuh duluan.

Ya, kalau berharap Gibran akan mengenggam tangannya saat menyeberang jalan maka itu mustahil. Saat jam kerja, Gibran tidak ubahnya seperti rekan kerja yang tidak terlalu dekat. Alasannya karena tidak mau digosipkan, alasan ini masih bisa diterima di awal-awal, Namun, saat hampir semua orang tahu soal hubungannya dengan Gibran, alasan ini tidak lagi relevan. Sialnya, Gibran menyusun alasan lain lagi agar dirinya tidak mengumbar kemesraan di kantor. Gibran bahkan mengatakan akan menuntut Amadea kalau berani menciumnya di kantor atau di depan semua orang. Mungkin ancaman pacarnya itu berlebihan, tetapi Amadea tidak keberatan. Tidak ada cowok lain yang disukainya selain Gibran. Pemuda itu juga sudah merebut hati mamanya dan keluarganya. Tidak ada pula mertua yang sebaik mamanya Gibran. Jadi, Gibran adalah pacar paket komplit yang harus segera dinikahi.

“Memangnya bakalan ada acara apa di rumah?” tanya Amadea begitu sepatunya menginjak trotoar di seberang jalan.

“Maksudnya?”

“Titipan rendang itu, mungkin ada acara sampai sisa dan dititipin ke aku. Gitu maksudku.”

“Ah, itu. Arisan keluarga saja sih.”

Oke, arisan keluarga, Ini adalah acara yang paling tepat untuk memperkenalkan diri sebagai calon istri Gibran. Amadea berdeham pelan setelah menyusun rencana dalam kepalanya. “Di rumah kamu?”

“Iya,” sahut Gibran sembari membuka pintu warung soto yang hendak kamu kunjungi. Pemuda itu hanya masuk lebih dulu dan memutar tubuh sembari menahan pintu untukku.

“Kapan?”

Gibran tidak langsung menjawab dan keningnya menekuk lebih dalam. “Kenapa?”

“Kalau ada acara aku bisa bantu-bantu.”

“Oh, iya sih.”

“Jadi kapan?”

“Sabtu malam, De.”

“Aku ke sana ya nanti.”

“Aku tanya Mama dulu, ya,” sahut Gibran tidak langsung mengiyakan permintaannya. “Gimana?”

“Oke deh.” Amadea mengangguk beberapa kali.

Jawaban Gibran sudah lumayan bagus dan Amadea tidak bisa memaksa lebih jauh. Lagi pula dia punya nomor ponsel calon mertuanya jadi dia bisa langsung tanya-tanya soal acara ini. Kemungkinan perempuan itu tidak akan menolak mengingat dirinya hanya mau membantu saja, buka mau meminta sesuatu. Satu hal yang pasti, Sabtu malam nanti dia akan membuat hubungannya dengan Gibran selangkah lebih dekat. Ya, dia harus menyusun rencana hingga keluarga besar Gibran termasuk mamanya bisa mendesak pemuda itu untuk segera menikah dengannya.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height