C10 10
Happy reading ?
"Menghabiskan malam denganmu sayang, apalagi?" Mata elang Zach menatap intens, bibirnya yang manis bagai madu pemikat yang sulit ku tolak. Sial, dia terlalu mempesona baik dari segi wajah rupawannya, maupun mempesona dalam segi latar belakang.
Ogah!!! Sebelum kau halalkan aku bang! sayangnya teriakanku cuma bergema dalam hati. Aku tidak berani berteriak seperti itu di depan hidungnya. Aku cuma mampu berkedip-kedip bingung mencerna dengan kelakuan pria dewasa ini. Kenapa dia manis banget, aku kan jadi beneran baper.
Sementara pria yang juga ada di dalam kamar mewah ini, terus saja menatapku lapar. Membuatku memandangnya jijik.
"Ini Jimmy Hudson, salah satu pilotku. Jimmy, kau pasti tau wanita ini, dia asisten ibuku."
Pilotnya? Jadi benar dia punya jet pribadi sungguhan? Benar-benar calon imam potensial, pikirku takjub.
Aku merasa belum pernah bertemu si Jimmy, tapi kenapa Zach bilang pasti tau aku. Pria bertato itu mengenakan kemeja hitam lengan pendek memamerkan tatonya yang memanjang dari lengan hingga pergelangan tangannya. Andai senyumnya tak konyol begitu, si Jimmy Hudson akan menjelma sebagai cowok macho nan keren luar biasa. Senyumnya itu loh bikin merinding, lebih ke kesan mesum mata keranjang. Seperti sekarang ini dia tengah memandangku tertarik, dan matanya berlama-lama di kakiku.
"Bisakah kau bersikap sopan Jimmy? Dia takut padamu." Zach menatapnya penuh peringatan, membuat Jimmy tergelak lalu mengangkat kedua tangannya ke udara tanda ia menyerah. Aku? Tentu saja masih bergelanyut manja pada lengannya yang kokoh dan nyaman. Duh,kesannya aku melemparkan diri pada si Zachy ya... Hehe...
"Baiklah, maafkan aku Miss. Aku hanya menggoda. Beruntung kalau kamu lebih memilih denganku dari pada pria yang membayar ku ini. Dia play boy!" Kata pria bertato itu, yang aku amini dalam hati kalimat terakhirnya.
Siapa yang akan menolak seorang Zach Abraham, ketika semua bisa dia taklukkan di bawah kakinya. Harta, jabatan, latarbelakang. Pantas Bu Anisa sampai gagal move on dari bapaknya Zach.
"Bajingan, tutup mulutmu!" Umpat Zach pada Jimmy. Aku pikir, Zach tidak perlu melakukannya wong aku ini cuma asisten ibunya. Kami berakhir jadi couple malam ini juga karena permintaan ku. Pacar pura-pura yang tidak berani aku impikan jadi nyata. Siapa aku, siapa Zach, hinaan Bu Anisa yang bilang aku hanya bunga bangkai masih terngiang di telinga. Ah, nasib kaos kain dhuafa.
"Jangan membuat Bella menolakku."
ku gigit bibirku menahan gejolak menyenangkan berkat lontaran kalimat dari mulut Zach, apakah dentuman yang mulai terasa di hatiku ini memiliki frekuensi yang sama dengannya? Atau Zach hanya memanfaatkan sikapku yang jadi lunak dan hanya mempermainkan aku?
Mereka berdua bercakap-cakap dalam bahasa inggris yang terlalu ngebut, membuatku yang jarang sekali menggunakan bahasa ini hanya bisa mengikuti maknanya setengah-setengah. Entah apa yang tengah mereka diskusikan hingga aku yang telah dipersilahkan Jimmy duduk sejak setengah jam lalu merasa bosan. Aku sudah mengalihkan perhatianku pada sofa light grey yang kami duduki, tivi LED 41 inchi, duplikat lukisan dinding Monalisa, dan gerak lambat jarum jam. Kok aku merasa lapar lagi. Tapi mereka masih mengobrol seru. Hingg aku beralih mengamati si tuan rumah.
Jimmy sepertinya memang orang amerika asli. Kulit pucat, rambut pirang , mata kehijauan dan postur tubuh tinggi besar. Tapi kepalaku justru membayangkan betapa berduitnya bapaknya si Zach. Sampai memiliki Jimmy Hudson sebagai salah satu private pilotnya.
"Baby..."
Zach menyadarkanku dari lamunan. Kedua alisku saling bertaut, ihh kenapa dia memanggilku baby. Itu terdengar seperti dia menyebut diriku babi pemakan segala dan berpotensi jadi induk semang cacing pita. Aku bergidik geli.
"Ayo."
Katanya menarik tanganku, menjadi menggenggamnya saat kami berjalan. Aku yang sejak berikrar jadi pacar pura-puranya oke-oke saja. Kapan lagi sih, dipepetin mas bule cakep lagi. Besok-besok dia bakal balik ke negaranya dan dimiliki perempuan lain. Jadi biar saja ku nikmati malam ini, Cinderella aja berkesempatan jadi putri sampai jam dua belas malam. Kenapa aku tidak?
Pria itu membawaku keluar dari suite room yang ditempati Jimmy. Hingga kami sampai di lobby hotel, Zach menghentikan langkahnya untuk berbalik menghadapku.
"Pacar, Ayo dinner." Pria itu menoleh ke arah jam dinding klasik dari kayu jati yang dipasang dengan cita rasa vintage di lobby hotel ini. Ekspresinya tiba-tiba kembali lagi dalam mode datar seperti sebelum bertemu Jimmy. Ini orang kenapa lagi, tadi udah bisa senyum, ketawa sampai berbahak. Loh ini kok balik lagi kaya papan penggilasan? Aku membatin tak mengerti.
"Masih jam 9 kan?" Zach memperkuat alasannya, seolah takut aku menolak. Dia tidak tahu saja tekad yang beberapa menit tadi tumbuh di dada, bahwa aku akan jadi Cinderella malam ini dengan dia jadi pangerannya. Ku abaikan kemungkinan mungkin dia telah memiliki wanita disisinya, atau benar kata Jimmy Hudson tadi bahwa dia hanyalah pemain cinta alias playboy.
"Oke." Aku tersenyum mengiyakan.
"Masih lapar mas?"
Dia menjawab dari matanya dan dua sudut bibirnya yang tertarik tipis, menguarkan racun berwana merah muda ke seluruh pandangan ku. Sesuatu di dalam jantungku terasa bertalu-talu. Jangan bilang hati telah menjatuhkan pilihan padanya sebagai objek kerinduan. Ah, aku tidak siap patah hati. Perbedaan yang terpampang nyata diantara kami seperti jurang yang curam, dia kaum jetset, sementara aku kaum dhuafa. Huh...
Zach membukakan pintu penumpang untukku setelah petugas valet membawa mobil kami ke depan pintu lobi. Betapa ini seperti mimpi, aku enggan bangun lagi, andai kalian ingin tahu.
Aku tak begitu paham, keperluan apa antara anak Bu bos dengan si Jimmy, yang jelas aku sempat melewatkan beberapa hal tadi karena asyik melamunkan dirinya. Seperti kali ini, tidak ada percakapan apapun dalam mobil. Aku kembali berkutat dengan pikiranku dan Zach dengan konsentrasinya pada setir dan jalanan. Hingga deru mobil terdengar berhenti.
Kepalaku menoleh otomatis padanya, karena Zach menghentikan mobil diantara warung tenda dan beberapa tongkrongan muda - mudi pinggir jalan.
"Kok berhenti disini mas?"
"Aku ingin mencoba sensasi makan di street food." Jawabnya.
"Yakin mas, makan disini?"tanyaku memastikan. Pasalnya kami sedang dalam busana perlente yang akan terkesan jomplang dengan apapun yang ada pada jajaran kaki lima ini.
"Why not"? jawabnya setelah membuka pintu mobil untukku.
Kami berjalan lurus dari tempat parkir yang bisa kami temukan menuju asap mengepul berbau lezat. Zach terus memperlakukan aku layaknya wanita berharga dengan mengaitkan tangan kami. Jangan menertawakan aku karena sepanjang jalan ini, disaksikan warung tenda yang membisu, bersama hiruk pikuk orang-orang yang rata-rata dari kalangan menengah kebawah, aku tersipu-sipu sendiri. Ya ampun, ini emang nggak banget, tapi karena perlakuan manis ini rahimku bergetar-getar seperti mesin cuci jadul yang tengah beroperasi.