+ Add to Library
+ Add to Library

C12 12

Bab 12

Malam ini tidak berakhir begitu saja, karena sepulang dari kondangan mantanku aku musti menemani ibu Anisa di Rumah Sakit.

Si ibu yang rewel dan bawel itu sudah tidur saat kami sampai. Mirisnya lagi, Bu Anisa hanya sendirian tanpa seseorang di sisinya, yang menemani jikalau mungkin dia butuh bantuan. Asisten rumah tangga yang aku tugaskan untuk menjaganya sudah pulang satu jam lalu, mengingat aku bilang sudah di perjalanan menuju rumah sakit.

"Istirahatlah. Aku yang akan menjaga mama."

Aku mengangguk saja atas kalimat bernada perintah dari Zach. Ku rasa Bu Anisa telah jauh membaik, kadar gulanya juga sudah turun. Mungkin lusa sudah bisa dirawat di rumah.

Aku berpindah dari sofa menuju bad yang disediakan untuk keluarga pasien. Merebahkan diriku dengan canggung karena hatiku mengatakan seseorang sedang mengawas diriku. Benar saja, pria itu sedang mengarahkan kelerengnya padaku. Ada senyum simpul di sudut bibirnya.

"Dua jam saja ya mas, nanti giliran mas Zach yang tidur." Aku sungguh sangat lelah, seharian ini hanya duduk dan menegakkan punggung. Kalau dibuat rebahan gini rasanya seperti surga banget.

"Tidur saja, aku biasa terjaga di jam-jam ini." Ucapnya lembut.

Perbedaan waktu akibat rotasi bumi jelas membuat orang yang melakukan lintas benua sedikit tidak nyaman karenanya. Aku salut pada Zach yang mudah beradaptasi, bahkan seharian bersamaku tak sedikitpun dia memperlihatkan raut lelah apalagi ngantuk. Apakah dia tidak mengalami jetlag sedikitpun?

Aku memilih memunggungi Zach. Tidak nyaman rasanya tidur dengan seseorang yang terus menyorot. Hingga beberapa saat lamanya, mata ini tak kunjung bisa memejam. Bayangan aktivitas yang ku lalui saat bersama dirinya malam ini terus menganggu benak, memutar bagai kaset. Dadaku berdetak lebih cepat dari biasanya, senyumku merekah hanya dengan mengulang rekaman bagaimana caranya yang manis itu berhasil mengusik diri ini.

Getaran ponsel membuat telinga ku waspada menguping. Aku tahu dengan jelas itu berasal dari ponsel siapa. Pasalnya ponselku tengah ku peluk, sementara ponsel Bu boss sudah ku simpan rapi tadi sesaat setelah aku masuk, karena terlihat tergeletak begitu saja di dekat kepalanya.

"Ya."

Ihh, lembut banget caranya ngomong. Emang siapa sih yang hubungi dia?

"Aku masih di Indonesia. Mama ku sakit."

Katanya lagi, sebenarnya suaranya lirih. Tapi karena ruang rawat ini hanya memiliki luas enam kali lima meter saja, suaranya begitu dekat di telingaku.

"Hey, honey, hanya semalam saja. Besok aku pulang."

Bujuknya, mesra. Anehnya suara sesuatu yang patah terdengar lebih nyaring dari suara Zach. Itu hatiku yang tidak tahu malu.

"Tidak ada."

"Tentu saja aku juga merindukan dirimu."

Lalu, tadi apa? Kamu gandeng aku seperti kita ini sejoli. Apa tadi kamu lupa kalau kamu ternyata sudah punya orang lain?

"Bye, honey."

Aku menghela nafas, sembari merutuki diri sendiri dalam hati. Bagaimana bisa aku berdebar hanya karena diperlakukan manis olehnya dalam interaksi singkat kami. Sumpah ya, telingaku yang setajam silet ini mendeteksi campuran sirup Marjan dalam suara lembut Zach baru saja. Tak pelak ada rasa kecewa yang menghinggapi hatiku. Jelas pria se-hot dia, sudah punya pacar. kalau enggak banyak, minimal punya satu. Gila ya, bisa-bisanya aku menaruh harapan konyol sama anak Bu boss.

Ah, aku memang murahan, dalam artian mudah terpesona pria-pria rupawan, mapan, dan potensial. Mudahnya tersandung pesona Zach Abraham yang menggetarkan jiwa dan raga. Tapi aku cuma salah satu dari perempuan yang enggak bisa menahan diri dari siksaan dunia berupa lelaki idaman. Ah... Susahnya jadi aku.

Jadi dengan tekad kuat, aku memejamkan mata. Menghitung domba-domba yang memakan rumput liar di padang safana dalam kepala. Menghalau bayangan wajah Zach yang menyebalkan. Yang membuat hatiku patah tanpa dia tahu, bahwa dia adalah penyebabnya.

Satu

Dua

Tiga

Empat

.

.

.

Dua puluh tiga

.

.

.

Tiga puluh enam

.

.

.

Capek!!

Kok aku enggak bisa tidur sih! Ya ampun!

"Kenapa Bella?"

Hah? Kok suara Zach terdengar dekat?

Jadi aku bergerak dengan kesabaran yang terkikis.

"Auw!" Ujung kepalaku bertabrakan dengan ujung dagu lancip si Zach. Duh keras banget sih, sakit tau.

"Pelan, kenapa Bell. Isshh gadis ini, bar-bar juga." Katanya mengusap dagunya. Matanya berkilat terganggu.

Syukurin, salah siapa bikin aku berharap. Jadinya kualat, kan. Eh, jahatnya aku.

"Maaf, Mas... Lagian, kok bisanya sih ada disitu?"

"Saya mau tidur juga."

"Lah kan giliran aku dulu mas, belum dua jam sepeti yang aku bilang tadi." Aku mengeluh, meskipun aku ini hanya asisten doang, tapi dimana peri kemanusiaan dan peri perkacungan si Zach ini sih.

"Ya kamu geser saja, kan bisa. Masih cukup buat kita berdua."

"Lah, masak kita sekasur berdua mas?"

Jangan mas... Aku nggak kuat, kalau aku khilaf peluk-peluk situ gimana. Situ tau nggak sih, badan macho begitu terlalu sayang dianggurin. Ah, jiwa ganjen ku meronta-ronta.

"Emang kenapa?" Tanyanya dengan senyum miring yang emang menambah kegantengan tapi kok bikin aku makin kesel.

"Atau kamu mau kita chek-in aja, Bella sayang?" Lanjutnya makin mendekatkan wajahnya pada wajahku yang pasti memerah.

"Astaga mas!" Aku memelankan suaraku, takut obrolan gila ini di dengar perempuan pemarah yang tengah tertidur.

"Memangnya apa yang salah kalau kita saling suka?"

Ya salah, bego. Kamu udah punya cewek. Salah lagi, kita belum halal. Masak aku musti jadi pelakor dan bilang 'halalalin dedek, bang' atau bilang 'pilih aku atau dia, bang!'. Ah, dasar Playboy kutu kumpret! Mentang-mentang cakep, seenaknya aja mau tebar pesona bonus nyoblos sana sini.

Tapi aku hanya membatin, mana berani aku ngomong terang-terangan begitu padanya.

"Aku nggak suka kamu." Aku beranjak turun dari ranjang yang jauh dari kata nyaman kalau dibandingkan dengan yang di rumah.

"Bohong. Kamu nyaman-nyaman saja jalan bareng saya." Katanya, membuatku merasa bodoh.

Tapi itu sebelum aku tau kamu punya cewek di Amrik sono, mas.

Pasti wajahku ini telah mengatakan semua. Ya ampun, cerobohnya aku. Padahal orang lain belum tentu bisa membaca apa yang aku pikirkan, karena aku tidak pernah memberi kesempatan. Tapi pada Zach, aku bergelanyut manja. Tersenyum genit dan malu-malu cenderung malu-maluin, ya ampun. Ingin sekali aku menceburkan diri ke laut sekarang.

Tatapan Zach sungguh dalam dan intens. Tapi aku gengsi dan tak akan sudi mengakui perasaan yang seumur jagung ini. Aku akan segera menghapusnya, kalau perlu aku bakal ikut biro jodoh demi mendapatkan lelaki yang tak kalah keren dari dia. Biar mataku ini bisa melupakan pesonanya yang bikin rahim bergetar.

"Bella, saya suka kamu?"

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height