C13 13
Bab 13
Sebulan berlalu dari kepulangan Zach ke Amerika. Meninggalkan pernyataannya yang bilang suka malam itu. Tidak ada lanjutan apapun, karena Bu bos keburu bangun akibat kandung kemihnya minta di kuras. Ah, menganggu memang. Aku kan masih kepo sama kalimatnya Zach yang bilang, 'Bella saya suka kamu.'
Minggu lalu aku berkunjung ke Singapura menemui nyonya besar. Kesehatannya berangsur membaik. Pola makannya terkontrol, olahraga juga teratur, meskipun darah tingginya masih diatas normal. Lalu, Bu boss juga rajin membahagiakan hati dengan nyalon dan nge-mall bareng Bu Anne. Intinya dukungan keluarga Bu Anne memberikan semangat Bu bos untuk menjaga kesehatan sangat bagus.
Bu Anne sendiri telah memiliki cucu laki-laki yang menggemaskan. Jadi nyonya besar tidak kesepian lagi, karena hari-harinya juga aktif terlibat menjaga bayi cucu Bu Anne.
Apa kabar si Zachy, entahlah. Terakhir kami video call, seorang wanita bergelanyut manja di lengan Zach. Mirip monyet kelaparan karena bibirnya keliat mau nyosor saja kearah Zach. Dan bagaimana gestur si Zach saat itu, dua biasa-biasa saja. Tampak tidak terganggu sedikitpun. Gitu yang bilang suka? Atau aku hanya kena prank doang malam itu? Dasar tukang php, buaya darat, play boy. Tuh kan, aku gemes lagi kalau mengingat itu.
Jujur aku sebel, tak ada perbincangan khusus diluar konteks pekerjaan. Iya aku sebel hanya karena itu. Karena Zach ternyata tak sedikitpun memasukkan ungkapan sukanya ke dalam hati. Cuma aku saja yang terenggut ombak cinta bernama galau.
Selain itu, interaksi kami juga sebatas lewat email resmi terkait usaha Bu Annisa yang aku jalankan sekarang.
Ini lebih mudah dalam menata hati andai aku ketemu Zach nanti. Tapi lain cerita dengan mamaku yang udah mulai kebakaran jenggot karena aku semakin sulit berkunjung ke Bandung, ke rumah mama. Belum lagi niat mama buat jodohin aku sama anak tetangga. Aku menghela nafas lelah, apa baiknya ku terima saja perjodohan ini. Mungkin saja aku bisa melulu si playboy anak Bu boss, yang sayangnya, diam-diam ku mimpikan dan rindukan.
"Iya mam... minggu depan aku bakalan pulang." Aku meyakinkan mama hingga wanita tercantikku itu menutup sambungan kami.
Begitu penatnya hari ini, pekerjaan yang tiada habisnya. Beberapa wawancara ekslusif dengan beberapa selebriti yang tidak semua lancar. Komunikasi dengan Bu Anisa yang kadang tersendat karena aku wajib menjaga moodnya. Dan tetek bengek lainnya. Pantas Bu Anisa sampai kena darah tinggi dan pelonjakan kadar gula. Untung tidka sampai stroke. Otakku panas, ya Tuhan sekarang ini.
Angel sudah pamit setengah jam lalu. Ini kamis sore, akhir pekan masih dimulai besok. Tapi satu bulan ini aku tidak sempat merefresh otak, jadi ku putuskan bahwa aku akan shoping ke mall setelah ini.
Langkahku membawa menuju tempat parkir dimana mobilku berada. Andai ada bu Anisa pasti bakalan ramai dengan ceramah-ceramahnya yang bakal.panjang sepanjang perjalanan ke tujuan.
Setengah jam terjebak macet, akhirnya aku bisa melangkah santai di pusat perbelanjaan ini. Tak lupa ku jinjing tas Chanel kesayangku. Dari kejauhan ku lihat teman-teman sosialita ku yang sesungguhnya dikenalkan oleh Bu Anisa. Tuch kan, mereka melambai gaya ke arahku. Kenapa juga aku harus ketemu mereka disini, batinku protes.
"Hay girl...." serempak mereka bilang hay kepadaku. Aku tersenyum dan melakukan cipika-cipiki tak penting dengan masing-masing dari ke 5 gadis-gadis ini.
"Sendirian aja? Ku dengar udah naik pangkat nich?" Salah satu dari gadis itu membuka obrolan terlebih dahulu.
"Terus gimana anak bu boss, haduch foto yey di IG jadi viral cyin... pas ada netizen yang ngepost foto yey jalan bareng bule ganteng di nikahannya si Sherly sama si Rio bulan lalu." Yang lain menimpali dengan bahasa dibuat-buat khas sosialita jekardeh.
"Hebat banget sih lo say, bisa gaet anak bos lo, gue turut seneng ngeliat muka dongkol Sherly waktu ngeliat lo nggak jadi sedih." Gadis yang lain lagi mengacungi jempol ke depan mukaku. Dia musuh bebuyutan Sherly dan paling tau cara-cara halus Sherly menjatuhkan musuh.
"Sudahlah ladies... itu sudah berlalu." Jawabku dengan senyum yang juga ku buat tulus seperti mereka. Padahal aslinya, di belakang yang lain mereka ngeghibah juga.
Eike mau nyari something nich, ada yang mau ikut eike?" Aku dalam mode genit, tersenyum manja dengan mata berbinar, padahal dalam hati aku mengeluh. Sumpah sejak awal aku tidak cocok berteman dengan mereka. Aku lebih bahagia berteman dengan si kutu buku Vina tapi baik dan pengertian atau si tomboi Gladis, walau jutek tapi tulus. Ah, apa kabar mereka, ya? Lama banget aku tidak memiliki kesempatan buat meet up bareng mereka.
"Makan dulu bareng kita yuk...." tawar salah satu dari geng sosialita ini kemayu.
Aku mengeluarkan ekspresi sedih bahwa aku menyesal aku tak bisa ikut mereka.
"Oke, oke, lain kali lo harus traktir kita, kalau begitu." jawab yang lainnya sok pengertian.
"Sure, beibeh." Aku mengangguk yakin.
Oh ini kalo bukan tentang bisnis dan pencintraan akan karierku yang memiliki pelanggan seperti mereka, aku tak sudi berhubungan dengan orang-orang tak tulus ini.
Setelah akhirnya aku terbebas dari mereka. Tiba saatnya aku memilih dua potong gaun dan sepasang sepatu. Satu lagi, sandal jepit yang langsung ku kenakan. Oh, nyamannya kakiku.
Kaki ini kemudian berhenti di food court. Memilih menu yang jarang sekali ku pesan. Entahlah, aku butuh suasana baru dari kepenatan yang akhir-akhir ini melandaku.
Duduk di sembarang kursi yang kosong ku lakukan, tanpa mempertimbangkan spot. Jauh di dalam hati terasa sedikit miris sih, disaat orang lain duduk dengan pasangan atau teman. Aku hanya berkalang sepi saja. Ah sudahlah, sepertinya aku harus memikirkan keinginan mama untuk perjodohan tersebut.
Drrrt....drrt....
Zacham is calling....
Zacham dari Zach Abraham, ingatkan aku nanti untuk mengimbuhi namanya dengan kata buaya.
"Ya, hallo Pak."
Ku ucapkan sapaan datar. Melirik jam ku untuk membandingkan pukul berapa di tempatnya.
"Aku bukan bapakmu."
Jawaban yang manis, sangkin manisnya bikin aku mengumpat dalam hati.
"Dimana kamu!"
Itu nanya apa ngebentak sih. Tapi aku menoleh ke sekitar memastikan posisiku. Ah begonya aku, tentu aku masih duduk sendiri di food court, batinku mendesah.
"Kenapa bapak? Ada yang bisa saya bantu?" Aku menekan emosiku yang mulai memuncak. Entah emosi untuk apa.
"Jangan bilang kamu lagi ngemall dengan baju mini di badanmu?" aku menoleh menelisik ke tubuhku. menscan apa yang pria ini katakan. Heran darimana dia bisa tahu, aku sedang nge-mall. Apa salah satu teman-temanku tadi melaporkan pada Zach? Mestinya iya. Tahu dari mana lagi coba?
"Hmm..." aku malas menimpali apapun selain tentang pekerjaan. Aku tidak lagi mau terlibat secara personal dengan orang ini. Tidak jika aku tak ingin mati muda. Belum apa-apa sudah bikin sakit kok. Sakit Mala rindu berakhir sakit hati.
"Bella." Zach terdengar menggeram
"Iya..." Aku berucap santai saja, toh dia jauh disana, tidak akan ada yang bisa dia lakukan.
"Apanya iya, Bella." Si Zachy mulai menaikkan nada suaranya.
"Saya baru pulang dari kantor pak, masih pakai baju kerja. Terima kasih bapak. Good evening." Tutup ku akhirnya. Aku sudah tak punya cukup kesabaran lagi mendengar kata-kata dari mulut judesnya.
Drrrttt....
"Ada apa lagi sih bapak?" Aku bicara tanpa melihat siapa memanggilnya, tapi aku yakin ini Zachy lagi. Dan nadaku tentu saja masih ogah-ogahan. Mulutku juga masih mengunyah ayam kremes dan kentang goreng yang ku pesan.
"Jangan bilang kamu cemburu, kamu marah?" betulkan, ini suara Zach lagi.
"Cemburu?" Aku sedikit bingung,
"Marah?" Makin bingung lagi aku.
"Cemburu pada siapa? Marah untuk apa?" Aku mulai melayangkan pertanyaan yang lebih mirip protes. Kalaupun aku suka dia, aku sama sekali tidak berhak marah. Aku masih realistis, cintaku enggak kayak Agnes Monica, yang tak ada logika.
"Aku yakin kamu paham." jawabnya dengan nada tenang tapi sok tahu.
Aku membuang nafas lelah.
"Bapak, saya nggak tau kenapa bapak berasumsi begitu. Paham atas apa yang bapak maksud, saya juga enggak peduli." Sebenarnya, aku anu sih, ihh gimana ya mengutarakannya. Intinya selama dia masih abu-abu, aku akan terus berpura-pura tidak mengerti. Gengsi tau.
"Kenapa kamu tudak pernah menghubungi ku?" Kalimatnya seperti mengambang ragu, menurutku.
"Karena bapak tidak menghubungi saya." Jawabku cuek.
"Aku mulai kehilangan kesabaran sama sikap kamu, Bella." Katanya menggeram marah.
"Ngomong apa sih, mas? Aku mau pulang mas, udah pingin istirahat aku, aku tutup yach." aku mulai bosan main bos asisten, kembali ke mode santai dengan manggil dia mas.
"Kenapa baru manggil aku mas, setelah emosiku udah di ubun-ubun?" katanya terdengar lelah juga tapi lebih lembut. Eh, hanya cuma karena panggilan?
Aku bingung harus jawab apa jadinya. Rasa rindu sama si bastrad Zach kok malah makin jadi ya?
"Kok malah diam kamu Bella?" suara Zach terdengar santai dan itu menyenangkan.
"Mhm, aku.... Itu... " Zach begitu sabar menunggu aku melanjutkan kalimatku.
"Aku.....capek, mau pulang." Jeda agak lama. Hening, tidak ada jawaban, kemudian terdengar suara pekikan kesal.
"Bella, aku kangen kamu."