+ Add to Library
+ Add to Library

C14 14

Aku mengabaikan hiruk pikuk restoran yang ku kunjungi kali ini. Menekuni jasmine tea yang terasa menenangkan otot-otot di tubuhku yang menegang, karena padatnya pekerjaan.

Baru saja Pak Salman berpamitan. Pria tua itu tak lagi ramah seperti awal-awal bekerja sama dengan ku. Selama ada kesempatan si bangkot tua itu selalu berusaha nyindir-nyindir soal kepergian Zach. Anak muda playboy mana tahan sama satu wanita saja, begitu dia memprovokasiku seperti dia cukup saja dengan satu istri. Ugh...

Nampak pria jepang yang pernah bekerja sama dengan bu Annisa. Pria ramah, tampan dan kaya raya serta lajang fenomenal mengangguk ramah menyapaku. Dari jarak yang tidak terlalu dekat, bisa ku pastikan pasangannya sekarang adalah seorang model yang baru naik daun. Gadis muda itu nampak malu-malu disamping Mr. Yoshinaga yang arah tatapannya terus kearahku. Jangan bilang pria 38 tahun itu lebih tertarik dengan itik buruk rupa sepertiku dari pada angsa putih dari istana emas di depannya.

Lihatlah, Ryu Yoshinaga berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahku.

"Bella...., kau sendirian?" Ryu menyalami dan mengecup jajaran jemari ini. Aish, gadis model itu terlihat kesal melihat kami.

"Ya begitulah, baru saja kolegaku undur diri." aku terkekeh sendiri. Ryu menatapku dengan cara yang tak bisa ku artikan.

"Bergabunglah denganku, Bella"

katanya tanpa beban, sedangkan pasangannya sudah terlihat tak sabar.

"Oh, maafkan aku." Ku pasang senyun penuh penyesalan.

"Sepertinya kali ini juga harus menolak." Aku melirik kearah gadis model itu dan Ryu Yoshinaga mengangguk paham akan maksudku.

"Sepertinya aku memang harus membuat janji khusus denganmu demi sebuah dinner menyenangkan," imbuhnya lagi. Kami sama-sama tergelak.

Hati ini membatin, dapat pria matang nan hot kayak dia, bukankah itu bagus. Selain masih ganteng dan sixpack juga, dia kaya. Plusnya lagi punya pasangan yang lebih dewasa itu jelas menguntungkan dari banyak sisi.

"Baiklah, tapi apakah anda tidak sedang dalam sebuah hubungan kan?" Tentu saja aku wajib menanyakan ini.

"Oh tentu saja tidak, dia hanya teman." Jawabnya, bahunya dia gerakkan keatas sebelum kembali tegap lagi.

"Its oke, mister." Baguslah kalau begitu. Tidak mungkin aku melepaskan kesempatan baik ini. Tidak masalah berhubungan dengan pria yang jauh lebih tua dariku. Apalagi kalau orang itu nampak perhatian sekali seperti yang di depanku ini.

"Kalau begitu kapan waktunya, My Bell?" Matanya menatap intens, sudut bibirnya tertarik ke satu sisi, Mister Ryu ini memang ganteng pakai banget. Membuatku tersipu karena sebutannya yang manis itu. Ah si mister, bisa aja bikin wajahku memerah.

"Besok atau lusa saya kosong, mister." Jawabku kalem, senyum natural tersungging di bibir ini.

"Deal besok, saya rela menunda yang lain demi kamu." Katanya masih memaku mataku dalam pandangannya yang dalam.

Dih, kok makin ser-seran saja aku ya mendengar pernyataannya ini.

Melirik perempuan muda itu, kasihan dia menunggu mister Yoshinaga dengan wajah tak sabar. Jadi aku berdiri untuk menganggukkan badan pada pria yang tingginya tidak sampai 180 itu, cara menyampaikan salam ala orang Jepang. Si Ryu pun paham, dia melakukan hal yang sama dan berlalu dari meja ini. Meski beberapa kali dia terus saja melempar tatapan mautnya kepadaku.

Ku pikir, ini tidak masalah. Wajar bukan kalau aku memiliki kedekatan dengan orang lain. Toh si Zach juga tidak menjanjikan apapun, walau sesungguhnya aku berharap. Aku menghela nafas. Pria brengsek itu, sukses menarik hatiku, ah sial.

***

Aku tengah berada dalam meeting dengan beberapa calon investor untuk usaha baru kami. Dalam layar ada Bu Annisa yang tampak sehat dan fresh hari ini. Si Bu bos yang selalu bersemangat seperti biasa itu sungguh memukau siapa saja walau hanya dapat bertatap muka melalui zoom saja, termasuk orang-orang yang aku undang dalam meeting ini. Semua berjalan lancar hingga sesi berakhir serta kesepakatan menguntungkan dua belah pihak tercapai. Satu persatu para kolega pamit untuk meninggalkan tempat.

Tertinggal beberapa karyawan termasuk Angel yang hendak membereskan ruang meeting. Langkah kaki yang mulia terasa familiar membuatku menoleh dalam kekagetan yang tak bisa ku tutupi dari wajahku.

Bagaimana tidak kaget, pria dengan sejuta pesona ~frasa lebay ini memang cocok menurutku~ ada disana. Tiga langkah dari tempatku duduk. Memandang penuh arogansi dan senyum miring kepadaku.

"Merindukan ku, Bella?"

O em ji, suara bariton yang menyebalkan itu tapi dengan sadar ku rindukan. Segera aku mengatupkan mulutku yang sejak tadi menganga karena shock. Bagaimana pria ini ada disini. Atau dia sudah ada disini sebelum aku selesai meeting, I dont know lah.

"Bapak, ada disini?! Mhm, maksudku kok bapak ada disini?!" aku bertanya gelagapan, kalimat yang gunakan sudah benar apa tidak sih. Secara si Zach ini mulutnya suka nyinyir.

Dia mengangkat sebelah alisnya, tangannya bersedekap, namun dia malah nampak begitu gagah.

"Kamu ingin ku cium ya?"

Aku mengerutkan alisku dan bergumam bingung atas pertanyaannya yang enggak banget.

Segera saja Zach menutup jarak diantara kami, terasa cepat diawal dan serasa melambat kemudian. Seperti gerakan slow motion pada adegan film yang sengaja diberi efek dramatis. Saat ia meraih tengkuk dan mencium tepat di bibirku. Tidak lama memang, tapi cukup membuatku linglung dan kehilangan kontrol atas tubuhku. Ah, aku terbuai.

Namun kesadaran segera menampar diriku, saat Zach melepaskan jangkauannya. Menggigit bibirku sendiri yang masih beraroma mint yang ditularkan Zach, praktis membuatku gelagapan. Sedangkan pria ini, dengan seenaknya duduk di depanku dan memanggil Angel yang terpaku menatap interaksi kami, untuk meminta kopi seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

"Kenapa kamu menciumku di tempat umum begini sih, mas?! Bikin malu aja." Eh, aku mengerjap menyadari kesalahanku. Kalimatku kok ambigu ya? Iih, alamat mulut soak Zachy bakalan protes ini.

"Jadi, kamu ingin ku cium di tempat yang lebih privasi, Hm?"

Tuh kan, ugh... Sebel. Aku menghentakkan kakiku kesal lalu kembali duduk. Beberapa orang karyawan dan office girl yang masih ada disini memandang shock kearah kami.

"Maksudku, ini di kantor mas. Jangan berbuat yang tabu begini ah. Lagian siapa sih yang minta cium, heran!" Aku bersungut-sungut, terus melanjutkan omelanku.

"Kalau lama nggak ketemu itu ya cukup cipika-cipiki aja, ngapain sih pakek cium-cium di bibir, malu kan!" Aku mengucapkan keluhan yang terakhir dalam sekali tarikan nafas.

Namun Zach malah terkekeh. Anehnya kekehannya bikin aku gemas. Haduch jantungku, butuh ke dokter nih kayaknya. Si pemicu penyakit jantungan ku usdah kembali.

"Sudah makan?" Zach bertanya saat Angel mendekati meja kami. aku menggeleng, bukankah dia tahu aku baru saja selesai meeting. Ku lirik pergelangan, pukul dua belas lebih dua puluh menit.

Setelah menyesap kopinya sedikit, dimana pergerakannya menjadi pemandangan yang sayang dilewatkan. Dia berdiri hanya untuk menarik diriku keluar ruangan. Tak lagi dia pedulikan orang lain, kedua netranya hanya menatap wajahku sepanjang kami berjalan menuju lift. Aku tidak tahu apa yang dia hanya, tapi laju darahku makin

Keluar dari loby, seseorang membukakan pintu mobil untuk kami. Aku belum pernah tahu ini mobil siapa, yang jelas bukan salah satu dari dua mobil yang terparkir di garasi rumah Bu Annisa.

Zach memesan dua makanan yang sama tanpa bertanya padaku, ketika kami telah duduk sebuah restoran Italia. Zach Abraham sekali, sangat otoriter.

"Lain kali kalau hanya berdua kamu manggil aku bapak, itu yang bakal aku lakuin sama bibir kamu." Katanya dengan senyum geli yang menghiasi wajahnya.

Oh pipi, tolong ya... jangan memerah sekarang, nanti si Zach jadi besar kepala. Jadi aku memalingkan mukaku ke segala arah. Eh kok ada mister Ryu Yoshinaga yang lagi melihat kearah sini sih? Matanya yang sipit memancarkan kilat ketidaksukaan. Aneh, bukankah kemarin saat kami bertemu, pria itu bersikap sangat ramah.

Tak perlu menunggu waktu lama, ponselku mendendangkan notifikasi chat. Pria hampir empat puluh tahun di meja ujung itu yang mengirimkan.

"Saya tidak ingin makan malam kita gagal nanti malam."

Begitu isinya, membuatku tanpa sadar menarik sudut bibir ke arah Ryu Yoshinaga yang sedang memandangku dengan cara yang membuat dada makin berdebar.

"Nggak usah senyam-senyum begitu. Ryu Yoshinaga bukan tandingan ku."

Aku melirik Zach kesal. Lagipula dia sendiri sudah punya gandengan. Untuk apa mengatakan itu padaku. Mencium diriku seenaknya pula. Bodohnya aku yang sempat pingsan secara harfiah malah seperti kerbau dicucuk hidungnya.

"Apa sih mas...." aku memberengut dan iris pria muka lempeng itu tak beralih dari mataku.

"Nggak usah caper sama pria Jepang itu, atau pria bau tanah yang tadi di meeting atau pria manapun di dunia ini selain aku." Ujarnya sinis. Maksudnya apa coba.

Zach sedang jealous sama aku kah?! Aku nggak salah denger kan barusan?! Menganga lagi mulutku mendengar serentetan kalimat panjang dari bibir kissable Zach, ups.

"Besok kita ke KUA, terus kita bisa chek in dimanapun kan?"

Zach mendahului keinginanku bertanya maksud omongannya barusan. Mengakatakan KUA dan chek in seperti tengah membicarakan snack penuh mecin yang akan dia beli di indomaret atau alfamaret. Enteng tanpa beban.

Aku mengalihkan pandangan tak menghiraukannya. Ini nih, kalau sama Zach, candaannya garing banget. Nggak lucu deh saat muka flat itu bermaksud bercanda.

"Aku serius, pingin chek in sama kamu." Lagi dia menegaskan kegilaannya. Hanya demi bisa menyesap maduku, dia hendak menikahi ku. Lalu setelah bosan apa dia juga nanti akan mendesak ku ke pengadilan agama? Kok dia brengsek banget ya?

"Please deh Mas, makan cepet nggak pakai mesum. Terus kita pulang. Aku capek mau pulang."

Siapa yang tidak gemas dengan Zach kalau begini. Dikiranya KUA itu taman bermain apa? Chek in sih gampang, kalau aku mau. Aku menyalurkan kekesalanku dengan menusuk-nusuk sosis keju ala Italia seolah itu Zach.

"Mulut kamu, sayang."

Astaga dia memanggilku sayang lagi. Dadaku kembali berdebar, ku akui aku memang labil. Sekali waktu kesal padanya tapi lain waktu justru menyimpan perasaan membucah untuk dia.

Zach menarik tissu dengan tak sabar lalu membersihkan mulutku. Ya ampun, sweet nggak sih. Jangan-jangan nanti aku kena diabetes sangking manisnya dia.

"Bella..."

"Hmm...." aku enggan mengangkat pandanganku demi menghindari tatapan si Zach yang tak kunjung beralih dari wajah ku.

"Bella..." kembali Zach menyebut namaku merdu. Tangan besarnya melingkupi jemariku yang berada diatas meja dengan erat. Aku beku, badanku jadi kaku, sedahsyat ini efek Zach bagiku. Aku memberanikan diri mengangkat wajah tomatku untuk memastikan ini bukan mimpi kan? Ini Zach kan, kok dia begini sih.

"Ikut aku ke Amerika ya, kita menikah disana."

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height