C15 15
"Kamu cantik sekali malam ini, Bella." Si Ryu mengecup punggung tanganku penuh penghormatan. Betapa aku tersanjung dengan perlakuannya yang manis. Pandangannya lurus hanya padaku, seolah baginya hanya diriku perempuan di dunia ini. Bagaimana aku bisa berpaling kalau diperlakukan istimewa begini.
"Thanks mister, anda juga sangat menawan." Pujiku balik pada Pria Jepang yang fasih berbahasa Indonesia ini.
"Nenek buyutku adalah orang Indonesia. Tapi sayangnya dia tak mewariskan mata berkelopak seperrimu padaku." Katanya terkekeh dengan suara yang berwibawa. Dia terus menatap tepat di mataku, membuatku tersipu-sipu.
"Benar, tapi anda tampak manis saat tersenyum. Sungguh mata sipit anda terlihat seperti kelip bintang." Aku mengerjap, menyadari pujian ku terlalu berlebihan. Sedikit menyesal melakukannya, tapi ku rasa aku tidak salah.
Ryu terkekeh, kemudian dengan gentle dia menarik kursi untuk aku duduk. Aku pun mengimbangi dirinya yang jauh lebih tua dariku dengan bersikap anggun. Walau sebenarnya tidak jadi masalah seandainya Ryu berniat serius. Umur bukanlah halangan seseorang untuk saling menyayangi dalam biduk pernikahan.
Ah, apa yang aku pikirkan? Belum tentu pula si Ryu ini memikirkan hal yang sama denganku. Meski menurut hemat ku, Ryu Yoshinaga bukan tipe pria yang suka membuang waktu apabila hanya untuk bermain-main saja. Bolehkah aku berpikir, Ryu memang berniat memiliki hubungan yang lebih jauh dan serius denganku?
"Bella, apa kabar bossmu? Apa kesehatannya membaik?"
"Syukurlah Anda benar mister, Bu Annisa dalam kondisi yang prima sekarang. Terimakasih." Ucapku formal.
Dengan mengangguk, tapi matanya mengonfirmasikan ketidaksetujuan yang aku tak tahu apa, andai dia tak bilang.
"Bella, bisakah kamu hanya memanggilku, Ryu saja? Aku akan sangat senang kalau kamu mau melakukannya." Ucapnya penuh pengharapan. Matanya yang dalam bagai telaga di tengah hutan, jernih dan menghanyutkan. Sungguh pria berumur sepertinya memang terlalu menggoda kaum hawa macam kami.
"Baiklah, kalau anda memaksa." Jawabku dengan aksen yang tak lagi terlalu serius. Namun aku tertawa kecil setelahnya, kondisi ini memang tidak menyenangkan apabila terus terjadi sepanjang makan malam yang menurutku sengaja si Ryu kondisikan romantis.
Private room dengan meja yang tertata apik dihiasi lilin dan dua gelas anggur merah. Jangan lupakan setangkai mawar dalam vas cantik di tengah meja, sungguh selera Ryu ini membuat jiwa jomblo ini meronta-ronta.
"Ryu..."
"Mhhm, sungguh manis sekali saat namaku keluar dari bibir manismu, Bella." Ujarnya dengan senyum yang senantiasa berkarisma. Kenapa tidak sejak dulu saja aku menerima ajakan dinner pria ini. Kenapa baru sekarang saat pikiranku dipenuhi Zach Abraham yang ternyata cukup brengsek.
"Ryu, jangan terlalu memuji. Takutnya nanti saya jadi tidak bisa tidur sampai terbawa mimpi." Aku pura-pura kesal, nun pada akhirnya aku menghadiahkan sebuah tawa kecil demi agar percakapan ini tidak canggung.
"Kamu memang layak mendapatkan seribu pujian. Tidak pernah ada yang membuatku begitu tertarik seperti saat melihatmu."
Katanya mengangkat gelasnya dan mengajakku yang memerah karena kalimatnya melakukan tos. Ku sambut inginnya dengan mengangkat gelas pula. Walau aku sedang tak ingin meminum cairan merah memabukkan itu.
"Bella, apakah tidak akan ada yang marah apabila kita melakukan dinner setiap malam?"
"Memangnya kenapa kita harus dinner tiap malam, Ryu?" Tanyaku berpura-pura tak paham kemana arah pembicaraannya.
"Walau kita memiliki perbedaan usia yang lumayan, ku rasa kamu telah paham maksudnya, My Bell." Katanya melempar kerlingan penuh madu.
Aku hanya tersenyum malu menanggapinya, pria dewasa sepertinya memang jago menaklukkan lawan jenis. Rona merah tak bisa ku cegah untuk menyebar di seluruh permukaan kulitku. Aih, pria tampan, mapan, dan perhatian adalah paket lengkap yang jarang sekali bisa kami para hawa dapat temui. Aku berharap punya banyak waktu agar hatiku bisa mengembangkan rasa untuknya. Bukan untuk pria yang sebelum aku berangkat kesini tadi terus melarang ku dengan posesif. Padahal dia tak memberiku status apapun untuk membenarkan tindakannya itu.
Perdebatan kecil tak bisa ku elakkan tatkala dia melarang ku pergi. Sedang aku bersikukuh bahwa malam ini aku memiliki janji temu dengan teman-temanku. Aku tidak mungkin mengatakan pada dirinya kalau aku akan makan malam dengan mister Ryu Yoshinaga di sebuah restoran hotel bintang lima di daerah Senopati ini, bukan?
Sementara aku masih ragu dengan jenis hubungan yang ditawarkan Zach padaku. Apalagi waktu itu aku melihat dengan jelas bagaimana seorang perempuan berambut pirang bergelanyut manja di lengannya saat melakukan video call. Wanita mana yang tidak berpikir seribu kali apabila pria yang disukai telah memiliki orang lain. Terselip pemikiran bahwa Zach hanya akan menjadikan aku tempat singgah saat dia di Indonesia. Ah, mana aku sudi.
Ajakan menikah itupun juga dia sampaikan seperti dia tengah membicarakan isu politik luar negeri. Serius tapi tak berkelanjutan, aaplagi nitanya hanya untuk bersenang-senang. Maka aku juga tak membiarkan diriku termakan bujuk rayunya. Menghipnotis diri sendiri bahwa pria brengsek macam Zach tidak akan pernah sungguh-sungguh serius, walau ciuman hangatnya membuatku sempat limbung tadi sebelum benar-benar keluar dari apartemen ku.
Mataku melotot, dan segera menormalkan ekspresi wajahku seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa, My Bell? Adakah yang mengganggumu?" Ryu akan menoleh menuju arah mataku melotot tadi, namun aku segera menumpangkan tanganku pada punggung tangannya untuk mencegah Ryu menemukan keberadaan si brengsek Zach yang ternyata mengikuti diriku.
"Tidak ada." Ucapku lembut sembari tersenyum kecil atas lirikan mata pria matang pada tangan ku yang bertumpu pada miliknya.
Private room ini menghadap ke jajaran meja yang ditata apik sebagai fasilitas out door restoran hotel mewah ini. Siapa sangka Zach justru duduk santai disana sembari melempar senyum smirk yang membuatku ingin memaki. Apa maksudnya coba?
"Bella, kamu belum menjawab, tidak adakah yang marah apabila aku mendekatimu lebih serius?"
"Aku menggeleng." Seharusnya tidak ada, pria yang berada di luar jendela itu hanya pengganggu, brengsek dan gila. Masak dia ingin menikahi diriku hanya demi bisa check in alias meniduri ku. Kalau tidak kurang ajar, bukankah dia gila?
Ponselku berdering, sekali pandang aku bisa membaca bahwa nama Zachy tertera di layar. Ku matikan panggilan secara sepihak, lalu dengan cepat ku ubah pengaturan ke dalam silent mode. Itu semua tidak luput dari pengawasan mata elang Ryu Yoshinaga.
Hingga makan malam romantis ini berakhir, kami berpisah di basemen. Pria gentle itu menginginkan aku meluangkan waktu lebih banyak untuk pertemuan-pertemuan berikutnya. Setelah kecupan di pipi yang terkesan intim, Ryu mengalungkan sebuah liontin bermata biru di leher ku sebagai tanda perpisahan malam itu. Membuatku makin yakin, Ryu menginginkan hubungan yang lebih.
Ku kendarai mobilku dengan hati berbunga-bunga menuju perpaduan, apartemen ku yang nyaman. Sesekali aku melirik pantulan leherku, cantik sekali. Ryu memang romantis. Mungkin pria matang dan dewasa seperti dirinya memang pandai memperlakukan wanita sebagaimana mestinya. Sikapnya yang lembut tapi berkharisma, pembawaannya yang tenang, ramah dan menyenangkan, sungguh membuatku kepincut.
Ciiit....!!
"Sialan, brengsek!!" Makiku karena terkejut bukan main akan aksi mobil...
It-itu Zach?
Aku mengetatkan rahangku. Zach Abraham berdiri tegap sesaat setelah keluar dari mobil mewah yang dia kendarai siang tadi. Langkahnya mantab menuju arahku. Dia buka pintu di sisiku, tapi tak sedikitpun ku beri akses. Hingga dengan raut kesal dia mengetuk jendela, aku mengalah. Ku buka pintu dengan malas hanya untuk mendapati dia memerintah ku dengan matanya yang berkilat kemarahan.
"Keluar, Bella. Masuk mobilku. Biarkan orang ku membawa mobilmu." Katanya kentara sekali bmenahan amarah yang nyata di matanya. Dia menatapku penuh kemarahan yang tak sedikitpun dia tutupi.
Apa salahku, sih? Aishh!!