+ Add to Library
+ Add to Library

C16 16

"Ikut aku ke Amerika ya, kita menikah disana" ku pandang dia seolah dirinya tengah mengigau.

"Bella...!!" Zach menjentikkan jarinya tepat di depan wajahku.

"kamu melamun atau sepertinya berhalusinasi." Wajahnya kaku, terlihat sekali bahwa kini dia sedang dalam naungan emosi yang aku tak tahu apa sebabnya.

Apa mendegus sebelum menjawab datar, "Apa?"

"Ayo menikah?" Zach menyeringai, senyum campuran antara ketidaksukaan dan ledekan.

Kami sudah berada dalam mobil. Supir Zach sudah membawa mobilku, sementara dia mengendarai mobil besar ini sendiri dengan aku disisinya.

"Bella, apa kamu sengaja memancing pria itu dengan pakaian kurang bahan ini?"

Aku menelisik penampilanku, hanya mini dress berlengan panjang berwana maroon. Beberapa manik-manik mirip Swarovski bertebaran di seluruh permukaan busanaku, memberi kesan glamor tapi elegan. Kerah Sabrina menambah sempurna tampilan leherku yang kini bertahtakan liontin berbandul biru. Ah, aku menyukainya. Selain cantik, ini pasti mahal. Sekilas aku tahu dari kotaknya, liontin ini milik Mikimoto. Produsen perhiasan asal Jepang yang berdiri sejak 1893 yang kini telah mendunia.

"Untuk?" aku mengerutkan Keningku bersamaan dengan gas mobil yang di injak agar melaju lebih kencang .

"Untuk meniduri dirimu mungkin." Ucapnya cuek, bibirnya mengerut dengan bahu yang mengendik tak peduli. Aku kembali mendengus, jadi dia menilaiku seperti aku ini perempuan gatel yang minta digarukin. Betapa luar biasa sekali penilaian pria berpendidikan tinggi sepertinya. Apa Amerika tidak pernah mengajarkan bahwa perempuan bukan media pemuas seksual semata?

"Stoopp!" Aku memang berteriak histeris lebay, berharap intonasi ku cukup jelas untuk dia dengar. Karena teriakan yang bercampur raungan itu terbukti berhasil membuatnya bereaksi.

Seketika Zach menginjak rem dalam-dalam hingga kami berhenti mendadak di tengah jalan. Tak menghiraukan mobil di belakang mungkin saja bisa menebrak kami. Aku benar-benar tersinggung dengan maksud pria songong ini. Sekali brengsek, selamanya memang brengsek.

Dadaku naik turun, ingin sekali ku hadiahkan timpukan hak runcing di wajahnya yang sayangnya tetap tampan seperti biasa.

"Ada apa Bella?" pertanyaan Zach penuh emosi terlihat dari caranya berbicara dengan mengatupkan gigi-giginya. Kemudian setelah dia sadar, dia kembali menjalankan mobil ini dengan laju yang bisa ku toleransi, dan memilih berhenti di pinggir trotoar tanpa palang dilarang parkir.

"Bapak, tolong hargai saya sebagai seseorang yang sangat menghormati ibu anda, yang juga perempuan." Zach belum paham maksudku ucapanku.

"Saya memang masih suka uang dan kemewahan, tapi mohon maaf Pak Zach Abraham yang terhormat, saya adalah pemilih. Kalaupun saya ingin ditiduri, maka saya akan memilih pria baik bertanggungjawab yang tentu saja bukan pria brengsek." Seperti kamu, imbuhku hanya dalam hati. Aku memejamkan mata, sekuat yang aku bisa menahan letupan emosi yang kian memuncak menatap Zach yang juga tengah dilanda kemarahan.

"Selamat malam dan terima kasih." Setelahnya aku keluar mobil ini dengan menahan air mata yang nyaris tumpah di hadapan si brengsek.

Taxi mana taxi, aku benar-benar butuh tumpangan sekarang. Langkahku sudah mulai jauh saat Zach meraih lenganku paksa dan setengah menyeretku untuk masuk kembali ke dalam mobilnya.

Ku lambaikan tangan pada taxi yang lewat. Sial saja, karena dua taxi malah hanya melewati diriku saja. Aku menghentakkan kakiku kesal. Memantrai diri, jangan marah Bella. Tahan emosimu, begitu yang terus ku rapalkan dalam hati.

Mobil merah yang tadi di kendarai supir Zach berhenti. Kebetulan sekali. Jadi tanpa pikir panjang, aku masuk ke sisi penumpang.

"Jalan."

"Tapi nona."

"Jalan, kataku!" Teriakku rendah tak ingin dibantah.

Aku menengadah, tak ingin air mata ku jatuh begitu saja hanya karena seorang Zach Abraham. Menyusut hidung yang memerah, aku tak bergasil berpura-pura baik-baik saja di depan orang asing, supir Zach yang belum ku kenal.

"Siapa namamu?"

"Tono, Nona?"

"Toni?"

"Tono, nona." Jawabnya yakin.

"Toni saja, lebih keren." Ucapku menghibur diri, semoga Toni Tono ini tidak marah, namanya ku pakia sebagai bahan candaan. Walau begitu air mataku justru meluruh.

"Baiklah Nona, silahkan panggil saya Toni. Tapi jangan menangis. Nanti bos marah."

"Bos busukmu itu, adalah bedebah. Masak dia menuduhku yang tidak-tidak." Dengan ucapan meniduri itu. Brengsek, kurang ajar!

"Maafkan dia nona, dia hanya terlalu menyukai nona." Kata Toni Tono penuh penghiburan.

"Sok tau!" Dia itu cuma setan horny sialan. Umpatku tiada henti. Aku benci dia, ku tarik rasa jatuh cinta ku semuanya. Pokoknya aku bakal menerima ajakan keseriusan Ryu Yoshinaga apabila pria itu memang menawarkan. Lihat saja! Batinku bermonolog.

Ketika aku telah sampai di baseman apartemen. Zach turun membukakan pintu untukku. Dia mirip kacung tampan, sayangnya wajah dengan aura gelap itu membuatku ingin menendangnya jauh-jauh.

"Saya mau pulang sendiri, pak. Jadi please menyingkir saja." Aku setengah berteriak tepat di depan mukanya. Tapi Zach tak menghiraukan protesku. Dengan hati yang retak serta sedikit tertohok, mendapati pria mempesona ini hanyalah pria mesum penganut freesex yang sayangnya dianugrahi wajah malaikat, aku membuang mataku dan berjalan menjauh setelah merebut kontak mobil dari Toni Tono.

"Ku antar." ucapnya singkat, padat dan jelas mengikuti langkahku. Aku memijit pangkal hidungku, lelah dengan betapa dodolnya dia yang keras kepala. Sudah tau aku muak, masih saja memaksa.

Tak ada pembicaraan lagi dalam perjalanan menuju unit ku berada. Hanya sunyi yang sesekali tertimpa cahaya lampu jalanan. Zach memamerkan wajah flatnya namun dimataku justru terlihat menakutkan. Aneh, seharusnya aku yang marah karena dengan terang-terangan dia telah menghina diriku dengan tuduhannya.

"Thanks." ucapku sebagai sopan santun saat aku hendak membuka pintu. Aku tak sudi menoleh pada wajah tampannya, tapi aku berharap dia mengerti bahwa aku telah mengusir dirinya.

Tak perlu menunggu lama aku memasuki unit ku, dan segera menutupnya. Tapi lagi-lagi pria ini mencegahku meninggalkan dirinya di luar dengan mendorong pintu kuat. Apalah tenagaku yang tak pernah sekalipun terasah olahraga.

"Apa lagi pak?" aku berucap lirih dengan halaan nafas yang kentara lelah. Dia mendorong pintu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memerangkap diriku tepat di pintu yang tertutup.

"Kamu menolakku Bella, oke. Aku tau, kamu karyawan ku. Tapi Bella, siapa yang tidak tau Jakarta?"

"Ya terus?" ucapku lagi, mataku memperhatikan matanya yang dilingkupi hasrat.

Penilaianku turun drastis akan pria yang tadinya ku pikir sangat pacarable. Oke aku menghargai pilihan hidup "bebas" seorang Zach Abraham yang tentu dikelilingi banyak wanita. Tapi dia sudah menyinggungku dengan ajakan tidurnya yang nggak banget. Dia pikir hidup ini hanya soal selangkangan?

"Kamu wanita pertama yang berani menolak ku, lalu lebih memilih pria Jepang itu padahal aku bisa memberimu lebih dari hanya sebuah liontin murahan.

"Banyak perempuan sepertiku disini!" aku menjawab penuh emosi.

"Cari yang lain yang sudi menuruti semua mau mu." Desisku.

"Aku tertarik padamu sejak awal, bukan hanya secara seksual, aku menyukai semua yang ada di dirimu. Dan aku cemburu, kamu lebih memilih orang lain dari pada aku yang jelas-jelas ada di dekat mu." ucapnya cepat takut aku memotong.

Oke, kalimat terakhir Zach mampu membungkam mulutku.

"Mas, tolong jangan permainkan aku. Kamu sudah jelas punya banyak perempuan. Aku tidak mau jadi sekedar koleksi untukmu." Ucapku diantara nafas kami yang saling beradu. Posisi ini terlalu dekat, tapi aku sudah tidak dapat menghindari dirinya lagi.

"Kenapa?" Katanya.

Sedikit malu aku mengakui ini,

"Mamaku ingin aku segera menikah, mas. Dan aku butuh pria serius, yang tidak hanya membual apalagi omong kosong." Aku mau menikah sekali seumur hidup seperti mama dan papaku, yang hanya dipisahkan kematian.

"Bella!" Geramnya membuatku tak mengerti.

"Bukannya aku sudah mengajakmu menikah." Lanjutnya dengan menahan kesabaran. Sumpah aku tidak paham, apa yang aku perbuat hingga membuatnya tak sabar sekali menghadapi diriku.

"Tapi ajakan mu hanya sebatas kamu ingin meniduri ku mas! Nanti kalau kamu sudah bosan, apa kamu akan mengajakku berpisah begitu saja?" Ku katakan penilaian ku padanya yang mematri tatapanku lurus dan tajam.

"Kamu memang perlu diberi pelajaran." Katanya mendesis sebelum menyatukan bibirnya dengan bibirku penuh hasrat.

Ahh, bibirnya memang manis dan memabukkan. Kalau aku ketagihan bagaimana?

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height