C17 17
"Ngapain ikutin aku, Mas!" Aku melirik pada pria yang memiliki bahu lebar dan kokoh itu. Tingginya yang menjulang membuatku merasa terlindungi dari terpaan silau lampu, tapi sayang sikapnya yang seakan memberi harapan palsu membuat emosiku naik turun.
"Aku nggak ngikutin kamu." Katanya dengan raut yang jauh berbeda seperti yang dia perlihatkan di mobil tadi. Nada yang dia pergunakan juga jauh lebih tenang walau datar. Apa dia memiliki kepribadian ganda, secepat itu dia berubah.
Sungguh aku belum paham, dengan caranya berpikir. Menurutnya, menikah hanya jalan mendapatkan seks tanpa bayar. Ya emang benar, tapi ya ampun...
Menikah itu menyatukan dua pribadi dengan segala tetek bengeknya. Ada keluarga, pekerjaan, dan tentu saja harus melibatkan cinta, serta bagiku harus selamanya. Dia pikir menikah itu mirip keanggotaan club. Sudah bosan tinggal out. Dasar playboy! Aku terus menggerutu dalam hati. Mana tadi ciumannya hot, pula. duh aku kan jadi terbayang-bayang.
Aku berjalan menuju tangga darurat dengan kaki menghentak tak sabar, alih-alih menggunakan lift. Lantai delapan unit ku berada, jelas lumayan untuk berkeringat. Berharap nanti saat aku lelah, aku akan melupakan si pria brengsek yang menyangkal mengikuti ku itu, tapi diam-diam justru sudah ku berikan hati.
Ku lepas high heels dua belas senti di kaki. Aku ingat, Bu Annisa membeli dua pasang. Gold untuknya, dan silver ini untukku. Sudah ku bilang bukan, Bu Annisa itu royal untuk hal-hal penampilan. Lihatlah, berkat pengaruhnya pada hidupku beberapa tahun belakangan, aku kini menjelma jadi wanita penyuka keindahan tapi menyakitkan seperti high heels ini.
Lagi-lagi ku lirik Zachy yang menatapku bertanya tapi karena dia sudah bilang tidak mengikuti, maka bibirnya tetap terlipat rapi. Aku berjalan dengan darah yang mendidih, amarah sudah terisi penuh di kepala, ku lampiaskan dengan meniti anak tangga yang baru masih mendekati lantai dua sudah membuatku capek. Tapi aku sudah bertekad, maka ku bawa kakiku terus menapak. Bagus sekali kalau aku kepayahan setelah sampai di apartemen, lalu aku akan tertidur pulas dan melupakan si brengsek ini. Salahku sendiri, jatuh cinta tidak lihat-lihat dulu, dia brengsek atau tidak. mesum atau tidak, otak udang apa otak selangkangan, argghh!!
"Bella, ayo naik lift saja." Katanya tanpa jejak apapun yang bisa ku temukan di wajahnya yang biasa-biasa saja. Maksudku, benar-benar tidak ada jejak emosi disana.
Aku diam tak merespon, siapa suruh ngikut. Batinku kesal, meski aku ngos-ngosan. Ini masih menuju lantai tiga, masih banyak anak tangga yang menunggu untuk didaki. Ah aku harus sanggup, sekalian remuk deh.
"Bella... Ayo, kita berhenti, ini lantai tiga. Ayo pindah ke lift saja." Aku iri pada stamina pria itu yang tidak terlihat capek sama sekali.
Aku mendengus padanya, mukaku masih masam. Walau begitu, aku terus mengingkari diri bahwa sebenarnya aku sudah capek. "Sono, naik lift sendiri. Ngapa ngikutin aku." Ku rasakan sesuatu yang basah menentes di punggung. Ini namanya olah raga walau kaki pegel juga.
"Bella... Maafkan aku." Katanya menarik sepatuku untuk dia bawakan, tapi aku merebutnya lagi persis seperti anak kecil yang merajuk. Mau bagaimana lagi, aku terlalukesal padanya. Setelah menggoda perasaanku, lalu menunjukkan bahwa dia punya pacar di Amrik sono, enak saja mengganggu kencanku. Belum lagi caranya menilaiku yang seakan aku ini penggila selangkangan, sama seperti dirinya.
"Maaf untuk apa?" memincingkan mata padanya sekilas, lalu ku lempar tatapanku kembali ke jajaran anak tangga yang sepertinya efektif menguras tenaga.
"Udah tinggalin aku, bilang nggak ngikut tapi apa ini, bagaimana hidupku bisa tenang kalau terus begini.... bla... bla... bla...." aku mengomel sembari mengurasi volume suaraku setelah pertanyaan tentang maaf itu.
"Sayang, dengarkan aku. Perempuan yang kemarin di video call itu hanya sepupuku., kalau kamu marah karena itu. Sikapmu uring-uringan terus semenjak video call itu."
"Ih, amit-amit. Sepupu udah macam selotip, lengket." ini ku katakan dalam mode mengomel juga, lirih saja, seharusnya Zach tak mendengar. "Bukan urusanku." nah yang ini ku ucapkan keras-keras, sedikit intonasi bernada gerutuan yang masih kental.
"Aku tahu kamu cemburu, aku juga cemburu kamu malah jalan dengan Yoshinaga."
"Aku nggak cemburu. Geer!" tampikku. Apakah sejelas itu emosiku, ya? Ku gigit bibir, melirik padanya yang justru tersenyum menyebalkan.
"Kamu cemburu Bella, wajahmu itu seperti lembaran buku, mudah dibaca."
"Kata siapa? Aku ini pandai menyimpan ekspresi, ajaran Bu Anisa. Walau aku cemburu sekalipun, tidak sudi aku menunjukkan padamu."
Hah? Aku melotot, atas pengakuanku yang mirip perempuan bodoh karena tidak segaja jujur. Ku pejamkan mata, merutuki kebodohan yang baru saja ku lakukan. Ku lirik dia yang lagi-lagi tersenyum di satu sudut bibirnya. Oh, sial! Dia pasti memandangku sebagai perempuan labil. tidak mau dikelonin, tapi minta distatusin. Aih!
"Maafkan aku sayang...! Aku janji tidak akan membuatmu cemburu dan ngambek begini lagi." Mencebik tak terima, aku melotot padanya. tapi rupanya dia masih melanjutkan penjelasannya.
"Dia hanya sepupuku, kami tumbuh dewasa bersama, kapan-kapan andai punya kesempatan akan ku kenalkan padanya, ya." ucapnya meraih tanganku untuk dia genggam.
Masak iya? kok aku nggak percaya. Dia menatapmu manja penuh cinta, sementara saat melihat wajahku, dia menampakkan permusuhan yang nyata. Terserahlah, aku lelah. Ini masih lantai empat, kurang separuh perjalanan lagi. Dadaku kembang kempis, anehnya setelah pengakuan Zach tadi perasaanku menjadi ringan dan mood ku membaik.
"Sudahlah, Mas. Lagi pula kita bukan siapa-siapa." aku hendak melanjutkan meniti anak tangga saat dia menahanku
"Ayo kita naik lift, kamu sudah sangat basah." tatapannya menjadi panas dari dahiku, turun ke bibir lalu, memindai leherku lama sebelum turun ke seluruh tubuh hingga memandangi kakiku. Memang banyak yang bilang, aku memiliki kaki jenjang yang seksi.
"Maksudmu mas?" Aku tak terima dengan tatapan penuh hasrat itu. Dia memang bajingan. Aku mendesah kecewa, pria setampan dirinya justru harus ku jauhi. Harus segera ku matikan bara cinta yang tumbuh tanpa permisi ini.
"Kamu berkeringat, sayang." Tuh kan, dia ngomongnya suka menjurus. "Lihatlah." Zach mengusap peluh di dahi dengan punggung tangannya.
Aish!! Basah karena keringat, oh tentu saja! Bodohnya aku berpikiran yang tidak-tidak. Marah memang menguras emosi. Jadi disini otakku yang konslet.
"Naik lift, ya?" ajaknya lembut menggunakan nada tanya.
Dan keputusanku menerbitkan senyum geli di bibir pria itu, karena akhirnya ku berbelok menuju pintu penghubung tanggab darurat denagn lift.
"Ayo." Zach menjajari langkahku, menggandeng tangan ini menuju lift lantai empat.
"Bella, lain kali jangan ngambekan ya... kasian orang kantor saat moodmu buruk." Aku masih tak tersenyum. bingung bagaimana bereaksi yang benar. Aku marah padanya yang brengsek karena hendak menjadikan aku objek mesumnya, tapi aku juga bingung bersikap. Pasalnya dia masih anak bossku.
Ngomong-ngomong dari mana dia tau, akhir-akhir ini aku suka bad mood. Apalagi saat melihat pekerjaan mereka tidak beres. Pantas kadang Bu Anisa sampai darah tinggi. Kini saat aku di posisinya, aku jadi paham bahwa tidak mudah jadi pimpinan. Tiodak yakin aku sanggup untuk terus menggantikan Bu Anisa.
"Angel mengeluh, dia bilang kamu makin jutek." Ucap Zach masih dengan senyum kecilnya.
"Angel? Jadi dia jadi tukang ngadu?" Sinisku. Dalam hati memaki, Angel sialan!
"Kamu sering banget susah dihubungi, sayang. Jadi aku meminta Angel berbagi kabarmu."
"Ih, stalker!" Aku mendengus, untuk apa dia perlu tau kabarku. apa dia pikir aku bakal korupsi duit ibunya.
"Jadi pacar, jangan tebar pesona sembarangan lagi ya?" Katanya menggoyang tanganku.
"Aku nggak tebar pesona sembarangan, ya." Kalau itu yang dimaksud adalah Ryu Yoshinaga, dia bukan pria sembarangan. Dia pria berkelas, matang, berkharisma, dan banyak duit.
"Sebentar, Mas. Kita tidak lagi jadi pacar. Itu sudah berakhir. Karena kita hanya pura-pura waktu itu, kan?" Kenapa pula sikap kami jadi aneh begini, saat jauh saling ingin tahu kabar. Tapi dekat dia terus saja membuatku kesal. Sebenarnya aku memancing sih mengatakan ini. Padahal aku sedang meminta ketegasan padanya.
Dia menarik bibirnya ke satu sudut, sebelum membuatku keki dengan ucapannya.
"Jadi Bella, karena itu kamu marah-marah tak jelas padaku sepanjang hari?"
"Ih, ngarang. enggak ya...!" Aku ingin melepas genggamannya yang sayangnya ku akui itu membuatku nyaman.
"Sayang, kamu memang pacarku. Aku tidak bilang mengajakmu pacaran hanya semalam. Lagipula sudah wajar bukan kalau kekasihku ini cemburu melihat kedekatanku dengan perempuan lain, meskipun dia hanya sepupu." Dia menyampirkan anak rambutku ke balik telinga, menatap dengan cara yang hangat menyebabkan dadaku auto berdendang tak tau diri, meyakinkan sekali lagi hubungannya dengan wanita dalam video call.
"Aku tidak punya pacar mesum yang hanya menilai seseorang dengan lipatan paha." Kembali ingatan ini membawaku pada beberapa menit lalu, bagaimana pria itu malah mengajak chek in.
"Baiklah, maafkan aku lagi. Aku akan menahan diri demi dirimu, tapi tawaranku untuk menikah itu tetap berlaku, Bella." Katanya sesaat setelah pintu lift terbuka. Aku yang sudah lelah tak memperhatikan siapa yang ada didepan pintu lift saat sebuah suara familiar membuatku hampir mati berdiri.
"Aku juga menginginkan kamu jadi ratu satu-satunya di rumahku, My Bell. Ku harap kamu memikirkan dengan baik sebelum memutuskan."
Aku terperangah, mulutku menganga dengan tangan menutupnya. Bagaimana bisa dia ada disini, ya tuhan....!