+ Add to Library
+ Add to Library

C20 20

"My Bell, kamu satu-satunya wanita yang ku bawa masuk kesini. Aku berharap kamu benar-benar mempertimbangkan aku."

Aku tertegun karena penuturannya. Memandang pada pria yang menatapku penuh pemujaan itu, aku merona. Menyelami matanya yang tajam dan dalam. My God, mimpi apa aku bertemu pria seperti dirinya. Ku gigit bibir bagian dalam, menahan gejolak yang tiba-tiba membuat perutku serasa digelitik.

Aku ingin bergerak membebaskan diriku dari kungkungan si pria Jepang. Tapi rupanya dia menyadari gestur tak nyaman tubuhku. Maka sebelum membawa tubuhnya menjauh, jemari kokohnya merapikan anak liontin hadiah darinya.

Aku tahu pria itu merasa puas bahwa aku mengenakan liontin itu. Padahal aku tetap mengenakannya bukan hanya karena liontin itu cantik dan mahal, aku juga ingin tahu seberapa terganggunya si Zach dengan aku terus memperlihatkan penerimaanku pada Ryu.

"Liontin ini makin cantik di lehermu."

Pujinya membuatku makin tersipu, Ryu sungguh manis sekali.

"Ayo masuk, ada yang menungguku."

Kalau begitu, apa benar ini rumah orangtuanya?

"Ini bukan rumahku, tepatnya rumah nenekku." Ujarnya seolah menjawab apa yang terlintas di kepalaku.

Rumah neneknya secanggih ini, apa kabar rumah Ryu sendiri.

"Tapi Bella, aku minta setelah kamu masuk ke dalam, jangan pernah sedikitpun merubah pandanganmu padaku." Katanya misterius.

Oh, bukanlah aku memang tidak pernah tau latar belakang sesungguhnya si Ryu ini. Aku hanya tahu Bu Anisa terlalu menginginkan pria itu untuk mendesain keindahan dan teknologi dalam sebuah proyek bangunan yang nantinya akan sangat potensial dipasarkan pada orang-orang berduit.

Ryu menarik tanganku untuk dia genggam menuju pintu utama. Ada gelanyar aneh yang mirip saat Zach melakukannya. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari seharusnya. Aku sangat yakin ini bukan karena aku lapar. Aku memang mudah terpesona dan jatuh cinta.

"Ryu, unik sekali bangunan ini ya?"

"Ini desainku sendiri, My Bell." Simpulnya, tetap memanggilku my bell.

Secara bahasa my bell artinya bell-ku. Tapi saat keluar dari mulutnya itu terdengar seperti 'my belle' yang artinya cantikku. Bagaimana aku tidak tersanjung, my God, Zachy mah lewat.

"Papa..."

Papa? Gadis kecil mirip artis Yuki Kato itu memanggil papa pada Ryu Yoshinaga?

Aku shock tentu saja. Apa Ryu ini sebenarnya seorang duda?

Sebisa aku menjaga rautku agar tetap normal. Tak ingin menyimpulkan apapun sebelum Ryu mengatakan apapun.

"Hai my belle... Apakah merindukan papa?"

Bahkan dia juga memanggil gadis kecil itu 'my belle'. Gadis kecil berambut panjang itu memang cantik dan imut dengan pipi bulat dan mata bening berwarna hitam. Dia tidak mirip anak Jepang kebanyakan.

Ryu menciumi pipi gadis itu sebelum memanggulnya di bahu, membuat si kecil itu tertawa hingga matanya hanya seukuran kacang merah. Ryua yang lupa sesaat padaku tiba-tiba berbalik, seolah dia tahu aku dan bayi mungil itu saling memandang ingin tahu, Ryu mendekat padaku.

"Apakah ini mama untukku yang papa bilang waktu itu?"

Mama? Apa itu maksudnya aku?

Berkedip-kedip bingung menafsirkan perbincangan singkat mereka berdua. Ini terlalu aneh mendapati bahwa ku pikir Ryu hanyalah seorang pria single penuh pesona yang potensial dijadikan suami. Tak tahunya ternyata dia sudah punya buntut seorang gadis imut.

"My Belle..." Mata sedalam lautan milik Ryu menatapku cemerlang, tidak ada raut tak enak apalagi bersalah di wajahnya yang tetap tampan walau tengah digelandoti bayi perempuan itu.

"Papa juga memanggilnya my Belle seperti aku?"

"Kalian berdua memang cantik-cantiknya papa." Tuturnya menatapku lurus setelah menatap putrinya sambil lalu.

Ya ampun lagi-lagi aku dibuat melayang oleh Ryu Yoshinaga ini.

"Ryu dia putrimu? Siapa namamu baby?"

Baby? Kenapa itu mengingatkan panggilan si Zach padaku. Aishhh!

Aku berdehem sebelum bertanya dengan nada lembut profesional, tak mau memperlihatkan kekagetan soal ini. Bu Anisa bilang, Ryu ini high quality single, siapa sangka sebetulnya dia adalah hot Dady, atau justru hot duda?

"Aku Nara Yoshinaga, nama mama siapa?" Katanya ingin tahu. Tersirat dari tatapannya yang tak beranjak dariku sejak awal menemukan aku.

Aku menelan ludah kasar, mengantisipasi agar tak terbatuk. Pasalnya tiba-tiba ludahku masuk ke dalam tenggorokan.

"Dia putriku, my Belle. Dan sepertinya dia menyukai memanggilmu mama?"

Kalau aku dengan bapaknya, apa aku bisa jadi ibu tiri yang disukai? Aih, mikirku kejauhan, padahal aku tak pernah membayangkan sedikitpun ada dalam situasi seperti ini. Sumpah ya, aku tidak terlalu bisa bersahabat dengan anak kecil. Walau begitu ku tarik senyum tulus, demi tidak jadi canggung.

"Tidak masalah, Nara-chan. Berapa umurmu?" Aku berusaha mengakrabkan diri dengan panggilan itu.

Namun mataku melotot tak percaya, ketika anak kecil yang baru saja diturunkan papanya itu tiba-tiba memeluk pahaku erat. Matanya yang lebar menatapku tertarik.

"Mama wangi seperti eskrim vanili dan stoberi."

Sudah ku katakan sejak awal, aku dan Ryu ini baru saja dekat secara personal, pertama aku merasakan canggung karena belum terlalu mengenal Ryu. Kedua canggung ini karena ada seorang anak yang memanggilku mama.

"Padahal aku ada di kantor seharian ini, belum mandi..."

Ku beranikan diri membelai rambut halus nan hitam milik bayi mungil itu. Rasanya sehalus sutra, anehnya itu menghadirkan sesuatu yang menyenangkan di dadaku. Ah, aku menyukai anak ini.

"Apa Nara-chan sudah mandi?"

"Sudah."

"Good girl." Pujiku, anehnya gadis cilik itu tiba-tiba menangis histeris.

Aku menatap bertanya pada Ryu yang mengendik tak paham. Tapi dalam tangisnya, Nara mengaku kenapa jadi menangis.

"Mamaku memang secantik di mimpiku, sekarang aku bisa bilang pada teman-temanku kalau aku juga punya mama. Terima kasih papa sudah membawa mama pulang."

Astaga kasian sekali gadis ini, melahirkan rasa tak tega di hati hingga aku membawanya ke dalam gendongan. Gadis itu memeluk leherku erat, seperti tak ingin lepas lagi.

"Mama, jangan tinggalkan aku lagi." Tangisnya makin menjadi. Ku usap punggungnya menenangkan. Entah berapa umurnya, tapi tubuh ringkih dan caranya bicara yang sudah tidak cadel lagi membuatku menerka, mungkin dia sudah empat atau lima tahun.

Apakah dia seorang piatu? Atau hasil broken home? Auto mata mengarah pada Ryu yang senyumnya telah sirna.

"Nara-chan... Ryu-sama?"

Kami menoleh pada sumber suara. Seorang wanita dengan gaun sederhana namun elegan berdiri diantara dua kusen pintu geser khas Jepang. Setelah enatapku penuh penilaian, wanita itu membungkuk tak kalah rendah pada Ryu. Aku tidak bisa menyimpulkan apa yang wanita setengah baya itu pikirkan padaku yang tengah menenangkan Nara. Tapi aku bisa merasakan hawa dingin yang menguat di tatapannya.

Apa ini ibunya Ryu? Tapi dia memanggil -sama pada akhiran nama Ryu? Dan memberi penghormatan sedemikian rupa? Aih, aku tidak paham budaya Jepang. Keluhku dalam hati.

"Obasan"

Ryu membungkuk hormat ala orang Jepang, sementara aku yang tak biasa menggendong seorang anak ini berusaha membungkuk juga walau tak serendah seharusnya.

"Apa pada akhirnya anda sudah menjatuhkan pilihan, Ryu-sama?" Pungkasnya dingin.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height