C36 36
Naik pesawat komersil 4 jam setelah aku keluar dari penthahouse Bu Anisa, sesuai dengan jadwal penerbangan tercepat yang bisa aku temukan. Walau menunggu lama, itu terasa lebih baik daripada harus berdiam diri saja menerima penghinaan dari keluarga itu. Dari Jakarta aku langsung menuju Bandung, ke rumah mama. Mama menyambut dengan suka cita saat ku katakan bahwa aku akan menetap di Bandung mulai hari ini.
Sudah pukul 20 lewat 30 menit ketika aku menginjakkan kaki di kamar masa kecil ku dulu. Banyak kenangan yang tertinggal di kamar ini. Foto-foto dengan teman sebaya menghiasi dinding kamar. Memori usang yang saat dikenang begini menerbitkan senyum. Besok aku akan menghubungi mereka, semoga nomor kontak mereka bisa dihubungi. Aku juga perlu mencari relasi, barangkali Bandung masih memberi ku rezeki.
Setelah mandi, ku periksa ponsel ku. Sepi, tidak ada notifikasi apapun, bahkan walau itu hanya media sosial. Aih, seolah dunia sengaja bersekongkol meninggalkan aku.
'Move on Bella, buka lembaran baru, lupakan hinaan-hinaan itu', begitu aku menyugesti diri berharap malam ini tidur nyeyak tanpa ada tangis. Sayangnya, kantuk tak kunjung menyapa.
'Jangan mimpi ketinggian jadi orang ya, inget dimana tempat mu. Kamu cuma asisten, masak aku dapat mantu asisten sih? Kamu tidak sepadan dengan Zach. Putraku layak mendapatkan yang lebih baik. Coba banyangkan kalau aku di posisi kamu, apa kata orang?'
Suara Bu Anisa tadi pagi kembali terngiang, betapa itu menyayat hati dan nyerinya sampai ke tulang. Mungkin orang lain bisa melakukan itu padaku, setidaknya Bu Anisa yang sudah memiliki kedekatan emosional dengan ku tak perlu mengutarakan sejelas itu. Toh aku tau dengan baik siapa diriku. Hanya bunga bangkai yang beruntung bertemu dengan bos baik macam dirinya.
Menghela nafas panjang, aku merasa lega walau pahit. Ku geser tubuh ini mencari posisi nyaman yang mungkin bisa membawa ku ke alam mimpi. Bertekad esok hari tak akan lagi mengingat hari ini.
***
"Masak apa Ma?" Aku keluar dari kamar lalu berbelok menuju dapur, di mana ada mama yang di temani bibi. Bibi ini adalah wanita yang sedikit lebih tua dari mama, ku pekerjakan untuk bantu-bantu mama sekaligus menemani mama. Maklum mama hanya punya aku sebagai anak.
"Orang Jakarta udah bangun? tumben pagi. Biasanya kalau libur suka malas bangun." Kalimat sapaan mama itu terdengar bagai sindiran mematikan untukku. Itu bisa diartikan, jarang pulang ke rumah, gaya hidup suka-suka, pemalas, lupa kodrat. Itu lah mama ku, walau galak tapi aku sayang sekali padanya.
"Eh, apa itu? Kenapa senyum kamu enggak ikhlas begitu?" Belum ku jawab, mama sudah menyodorkan pertanyaan baru. "Kamu habis nangis ya, itu mata kamu udah seperti kena sengat tawon, Bella." Mama mengerutkan kening. Sementara aku berekspresi polos, sembari menguap sebab sisa kantuk yang masih ku rasa maklum, aku tertidur setelah suara ayam berkokok.
Aku memutar bola mata, meski diam-diam bahagia akhirnya aku bisa kembali berkumpul dengan mama. "Mana dulu nih yang Bella jawab?"
"Udah kagak penting, eh Bell. Kamu tahu nggak~"
"Nggak tahu," ku potong kalimat mama, ku teguk teh hangat dalam gelas yang sepertinya sudah disiapkan mama sejak pagi tadi. Terbukti dari suhunya yang sudah turun.
Mama melempar ku dengan tangkai sayur sebagai bentuk ketidaksopananku itu. "Tetangga depan itu ada cowok nganggur, denger-denger dari mamanya, dia baru putus Bell. Sana kamu bawa ini ke rumahnya, jangan lupa kenalan kali aja jodoh."
"Ih, ma ngapain sih, ma. Ogah ah."
"Kok ngapain, kamu musti cari jodoh Bell. Tahun depan 30 tahun, perawan tua kata orang. Sana! Jangan lupa cookwerenya bawa pulang. Mehong itu." Mama mendorong dua susun kotak makanan merk langganan ibu-ibu ke dada ku.
Mau tak mau aku mengambilnya dan keluar rumah menuju arah rumah yang ditunjuk mama. Sampai di teras aku meragu, "eh ma, bener rumah depan ini? Rumahnya Tante Mayang bukan?" Aku berteriak dengan melongokkan kepala ke arah dapur. Pintu dapur memang ada di samping kanan pintu utama, lurus dengan kolam mini yang baru-baru ini mama buat untuk mempercantik taman mini di rumah.
"Iya!" Balas mama berteriak juga. Ah, dasar mama. Aku ikuti saja apa maunya. Penasaran juga dokternya cakep mirip di novel-novel itu atau real dokter dengan berbagai karakter wajah maupun sikap yang aneh atau unik.
"Assalamualaikum, selamat pagi...." tidak ada jawaban. Mungkin suara ku kurang keras.
"Assalamualaikum, tante Mayang..." masih tidak ada jawaban. Pulang saja kali deh, malas juga sih sebenarnya. Ah, mama, ada-ada aja. Baru saja aku membalik badan ku, seorang pria keluar dari pintu belakang yang terhubung ke garasi. Aku terpana, cakep banget ini orang. Makin mendekat sosoknya yang tinggi makin jelas terlihat. Aku melongo, mengingat wajah itu. Bukankah ini si gendut Vivin, teman SD ku dulu?
"Waalaikum salam. Nyari siapa?" Katanya datar, dingin, cuek, dan tidak ramah. Aku mengerutkan bibir, apa si Mamat ini lupa padaku? Bisa saja sih, mengingat lebih 20 tahun tidak bertemu.
"Tante Mayang" aku juga ikutan bersikap datar.
"Masuk." Katanya melirik ku sambil lalu. Kemudian pria itu masuk dalam mobilnya tanpa menutup pintu, memanasi mobil tersebut.
"Assalamualaikum, tante Mayang..."
"Eh, Bella ya?" Tante Mayang menyambut ku antusias. Matanya meneliti penampilan bangun tidur ku yang hanya mengenakan kaos santai dan leging panjang.
"Iya, Tan..."
"Duh lama banget enggak ketemu, kapan ya terakhir ketemu ya, makin cantik? Gimana udah punya pacar belum?" Tante Mayang ini tipe wanita yang sangat ramah dan supel. Aku ingat mama sering sekali menyebut nama tante Mayang saat bercerita apapun di telpon. Tentangga soulmate lah mereka berdua ini.
"Ehee, baru putus Tan." Aku meringis, entah mengapa kalimat kejujuran tersebut keluar dari mulutku, akhirnya aku menyesal seketika.
Lihat saja mata tante Mayang yang berbinar, tangannya menarik ku duduk di meja makan mini di dapur bersih ini. Aku memang masuk melalui pintu belakang baru saja. Makanan dalam cookwere ku letak kan di atas meja tanpa mendapat perhatian dari si tuan rumah.
"Eh, kebetulan. Kamu udah ketemu Melvin di depan kan? Dia juga baru putus sama pacar perawatnya itu. Bentar ya, Tante panggil itu anak." Katanya tanpa memberi ku kesempatan menanggapi.
"Melvin....!! Sini! Ini ada temen SD kamu, Vin...!" Betul nama pria tadi adalah Melvin, kami dulu memanggilnya Vivin dan selalu sukses membuat pria itu ngambek.
"Nggak usah teriak kenapa ma." Si Vivin mendekat tatapannya tak sekalipun padaku.
"Ini Bella, dia temen SD kamu." Tante Mayang, menarik putranya, dan memaksanya duduk di kursi terdekat dengan ku dengan mendorong tubuhnya lalu menarik tangannya paksa.
"Aku tahu." Ha, dia tahu tapi pura-pura tidak mengenal ku? Dasar.
"Sapa dong, ajak ngobrol. Duduk sini, mama siapkan sarapan." Tante Mayang beranjak menuju rak piring.
"Hehe maaf Tan, aku mau pamit. Mama pasti udah nunggu." Aku sudah mengangkat tulang ekor ku saat Tante Mayang mencegah ku dengan kalimatnya yang membuat keanehan sikap mama tadi terjawab.
"Mama mu udah ke sini. Itu dia, kita sarapan bareng ya, anak-anak" Tante Mayang terkikik saat menyambut mama ku yang sebentar saja langkahnya sudah memasuki dapur tante Mayang. Aku menatap mama penuh tanya? Ini persengkokolan terlaknat yang melibatkan mama dan tante Mayang. Jangan bilang, pria yang dulu akan dijodohkan dengan ku adalah si Melvin alias Vivin ini.
"Teh Ima, aku udah masak makanan kesukaan Bella loh..."
Hah?
"Ayo ayo teh, bantuin nata meja, biar anak-anak saling pandang dulu, nanti kalau udah bosan mereka bakal ngobrol mesra." Tante Mayang menaikturunkan alisnya. Sontak aku menatap aneh pada Vivin yang juga menatap ku, tapi pria itu lempeng saja. Tidak ada perubahan apapun pada wajahnya yang kaku itu.
"Ah, tentu saja. Biarin mereka, udah pada gede juga. Masak pedekate aja kesusahan ya, Teh Mayang?" Sahut Mama dengan irama menggoda.
"Pedekate?" Suaraku seperti tergencet truck gandeng sangking herannya dengan sikap dua mama itu.