C37 37
Enam hari berlalu setelah sarapan bareng tante Mayang itu. Melvin kini ada di hadapan ku menyesap coffe mocktail yang dia ambil, dengan anggun. Setelah episode perjodohan yang diharapkan kedua mama, aku dan Melvin tak lagi berkomunikasi. Dia yang dokter itu sibuk sekali, apa lagi kata tante Mayang yang setiap hari bertandang ke rumah ku, Melvin tengah mengambil spesialis.
"Kamu menjadi pusat perhatian karena datang dengan ku." Melvin memandangku lekat. Matanya yang cekung itu selalu terlihat menatap tajam dan dalam. Caranya berkedip yang mantap juga menambah kesan bahwa pria ini adalah pria yang penuh dengan perhitungan.
"Sayang sekali, itu bukan karena aku sendiri." Bibirku mengerucut, lalu saat sadar aku menutup mulutku segera dengan jemariku. Kenapa aku bisa bersikap sok imut begini di depannya.
Pak dokter menarik senyum tipisnya yang pelit, "sesungguhnya kamu memang cantik." Katanya dengan mata yang menghanyutkan itu.
"Thanks, aku membuka semua make-up yang terbawa karena takut terlihat jelek saat berjalan denganmu." Ah, apakah candaanku ini terdengar tidak lucu, mengapa ekspresi Melvin tetap sedingin itu. Senyumnya tak berubah sama sekali. Sebenarnya dia itu tengah tersenyum apa menyeringai sih. Untung ganteng.
"Pagi kemarin, kamu tak memakai warna apapun di wajah mu, tapi kamu tetap cantik." Katanya dengan nada rendah yang membuatku merinding. Matanya bergerak turun ke bibirku beberapa detik sebelum kembali ke mata ku.
Mau tak mau aku tersipu, pria ini pasti playboy juga, rayuannya itu alus banget. "Thanks, aku memang selalu cantik." Jawabku jumawa dengan kekehan di bibir. Melvin menarik bibirnya lebih lebar, senyumnya menjadi tawa. Akhirnya aku bisa melihat tawa lepas pria itu.
"Aku pikir, kamu akan menolak ajakanku, apalagi aku hanya sempat mengirim pesan whatsapp saja."
"No broblem. Aku pengangguran dan kesepian. Semingguan di Bandung, aku belum berhasil bertemu teman-teman ku karena mereka pada sibuk." Aku tertawa kecil mengingat jawaban teman-temanku saat ku hubungi. Ada yang sibuk kerja di luar kota. Ada yang sedang rempong dengan anak ke dua atau ke tiga. Ada yang sibuk di rumah mertua, atau sibuk menyiapkan pernikahan. Ah, kenapa dari semua alasan yang dibuat itu serasa menyentil nasib ku yang masih jomblo ini.
"Mama bilang, kamu baru aja resign, bener?" Tanya Melvin hati-hati. Aku kini menyebut pria ini dengan benar. Takut juga menyebutnya sebagai Vivin, kalau melihat perubahan sikapnya yang sekarang selalu serius begini.
Aku berdehem sebagai jawaban. "Mama sendirian, kasian udah tua. Mungkin kerja di sini adalah pilihan terbaik." Tidak sepenuhnya salah, tapi ini pernah jadi pertimbangan ku juga.
"Pasti sulit buat kamu ya, udah biasa hidup di Jakarta." Melvin kembali menyesap isi gelasnya. Menjauh dari wajah ku. Aku tahu semua orang telah mengira kami pasangan, dan aku paham Pak dokter sepertinya juga belum seratus persen move on dari si pengantin.
"Enggak juga sih, justru sekarang aku bisa tidur lebih awal, bisa bangun siang setiap hari, bahkan tidur siang juga."
"Tidur semua ya isinya?" Tanya Melvin dengan tawa lebih lebar. Makin dewasa pria ini makin cakep, gila. Bodynya juga otot semua tanpa lemak, warna kulitnya juga putih, tidak dekil seperti saat SD dulu.
Aku terkekeh, "maklumin deh, lima tahun di Jakarta udah kayak romusha, kerja keras bagai kuda." Jawabku riang. Ku sesap lemon tea-ku, lalu berdiri dan mengajak Melvin segera menyalami sepasang pengantin yang diakui Melvin si perempuan itu temannya. Tapi aku mulai curiga sesaat setelah menginjakkan kaki pada gedung yang disulap indah ini. Tatapan beberapa orang pada Melvin terlihat aneh.
Keanehan itu terjawab saat teman-teman Melvin menggodanya, yang akhirnya berhasil Move on dengan membawa ku yang mereka kira sebagai pacar baru Melvin.
"Baru putus, dia maksudnya Vin?" Gagal bibir ini menyimpan tanya, rak takut kalau pria itu tak mau menjawab. Toh aku hanya bertanya, tidak ada urusan.
"Aku ingin menyangkalnya, tapi mama pasti sudah menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu padamu." Melvin tidak seperti pria yang habis patah hati. Lihatlah tatapan dalam yang menguliti itu. Aku merasa seperti Melvin ini sanggup menggoda hanya dengan tatapan saja.
"Its, Okey. Aku paham Tante Mayang, karena mama ku juga pasti menyebalkan padamu."
Lagi-lagi Melvin terkekeh, pria itu tak ragu meraih tangan ku untuk dia selipkan di lipatan lengannya. "Apakah tidak apa-apa Bell, kita begini?" Tanyanya dengan mendekatkan menjajarkan matanya dengan mataku. Melvin ini suka sekali bicara dengan cara intens begini ya, apakah dengan semua orang dia juga begini?
"Enggak akan di rasia satpol pp kan karena kita bukan siapa-siapa? Tapi gandengan begini?" Tubuh Melvin yang tinggi terasa menaungi karena sepatu hak tinggi ku tak membuat tinggi kami sejajar.
"Enggak, tapi teman-teman ku bakal menganggap lebih interaksi kita, apa kamu keberatan?"
"Kamu berhutang padaku hari ini." Aku mengedipkan mata padanya lalu melarikan pandanganku pada dekorasi pelaminan. Padahal aku tahu, Melvin terus saja mempelajari wajahku.
"Ada apa di wajah ku, Vin. Apa make up ku luntur?" Ini murni aku hanya mengada-ngada. Kosmetik yang menempel di pipi ku ini tak akan luntur begitu saja. Apakah kalian lupa aku ini selalu diharuskan tampil sempurna oleh Bu Anisa.
Apakah kalian juga bertanya-tanya bagaimana enam hari ini ku lalui setelah patah hati berkat penghinaan Bu Anisa dan kemarahan Zachy yang menurutku tidak pada tempatnya itu? Aku terus menyibukkan diri dengan semua perintah mama. Mama bilang aku ke rumah Tante Mayang, aku nurut. Mama bilang ke rumah saudara mama, aku juga nurut. Mama ngajakin belanja seharian penuh, aku jabanin. Mama ngajakin tante Mayang ke spa, aku setuju jadi supir dan ikutan spa juga. Intinya aku tak membiarkan kenangan buruk itu mengambil alih perhatian ku.
Bahkan hari ini, tante Mayang atas bantuan mama meminta aku dandan cantik guna menemani Melvin datang ke nikahan temannya yang ternyata nikahan mantan ini, aku tak keberatan. Walau ini mengingatkan aku pada peristiwa beberapa bulan silam. Dulu aku yang membawa Zachy ke nikahan mantan ku. Kenapa sekarang aku yang jadi ada di posisi Zachy, diajak orang lain ke nikahan mantannya.
"Bella, kamu ngelamun?" Melvin menepuk punggung tanganku yang memegangi lengannya.
"Hehe dikit."
"Kamu enggak nyaman?" Aku menoleh pada Melvin, hanya untuk mendapati mata pria itu memerah. Langkah kami makin dengan raja dan ratu sehari itu. Apakah Melvin tengah dilanda emosi yang menyakitkan?
"Vin, ingat nggak dulu aku manggil kamu Vivin?" Ini adalah inisitaifku menghibur dia.
"Karena panggilan itu aku malas berteman dengan mu." Jawaban itu membuatku terkik.
"Itu kan panggilan yang imut Vin."
"Kamu pikir aku bakal senang, aku lelaki dan kamu panggil Vivin, aku merasa jati diriku tenggelam ke dasar lautan." Melvin mengeraskan rahangnya, sementara aku terbahak-bahak karena kalimat Melvin tersebut.
"Dia cantik banget ya Vin? Anggun kelihatannya."
"Itu pengaruh make-upnya."
"May be, tapi dia melihat ke arah kita sejak tadi."
Aku mendongak pada wajah Melvin, tapi wajahnya tetap datar. Hanya tersenyum tipis ketika bersitatap dengan ku. "Kami sudah tidak apa-apa sejak tiga bulan lalu."
"Hanya tiga bulan dan dia udah nikah aja? Ah, bolak-baliknya hati manusia emang tak terduga ya?" Ini merujuk pada Zachy. Padahal aku perlu waktu lama untuk menentukan hati, apakah pada Zach atau Ryu. Endingnya kalian tahu semua.
"Apakah pacar mu juga meninggalkanmu untuk menikah dengan orang lain?" Aku tidak kaget dengan pertanyaan Melvin, mengingat pengakuanku pada Tante Mayang dan juga mama kalau aku jomblo.
"Begitulah. Karena itu aku ada di sini bersama mu sekarang.
"Bagaimana kalau kita saling menyembuhkan, Bella?"