+ Add to Library
+ Add to Library

C39 39

"Siapa Bel?" Mama melongok dari ruang keluarga.

"Mama belum tidur?" Biasanya mama masuk kamar pujul 9. Tumben jam segini masoh di depan tivi saja.

"Masih pukul 10, gimana acaranya? Teman-teman Melvin menyenangkan nggak?" Tanya mama antusias.

"Mereka canggung padaku, emang apa yang diharapkan sih, Ma. Aku juga baru kenal Melvin, apalagi teman-temannya." Itu benar. Melvin yang pendiam itu sepertinya disegani teman-temannya.

"Terus yang bertengkar di luar itu siapa dong?"

Mataku sedikit membola, jadi mama mendengar, "nak mantan bosku." Singkat aku menjawaba ingin tahu mama.

Aku melepaskan high heels ku begitu saja. Ku letakkan tubuh ini di sofa sebelah mama duduk. Televisi yang mama tonton menampilkan acara humor yang bagiku tidak lucu karena tidak mengalir selancar pelawak tempo dulu.

"Masak cuma anak mantan bos tapi bertengkar kek orang pacaran begitu? Ngomong-ngomong anak bosmu kan ada di Amerika ya? Bella, jangan bilang dia datang ke sini karena kamu?" Mama tahu, karena aku terkadang bercerita saat bertelepon.

"Mana mungkin, Ma. Dia ada urusan kali." Sebenarnya ku juga bertanya-tanya soal ini.

"Dia mau lamar kamu loh tadi."

"Apa!" Aku tidak bisa tidak terkejut dengan ucapan santai mama.

"Biasa aja kali" ucap mama menyebalkan.

"Terus mama ngomong apa, dia ngomong apa aja?" Tidak sabar aku menggoyang tangan mama.

"Satu-satu aja kali tanyanya." Mama menarik ujung selimut di dadanya, menyebalkan sekali sikap acuh tak acuhnya itu, seperti sengaja mengerjaiku.

"Mama...!"

"Melvin gimana?" Tanyanya berganti subjek.

"Zachy ngomong apa aja Ma?" Gereget aku ingin tahu.

Mama menghembuskan nafas panjang, "aku suka keberanian pemuda bule tadi tapi mama heran aja, kenapa kamu bilang baru putus sama mama, sementara dia bilang ingin menikahi kamu?"

Zachy serius lamar aku ke mama? "Mama nggak tanya orangtuanya setuju tidak?" Ekspresiku yang tadi terlalu antusias sekarang jadi muram.

"Memangnya Bu Anisa, bos kamu itu enggak setuju ya?" Mama melirik ku sekilas, pandangannya ke televisi yang menyala.

"Mama pikir, sultan kek mereka nggak bakal malu kalau punya mantu rakyat jelata macam diriku?" Ku buka jepit rambut ku satu demi satu. Sementara tubuhku bersandar lelah pada sofa.

"Kenapa memangnya, wong kamu cantik begini, kamu juga baik. Masih perawan kan?" Mama mendelik pada pertanyaan terakhirnya yang enggak banget.

"Astaga mama, aku masih perawan, sumpah!" Ku bentuk tanda v dengan dua jariku.

"Bagus lah, kamu bisa jaga diri. Tapi si bule tadi, keknya beneran suka sama kamu. Dia menatap lama sama foto wisuda kamu di ruang tamu itu. Dia juga bilang punya pekerjaan yang baik, bakal bisa hidupi kamu nanti. Dia juga berjanji tak akan membuat kamu sedih. Tapi mama heran tadi sih, kok dia ngelamar kamu sendirian. Ya minimal sama kamu lah ngadep bareng ke mama, kok ini aneh banget. Jadi kamu putus sama dia karena tidak ada restu begitu?"

"Begitulah ma, mending nggak sama dia aja dulu. Aku takut berjauhan sama mama." Aku berdiri menuju kulkas, mencari air dingin yang ku teguk rakus. Ku bawa sisanya ke hadapan mama, untuk.ku minum sebentar lagi. Gaun tanpa lengan sepanjang tumit ini ku jinjing demi bisa menaikkan kaki ku ke sofa, karena modelnya yang body fit.

"Iyuh bohong banget, padahal 3 tahun ini kamu jarang pulang." Itu fakta yang membuat mama mendengus terang-terangan, sementara aku berdehem tak enak hati, merasa bersalah.

"Apalagi kalau sampai mama setuju, si Zachy bakal bawa aku ke Amerika. Dia di sini cuma karena ada Womenize, di Amerika perusahaan bapaknya nggak bisa ditinggal lama-lama." Ku katakan kemungkinan besar kalau hubungan ku dan Zachy berhasil. Tapi aku sudah yakin dengan keputusan ku tadi. Aku tak akan bersamanya.

"Dia bilang, bakal boyong kamu sama mama juga loh?"

"Heh, mama. Emang mama mau tinggal di sana? Amerika punya empat musim loh ma." Mana tahan mama kena cuaca dingin sih?

"Bagi mama, yang penting kebahagiaan kamu."

Aku terharu atas jawaban mama ku cium pipi mamaku sayang. "Thanks ma, tapi bukannya mama mau jodohin aku sama Melvin?"

"Emang iya, Melvin itu anak baik. Dokter pula, latar belakang keluarganya juga jelas. Tapi apa kalian bakal cocok?" Mama membelai rambut ku. Pandangan teduh wanita tua ini, mem

"Siapa yang tahu, kenal juga sehari doang."

"Tapi si bule bakal kembali lagi ke sini besok. Mama bilang, semua ada di tangan kamu. Jadi mama enggak memutuskan apapun. Itu hidup kamu, kamu yang bakal menjalani, mama hanya berusaha kasih kamu yang terbaik, ya opsinya si Melvin ini."

"Ujungnya Melvin lagi."

"Iyalah mama enggak enak sama Tante Mayang."

"Ah, entahlah ma. Aku pusing, aku tidur dulu ya Ma"

"Iya deh, pikirkan baik-baik, ini masa depanmu."

***

Zachy duduk di ruang tamu ku. Eksistensinya menguasai seluruh pandangan, dia memang megah namun tak tergapai. Kemeja warna abu-abu itu menambah dominasinya, jas semi formal yang dikenakan menegaskan apapun yang nanti keluar dari mulutnya adalah sebuah keharusan.

"Minum,"aku meletakkan secangkir kopi susu buatan mama di depannya.

Pria itu mengangguk singkat. Matanya yang tak secerah dulu memandang lekat. Bibirnya tertarik sedikit, tersenyum tipis. "Kamu selalu cantik seperti biasa." Pujiannya berhasil melahirkan warna merah jambu di pipiku. Aku bahkan sengaja berdandan cantik, berganti beberapa baju yang semuanya baju lama. Merasa kesal mengapa aku tak ke apartemen dulu malah hanya ke Womenize untuk mengambil mobil ku lalu melaju ke tol menuju Bandung.

Aih, aku bilang ingin melupakannya, tapi masih sibuk memoles diri takut terlihat jelek di depannya.

Seperti tak sabar, suara bassnya memenuhi ruang tamu "Kamu pasti sudah tahu dari mama mu kedatangan ku pagi ini." Katanya mengawali. Aku yang enggan menatapnya, merasa sebentar lagi permukaan kulit ku akan berlubang karena dia pandang sedemikian tajam.

"Mas, dengarkan aku. Satu, Bu Anisa tidak setuju. Dua, kamu asing bagiku mas, aku masih tidak bisa melupakan bagaimana kedekatan kamu dengan perempuan lain, aku tidak siap tahu kalau ternyata ada katherin-Katherin yang lain dalam hidup kamu. Tiga, sampai saat ini kamu belum bisa memberi ku kepercayaan, soal kedekatan ku dengan pria lain selain kamu. Aku benci tidak dipercaya, itu menyakiti aku. Intinya kita beda prinsip mas. Kita tidak perlu memaksakan diri."

Zachy memejamkan mata, pria itu terdiam cukup lama. Lalu saat irisnya bertubrukan dengan mata ku, aku terhenyak. Mengapa di mata itu aku melihat keputusasaan? Kemudian sekejap saja dia berpindah tempat duduk di dekatku, membuatku bertanya-tanya apa yang yang akan dia lakukan?

"Bella," Zach meraih tanganku untuk digengamnya erat.

"Kita mungkin belum benar-benar saling mengenal satu sama lain. Aku hanya terlalu jatuh cinta padamu, perasaan ini jauh berbeda ketika aku menyentuh wanita lain." Dia menunduk untuk menyamakan visinya tepat di fokusku.

"Sampai jadi tidak masuk akal menuduh mu memiliki hubungan lebih dengan Yoshinaga. Maafkan aku untuk itu." Katanya menunduk menyesal.

"Aku memang mencium Katherin, pikir ku, aku akan berdebar seperti saat denganmu" Zachy menyugar rambutnya seperti pria putus asa.

"Sejujurnya aku hanya menemukan rasa hambar yang memggelikan." Zach memaksakan tawa yang terdengar sumbang di akhir kalimatnya. Aku hanya mengamati, tak sadar menggigit bibirku demi menghilangkan rasa gelisah.

"Oh, soal Katherin, dia sudah kembali ke tempatnya. Perusahaan orang tua kami bahkan tidak lagi bekerja sama. Itu kenapa? Itu hanya demi aku tak mau kamu salah paham lagi. Tolong percaya padaku, hanya kamu Bella...."

Ini perasaan apa, jantung berdetak tak karuan begini, lalu dari mana asalnya rasa bahagia yang memalukan ini? Masak iya benih cinta yang tumbuh telah ku pangkas habis itu, kembali bertunas? Astaga kenapa aku selabil ini hanya mendengar rayuannya.

"Bella, walau aku tak butuh persetujuan mama untuk terus bersama kamu, tapi ayo menangkan hatinya kalau pada akhirnya itu akan membuatmu merasa lebih baik. Seharusnya itu mudah, karena kamu sudah memahami seluk beluk mama bukan? Kamu mau kan?"

"Mas..." aku ingin mengatakan sesuatu menanggapi seribu kata yang diucapkan Zach barusan. Tetapi mengapa lidahku jadi kelu, aku lebih memilih meresapi rasa hangat yang tiba-tiba merasuki relung dada hanya karena tangan besar Zachy melingkupi tanganku.

"Bella..." Zachy menarikku mendekat padanya. Tiba-tiba saja salah satu lengannya bertengger di pinggangku. Sontak aku meletakkan telapakku di dadanya, takut dada kami berbenturan. Rapi debaran di arah jantung Zachy makin menggila. "Sedikit saja, coba rasakan apa bedanya saat bersama ku dengan saat kamu bersama orang lain? Rasakan juga jantung ku, ini saat aku bersamamu aku menggila seperti ini. Karenanya aku marah melihatmu dengan orang lain, jadi bisakah kamu belajar memahami diriku mulai saat ini?"

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height