C40 40
Kali ini aku tak mau gegabah memutuskan. Ah mengapa pula, debaran dadaku meningkat drastis kala mendengar pengakuannya.
"Ma..."
"Loh, mana si bule?"
"Dia sedang melakukan panggilan. Itu, dia nelpon papanya. Mungkin nanti malam papanya bakal terbang ke sini. Mereka ingin membicarakan pernikahan dengan mama." Ku katakan takut-takut, khawatir keputusan ku ditentang mama memgingat mama ingin Melvin jadi menantunya. Tapi tak melarang juga kalau aku menjatuhkan pilihan pada Zach.
Sesungguhnya aku tengah bertaruh, benarkah Zachy serius padaku soal ingin menikah dengan ku. Maka apakah salah kalau tantangan ku adalah segera mempertemukan ke dua belah pihak orang tua kami. Ku pikir Zachy menolak, dia justru setuju tanpa banyak berpikir.
"Wah, berat saingannya si Melvin. Kalau gitu aku musti siapin amunisi nih, buat membesarkan hati Teh Mayang." Mama mengetukkan telunjuk ke dagunya, seperti detektif yang sedang mencari strategi baru memecahkan sebuah kasus.
"Kok mama nggak panik orang tuanya Zachy mau datang, malah panik Tante Mayang?" Harusnya mama protes mengapa aku jadi memutuskan dengan Zachy.
"Ya karena sudah kewajiban orang tua pihak lelaki menemui pihak perempuan dahulu sebelum si Zach bawa anak mama."
"Mama serius ini? Mama nggak apa-apa aku sama Zach?"
"Ya kalau kamu bahagia dengannya mama bisa apa sayang?" Mama membelai lenganku, senyumnya selalu membuat kalutku membaik.
Aku diliputi haru yang membuncah. "Makasih ma"
"Mama selalu berdoa yang terbaik buat kamu, kamu ada yang jagain begini mama merasa tenang. Tidak masalah siapapun orangnya. Apalagi dia terlihat sungguh-sungguh, mama bakal percaya."
Semoga saja, aku sekarang bertaruh dengan nasib berharap yang terbaik pada masa depan.
Keesokan harinya, Zach membawa ku dan mama menuju sebuah hotel bintang lima di kota Bandung. Gedung-gedung yang berjajar sepanjang jalan sedikit menghibur diriku dari kegalauan baru. Semalam, bu Anisa mentranfer 1 M pada rekening pribadi ku hanya demi aku mau meninggalkan Zachy. Maka jangan heran kalau pagi tadi mata ini bengkak parah karena menangis semalam. Aku belum bilang ini pada siapapun termasuk pada Zachy. Pagi tadi aku dipusingkan dengan omelan Tante Mayang yang ngambek karena aku justru menerima pria lain, padahal katanya semalam Melvin bilang setuju pedekate dengan ku.
Sumpah aku melupakan Melvin, jadi dengan segala kerendahan hati aku meminta maaf pada Tante Mayang dan Melvin. Pak dokter cakep itu sih mau mengerti, dia masih sempatnya membesarkan hatiku agar tak perlu merasa tak enak pada keluarganya. Dia malah mengakui itu merupakan salahnya sendiri karena tidak gerak cepat mendapatkan hatiku.
Aku juga merasa perlu menelpon Ryu dan mengatakan bahwa aku akan menikah dengan Zachy, setelah berbasa-basi menanyakan kabar Si Kecil Nara. Ah, baiknya si Ryu, doanya atas kebahagiaan ku dan Zach terdengar sangat tulus.
Kembali pada perjamuan malam ini, di sebuah ruang privat bermeja lebar dan luas. Telah duduk Ayah Zachy dan istri barunya, di sebelahnya Bu Anisa dan Bu Vivian beserta suaminya yang melambai ramah menyapa diriku. Iya, semua orang menyapa ku dengan senyum sumringah. Hanya satu wanita yang ku panggil sering ku panggil Mami itu melengos tak ingin menatap ku.
Mungkinkah Bu Anisa menyiapkan drama malam ini?
"Mami..." sapaan penuh keraguan dari bibirku berujung pada rentetan omelannya.
"Kamu seneng Bella, mami darah tinggi lagi! Kamu seneng melakukan ini sama mami? Kenapa kamu tega sama mami sih, Bell!"
"Mbak, biarkan Bella duduk dulu ah, sukanya ngomel kalau anaknya datang. Tapi semingguan ini yang diomongin si Bella melulu" ini adalah Bu Vivian, adik Bu Anisa.
"Mami maafin Bella..." aku menunduk dalam di samping dirinya duduk. Sungguh tak bisa menuruti maunya untuk meninggalkan Zachy. Setelah ini aku akan mentranfer balik uangnya.
"Kamu emang kudu minta maaf sama mami. Seminggu ini Womenize nggak punya atasan. Mami nggak ada orang yang bisa mami percaya selain kamu. Seenaknya aja kamu resign. Seharusnya kalau kamu memang mencintai anak mami, kamu bilang baik-baik, kamu memohon pada mami. Mengapa harus nunggu mami transfer duit dulu baru kami berani ngadep mami kek begini! Kamu emang mata duitan ya!"
Aku melongo, jadi duit 1M itu untuk apa?
"Mami sengaja ngomong begitu tempo hari, supaya kamu membuktikan cinta kamu pada Zachy di depan mami. Bukan malah main kabur nggak jelas begitu. Mami ingin melepaskan Zachy pada wanita yang benar-benar mencintai anak mami, apa salah?"
"Jadi aku yang salah?" Aku tidak tahu bagaimana tampang ku sekarang, bahkan saat ku lirik Zachy, dia juga memiliki kekagetan yang sama. Entah kaget karena aku dapat transferan 1M atau kaget dengan cara mamanya mengerjaiku.
"Ya siapa lagi, boss selalu benar." Katanya semenyebalkan biasanya. Apa dia kira ini di kantor ya?
"Jadi?"
"Ya udah duduk, ngomong yang jelas kamu mau konsep pesta seperti apa? Manfaatkan uang yang Mami tranfer semalam." Katanya ringan, tangannya bersedekap angkuh, sangat Bu Anisa sekali. Mantan suaminya geleng-geleng dengan senyum yang terlihat kebapakan.
"Mas, kalian?" Aku mengira Zachy tahu soal duit itu.
"Aku? aku juga nggak nyangka mama ternyata suka kamu jadi mantunya. Kenapa mama nggak bilang?" Zachy beralih dari wajah ku ke mamanya.
"Heh Zachy, awas saja kalau sampai kamu nyakitin, Bella. Tidak boleh ada perceraian di antara kalian. Cukup mama aja."
"Nisa..." itu suara Tuan Abraham yang penuh keluhan karena masa lalu mereka diungkit.
"Diem kamu, hanya karena Zachy aku sudi duduk bareng kalian." Bu Anisa melemparkan tatapan benci pada pasangan itu.
"Mbak Anisa, kita sebagai orang tua memang harus mengesampingkan ego. Lagi pula yang lalu biarlah berlalu mak..." duh untung istri barunya Tuan Abraham ini sabar. Bisa berhubungan baik dengan Bu Anisa karena, Rebeca nama ibu tiri Zachy ini menikah dengan Tuan Abraham jauh setelah perpisahan dengan Bu Anisa. Hanya Bu Anisa yang belum bisa move on.
"Maka dari itu, diamlah. Biar Bella dan Zachy yang memutuskan mau seperti apa pernikahan mereka digelar. Lebih cepat lebih baik." Sahutnya judes.
"Aku sudah menduga sejak awal, kalau Bella bakal diambil mantu sama Mbak Anisa" itu Pak Paul suami Bu Vivian.
"Kok begitu Om?" Aku heran, beban berat rasanya seperti terangkat. Walau dadaku rasanya akan segera meledak sangking senangnya aku malam ini. Zachy sendiri tak melepas gandengan tangannya padaku.
"Ya cuma kamu yang betah sama omelannya, tidak yakin kalau itu orang lain" yang ini ada suara Bu Vivian, ucapannya ku amini benar. BU anisa emang cerewet.
"Jadi anda sering mengomeli putri saya, Bu Anisa?" Lah ini mama ku kenapa pula?
Hah, aku pusing mendengar lemparan pertanyaan yang dibalas pertanyaan ini. Maka aku memilih memanggil pelayan dan memesan makanan, Zachy yang tertawa-tawa pada kondisi keluarga kami memesankan makanan yang sekiranya disukai orang tuanya.
Maka di sinilah kami sekarang, di sebuah meja berhias bunga, di depan pelaminan salah satu hotel di Jakarta Selatan. Satu bulan setelah makan malam keluarga itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Bella Puspita binti Ahmad Syarif dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai, dibayar tunai."
Walau seperti mimpi, tapi ciuman hangat di kening di depan penghulu dan saksi membuat seluruh tubuhku merinding karena haru bercampur bahagia yang tak terkira. Pria yang ku cintai akhirnya menjadi suami ku.
"Love you, Bell" bisik Zachy mesra.
***
POV Zach.
Oh, tidak! Jangan lagi, please. Cukup kemarin rasanya jantungku mau meledak, saat dia tersenyum ke arahku. Lihatlah auranya dalam setiap penampilan, itu membuatku ingin meneyembunyikan dirinya dalam kolong hatiku hanya untuk kukagumi sendiri.
Aku tahu ini konyol, tapi rasa-rasanya sudah tidak sanggup lagi rongga dadaku menahan debaran jantung yang semakin menggila. Bahkan seperti mau copot.
Entah sejak kapan aku merasakan desiran aneh itu menghantamku, membuat kuduk meremang kala bersitatap dengannya.
Hanya Bella yang mampu membuat darahku mendesir hebat, hanya wanita itu yang mampu membuat kupu-kupu dalam perutku bergejolak setelah mati suri sekian lama. Hanya Bella yang membuatku tersenyum sendiri sepanjang waktu hanya dengan mengingat wajah cantik dengan segala macam ekspresinya yang menggemaskan.
Ah, jadi begini rasanya jatuh cinta.
End.
