+ Add to Library
+ Add to Library

C8 8

Akhirnya tiba giliranku naik ke pelaminan diikuti Zach. Rio menatapku penuh rasa bersalah. Bagaimana tidak, pria itu belum mengakhiri apapun yang pernah dia awali denganku. Mimik penasaran akan pria dibelakangku tak Rio sembunyikan, tapi kini ia bisa apa. Semua tak lagi sama dengan beberapa bulan yang lalu.

Rio sebenarnya pria yang menyenangkan, hanya waktu tiga bulan tak cukup untuk diriku mengenalnya lebih dalam. Ternyata Rio hanyalah pria yang mudah tergoda selangkangan dari pada menjaga kesetiaan.

Kabar baiknya aku tidak benar - benar jatuh cinta pada Rio memang, belum, masih sebatas suka dan senang karena dia pria berkelas yang pantas dijadikan teman hidup. Setidaknya itu penilaian ku dulu. Kami masih jalan tiga bulanan, tapi aku dan dia sudan berkomitmen untuk serius ke tahap selanjutnya, sejak awal menjalin hubungan. Terbukti dengan seringnya aku dibawa dalam acara keluarganya, baiknya lagi keluarganya menyambut dengan tangan terbuka. Sayang seribu sayang, ia ternyata berkhianat.

"Aku minta maaf, Bella." ucap Rio saat kami berjabatan tangan.

"Aku tak punya muka menemuimu sampai sekarang." Lanjutnya dengan ekspresi yang entahlah, aku tak paham.

Belum sempat aku menjawab si wanita pelakor telah menginterupsi dengan memisahkan jabatan tangan kami.

Aku ingin bilang, tidak perlu repot-repot, Rio sudah tidak penting bagiku. Sayangnya, aku tidak berkesempatan, karena dia telah membuka mulutnya terlebih dulu.

"Hay, sistah. Kamu datang juga ternyata?"

Wajah cantiknya terlihat tidak ramah padaku, tidak ingat kali ya dulu dia sering menjadikanku tempat mengadu. Perutnya yang membuncit mungkin bakal kempis tiga atau dua bulan lagi. Bagaimana mereka ini, tidak malu apa, jadi raja ratu dengan keadaan yang menimbulkan buah bibir viral begini.

"Sherly sayang, tidak sopan mengabaikan undangan kawan lama. Apalagi itu kamu, aku selalu setia kawan padamu loh, tenang aja." Ucapku santai. Meski sakitnya dikhianati telah kering, tapi kekesalan itu masih berbentuk bahwa Sherly dan Rio tega melakukannya padaku.

"Lupa ya? Saat dilanda duka siapa yang suka curhat menye-menye di rumahku, kamu tidak takut aku ember?" Lanjut ku mendekat padanya untuk berbisik.

Setelah itu, aku buru-buru memundurkan kepalaku, demi menelisik wajahnya yang jadi kaku.

Mataku menilai gaun mengembangnya yang ku pastikan sengaja untuk menutupi perutnya yang mulai membuncit. Batu Swarovski entah asli entah imitasi, bertebaran di seluruh motifnya. Membuat silau Upik abu macam diriku. Tapi aku patut berbangga, setidaknya aku jauh lebih baik karena tidak perlu merebut milik orang lain demi menjadi bahagia.

"Awas saja kalau kamu berani!" Geramnya menahan marah. Aku mengendik tak peduli.

"Apa kabar calon ponakanku dalam perut ya?!" Ejekku makin menjadi. Sengaja menatap ke perutnya, mengabaikan perubahan raut wajahnya yang makin memerah. Mengingat di belakang Zach banyak orang yang akan mendengar perkatanku ini.

"Bella, aku mohon..." Rio menengahi, wajahnya memelas mengharap aku berhenti memprovokasi.

"Please deh Yo, jangan buat aku terlihat sebagai tersangka, ah!"

Aku tersenyum manis menjawab permohonannya akan tema yang ku bahas diatas pelaminan diiringi tatapan penasaran ratusan orang.

"Honey," suara rendah Zach yang mulai familiar terdengar merdu. Pria ini sungguh mampu mengalihkan duniaku, eh serasa judul lagu.

Aku menoleh ke samping, menatapnya lembut antara sandiwara dan murni rasa yang mulai muncul. Jangan salahkan aku yang mudah jatuh cinta, tapi mudah pula melupakan. Istilahnya, aku adalah salah satu dari segelintir orang yang mudah move on.

Wanita di hadapan kalian ini yang kalian berdua aniaya dengan pengkhianatan tidak sedikitpun terpuruk. Liat yang aku bawa, jauh lebih keren dari Rio kan? Racau ku dalam hati. Terima kasih pada Zach yang nggak malu-maluin diajak kondangan. Aku tertawa puas dalam hati.

"Kenalkan, namanya Zach Abraham. Pacar baruku." Ku katakan dengan malu-malu, tak lupa menggandeng lengan anak Bu bos ini mesra. Semoga saja dia tidak marah ku akui sebagai pacar secara sepihak.

Rio menjabat tangan Zach dengan canggung. Sherly tak mau ketinggalan, bahkan aku mendapati matanya yang meneliti penampilan Zach terang-terangan.

"Ughh... Sayang ya kamu udah bersuami sekarang, hamil duluan pula. Mana bisa nikung pacar orang lagi dong. Upps!!!"

Aku meniru cara Angel mengejekku pagi tadi. Saat aku bilang "hamil" aku berbisik rendah diantara sepasang mempelai itu, caraku sukses bikin wajah mereka pias.

"Hadiah dariku jam tangan couple limited edition yang kamu inginkan 3 bulan lalu, dear." Aku mengejek Shrely sekali lagi, memberi mereka sedikit pelajaran. Si Zach sepertinya menikmati pertunjukan yang aku pertontonkan, terlihat dari senyum miringnya dan kilat dimata pria itu.

"Bella!!" Desis Sherly diantara giginya yang putih karena rajin venner.

Tapi aku masih belum puas, masih ingin terus membuat Sherly meradang. Bukan salahku kalau memang memiliki benih jahat.

"Came'on Mas Zach, kita lihat apakah jamuannya ada mangga muda juga."

Senyum devil mengiringi langkahku saat turun dari pelaminan. Wajah Rio yang muram serta ekspresi Sherly yang memerah malu, mengiri langkah ku. Ku resapi kemenanganku malam ini dengan senyum kepuasan.

"Makan di luar atau...."

Belum selesai Zach bicara, seseorang memelukku dari samping.

"Hai sayang." Mama Zach tersenyum keibuan, menyapa dengan raut bersalah yang kentara.

"Mama nyesel kamu nggak jadi mantu mama. Maafkan si bodoh Rio ya Nak."

Imbuhnya. Aku ingin protes kalau perilaku Rio itu membuatku terhina, tapi ya sudahlah. Itu akan membuatku terlihat menyedihkan.

"Meskipun mama sudah janji mau nglamar kamu waktu itu, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ungkap wanita setengah baya yang tengah mengenakan kebaya brokat senada dengan busana pengantin ini.

Mama Rio masih tetap memanggil dirinya mama untukku, berbicara dengan nada merendah yang menurutku tidak perlu. Toh, aku rela Rio memilih jujur dengan mengakui perbuatannya dari pada terus denganku tapi ujungnya bohong. Terimakasih si Zach sabar menunggu obrolan kami.

"Dont worry tante, kita nggak berjodoh jadi keluarga." aku sedikit menyelipkan nada humor dalam nadaku. Lega setelah menegaskan pada Rio dan Sherly bahwa aku baik-baik saja, apalagi ada bule cakep yang menemaniku.

"Ayo-ayo kamu harus makan dulu, nggak boleh nolak. Mama akan temani kamu dan pacarmu."

Aku menoleh kearah Zachy meminta persetujuan. Ia mengendikan bahu acuh. Dengan perhatian aku membawa tangan Zachy mengikuti wanita paruh baya ini menempati area makan yang sudah disiapkan.

"Makan apa mas?!" Tanyaku pada Zach yang terlihat antusias memperhatikan makanan khas indonesia yang ditata sangat apik oleh pihak catering yang disewa keluarga Rio ini. Mama Rio pamit menemui koleganya setelah mempersilahkan kami menikmati yang tersedia.

Si Zach menyertakan unsur 5W1H demi memuaskan rasa penasarannya.

"Ini apa? itu apa? enak?" Tanyanya antusias.

Aku menjawabnya dengan sabar, kemudian mengambilkan apa yang dia mau ke dalam piringnya. Dan beberapa bagian kecil ke piringku sendiri."

Kami makan dalam diam di meja yang disediakan. Ramai pengunjung pesta menambah riuhnya acara ini.

"Kenapa mas?!" Tanyaku ketika mendapati dahi si Zach yang mengeryit dalam.

"Aneh rasanya." jawabnya sembari menaruh garpu dan sendok yang ia pegang. Tentu aneh, dia terbiasa masakan barat.

"Hey pacar, ini pasti cocok dengan lidahmu."

Aku menggodanya dengan sebutan pacar. Menyuapkannya daging balado padang menggunakan garpu milikku, yang diterimanya ragu-ragu.

"Ak!" Aku meyakinkan Zach. Zach memandang garpu bekasku yang ku acungkan padanya dengan sebelah alis terangkat. Aku pura-pura nggak ngerti aja. Dia membuka mulutnya enggan. Bukannya sengaja aku bersikap sok manis sama Zach, sebenarnya diujung sana Pak Salman tengah mengangkat gelas berisi cairan merah kearahku. Ogah ya, aku ketemu dia meskipun hanya sekedar beramah tamah.

"Enak." katanya setelah merasakan betapa makanan yang ku pilih itu memang nikmat. Melihat pria mempesona ini lahap, aku terus menyuapinya makanan dari piringku, sampai habis.

"Kamu nggak makan?" Zach menyeka bibirnya dengan tisu kemudian meneguk air yanag lagi-lagi dari gelasku. Ada sedikit rasa berbunga, bukanlah ini romantis.

"Siapa lagi yang kau hindari?" Zach menatapku intens. Menyadari gelagat ku yang terganggu.

"Si Salman." Aku meringis merasa sungkan, lagi-lagi menjadikan Zach tameng dengan bersikap sok mesra. Ku pikir dia tak menyadari aksiku menyuapinya di depan umum.

"Itu nama klien mama kan?! Selidiknya. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Kita samperi, beramah tamah dengan klien adalah hal baik bukan?" Tidak selalu baik kalau itu si Salman, jawabku dalam hati.

Tapi Zach mengulurkan tangannya kearahku. Sehingga dengan bimbang aku memberikan tanganku juga untuk dia genggam.

"Hey Darling." Pak Salman mengangsurkan tangannya untuk ku jabat. Disampingnya seorang wanita cantik yang ku tebak usianya hampir seumuran denganku, menyelipkan tangannya pada lengan si tua Salman.

"Apa kabar pak?!" aku berbasa-basi. Dalam hati memaki tatapannya padaku yang, iyuuh... Bikin eneg.

Segera ku tarik tanganku, ku usapkan pada belakang punggung lembut, berharap itu tak dicap tidak sopan. Aku juga bersalaman dengan beberapa orang lain dan pasangannya di kanan kiri Pak salman.

"Kenalkan, Zach Abraham. Putra Bu Anisa Handoko." Menyebutkan nama panjangnya, semua orang memberikan perhatiannya pada Zach. Pak Salman memandang ke arah tanganku yang ada dalam genggaman tangan besar Zach.

"Jadi kau menjatuhkan dirimu kedalam pelukan anak bossmu ini?" Pak Salman mulai berintonasi sinis kepadaku. Zach mengetatkan genggaman tangannya. Aku yakin sekarang rahangnya telah mengeras. Aku berdehem kecil untuk mengikis kecanggungan karena orang-orang ini mendengar omongan Pak Salman.

"Sist, istri ke berapanya Pak Salman?!"

Aku lebih memilih menyerang Pak Salman melalui wanita yang kini menyelipkan tangannya kepada si tua Salman dengan panggilan akrab itu. Wanita itu terkaget karena aku justru berbicara kepadanya.

Tak ada jawaban, wanita itu menggigit bibirnya tanda gugup mulai melanda.

"Mas Zach, kamu jangan meniru jejak Pak Salman ya? cuma ada aku saja dalam pelukanmu kan?!"

Aku mengedip genit kearah semua orang. Sontak semua yang berada dalam jarak kami terbahak dan geleng-geleng kepala.

Akhirnya suasana canggung menghilang karena muncul banyak godaan ditujukan untuk Pak Salman yang punya banyak wanita di sisinya tersebut. Bagaimana performanya yang sudah berumur bisa memuaskan 4 istri dan para wanita selingan, juga menjadi bahan tertawaan.

Aku undur diri dari hadapan mereka, menarik lengan Zach dengan satu tanganku yang bebas dan melepaskan genggaman Zach pada tanganku yang lain. Aku bukannya tak sadar sedari kami melangkah dari kerumunan itu Zach terus menatapku lekat.

"Thanks, sudah menemaniku setor muka." kami sudah berada dalam mobilnya. Zach mengendikkan bahunya acuh. Hening lama hingga Zach bertanya, kemana dia harus membawa mobilnya.

"Pulang." jawabku singkat.

"Pulang?!" Zach mengulang jawabanku seakan dia salah mendengar apa yang aku ucapkan. Zach membelokkan mobilnya ke hotel yang kebetulan kami lewati.

"Aku minta bayaran ku." katanya tersenyum miring.

"Mas?" aku membelalak tak percaya menyadari apa yang Zach lakukan.

"Turun." Zach membuka pintu mobil disampingku lalu mengulurkan tangannya. Aku tak segera meraihnya. Aku takut, bagaimana kalau Zach mengajakku bermalam disini. Aku tidak mau memberikan keperawanan hanya untuk memberinya imbalan atas kesediaanya ikut denganku.

"Aku akan menggendongmu kalau kau tidak juga turun." Aku kekeh dengan pendirian ku, menggeleng kuat-kuat untuk menolak ide gilanya.

"So..." katanya menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan kejam. Dari gesturnya, dua tangannya siap meraih tubuhku ke dalam gendongan, seperti ancamannya.

"Mas.... Kita...?" tanyaku tak mampu menyelesaikan kalimatku. Meraba niat Zach membawaku ke hotel.

Mati aku! Kalau sampai si bule minta anu.

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height