+ Add to Library
+ Add to Library

C9 9

Terimakasih sudah menunggu update cerita ini.

Happy Reading, readers! ?

Zach seolah mempermainkan ketakutanku. Pria tinggi besar itu, terus melangkah panjang-panjang menarik ku agar mengikutinya. Bahkan aku harus sedikit berlari kecil untuk menyamainya karena perbedaan panjang kaki kami. Ketika dia melirikku, tatapannya adalah tatapan tajam yang menakutkan. Membuatku khawatir apabila tak menuruti maunya dia bakal murka. Apalah tenagaku yang seorang wanita lemah dibandingkan pria gagah perkasa macam Zach.

Aku sudah berfikir yang tidak-tidak, saat Zach justru membawa kami menuju lorong-lorong hotel yang bernuansa temaram, tanpa chek in. Tapi, bagaimana kalau sebelum kesini dia sudah memesan kamar. Lalu apa yang harus ku lakukan agar bisa lolos darinya malam ini.

Bu Anisa tolong aku dari anak ganteng mu ini.

"Mas Zach, kita mau apa?! Kenapa ke hotel segala?!"

Tak ada jawaban. Dia hanya membisu, membuatku makin galau saja. Zach Abraham memamerkan sudut bibirnya yang tertarik satu arah, emang cool sih, tapi cukup membuatku meningkatkan kadar kewaspadaan.

Kami menuju lift yang ternyata sudah mulai sesak, namun Zach memaksa menaikinya. Aku ingin menolak dengan bahasa tubuhku yang kaku, tapi dia memaksa dengan matanya.

Dia membawa tubuhku merapat kepadanya. Sedangkan karena pemikiran kalau sebentar lagi si Zach bakal mengambil keuntungan dariku, aku berusaha memberi jarak dengannya, meski hanya setengah lengan.

Seseorang memandangku dengan tatapan mesum, dari ujung kaki ke ujung kepala. Mata kurang ajarnya berhenti lama pada paha dan leherku. Seorang wanita yang berada diantara kami menutup hidung entah karena apa, tapi wanita itu mengernyit tertahan. Aku menduga si pria mesum beraroma alkohol, nampak dari matanya yang memerah dan tidak fokus.

Aku semakin mendekatkan tubuhku kepada Zach. Ketika si wanita di dekatku tersebut memaki pada orang yang ku duga mabuk itu.

"Tanganmu, sialan!" Umpatnya kasar.

"Jangan jual mahal, perempuan! Aku bisa membayarnya!" Sahut si pria kurang ajar.

"Bedebah sialan!" Maki si perempuan lagi.

Aku yang tak mau terlibat mendekat pada Zach, merapatkan tubuhku padanya. Tak peduli si Zach melirikku dengan senyum kemenangan. Pikirku, lebih baik dengan si Zach yang jelas asal-usulnya dari pada bernasib sama seperti wanita itu yang mendapat perlakuan asusila. Andai itu aku, tak akan menunggu lama tangan ini mengayun ke wajah pria kurang ajar itu, walau takut. Tapi keberanian akan menyertai apabila tekad terkumpul kuat apalagi demi kehormatan.

Aku sempat mencuri pandang pada para penumpang lift ini, pria bertato mengedip genit sebelah matanya ke arahku. Iyuhh, ada apa dengan penghuni lift ini.

"Mas pria di belakangku juga menakutkan." Aku berbisik lirih, sedikit berjinjit agar bibirku semakin mendekat ke pendengaran Zachy. Berharap pria lainnya yang memiliki tato di belakangku tak mendengarnya.

Zach melepas genggaman tangannya pada tanganku, namun merubahnya menjadi melingkari pinggangku posesif. Entah mengapa aku malah melupakan fakta bahwa beberapa detik yang lalu aku takut pada Zach karena membawaku kemari.

Ting! Lift telah sampai di lantai tujuan. Dari sekitar lima belas orang menyisakan aku dan Zach, dan tiga orang lainnya, termasuk pria bertato tadi. Diam - diam ku lirik pria bertato yang ternyata tengah menyeringai kerah ku, matanya yang beringas menatap turun berlahan dan berlama - lama memperhatikan kakiku. Tidak sopan! Andai aku bisa, ingin ku congkel matanya.

Spontan aku memeluk Zach sembari bergidik takut, wajah ini ku posisikan berada pada dada bidangnya. Mengingat busana yang ku kenakan memang terlalu mengundang. Salahku juga sih. Ngomong - ngomong bau parfum Zach terasa memasuki indera, ini sungguh nyaman dan menenangkan. Rasanya aku bakal ketagihan. Eh!

"Sudah sampai, honey!" Suara Zach terdengar serak diatas kepalaku. Sementara aku merutuki diri, bisa-bisanya menempel seperti koala padanya yang nampak tidak keberatan sama sekali.

Kami keluar lift dengan tertib, termasuk pria bertato yang kurasa juga mengikuti arah langkah kami. Zach yang terus menggandengku akhirnya berhenti pada satu kamar bernomor genap, yang anehnya pria bertatolah yang memasukkan pas code pintu untuk membukanya.

Heh? Apakah si Zach mau menjual ku pada pria bertato. Atau dia mau ngajakin main dua lawan satu. Iihhh, syerem. Bagaimana ini, aku celingukan. Berharap menemukan celah untuk lari dari mereka. Berbagai pikiran paranoid yang konyol melintas bagai momok di kepalaku. Siapa yang tidak menduga demikian, bukankah orang-orang bule seperti mereka suka gaya bercinta yang aneh.

"Mas..." aku mengernyitkan dahiku bermaksud bertanya, berharap apa yang ku pikirkan ini salah.

Zach dan pria bertato memandangku lekat, setelah itu mereka justru kompak terbahak. Bahkan pria bertato sampai memegangi perutnya.

Aku besedekap sebal. "Bapak Zachy yang baik hati dan paling tampan di mata bu Anisa Handoko? Katakan ada apa ini? Kau mempermainkan aku?"

"Oke sayang, berhenti memanggilku bapak." Katanya diantara tawa yang di telingaku terdengar menyebalkan.

Aku tidak tahu, bagaimana perubahan sikap pria anak Bu bos ini padaku. Rasanya aku sudah mengenalnya lama. Maksudku aku memang mengenalnya sejak jadi anak buah Bu Anisa. Tapi dekat secara personal baru beberapa hari ini dan tak ku pungkiri, aku nyaman dengannya.

Biasakan jantung dan hatimu untuk mendengarnya memanggilmu sayang. Aku membatin.

Pria itu mendekat dan menangkup pipiku. Aku melirik pria bertato yang masih menertawaiku, apa wajahku lucu sampai gelaknya terdengar begitu lucu?

"Dia pilotku." katanya menginformasikan, lalu tanpa aba-aba Zach mencium ujung bibirku singkat. Sial. Aku kecolongan. Degup jantungku menggila, padahal ini bukan yang pertama. Kalau hanya berciuman aku tidak keberatan melakukannya dengan pacarku. Tapi ini si Zach, bule cakep yang sungguh menarik perempuan bagai magnet. Sayangnya aku salah satu dari logam-logam itu yang tak kuat menolak pesonanya.

"Jangan suka berpikiran buruk. Itu benar-benar meracuni pikiranmu."

"Mas Zach!" Aku tidak merengek tapi ini tidak lucu. Aku sungguh takut dia memaksaku melakukan sesuatu yang bukan inginku.

"Aku gemas padamu." Dia menimpali keluhanku akan aksinya yang memalukan. Ada orang lain disini, kenapa seenaknya saja dia melakukan itu padaku.

Apa dia juga biasa bersikap begini pada setiap perempuan. Pergaulan negara barat yang bebas, tidak mungkin di Amrik sana si Zach tidak memilik pacar. Ku hela nafas, semoga perasaan yang hinggap ini hanya sesaat.

Kalau kalian bertanya apa aku jatuh cinta pada Zach Abraham, jawabnya bisa ya bisa tidak. Sudah ku katakan aku ini mudah jatuh cinta, tapi mudah juga melupakan. Karena bukan sekali dua kali aku mengalami ini, dan untungnya aku tidak pernah gagal move on.

"Mas." Ku gigit bibirku, demi menetralkan detak dalam dada. Kemudian ku lanjutkan pertanyaan yang ku bungkus dalam nada penuh keluhan.

"Ngapain kita kesini, sih!"

"Menghabiskan malam denganmu, sayang, apalagi?"

Report
Share
Comments
|
Setting
Background
Font
18
Nunito
Merriweather
Libre Baskerville
Gentium Book Basic
Roboto
Rubik
Nunito
Page with
1000
Line-Height